Share

Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Terpaksa Menikahi Putri Mafia
Penulis: Hibatillah S.

Prolog

Penulis: Hibatillah S.
last update Tanggal publikasi: 2024-03-17 14:26:48

"Coba semuanya lihat. Ibu menemukan ini di tas Bella." Bu Rea mengangkat sebuah tespek bergaris dua. Saat ini memang sedang ada razia rutin di kelas

Wajah Bella panik.

"Ibu, itu bukan punya Bella. Serius Bella tidak hamil."

"Woe, ngaku aja deh. Keluargamu kan keluarga mafia. Bibit-bibit orang kotor seperti itu pasti mengalir juga ke darahmu. Melihatmu hamil di luar nikah bukan hal yang mengejutkan buat kita. Iya nggak guys?" Sonya melayangkan hinaan kepada Bella.

"Bener banget. Ibu percaya aja deh dengan bukti itu. Orang udah jelas ada buktinya mau ngelak gimana lagi?" Timpal teman sekelas Bella yang lain.

Bu Rea memandang Bella.

"Bella, bagaimana kau akan menjelaskan semua ini?"

"Bener Bu. Percaya sama Bella. Bella hanya difitnah. Bella tidak mungkin hamil di luar nikah.'

"Tukang zina mana ada yang ngaku huuu..."

"Iya bener. Udah ngaku aja Bel siapa laki-laki yang menghamili kamu."

Tiba-tiba Pak Rehan lari menuju kelas 11 IPS 6 dengan wajah panik.

"Gawat Bu Rea. Ini gawat!" Pak Rehan ngos-ngosan. Bicaranya tak jelas.

"Lihat, lihat! Di aula!"

"Aula? Ada apa dengan Aula?" Bu Rea bingung. Ia segera keluar mengikuti Pak Rehan.

Di luar para siswa-siswi sudah heboh sekali. Mereka berlarian menuju Aula. Berjubal di depan pintu masuk. Berdesak-desakan menghalangi jalan.

"Coba minggir dulu! Minggir, beri Ibu jalan!" Para siswa serentak minggir. Mereka memberikan jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang agar Bu Rea dan Pak Rehan bisa masuk ke dalam Aula.

Sesampainya di dalam aula Bu Rea begitu terkejut. Seseorang telah menyalakan proyektor yang di dalamnya terdapat sebuah foto panas di atas ranjang. Orang itu tak lain tak bukan adalah Bellatrix dan Sagara.

"PANGGIL BELLA DAN GARA KESINI SEKARANG!!!" Bu Rea berteriak sangat keras karena saking marahnya.

Beberapa orang siswa sigap mencari Bella dan Gara. Mereka menggiring dua bocah yang sekarang menjadi terdakwa perbuatan tidak senonoh.

"Ada apa Bu?" Gara yang tidak tahu apa-apa bertanya dengan polos.

PLAAKKKK!!!

Semua orang langsung diam. Mereka tak menyangka jika Bu Rea sampai menampar Gara.

"Jelaskan pada Ibu sekarang juga maksud foto itu!" Bu Rea mendesis marah sembari menunjuk foto di dalam layar proyektor itu.

"Aku tidak tahu apapun. Aku tidak pernah melakukan apapun. Di era modern seperti ini foto begituan sangat mudah diedit. Apa Ibu percaya begitu saja pada foto itu?"

"Lalu bagaimana kau menjelaskan ini?" Bu Rea menunjukkan hasil tespek bergaris dua.

Gara terkejut bukan kepalang.

"Sudah Bu, tidak usah ditanya lagi. Bukti-bukti perbuatan zina mereka sudah ada. Keluarkan saja mereka dari sekolah!" Seorang siswa berteriak memprovokasi.

"Benar. Keluarkan saja!" Siswa-siswi lain ikut terprovokasi.

"Keluarkan!"

"Keluarkan!

Teriakan siswa bertambah gaduh. Bella pusing sekali mendengarnya.

"Nikahkan saja, biar mereka menebus dosa-dosa mereka!" Teriak siswa lainnya.

"DIAM SEMUANYA!!!" Bu Rea berteriak mengalahi suara gaduh di aula. Mendadak semua siswa langsung diam.

"Kalian berdua ikut Ibu ke kantor. Selain itu Ibu akan memanggil kedua wali kalian untuk datang langsung ke sekolah!"

"Tapi, Bu. Ini tidak adil. Aku tidak melakukan apapun pada Bella. Bella tolong kau jelaskan kalau kita sedang difitnah."

