Compartir

Bab 1

last update Fecha de publicación: 2024-03-17 14:27:42

Setelah acara pernikahan sederhana selesai di gelar Gara harus pindah ke rumah Bella. Saat ini keduanya ada di dalam kamar yang sama.

"Gara... Aku mau ngomong sama kamu."

Gara melihat Bella dengan tatapan marah.

"Kenapa harus aku?" Tanya Gara dengan nada sinis.

"Maksudnya?" Bella mengerutkan keningnya.

"Jika kau ingin menjebak laki-laki masuk ke dalam permainanmu kenapa harus aku yang kau pilih Bella? Laki-laki lain masih banyak. Kau menghancurkan segala impianku tentang sekolah, tentang prestasi dan segalanya."

Bella ternganga tak percaya pada ucapan Gara.

"Gara, kau pikir aku sedang menjebakmu? Gara, sadarlah. Disini aku pun dijebak. Jika kau mencurigai aku sebagai dalang dibalik semua kejadian ini, kau jelas salah."

Gara mendengus sebal. Ia sepertinya tidak ingin berdebat dengan Bella.

"Kau bilang saja sebenarnya hamil dengan siapa?"

"Hamil? Gara, jadi kau percaya dengan fitnah itu? Gara, aku bahkan masih perawan asal kau tahu saja."

"Oh, ya?" Gara meragukan.

Bella terlihat tidak terima.

"Kau ingin membuktikannya atau bagaimana?"

"Haruskah dibuktikan? Bukankah teman-temanmu bilang kau putri mafia? Kehidupanmu seperti apa aku bisa membayangkannya."

"Kau ini... Jangan membuatku kesal Gara. Kalau kau ragu kau bisa membuktikannya. Sekarang kau berani tidak membuktikannya?" Bella menantang.

Ddrrrttt... Drrrtttt...

Tiba-tiba gawai Gara bergetar. Sebuah panggilan muncul di layar. Gara buru-buru pergi ke balkon untuk menerima telepon itu.

"Ya, halo Sabia." Tiba-tiba suara Gara berubah menjadi lembut. Berbeda sekali dengan saat berbicara dengan Bella.

"Halo Gara, bagaimana kabarmu? Kenapa kau seharian ini tidak mengabariku?" 

Bella mendekat ke balkon untuk menguping pembicaraan Gara di telepon.

"Aku sibuk Sabia. Maaf, bukan bermaksud mengabaikanmu. Hanya saja hari ini aku benar-benar tidak sempat memegang handphone."

"Hmmm... Oke deh Ra, nggak apa-apa. Lagi apa kamu sekarang? Video call yok." 

Gara menjauhkan gawainya dari telinga. Sejenak ia tampak ragu untuk menerima ajakan Sabia untuk melakukan panggilan video.

"Ra? Kok diem aja?"

"Maaf Nona, aku tidak tahu siapa kau. Mungkin kau pacarnya Sagara atau siapapun itu aku tidak perduli. Tapi asal kau tahu saja. Sagara itu sekarang suamiku. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun mengganggu suamiku." Bella bermonolog di dalam hati.

Tut... Tut... Tut...

Tiba-tiba Sabia sudah melakukan panggilan video. Gara sedikit ragu untuk mengangkatnya. Entah karena ia merasa tidak enak sedang berada di rumah mertuanya atau karena sekarang ia sudah menikah tidak tahu pasti.

"Sagara angkat dong panggilannya," suara Sabia terdengar mendayu dan manja. Jijik sekali Bella mendengarnya.

"I-iya sebentar." Karena merasa tak enak hati Gara pun mengangkat panggilan video dari Sabia.

"Hai, Gara. Lagi dimana?" Sabia melambaikan tangan untuk menyapa Sagara. Ia terlihat tersenyum manis.

Tiba-tiba Bella datang tanpa diduga-duga. Secara mengejutkan ia memeluk Sagara dari belakang lalu...

Cup!

Bella mengecup pipi suaminya.

"Kok kamu disini sayang?" Bella memanas-manasi Sabia. Gara pun terkejut mendapati Bella seperti ini dan semua adegan itu tak luput dari pengelihatan Sabia.

"Gara, itu siapa?" Sabia bertanya dengan nada jengkel.

"Hai, kenalin aku pacarnya Sagara. Kamu pasti temannya ya? Maaf nih malam ini Sagara lagi kencan sama aku." Bella semakin memanas-manasi Sabia. Perempuan itu sepertinya termakan oleh omongan Bella. Buktinya sekarang ia terlihat kesal.

