LOGINSetetes darah manis Cedric di ujung lidah Hailey bukan lagi sekadar pemuas dahaga, melainkan harga kebebasan yang baru saja ia serahkan secara sukarela.
Rasa hangat yang memabukkan itu merayapi tenggorokannya, seketika memadamkan gatal beracun yang menyiksanya selama bertahun-tahun. Namun, saat dahaga fisik itu terpuaskan, kebas di dadanya justru berganti menjadi ketakutan.
Langkah Hailey terasa berat menyusuri lorong batu menuju asrama putri Velmor. Bayangannya bergoyang samar di dinding akibat pendar lilin yang tertiup angin.
Di tengah lorong yang sepi itu, hanya suara langkah kakinya dan detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu keras.
Ia mengangkat jemarinya yang gemetar, menatap sisa noda merah yang melekat di sana.
Rasa bersalah menghantamnya, tetapi naluri liarnya bergerak lebih cepat, ia menyesap jemarinya sendiri, memungut sisa kehangatan milik Cedric hingga bersih.
Ibu... bagaimana ini? bisiknya dalam hati.
Hailey membayangkan raut ketakutan ibunya jika rahasia ini terbongkar, dan kemarahan ayahnya jika mengetahui kecerobohan ini. Peringatan baron tua itu kembali bergema di kepalanya:
“Manusia itu makhluk beracun, Hailey. Sekali kau memperlihatkan taringmu, mereka tak akan ragu membakarmu hidup-hidup.”
Apalagi Cedric. Pria itu bukan sekadar manusia, melainkan calon duke dan rival yang paling membencinya selama tiga tahun ini.
Padahal, ini adalah tahun terakhirnya di akademi. Hailey hanya perlu bertahan beberapa bulan lagi hingga ujian kelulusan, lalu kembali ke desanya untuk mengawasi ladang kentang dengan tenang. Namun, kini seluruh impian sederhananya hancur dalam semalam.
Bagaimana bisa Cedric mengetahuinya? Apakah pria itu mengawasinya saat ia menyelinap ke hutan belakang akademi? Atau ia menemukan sisa perburuannya?
Beban pikiran itu langsung memicu denyut nyeri di pelipisnya.
Saat mendorong pintu kamar asramanya, Hailey mencoba memasang topeng paling tenang yang ia miliki.
Klek.
“Bagus! Pulang jam segini lagi,” sambut Penelope yang berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap Hailey tajam. “Kalau kita semua dihukum keliling lapangan besok karena ulahmu, aku tidak akan membagikan jatah supku untukmu!”
Tanpa berdebat, Hailey merogoh saku dan langsung menyumpalkan sepotong macaron sisa ke mulut teman sekamarnya itu.
“Jangan malam ini, Pen. Aku benar-benar lelah,” potong Hailey dengan suara serak.
Ia meletakkan tumpukan buku tebalnya di atas meja dengan dentum pelan, lalu bergegas mengganti pakaian.
“Aku tidak keluyuran. Aku hanya terjebak di perpustakaan mencari referensi tanaman racun untuk Profesor Lucian.”
Hailey langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh kepala. Penelope mengunyah macaron itu dengan tatapan nanar, menatap gundukan selimut di depannya.
“Kau pasti ketakutan karena bunga pemakan nyamukmu gagal tumbuh lagi, kan?” tebak Penelope, mencoba mencairkan suasana.
“Aku hanya gagal di satu proyek itu,” sahut suara Hailey yang teredam dari balik kain. “Lagi pula, Profesor tidak pernah bilang kalau tanaman aneh itu cuma boleh disiram sebulan sekali.”
“Makanya baca bukunya, bodoh! Sekarang aku paham kenapa kau dikurung dengan setumpuk buku tebal itu.”
“Dia cuma memberiku waktu tiga hari untuk merangkum semuanya.”
“Itu masih mending. Kemarin Laura disuruh memunguti seluruh biji pohon oak di hutan belakang cuma karena salah membedakan akar penumbuh rambut dengan ginseng.”
Kekehan pelan lolos dari balik selimut Hailey. Sebuah jeda singkat yang sangat ia butuhkan untuk mengalihkan rasa cemas yang menghimpit dadanya.
Namun, Penelope yang berdiri di samping tempat tidur tahu ada sesuatu yang berbeda. Sejak ditempatkan di kamar yang sama, Hailey selalu membangun tembok transparan di sekelilingnya. Gadis itu terbiasa menanggung semuanya sendiri.