"Iya, Bu Rea. Aku bahkan tidak tahu tespek itu milik siapa dan mengapa tiba-tiba ada di dalam tasku."

"Jangan berkelit lagi Gara, Bella! Ikut ke kantor se-ka-rang!!!"

***

Sekolah hari itu benar-benar heboh dengan adanya kasus perzinahan Gara dan Bella. Bahkan Bella sampai hamil di luar nikah. Tak ada yang menyangka ketua OSIS seperti Gara yang kinerjanya dinilai sangat baik dan patut menjadi teladan justru menorehkan kebusukan pada sekolah seperti ini.

Hari itu juga wali murid dari Gara dan Bella di panggil ke sekolah. Dua bocah itu di sidang di kantor selama tiga jam penuh.

"Maaf Bapak-bapak sekalian, sekolah kami tidak bisa mentolerir aib sebesar ini. Gara dan Bella telah terbukti bersalah. Maka dengan berat hati memberikan sangsi, keduanya akan kami keluarkan dari sekolah ini."

"Ibu, tolong pertimbangkan lagi." Gara melayangkan protes. Ia tidak terima jika harus dikeluarkan dari sekolah favorit yang sudah didambakannya sejak di bangku sekolah dasar.

"Tidak bisa lagi Gara. Ingat, setiap perbuatan mengandung konsekuensi. Kau harusnya memikirkan konsekuensi hingga sejauh ini ketika akan melakukan perbuatan itu."

Ayahnya Gara yang menjadi seorang CEO perusahaan besar tak kuasa menahan malu lantaran Gara, putra tunggal kebanggaannya harus membuat nama keluarga besar Rihanda tercemar dengan perbuatannya ini.

"Bu, aku tidak hamil. Aku bahkan belum pernah melakukan perbuatan seperti itu. Tolonglah Bu tarik lagi keputusan Ibu. Sehendaknya jika Ibu tidak percaya kepadaku tolong percaya pada Gara. Kita semua tahu Gara anak yang baik. Mustahil melakukan hal seperti itu."

"Sebagai kepala sekolah Ibu harus mengambil tindakan tegas seperti ini Gara, Bella. Maaf, keputusan ini sudah final. Bukti yang ada tidak bisa dibantah lagi. Kalian di keluarkan dari sekolah ini."

Lemas rasanya Gara dan Bella ketika mendengar ucapan Bu Rea yang sepertinya mustahil untuk dinegosiasikan lagi.

"Tentang bagaimana Gara dan Bella ke depannya Ibu menyerahkan urusan ini pada kedua keluarga. Baiknya dibicarakan baik-baik secara kekeluargaan."

Papa Rano melihat Bella dengan ekspresi kecewa.

"Ayahnya Gara, sebaiknya Gara menikahi Bella. Bagaimana menurutmu Tuan?"

"Apa menikah??? Papa, jangan membuat keputusan seperti ini. Bella masih kecil."

"Tolong Om. Kami hanya difitnah..."

"Gara... Perbuatan kalian tidak hanya mencemari nama baik sekolah. Tapi nama kedua keluarga besar. Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nama keluarga kita adalah dengan pernikahan kalian."

"Ayah... Bahkan Ayah tidak percaya pada putra Ayah sendiri?"

"Ayah bukan tidak percaya padamu, Gara. Hanya saja keadaan sudah kepalang runyam begini. Kau harus bersikap dewasa. Menikahlah dengan Bella demi menyelamatkan nama baik kedua keluarga."

Gara tertunduk lesu. Semua kejadian ini tidak pernah terfikir akan menimpanya.

"Papa..." Bella memohon pada Papanya. Berharap papanya memberikan pengampunan dan memberikan solusi lain selain menikah. Ia tidak ingin menikah. Terlebih saat Gara terlihat tidak ingin menikahi Bella.

"Maaf Bella. Sama seperti Ayahnya Gara. Papa juga memikirkan nama baik dan reputasi keluarga kita. Berkorbanlah kali ini saja demi keluarga kita."

Bella benar-benar sudah hilang harapan.

"Nah, Tuan Rano. Berapa mahar yang pantas untuk Gara berikan pada putrimu?" Tanya Ayah Daniel. Ia tahu jika Bella adalah putri seorang mafia yang sudah barang pasti hartanya sangat melimpah. Sebisa mungkin Ayah Daniel menghargai putri mereka.

"Sekiranya yang tidak memberatkan Gara. Tapi juga tidak menghina Bella."

"Bagaimana jika Gara memberikan seratus gram emas, satu triliun uang tunai, satu hunian mewah, dan satu mobil mewah sebagai mahar untuk Bella. Apakah nilai ini cukup menghargai Bella?"