"Sagara, jadi kamu sibuk seharian sampai tidak sempat menghubungkan aku karena perempuan itu?" Cerca Sabia.

"Ah, Sabia. Aku minta maaf. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku akan menjelaskan semua padamu nanti."

"Loh, loh, ternyata Sagara nggak bilang ya sama kamu kalau seharian ini dia memang sibuk sama aku? Sayang kamu gimana sih kok nggak ngomong sama Sabia kalo kita lagi berduaan."

Sagara melotot ke arah Bella. Bisa-bisanya si Bella memperkeruh suasana.

"Sagara, apa semua ini maksudnya hah?" 

Sagara gelagapan. Benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dari Sabia.

"Sagara!" Sabia memanggil dengan marah.

Bella mengambil gawai dari tangan Gara.

"Maaf ya Sabia tapi kami mau nyambung pacaran lagi. Kamu nggak usah telpon-telpon lagi ya. Takutnya cuma gangguin kita. Maaf, maaf nih ya jangan kesinggung. Teleponnya aku matiin dulu. Dadahh Sabia..." Bella melambaikan tangan sembari tersenyum lebar sebelum mengakhiri panggilan.

"Mampus nggak tuh cewek. Marah lah kalau mau marah sama Sagara. Bodoh amat. Enak aja main telepon-telepon suamiku."  Bella tersenyum puas. Begitu menoleh ia kaget melihat Sagara yang memasang wajah kesal kepadanya.

"Kenapa suamiku?" Tanya Bella sambil menahan tawa.

"Kembalikan gawaiku!" Sagara mengatungkan tangannya.

"Nih." Bella mengembalikan gawai Sagara.

"Dan sekarang lepaskan pelukanmu. Tolong menjauh dariku." Sambil merengut Bella pun menjauh.

Sagara langsung meninggalkan Bella sendirian di balkon. Bella cekikikan sendiri. Rasanya puas sekali ia bisa mengerjain Sabia.

Tak berapa lama Bella menyusul masuk. Ia menutup pintu di belakangnya.

"Bella..." Sagara memanggil tapi dalam posisi membelakangi Bella.

"Ya, ada apa?"

"Kenapa kau bilang pada Sabia jika kita pacaran?"

"Karena terlalu tidak realistis jika aku bilang kita sudah menikah. Orang lain mungkin hanya akan tertawa saat mendengarnya. Lalu aku akan dicap halu dan aneh."

Sagara menoleh, ia memandang Bella dari balik bahunya.

"Kau tahu siapa Sabia?"

"Hahh... Siapa? Pacarmu kan?" Tebak Bella.

"Kalau tidak tahu jangan ikut campur lagi. Sebaiknya kau jaga sikap. Tahu sampai mana batasan-batasanmu. Ingat, aku menikahimu bukan karena aku menginginkanmu. Tapi karena kita difitnah."

Gara pikir dengan berkata demikian Bella akan merasa tersakiti dengan ucapannya. Tapi Gara salah.

"Heh, terserah dirimu saja Gara." Bella menarik selimut. Ia naik ke ranjang bersiap untuk tidur.

"Aku tidur dulu Ra. Oyasuminasai... Hoaammmm..."

Bella memiringkan badannya.

"Hari ini benar-benar melelahkan," gumam Bella pelan. Ia baru akan memejamkan mata saat tiba-tiba merasakan selimutnya disibak. Bella refleks menoleh. Ia melihat Sagara berbaring di sebelahnya.

"Heh? Ngapain kamu Ra?"

"Ngapain? Tidurlah?"

Bella bangun.

"Tidur disini?"

"Kamu pikir aku bakal tidur di sofa seperti di film-film? Males banget. Kamu aja sana yang tidur di sofa kalau tidak mau tidur denganku."

"Enak aja ngusir-ngusir. Ini rumahku."

"Yasudah kalau tidak mau tidur saja disini berdua. Apa susahnya?"

"Kok aku ngeri ya Ra. Takut kamu grepe-grepe pas tidur."

"Mulut dijaga ya Bel. Aku nggak semesum itu."

"Ya, lagian..."

"Lagian apa? Kamu kan tadi yang nantangin suruh membuktikan perawan atau tidak. Giliran orang mau tidur bareng aja sudah parno kemana-mana."

"Ya, tetap aja Ra ngeri."