Penelope menghargai batasan itu dan tidak pernah memaksanya bercerita tentang masalahnya. Ada rasa hangat sebagai kawan di hati Penelope, meski ia tak pernah tahu apakah Hailey menganggapnya sama.
Malam kian larut. Hujan telah reda, menyisakan hawa dingin yang menggerogoti kaca jendela. Penelope mematikan lilin dan kembali ke tempat tidurnya.
Di dalam kegelapan, mata Hailey terbuka lebar. Kata milikku dari bibir Cedric berulang kali bergema di kepalanya bagai jalinan kutukan.
Thuk. Thuk.
Ketukan halus pada kaca jendela kamar membuat tubuh Hailey mematung. Kamarnya berada di lantai tiga, tidak mungkin ada orang berdiri di luar.
Hailey menyibak selimutnya perlahan, merangkak mendekati jendela, dan mengusap embun pada kaca.
Di luar sana, di bawah remang cahaya bulan, seekor burung gagak hitam berukuran tak wajar hinggap di ambang jendela. Di paruhnya, burung itu mencengkeram selembar lipatan kertas berstempel lilin biru tua, lambang kebesaran keluarga duke milik Cedric.
Dengan tangan gemetar, Hailey membuka celah jendela dan mengambil surat itu. Sang burung melesat pergi tanpa suara.
Jantung Hailey serasa berhenti berdetak saat membaca sebaris kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas di dalamnya:
Sapu tangan bersulam lambang keluargamu tertinggal di lantai kelas. Kainnya cukup basah oleh darahku. Temui aku di menara astronomi sebelum bel doa pagi berbunyi, atau aku yang akan membawakan bukti ini langsung ke hadapan para pengawal akademi.
Hailey meraba sakunya dengan panik. Kosong.
Sapu tangan itu benar-benar hilang.
Cengkeraman Cedric pada lehernya kini bukan lagi sekadar ancaman kata-kata, melainkan bukti fisik mematikan yang siap menghancurkan seluruh hidupnya beberapa jam lagi.
“Ah, sial! Aku benar-benar impulsif!” Hailey mengutuk dirinya sendiri.
“Kau bisa mengendalikannya? Kalau begitu... aku mau!” Hailey menjawab tanpa berpikir dua kali, bibirnya terkembang membentuk senyuman paling lebar dan polos. Di otak vampirnya, kesempatan menunggangi reptil raksasa bersayap yang bisa memuntahkan api menembus gumpalan awan jauh lebih menggiurkan setelah drama melelahkan tadi. “Ayo bawa aku terbang, Cedric!” Suara nyaring yang dipenuhi antusiasme murni itu bergetar tajam di udara, sukses membuat telinga Cedric merona merah. Cedric mendadak tertegun kaku. Ini pertama kalinya Hailey menatapnya tanpa kilatan kebencian, makian, atau tatapan ingin membunuh. Senyuman gadis itu terlampau silau hingga membuat dada Cedric berdesir aneh. Cedric buru-buru berdehem canggung. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, bersyukur suara gemuruh ombak yang menghantam karang cukup kencang untuk menyamarkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan. “Kita terbang setelah para pengganggu itu pergi,” gumam Cedric, mengedikkan dagunya ke
“Apa kau tahu siapa aku?! Aku adalah putri Duke Wintervale!” Teriakan melengking itu menggelegar nyaring, membuat telinga sensitif vampir milik Hailey berdenging hebat. Hailey reflex ingin menutupi kedua telinganya jika saja ia tak ingat sedang berada di tengah ajang penghakiman bangsawan. “Saya—” Hailey baru mencoba angkat suara dengan nada gemetar buatan ketika Cedric mendadak menyela dengan lantang. “Jangan berteriak pada wanitaku!” Napas Cedric memburu, suaranya naik satu oktaf hingga membuat Hailey sendiri kaget setengah mati. Hailey tidak yakin apakah pria manipulatif ini sedang benar-benar membelanya, atau sekadar menikmati panggung drama buatannya sendiri untuk membalas Seraphina. “Dia ini gadis yang sangat lembut, polos, dan lemah!” tambah Cedric dramatis, merengkuh bahu Hailey lebih erat. Seraphina memicingkan mata, sudut bibirnya terangkat penuh jijik. Seraphina yang jelas tak percaya gadis berantakan dengan kemeja terkoyak dan rambut lepek seperti kucing liar itu bis