Papa Rano tersenyum.

"Sebagai CEO kawakan kau pasti sangat kaya Daniel. Tapi masalah cukup atau tidak biar Bella yang menjawab."

"Bagaimana Nak, Bella?" Tanya Ayah Daniel.

Bella terdiam cukup lama. Ia bukan pusing masalah mahar. Tapi pusing memikirkan bagaimana mungkin fitnah ini berakhir dengan pernikahan dini.

"Bella tidak meminta apa-apa. Apapun yang diberikan Gara, Bella akan terima. Yang terpenting nama kedua keluarga kita terselamatkan. Itu saja."

"Pilihan yang bijak Nak, Bella." Ayah Daniel tersenyum.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 142

    Persidangan dua kasus besar kembali dibuka. Kasus-kasus yang dulunya sempat tenggelam dan dianggap telah terselesaikan kini kembali diungkap di hadapan hakim. Bukti-bukti dikumpulkan. Tersangka baru dari dua kasus ini di hadirkan. Termasuk Rosna yang awalnya menghindar akhirnya rumah sakit jiwa tempat persembunyiannya selama ini di grebek oleh polisi. Kini wanita itu tertunduk tak berdaya di hadapan hakim. Ia mencoba berkelit saat mendengar pembacaan tuduhan. Tapi bukti pemeriksaan dari dokter kejiwaan membuktikan ia tidaklah menderita gangguan jiwa. Dia sehat. Sebab itu pengakuannya pada Leo bisa menjadi bukti yang kuat. Dulu ia mengatakan semua itu pada Leo untuk sekedar bermain-main karena yakin bisa menangani bocah itu. Tapi Rosna sungguh tidak tahu siapa yang dia hadapi. Akhirnya, kini ia terjebak dengan permainannya sendiri. Selain itu Edo juga bermandikan air mata karena tindakan yang diambil Sabia. Tapi mau bagaiman

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 141

    Gara dan Bella datang ke rumah sakit telat saat Sabia sedang menggendong bayinya. "Gercep banget meluncurknya Ra?" Tanya Edo begitu melihat sahabatnya itu datang. "Sengaja, biar kamu nggak nanya kapan dateng mulu," jawab Gara dengan nada gurauan. Ia menyerahkan sebuah bingkisan besar pada Edo, dan laki-laki itu menerimanya dengan bahagia. "Wahh, Kak Edo, Kak Sabia, selamat ya atas kelahiran bayinya," ucap Bella tulus. "Terimakasih ya Bella," jawab Sabia diikuti senyuman. Bella mendekat untuk melihat bayi mungil itu. Tapi tidak dengan Gara. Hanya melihat Bella tersenyum saat menjawil pipi bayi itu saja tiba-tiba dada Gara menjadi sesak. Andai bayinya tak keguguran mungkin tak lama lagi dia juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan Edo dan Sabia saat ini. Sebab itu Gara tak sanggup setiap kali melihat Bella tersenyum pada bayi. Itu sama saja mengingatkan Gara betapa bodohnya dia kala itu.

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 140

    Kumandang adzan Edo terdengar beberapa kali tersensat. Suaranya yang parau itu timbul tenggelam dalam tangisan. Saat kumandang adzan dan iqamahnya selesai wajah Edo benar-benar telah banjir air mata. Ia tak menyangka jika sekarang telah menjadi seorang Papa. Seorang bayi mungil telah hadir di hadapannya begitu nyata. Ya, ini bukan lagi mimpi atau sekedar khayalan. Edo takut-takut menyentuh tangan mungil bayinya yang masih mengepal. Lalu ia mencium pipi anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Bayi itu tampak mengeliat bibirnya bergerak-gerak lucu. Ia pasti mengira ciuman Edo dipipinya adalah asi pertama yang ingin ia hisap. "Selamat datang di dunia jagoan kecil Papa," ucap Edo pelan. "Ya, ampun Papa malah nangis. Harusnya Papa seneng karena sudah bisa bertemu kamu. Maafin Papa ya sayang." Edo tersenyum bahagia saat melihat jari telunjuknya digenggam oleh anaknya. Edo kemudian teringat pada satu-satun