"Apanya sih yang ngeri?" Gara jengkel. "Heh, nggak usah berpikiran kotor. Cepet tidur!"

Sagara berbalik memunggungi Bella.

"Yaudah sih." Bella juga berbalik memunggungi Gara. Dua-duanya sekarang saling memunggungi.

Bella merasa hari ini benar-benar melelahkan sekali. Ia jatuh terlelap tanpa sadar begitu cepat. Tapi malam itu Bella bermimpi aneh sekali. Ia seperti merasakan seseorang menciumnya di dalam mimpi. Bahkan rasa ciuman itu terlalu nyata bagi Bella. Apa yang sebenarnya Bella alami ketika ia tengah tertidur?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 142

    Persidangan dua kasus besar kembali dibuka. Kasus-kasus yang dulunya sempat tenggelam dan dianggap telah terselesaikan kini kembali diungkap di hadapan hakim. Bukti-bukti dikumpulkan. Tersangka baru dari dua kasus ini di hadirkan. Termasuk Rosna yang awalnya menghindar akhirnya rumah sakit jiwa tempat persembunyiannya selama ini di grebek oleh polisi. Kini wanita itu tertunduk tak berdaya di hadapan hakim. Ia mencoba berkelit saat mendengar pembacaan tuduhan. Tapi bukti pemeriksaan dari dokter kejiwaan membuktikan ia tidaklah menderita gangguan jiwa. Dia sehat. Sebab itu pengakuannya pada Leo bisa menjadi bukti yang kuat. Dulu ia mengatakan semua itu pada Leo untuk sekedar bermain-main karena yakin bisa menangani bocah itu. Tapi Rosna sungguh tidak tahu siapa yang dia hadapi. Akhirnya, kini ia terjebak dengan permainannya sendiri. Selain itu Edo juga bermandikan air mata karena tindakan yang diambil Sabia. Tapi mau bagaiman

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 141

    Gara dan Bella datang ke rumah sakit telat saat Sabia sedang menggendong bayinya. "Gercep banget meluncurknya Ra?" Tanya Edo begitu melihat sahabatnya itu datang. "Sengaja, biar kamu nggak nanya kapan dateng mulu," jawab Gara dengan nada gurauan. Ia menyerahkan sebuah bingkisan besar pada Edo, dan laki-laki itu menerimanya dengan bahagia. "Wahh, Kak Edo, Kak Sabia, selamat ya atas kelahiran bayinya," ucap Bella tulus. "Terimakasih ya Bella," jawab Sabia diikuti senyuman. Bella mendekat untuk melihat bayi mungil itu. Tapi tidak dengan Gara. Hanya melihat Bella tersenyum saat menjawil pipi bayi itu saja tiba-tiba dada Gara menjadi sesak. Andai bayinya tak keguguran mungkin tak lama lagi dia juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan Edo dan Sabia saat ini. Sebab itu Gara tak sanggup setiap kali melihat Bella tersenyum pada bayi. Itu sama saja mengingatkan Gara betapa bodohnya dia kala itu.

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 140

    Kumandang adzan Edo terdengar beberapa kali tersensat. Suaranya yang parau itu timbul tenggelam dalam tangisan. Saat kumandang adzan dan iqamahnya selesai wajah Edo benar-benar telah banjir air mata. Ia tak menyangka jika sekarang telah menjadi seorang Papa. Seorang bayi mungil telah hadir di hadapannya begitu nyata. Ya, ini bukan lagi mimpi atau sekedar khayalan. Edo takut-takut menyentuh tangan mungil bayinya yang masih mengepal. Lalu ia mencium pipi anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Bayi itu tampak mengeliat bibirnya bergerak-gerak lucu. Ia pasti mengira ciuman Edo dipipinya adalah asi pertama yang ingin ia hisap. "Selamat datang di dunia jagoan kecil Papa," ucap Edo pelan. "Ya, ampun Papa malah nangis. Harusnya Papa seneng karena sudah bisa bertemu kamu. Maafin Papa ya sayang." Edo tersenyum bahagia saat melihat jari telunjuknya digenggam oleh anaknya. Edo kemudian teringat pada satu-satun