Suara teriakkan Duchess Cordelia belum benar-benar menghilang dari udara, namun badai berikutnya sudah lebih dulu meledak di ruang utama Kastil Infernox. Plak! Sebuah tamparan keras melayang dari tangan anggun berbalut sarung tangan sutra putih milik seorang gadis berambut keperakan. Entah sudah tamparan yang keberapa kalinya. Wajah gadis bergaun mewah itu menyala-nyala, dipenuhi amarah terpendam yang akhirnya pecah tak tertahankan. Sementara Cedric—sang korban tamparan—hanya mengusap pipinya yang memerah dengan santai. Dengan gerakan tenang seolah baru saja disengat nyamuk biasa, pria itu kembali mengancingkan kemejanya yang terbuka, lalu menyeka noda darah di sudut bibirnya yang sedikit sobek akibat hantaman. Tentu saja, sisa gincu merah muda milik Hailey masih menempel jelas di sana. “Pria brengsek tak tahu malu!” Gadis berambut perak itu memaki dengan napas memburu. Matanya yang tajam hampir saja menyerobot Hailey yang masih berdiri membeku di belakang punggung Cedric,
Bumi seakan berhenti berputar, berganti dengan mual hebat yang membuat perut Hailey serasa dikocok dalam mesin peremas sihir. Udara hangat Kastil Infernox menyapu kulitnya saat Cedric menurunkannya begitu saja di atas ranjang king-size berkanopi megah.Sentuhan kasur berbahan bulu angsa yang terlalu empuk itu bukannya membuat Hailey nyaman, melainkan makin menyadarkannya pada aroma cedarwood dan tanah basah yang pekat—aroma khas Cedric yang menguasai seluruh penjuru kamar ini.Saat Hailey berusaha mengumpulkan kesadarannya yang koyak, telinganya menangkap suara kekehan bernada cemooh dari depan ranjang.“Kau tidak pernah memakai gelang teleportasi mahal seperti ini, ya?” Cedric bersedekap, menatap kondisi Hailey yang payah dengan pandangan penuh olokan.Nada cemooh itu sukses memicu kedutan tajam di dahi Hailey. Gadis itu memegang kepalanya yang berdenyut, berusaha menatap Cedric dengan pijaran permusuhan. “Ke mana... kau membawaku, Pria Sinting? Kenapa rasanya kepalaku akan terpisah?
Logika Hailey rasanya akan pecah. Di satu sisi, ia baru saja panik luar biasa akibat gejolak gairah tak masuk akal yang mendadak membakarnya—sebuah hawa panas liar yang tak seharusnya ia rasakan saat berhadapan dengan pria yang sangat dibencinya. Di sisi lain, aura bahaya dari Cedric begitu pekat hingga naluri terdasarnya menyuarakan satu perintah mutlak: LARI! “TIDAK!” Bagai melihat hantu di siang bolong, Hailey berbalik dan berlari sekencang yang ia bisa. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu kenapa begitu takut pada Cedric. Jika masalahnya hanya soal pelukan intim di tenda semalam, mereka mungkin bisa sama-sama menguburnya, mengingat ego keduanya sama-sama setinggi langit. Namun, ketika Cedric menatapnya dengan iris hazel pekat yang dipenuhi hasrat berburu seperti tadi, Hailey merasa pria itu benar-benar akan menelannya bulat-bulat di tempat. “HAILEY!” Gema teriakan itu memekakkan telinga. Saat menoleh sekilas, mata Hailey melebar mendapati Cedric mengejarnya dengan langkah-langka
Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangnya, menarik panggulnya rapat menempel pada bagian bawah tubuh seorang pria yang mengeras hangat di belakangnya. Napas berat dan teratur milik Cedric mengembus hangat di tengkuknya. Kicauan burung keesokan paginya menyegarkan kesadaran Hailey, membuat matanya terbuka perlahan. Ia mengerjap, lalu membeku kaku. “Astaga... apa-apaan ini?” batin Hailey menjerit panik. Tadi malam, setelah bersusah payah memancing ikan untuk Cedric, Hailey ketiduran begitu saja akibat kelelahan usai menghabiskan tiga ekor ikan panggang buatan pria itu. Seingatnya, ia bersandar di pohon lalu kesadarannya ambruk. Ia sama sekali tidak mengingat bagaimana bisa terbangun di dalam tenda sihir yang hangat ini, apalagi dalam posisi intim seperti ini. Sedikit pun ia tidak menyadari bahwa saat ia terlelap semalam, insting vampirnya sempat bangkit akibat aroma setetes darah di jari Cedric—membuatnya menunggangi pria itu, menyesap darahnya kembali, hingga mereka melewa