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 138

    Faktanya kepulangan Leo ke markas Hell Devil memang membuat kebahagiaan tersendiri meskipun ada sedikit yang disayangkan. Yaitu Leo tak bisa dimintai keterangan terkait peristiwa yang menyebabkan dirinya celaka. "Coba diingat-ingat lagi Leo. Bukankah kala itu kau pergi untuk menyelidiki tentang ibunya Sabia untuk kasus pembunuhan mamanya Bella?" Tanya Pak Freddy. "Apa yang terjadi padamu? Kenapa jejak penyeranganmu ditemukan di pinggiran kota? Apa yang kau temukan disana?" Leo tertunduk di depan Pak Freddy. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Berusaha benar mengingat terakhir kali yang terjadi dengan dirinya. "Pak Freddy, sepertinya Leo memang tidak bisa mengingat apapun. Jangan dipaksakan. Nanti dia bisa sakit," kata Gara. "Sepertinya tidak ada orang lain yang bisa diharapkan untuk menuntaskan kasus ini. Kalau begitu aku sendiri yang harus turun tangan untuk menuntaskann

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 139

    "Aku sudah launching Om, ditunggu kadonya." Gara tersenyum setelah membaca pesan singkat itu. "Kenapa Ra?" Tanya Bella. Gara masih tersenyum lebar saat menyerahkan gawainya pada Bella. "Apaan sih yang bikin kamu senyam-senyum nggak jelas begini?" Bella penasaran. Ia pun mengambil gawai Gara dan melihat foto yang dikirimkan oleh sahabat Gara itu. "Ini..." Bella mengamati baik-baik foto itu. "Ini anak Kak Edo?" Tanya Bella tak percaya. "Kecuali kalau Edo nyulik anak orang bisa jadi foto itu bukan anaknya. Ya iyalah itu anaknya Edo, sayang," jawab Gara. "Ih, Gara neyebelin banget sih orang aku nanya baik-baik juga. Aku tuh kaget aja kok Sabia udah lahiran aja. Dia yang lahirannya cepet apa kita yang terlalu sibuk sih?" "Kita yang terlalu sibuk deh kayaknya. Gimana, mau nengokin sekarang atau besok aja?" Tanya Gara. "Kalau besok keburu pul

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 137

    "Leo?" Refleks Gara menyebut nama itu. Leo menatap Gara dengan lekat. "Aduh, kayak nggak asing sama wajahnya. Tapi siapa ya?" Tanya Leo mencoba membenamkan wajah Gara ke dalam ingatannya. "Gara," ucap Gara. "Sagara Rihanda." "Oh, ya benar. Aku baru ingat!" Seru Leo. Ingatannya memang agak buruk setelah kejadian itu. Terutama untuk kejadian-kejadian yang baru saja terjadi. Justru jika kejadian itu telah lama berlalu Leo sangat ingat betul. Seperti bagaimana ayahnya meninggal dan bagaimana ia bergabung dengan kelompok mafia Hell Devil. Gara meletakkan air mineral yang dibawanya ke meja kasir. "Kau jangan pergi. Aku ingin bicara denganmu." "Oke, aku tunggu di luar," jawab Leo. Kebetulan di luar minimarket memang ada meja dan kursi yang sengaja di sediakan untuk pengunjung. Gara menyelesaikan pembelian air mineralnya kemudian buru-buru keluar untuk menyusul Leo.

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 89

    Ceklek!Gara membuka pintu depan dan langsung mendapati istrinya sedang duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Selamat malam, Tuan Muda Sagara Rihanda," sapa Bella dengan senyuman sinis."Kamu belum tidur? Ini udah malam loh Bel," ucap Gara mengalihkan pembicaraan. Bella pun tak per

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 88

    Liburan semester hampir usai. Entah kenapa malam ini Edo tiba-tiba saja mengajak Gara bertemu di sebuah cafe."Kenapa Do muda dilipet begitu?" Tanya Gara begitu melihat wajah sahabatnya begitu lecek seperti uang tertinggal di dalam kantong terus kecuci sampai kering."Aduh Ra aku harus gimana?" Edo me

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 87

    Dengan telaten Bella membantu suaminya melepaskan jas yang dipakainya."Kamu mau pakai baju yang mana biar aku ambilkan," kata Bella."Tidak usah. Aku begini saja," ucap Gara sambil menarik Bella mendekat."Kamu sedang sakit Ra. Jangan maksain diri. Aji mumpung banget."Hanya dengan melihat wajah Gara s

  • Terpaksa Menikahi Putri Mafia   Bab 86

    Grep!Gara memegang tangan Bella yang sibuk memasang perban."Kenapa?" Tanya Bella sambil melihat suaminya."Sudah. Aku bisa sendiri.""Ini sudah hampir selesai Ra." Bella cepat menyelesaikan acara perban tersebut."Kau banyak mengeluarkan darah. Yakin tidak mau ke rumah sakit?" Tanya Bella mengkhawatirk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status