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 138

    Faktanya kepulangan Leo ke markas Hell Devil memang membuat kebahagiaan tersendiri meskipun ada sedikit yang disayangkan. Yaitu Leo tak bisa dimintai keterangan terkait peristiwa yang menyebabkan dirinya celaka. "Coba diingat-ingat lagi Leo. Bukankah kala itu kau pergi untuk menyelidiki tentang ibunya Sabia untuk kasus pembunuhan mamanya Bella?" Tanya Pak Freddy. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa jejak penyeranganmu ditemukan di pinggiran kota? Apa yang kau temukan disana?" Leo tertunduk di depan Pak Freddy. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Berusaha benar mengingat terakhir kali yang terjadi dengan dirinya. "Pak Freddy, sepertinya Leo memang tidak bisa mengingat apapun. Jangan dipaksakan. Nanti dia bisa sakit," kata Gara. "Sepertinya tidak ada orang lain yang bisa diharapkan untuk menuntaskan kasus ini. Kalau begitu aku sendiri yang harus turun tangan untuk menuntaskann

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 139

    "Aku sudah launching Om, ditunggu kadonya." Gara tersenyum setelah membaca pesan singkat itu. "Kenapa Ra?" Tanya Bella. Gara masih tersenyum lebar saat menyerahkan gawainya pada Bella. "Apaan sih yang bikin kamu senyam-senyum nggak jelas begini?" Bella penasaran. Ia pun mengambil gawai Gara dan melihat foto yang dikirimkan oleh sahabat Gara itu. "Ini..." Bella mengamati baik-baik foto itu. "Ini anak Kak Edo?" Tanya Bella tak percaya. "Kecuali kalau Edo nyulik anak orang bisa jadi foto itu bukan anaknya. Ya iyalah itu anaknya Edo, sayang," jawab Gara. "Ih, Gara neyebelin banget sih orang aku nanya baik-baik juga. Aku tuh kaget aja kok Sabia udah lahiran aja. Dia yang lahirannya cepet apa kita yang terlalu sibuk sih?" "Kita yang terlalu sibuk deh kayaknya. Gimana, mau nengokin sekarang atau besok aja?" Tanya Gara. "Kalau besok keburu pul

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 137

    "Leo?" Refleks Gara menyebut nama itu. Leo menatap Gara dengan lekat. "Aduh, kayak nggak asing sama wajahnya. Tapi siapa ya?" Tanya Leo mencoba membenamkan wajah Gara ke dalam ingatannya. "Gara," ucap Gara. "Sagara Rihanda." "Oh, ya benar. Aku baru ingat!" Seru Leo. Ingatannya memang agak buruk setelah kejadian itu. Terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Justru jika kejadian itu telah lama berlalu Leo sangat ingat betul. Seperti bagaimana ayahnya meninggal dan bagaimana ia bergabung dengan kelompok mafia Hell Devil. Gara meletakkan air mineral yang dibawanya ke meja kasir. "Kau jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu." "Oke, aku tunggu di luar," jawab Leo. Kebetulan di luar minimarket memang ada meja dan kursi yang sengaja di sediakan untuk pengunjung. Gara menyelesaikan pembelian air mineralnya kemudian buru-buru keluar untuk menyusul Leo.

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 101

    "Kamu keren banget hari ini," puji Edo pada istrinya karena perempuan itu berani mengatakan hal sebenarnya di acara dance competition."Eh???" Sabia mendadak jadi blushing. Nggak biasa-biasanya Edo memuji dirinya."Beneran?" Tanya Sabia malu-malu."Bener." Edo berlutut di depan Sabia yang sedang duduk

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 98

    Kompetisi dance tingkat kota yang sangat dinantikan di gelar hari ini. Kompetisi antar sekolah ini adalah kompetisi paling bergengsi di antara kompetisi-kompetisi yang lain. Pasalnya pemenang kompetisi ini akan menentukan prestasi dari sebuah sekolah.Antusiasme sekolah-sekolah lain juga sangat tingg

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 91

    "Ck, yang lalu biarlah berlalu Do. Nggak usah diungkit-ungkit lagi," jawab Gara."Hai, Sabia. Apa kabar?" Tanya Bella dengan wajah sumringah. Yang ditanya justru berwajah masam. Gadis itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan dari Bella."Tegak!" Sabia menarik tangan Bella dengan kasar."Lepas!" Be

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 88

    Liburan semester hampir usai. Entah kenapa malam ini Edo tiba-tiba saja mengajak Gara bertemu di sebuah cafe."Kenapa Do muda dilipet begitu?" Tanya Gara begitu melihat wajah sahabatnya begitu lecek seperti uang tertinggal di dalam kantong terus kecuci sampai kering."Aduh Ra aku harus gimana?" Edo me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status