Home / Fantasi / Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan / Bab 2 Rasa manis yang membekas

Share

Bab 2 Rasa manis yang membekas

Author: Kai24
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-26 12:51:21

Setetes darah manis Cedric di ujung lidah Hailey bukan lagi sekadar pemuas dahaga, melainkan harga kebebasan yang baru saja ia serahkan secara sukarela.

Rasa hangat yang memabukkan itu merayapi tenggorokannya, seketika memadamkan gatal beracun yang menyiksanya selama bertahun-tahun. Namun, saat dahaga fisik itu terpuaskan, kebas di dadanya justru berganti menjadi ketakutan.

Langkah Hailey terasa berat menyusuri lorong batu menuju asrama putri Velmor. Bayangannya bergoyang samar di dinding akibat pendar lilin yang tertiup angin.

Di tengah lorong yang sepi itu, hanya suara langkah kakinya dan detak jantungnya sendiri yang terdengar begitu keras.

Ia mengangkat jemarinya yang gemetar, menatap sisa noda merah yang melekat di sana.

Rasa bersalah menghantamnya, tetapi naluri liarnya bergerak lebih cepat, ia menyesap jemarinya sendiri, memungut sisa kehangatan milik Cedric hingga bersih.

Ibu... bagaimana ini? bisiknya dalam hati.

Hailey membayangkan raut ketakutan ibunya jika rahasia ini terbongkar, dan kemarahan ayahnya jika mengetahui kecerobohan ini. Peringatan baron tua itu kembali bergema di kepalanya:

“Manusia itu makhluk beracun, Hailey. Sekali kau memperlihatkan taringmu, mereka tak akan ragu membakarmu hidup-hidup.”

Apalagi Cedric. Pria itu bukan sekadar manusia, melainkan calon duke dan rival yang paling membencinya selama tiga tahun ini.

Padahal, ini adalah tahun terakhirnya di akademi. Hailey hanya perlu bertahan beberapa bulan lagi hingga ujian kelulusan, lalu kembali ke desanya untuk mengawasi ladang kentang dengan tenang. Namun, kini seluruh impian sederhananya hancur dalam semalam.

Bagaimana bisa Cedric mengetahuinya? Apakah pria itu mengawasinya saat ia menyelinap ke hutan belakang akademi? Atau ia menemukan sisa perburuannya?

Beban pikiran itu langsung memicu denyut nyeri di pelipisnya.

Saat mendorong pintu kamar asramanya, Hailey mencoba memasang topeng paling tenang yang ia miliki.

Klek.

“Bagus! Pulang jam segini lagi,” sambut Penelope yang berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap Hailey tajam. “Kalau kita semua dihukum keliling lapangan besok karena ulahmu, aku tidak akan membagikan jatah supku untukmu!”

Tanpa berdebat, Hailey merogoh saku dan langsung menyumpalkan sepotong macaron sisa ke mulut teman sekamarnya itu.

“Jangan malam ini, Pen. Aku benar-benar lelah,” potong Hailey dengan suara serak.

Ia meletakkan tumpukan buku tebalnya di atas meja dengan dentum pelan, lalu bergegas mengganti pakaian.

“Aku tidak keluyuran. Aku hanya terjebak di perpustakaan mencari referensi tanaman racun untuk Profesor Lucian.”

Hailey langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh kepala. Penelope mengunyah macaron itu dengan tatapan nanar, menatap gundukan selimut di depannya.

“Kau pasti ketakutan karena bunga pemakan nyamukmu gagal tumbuh lagi, kan?” tebak Penelope, mencoba mencairkan suasana.

“Aku hanya gagal di satu proyek itu,” sahut suara Hailey yang teredam dari balik kain. “Lagi pula, Profesor tidak pernah bilang kalau tanaman aneh itu cuma boleh disiram sebulan sekali.”

“Makanya baca bukunya, bodoh! Sekarang aku paham kenapa kau dikurung dengan setumpuk buku tebal itu.”

“Dia cuma memberiku waktu tiga hari untuk merangkum semuanya.”

“Itu masih mending. Kemarin Laura disuruh memunguti seluruh biji pohon oak di hutan belakang cuma karena salah membedakan akar penumbuh rambut dengan ginseng.”

Kekehan pelan lolos dari balik selimut Hailey. Sebuah jeda singkat yang sangat ia butuhkan untuk mengalihkan rasa cemas yang menghimpit dadanya.

Namun, Penelope yang berdiri di samping tempat tidur tahu ada sesuatu yang berbeda. Sejak ditempatkan di kamar yang sama, Hailey selalu membangun tembok transparan di sekelilingnya. Gadis itu terbiasa menanggung semuanya sendiri.

