Mag-log inSetelah acara pernikahan sederhana selesai di gelar Gara harus pindah ke rumah Bella. Saat ini keduanya ada di dalam kamar yang sama.
"Gara... Aku mau ngomong sama kamu."Gara melihat Bella dengan tatapan marah."Kenapa harus aku?" Tanya Gara dengan nada sinis."Maksudnya?" Bella mengerutkan keningnya."Jika kau ingin menjebak laki-laki masuk ke dalam permainanmu kenapa harus aku yang kau pilih Bella? Laki-laki lain masih banyak. Kau menghancurkan segala impianku tentang sekolah, tentang prestasi dan segalanya."Bella ternganga tak percaya pada ucapan Gara."Gara, kau pikir aku sedang menjebakmu? Gara, sadarlah. Disini aku pun dijebak. Jika kau mencurigai aku sebagai dalang dibalik semua kejadian ini, kau jelas salah."Gara mendengus sebal. Ia sepertinya tidak ingin berdebat dengan Bella."Kau bilang saja sebenarnya hamil dengan siapa?""Hamil? Gara, jadi kau percaya dengan fitnah itu? Gara, aku bahkan masih perawan asal kau tahu saja.""Oh, ya?" Gara meragukan.Bella terlihat tidak terima."Kau ingin membuktikannya atau bagaimana?""Haruskah dibuktikan? Bukankah teman-temanmu bilang kau putri mafia? Kehidupanmu seperti apa aku bisa membayangkannya.""Kau ini... Jangan membuatku kesal Gara. Kalau kau ragu kau bisa membuktikannya. Sekarang kau berani tidak membuktikannya?" Bella menantang.Ddrrrttt... Drrrtttt...Tiba-tiba gawai Gara bergetar. Sebuah panggilan muncul di layar. Gara buru-buru pergi ke balkon untuk menerima telepon itu."Ya, halo Sabia." Tiba-tiba suara Gara berubah menjadi lembut. Berbeda sekali dengan saat berbicara dengan Bella."Halo Gara, bagaimana kabarmu? Kenapa kau seharian ini tidak mengabariku?" Bella mendekat ke balkon untuk menguping pembicaraan Gara di telepon."Aku sibuk Sabia. Maaf, bukan bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja hari ini aku benar-benar tidak sempat memegang handphone.""Hmmm... Oke deh Ra, nggak apa-apa. Lagi apa kamu sekarang? Video call yok." Gara menjauhkan gawainya dari telinga. Sejenak ia tampak ragu untuk menerima ajakan Sabia untuk melakukan panggilan video."Ra? Kok diem aja?""Maaf Nona, aku tidak tahu siapa kau. Mungkin kau pacarnya Sagara atau siapapun itu aku tidak perduli. Tapi asal kau tahu saja. Sagara itu sekarang suamiku. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mengganggu suamiku." Bella bermonolog di dalam hati.Tut... Tut... Tut...Tiba-tiba Sabia sudah melakukan panggilan video. Gara sedikit ragu untuk mengangkatnya. Entah karena ia merasa tidak enak sedang berada di rumah mertuanya atau karena sekarang ia sudah menikah tidak tahu pasti."Sagara angkat dong panggilannya," suara Sabia terdengar mendayu dan manja. Jijik sekali Bella mendengarnya."I-iya sebentar." Karena merasa tak enak hati Gara pun mengangkat panggilan video dari Sabia."Hai, Gara. Lagi dimana?" Sabia melambaikan tangan untuk menyapa Sagara. Ia terlihat tersenyum manis.Tiba-tiba Bella datang tanpa diduga-duga. Secara mengejutkan ia memeluk Sagara dari belakang lalu...Cup!Bella mengecup pipi suaminya."Kok kamu disini sayang?" Bella memanas-manasi Sabia. Gara pun terkejut mendapati Bella seperti ini dan semua adegan itu tak luput dari pengelihatan Sabia."Gara, itu siapa?" Sabia bertanya dengan nada jengkel."Hai, kenalin aku pacarnya Sagara. Kamu pasti temannya ya? Maaf nih malam ini Sagara lagi kencan sama aku." Bella semakin memanas-manasi Sabia. Perempuan itu sepertinya termakan oleh omongan Bella. Buktinya sekarang ia terlihat kesal."Sagara, jadi kamu sibuk seharian sampai tidak sempat menghubungkan aku karena perempuan itu?" Cerca Sabia."Ah, Sabia. Aku minta maaf. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjelaskan semua padamu nanti.""Loh, loh, ternyata Sagara nggak bilang ya sama kamu kalau seharian ini dia memang sibuk sama aku? Sayang kamu gimana sih kok nggak ngomong sama Sabia kalo kita lagi berduaan."Sagara melotot ke arah Bella. Bisa-bisanya si Bella memperkeruh suasana."Sagara, apa semua ini maksudnya hah?" Sagara gelagapan. Benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sabia."Sagara!" Sabia memanggil dengan marah.Bella mengambil gawai dari tangan Gara."Maaf ya Sabia tapi kami mau nyambung pacaran lagi. Kamu nggak usah telpon-telpon lagi ya. Takutnya cuma gangguin kita. Maaf, maaf nih ya jangan kesinggung. Teleponnya aku matiin dulu. Dadahh Sabia..." Bella melambaikan tangan sembari tersenyum lebar sebelum mengakhiri panggilan."Mampus nggak tuh cewek. Marah lah kalau mau marah sama Sagara. Bodoh amat. Enak aja main telepon-telepon suamiku." Bella tersenyum puas. Begitu menoleh ia kaget melihat Sagara yang memasang wajah kesal kepadanya."Kenapa suamiku?" Tanya Bella sambil menahan tawa."Kembalikan gawaiku!" Sagara mengatungkan tangannya."Nih." Bella mengembalikan gawai Sagara."Dan sekarang lepaskan pelukanmu. Tolong menjauh dariku." Sambil merengut Bella pun menjauh.Sagara langsung meninggalkan Bella sendirian di balkon. Bella cekikikan sendiri. Rasanya puas sekali ia bisa mengerjain Sabia.Tak berapa lama Bella menyusul masuk. Ia menutup pintu di belakangnya."Bella..." Sagara memanggil tapi dalam posisi membelakangi Bella."Ya, ada apa?""Kenapa kau bilang pada Sabia jika kita pacaran?""Karena terlalu tidak realistis jika aku bilang kita sudah menikah. Orang lain mungkin hanya akan tertawa saat mendengarnya. Lalu aku akan dicap halu dan aneh."Sagara menoleh, ia memandang Bella dari balik bahunya."Kau tahu siapa Sabia?""Hahh... Siapa? Pacarmu kan?" Tebak Bella."Kalau tidak tahu jangan ikut campur lagi. Sebaiknya kau jaga sikap. Tahu sampai mana batasan-batasanmu. Ingat, aku menikahimu bukan karena aku menginginkanmu. Tapi karena kita difitnah."Gara pikir dengan berkata demikian Bella akan merasa tersakiti dengan ucapannya. Tapi Gara salah."Heh, terserah dirimu saja Gara." Bella menarik selimut. Ia naik ke ranjang bersiap untuk tidur."Aku tidur dulu Ra. Oyasuminasai... Hoaammmm..."Bella memiringkan badannya."Hari ini benar-benar melelahkan," gumam Bella pelan. Ia baru akan memejamkan mata saat tiba-tiba merasakan selimutnya disibak. Bella refleks menoleh. Ia melihat Sagara berbaring di sebelahnya."Heh? Ngapain kamu Ra?""Ngapain? Tidurlah?"Bella bangun."Tidur disini?""Kamu pikir aku bakal tidur di sofa seperti di film-film? Males banget. Kamu aja sana yang tidur di sofa kalau tidak mau tidur denganku.""Enak aja ngusir-ngusir. Ini rumahku.""Yasudah kalau tidak mau tidur saja disini berdua. Apa susahnya?""Kok aku ngeri ya Ra. Takut kamu grepe-grepe pas tidur.""Mulut dijaga ya Bel. Aku nggak semesum itu.""Ya, lagian...""Lagian apa? Kamu kan tadi yang nantangin suruh membuktikan perawan atau tidak. Giliran orang mau tidur bareng aja sudah parno kemana-mana.""Ya, tetap aja Ra ngeri.""Apanya sih yang ngeri?" Gara jengkel. "Heh, nggak usah berpikiran kotor. Cepet tidur!"Sagara berbalik memunggungi Bella."Yaudah sih." Bella juga berbalik memunggungi Gara. Dua-duanya sekarang saling memunggungi.Bella merasa hari ini benar-benar melelahkan sekali. Ia jatuh terlelap tanpa sadar begitu cepat. Tapi malam itu Bella bermimpi aneh sekali. Ia seperti merasakan seseorang menciumnya di dalam mimpi. Bahkan rasa ciuman itu terlalu nyata bagi Bella. Apa yang sebenarnya Bella alami ketika ia tengah tertidur?Gara masuk ke salah satu toko bunga terbesar di kota ini."Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" Tanya seorang karyawan toko bunga bergigi gingsul itu dengan senyuman ramah."Berikan aku bunga anyelir merah muda dengan kualitas terbaik untuk sutu buket yang besar," perintah Gara."Baik Kak. Mohon ditunggu ya. Pesanan Kakak akan segera kami siapkan. Apakah Kakaknya mau menulis pesan khusus?" Tanya pegawai tersebut.Gara menggeleng."Tidak usah," tolak Gara."Baik, terimakasih Kakak. Ditunggu ya."Gara mengangguk. Sambil menunggu bunga pesanannya disiapkan dia mengambil gawainya. Gara mencari nomor telepon Bella untuk di telepon.Beberapa saat kemudian jelas terdengar kalau panggilan Gara berdering tapi Bella tak mau mengangkat. Sampai sini Gara paham bahwa Bella masih marah padanya."Kakak, ini bunga pesanan Kakak. Totalnya delapan ratus ribu. Pembayaran mau cash atau..."Sebelum pegawai it
"Tak kusangka selama ini kamu ada di sini," kata Gara sambil meletakkan beberapa barang belanjaan berisi sayur-mayur."Kenapa, kamu sudah memberikan rumah ini untukku kan?" Tanya Bella. Perempuan itu kemudian membungkar belanjaan yang tadi Gara bawa."Yah, rumah ini memang milikmu. Sudah jadi hakmu. Tidak ada salahnya kalau kamu menempatinya," kata Gara."Kamu mau masak apa?" Tanya Gara setelah beberapa saat.Bella masih tak menoleh karena sibuk memisahkan beberapa sayur untuk di simpan ke dalam kulkas."Kamu mau dimasakin apa? Kamu udah lama kan nggak makan masakanku."Gara mengangguk."Apapun yang kamu masak aku tetep makan. Kamu masak apa yang menurutmu paling pandai kamu buat.""Aku paling pandai masak mie instan pake telur," gurau Bella sambil terkekeh."Iya, buat itu aja nggak apa-apa. Cari yang praktis. Kalau kelamaan masak nanti aku bisa kelaparan," kata Gara."Oke, kamu emang suami pengertian. Tau banget kalau istrinya nggak begitu pandai masak."Bella mulai mengambil panci u
PLLLAAAAKKKK!!!Gara memegangi pipinya. Sesudahnya ia menunduk, menyesali perbuatannya."Ceritakan sejujurnya pada Ibu apa yang sudah kamu lakukan terhadap istri dan anakmu!" Desak Ibunya Gara.Saat ini Gara ada di kediaman rumah Rihanda. Ibunya memaksa Gara untuk pulang ke rumah sebelum menemui Bella.Gara mengangguk lemah."Ya, Gara yang salah. Gara membiarkan Bella terlantar di luar apartemen karena Gara sibuk berkuda dengan teman-teman Gara. Saat Gara pulang Bella melihat Gara sedang bersama Leticia,, tetangga apartemen Gara. Itulah kenapa Bella menjadi salah paham.""Lalu kenapa kamu membiarkan istrimu pulang sendiri?""Itulah kesalahan Gara Bu. Sebabnya Gara cemburu buta dengan orang kepercayaan keluarga Hyuugo, Gara membiarkan Bella pulang. Mengabaikan dirinya. Saat itu Gara belum tahu jika Bella sedang mengandung anak Gara..." Gara tidak sanggup melanjutkan perkataannya. Jika boleh dikatakan menyesal ia sangat menyesal sekali. Berita kebahagiaan tentang dirinya akan menjadi Pa
Setelah kalang kabut di jalanan Gara akhirnya tiba di bandara. Laki-laki berlari sambil terus menerus menelepon Bella. Sayangnya mau berapa puluh kali pun Gara menelepon ia tetap tak bisa menghubungi Bella.Gara berhenti di depan lobby keberangkatan. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Kemudian ia berjalan ke pinggir tempat sepi. Gara menyandarkan punggungnya di tembok.Ia menyadari jika telah terlambat mengejar Bella. Istrinya itu mungkin saja sudah pulang ke tanah air saat ini karena memang sudah beberapa jam sejak kepergian Bella dari apartemen Gara."Apa yang harus kulakukan sekarang?" Tanya Gara."Bella sedang hamil. Mungkinkah kejutan itu yang ingin ia tunjukkan kepadaku? Sesuatu yang selama ini aku tunggu-tunggu. Tapi saat hal itu tiba aku mengacaukan momen ini."Tanpa sadar Gara pun mulai menitikkan air matanya. Sekarang ini Gara benar-benar tidak bisa tenang."Bella sedang mengandung anakku tapi bodohnya aku malah menuduhnya yang tidak-tidak soal Leo. Harusnya aku mengerti