Penelope menghargai batasan itu dan tidak pernah memaksanya bercerita tentang masalahnya. Ada rasa hangat sebagai kawan di hati Penelope, meski ia tak pernah tahu apakah Hailey menganggapnya sama.

Malam kian larut. Hujan telah reda, menyisakan hawa dingin yang menggerogoti kaca jendela. Penelope mematikan lilin dan kembali ke tempat tidurnya.

Di dalam kegelapan, mata Hailey terbuka lebar. Kata milikku dari bibir Cedric berulang kali bergema di kepalanya bagai jalinan kutukan.

Thuk. Thuk.

Ketukan halus pada kaca jendela kamar membuat tubuh Hailey mematung. Kamarnya berada di lantai tiga, tidak mungkin ada orang berdiri di luar.

Hailey menyibak selimutnya perlahan, merangkak mendekati jendela, dan mengusap embun pada kaca.

Di luar sana, di bawah remang cahaya bulan, seekor burung gagak hitam berukuran tak wajar hinggap di ambang jendela. Di paruhnya, burung itu mencengkeram selembar lipatan kertas berstempel lilin biru tua, lambang kebesaran keluarga duke milik Cedric.

Dengan tangan gemetar, Hailey membuka celah jendela dan mengambil surat itu. Sang burung melesat pergi tanpa suara.

Jantung Hailey serasa berhenti berdetak saat membaca sebaris kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas di dalamnya:

Sapu tangan bersulam lambang keluargamu tertinggal di lantai kelas. Kainnya cukup basah oleh darahku. Temui aku di menara astronomi sebelum bel doa pagi berbunyi, atau aku yang akan membawakan bukti ini langsung ke hadapan para pengawal akademi.

Hailey meraba sakunya dengan panik. Kosong.

Sapu tangan itu benar-benar hilang.

Cengkeraman Cedric pada lehernya kini bukan lagi sekadar ancaman kata-kata, melainkan bukti fisik mematikan yang siap menghancurkan seluruh hidupnya beberapa jam lagi.

“Ah, sial! Aku benar-benar impulsif!” Hailey mengutuk dirinya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 125 Memancing para penyebar gosip

    ​“Jadi seperti inilah kelakuan seorang Saintess?!” Wajah Cedric mengeras, diselimuti aura gelap yang menyerupai awan mendung pembawa badai. ​“Selirmu terus-terusan membuatku emosi!” Helena berteriak tak terima. ​“Apa yang akan dikatakan orang lain jika wanita yang dianggap penuh kasih justru melakukan kekerasan?” ​“Sudah kubilang, dia yang memulai duluan!” ​“Dan di sebelah mana kekasihku memukulmu?” ​Helena terdiam. Gadis itu memang tidak memukulnya secara fisik, tetapi ucapan Hailey sungguh pantas untuk dibungkam. ​Di sudut-sudut kastil, para pelayan yang sedang berlalu-lalang mulai saling berbisik, sementara beberapa lainnya mengintip penuh rasa penasaran. Helena mengepalkan kedua tangannya. Pandangan-pandangan menghakimi itu tertuju padanya, menilai perangainya. Dan yang paling buruk, para pelayan adalah penyebar gosip paling cepat di muka bumi. ​“Cedric …” Helena menatap penuh permohonan agar masalah ini tidak diperpanjang. “Ini hanya salah paham. Aku tidak bermaksud melak

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 124 Kacau balau

    ​Hailey duduk anggun setelah sang Saintess mempersilakannya. Cangkir teh hangat yang baru kembali dihidangkan, menyingkirkan teh lama yang telah dingin. Sementara itu, meski pegangan pada cangkirnya sempat mengerat dalam beberapa detik, Helena dengan cepat kembali memasang raut wajah anggun. ​“Aku berterima kasih padamu. Kau sudah menyisihkan waktu untuk memenuhi undanganku di antara kesibukanmu melayani tunanganku.” ​“Saya senang Anda memiliki kemurahan hati seperti ini. Jangan khawatir, Nona Helena, Anda bisa duduk dengan tenang dan biarkan tugas itu saya yang melaksanakannya,” sahut Hailey mulai bersikap makin tak tahu malu. ​Ia kemudian memberikan kode pada Grace. Memahami isyarat tersebut, Grace melangkah maju lalu menyerahkan sekeranjang mawar segar kepada Helena. ​“Apa ini?” Helena mengernyit menatap kuntum-kuntum bunga yang merekah cantik, tetapi masih penuh duri dan dedaunan yang belum dirapikan. ​“Saya sangat antusias untuk bertemu dengan Anda. Karena itu … saya menyemp