"Masuk dulu, kita bicarakan baik-baik di dalam." Gara membawa Bella masuk dengan cara menarik lengannya secara paksa."Lepas!" Bella menyentak tangannya keras hingga pegangan Gara terlepas. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada. Raut marahnya tidak bisa disembunyikan."Jangan dengarkan ucapan Leticia. Aku tidak pergi untuk bersenang-senang dengannya," jelas Gara pada istrinya."Periksa gawaimu Ra!" Perintah Bella. Ia masih berusaha meredam emosinya."Kenapa?" Tanya Gara dengan kening berkerut."Periksa saja!"Gara meraih ponselnya dari saku celana. Ia melihat 58 notifikasi panggilan tidak terjawab dari Bella."Aku puluhan kali nelpon kamu dari pukul sepuluh Ra. Sekalipun kamu nggak mau angkat. Kenapa? Kamu terlalu sibuk dengan gadis tadi makanya kamu sampai nggak sempat angkat telepon dariku?" Bella meluahkan kekesalannya."Kamu bilang kemarin nggak jadi terbang kan?" Tanya Gara balik. Seolah dia tak mau disalahkan dalam perkara ini."Karena aku nggak jadi terbang terus kamu
Blam!Gara menutup pintu apartemennya. Wajahnya sendu. Ia menghembuskan nafas berat sebelum berbalik untuk pergi.Saat Gara berbalik badan untuk meninggalkan apartemennya saat itu juga muncul Leticia yang sama-sama ingin keluar."Oh, hai Ra," sapa Leticia dengan senyuman sumringah di wajahnya."Hai," sapa Gara singkat. Terlihat tidak berminat dan terkesan memaksakan senyumannya."Mau kemana?" Tanya Leticia sengaja mengakrabkan diri dengan Gara."Nggak kemana-mana," jawab Gara sudah mengayunkan kakinya pergi menuju lift."Hmmm, selalu cuek dan dingin," batin Leticia. Gadis berambut pirang itu segera menyusul masuk lift. Ia tak sengaja melihat layar gawai Gara yang menampilkan tiket pertunjukan musik Féerie di Moulin Rouge."Mau ke pertunjukan musik kenapa justru murung?" Tanya Leticia memancing Gara untuk bercerita."Ck, siapa yang mau ke pertunjukan musik?" Tanya Gara balik sambil menyimpan gawainya."Itu, bukannya kamu tadi sudah memesan tiket ke pertunjukan musik?" Leticia masih ter
"Bel, bangun." Gara membangunkan Bella.Bella tampak mengeliat dibalik selimut."Lima menit lagi Ra."Gara sudah rapi dan wangi dengan seragamnya tapi Bella, sudahlah jangan ditanya lagi. Ini pun sudah pukul tujuh. Jika bukan karena sesiang ini mana mungkin Gara mau membangunkan Bella.Sementara di ruma
Di atas tempat tidur Bella sudah ada sebuah kotak besar berwarna pink yang cantik."Apa ini Ra?" Tanya Bella terlihat senang."Buka aja."Bella tidak sabaran membuka kotak itu. Ia menarik pita yang tersimpul rapi di atas kotak. Lalu membuka tutup kotaknya. Sesuatu berwarna putih langsung melompat kelua
"Lama banget sih Ra?" Keluh Bella yang sejak tadi menunggu Gara."Ya, nggak enak sama Edo kan Bel kalo aku keliatan langsung ngejar kamu."Gara menutup pintu mobil. Ia mulai menghidupi mesin mobilnya."Dia tu suka sama kamu." Gara memberitahu."Aku tau kok kalo Kak Edo suka sama aku. Ya, kan aku udah bi
"Ka-kau..." Sabia terbata-bata.Bella menyeringai."Ya, aku Bellatrix Hyuugo. Seorang putri Hyuugo yang tempo hari berusaha di culik oleh keluargamu,"desis Bella di telinga Sabia supaya yang lain tidak bisa mendengar. Sabia langsung keringat dingin."Ah, soal aku dan Gara sepertinya kau salah paham Sab