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 123 Bertatap muka

    ​“Wanita itu akan mengundang Anda minum teh,” ucap Lunelle sambil jemarinya telaten menyisir rambut Hailey. ​“Kapan?” ​“Mungkin besok atau lusa.” ​“Kalau begitu, aku harus bersiap.” Hailey mengetuk-ngetukkan jarinya di meja rias, mulai merancang strategi untuk membuat Helena semakin muak. ​Lagi pula, sudah seminggu wanita itu cukup sabar setelah Cedric secara terang-terangan mengabaikannya. Hailey tahu persis bagaimana cara menguji kesabaran wanita itu hingga membuatnya tidak betah. Ia harus terus memprovokasinya, mengingat ia hanya memiliki waktu setengah tahun sebelum pasangan itu melangsungkan pernikahan. ​“Apa dia sangat marah?” ​“Iya, dia terus mengamuk di kamarnya.” Lunelle berbisik makin pelan. “Dan sebaiknya Anda juga berhati-hati.” ​Tanpa peringatan dari Lunelle pun, Hailey memang sudah waspada pada wanita itu. “Apa ada sesuatu yang aneh?” ​“Setelah saya amati, setiap kali dia marah, mananya terselimuti aura gelap. Bahkan, tumbuhan hidup yang disentuhnya atau berada d

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 122 Pengabaian

    ​“Tuan Muda sedang ada rapat darurat bersama Duke, jadi beliau pergi duluan,” jelas Grace ketika memasuki kamar. Para pelayan lain mengekor di belakang, bersiap melayani Hailey kembali. ​“Iya, tidak masalah,” jawab Hailey singkat. ​Ia tidak perlu merengek hanya karena pria itu tidak ada di sisinya. Masalah utamanya saat ini adalah ia kesulitan melangkah; tungkai kakinya terasa lemas dan gemetar, sementara inti tubuhnya masih mendera perih. ​Grace yang memahami keadaan tanpa perlu bertanya segera memapah Hailey menuju bak mandi yang telah diisi air hangat untuk merelaksasi otot-ototnya. Pelayan-pelayan lain hanya bisa mencuri-curi pandang dengan wajah memerah saat melihat sekujur tubuh nyonya yang mereka layani dipenuhi bercak kemerahan, sebelum akhirnya mendapat tatapan teguran tajam dari Grace. ​Ketika selesai dan keluar dari kamar mandi, sprei yang bernoda darah itu pun telah diganti. Saksi bisu bagaimana ia telah kehilangan keperawanannya—Cedric telah merenggutnya. ​Haile

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 121 Wanita milikku

    ​Hailey menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. “Bukankah perjamuannya belum selesai?” ​“Karena kau tidak ada di sana, aku jadi bosan.” Cedric membuka satu per satu kancing kemeja putihnya. ​Hal itu membuat Hailey merasa mengalami déjà vu. Dulu, mereka pernah berada di posisi serupa, bedanya pria di atasnya saat itu hanya bersandiwara. Namun kini, Cedric sama sekali tidak sedang main-main. ​Kemeja putih itu dilempar Cedric ke sembarang arah. Pria yang kini setengah telanjang tersebut menunduk, membenamkan wajah di ceruk leher Hailey, lalu mulai menciumi kulitnya. Sementara itu, tangan sang gadis meremas sprei hingga kusut. ​“Apa ini tidak jadi masalah? Duke mungkin akan mencarimu.” ​“Bukan Ayah, melainkan Helena. Jadi, mendesahlah lebih keras.” ​Ah! ​Hailey refleks mengerang saat Cedric memberikan gigitan kecil di bawah tulang selangkanya, membuat kulit seputih porselain itu memerah. Ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, tetapi Cedric langsung meraih ta

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 120 Ayo kita rayakan

    ​“Pergilah,” perintah Hailey sembari melirik jarum jam yang berdetak di dinding. Para tamu undangan pasti telah berdatangan memenuhi halaman kastil. Mulai dari pihak istana hingga kaum bangsawan tinggi, tak seorang pun akan melewatkan acara megah ini. ​“Kau mengusirku dari kamarku sendiri.” ​Hailey mendadak salah tingkah. Ucapan itu memang benar—tempat ini adalah kamar pria itu, kamar yang dulu menjadi saksi insiden paling memalukan dalam hidupnya. Ia bahkan bisa menghitung berapa kali dirinya pernah berada di ruangan ini, termasuk di atas ranjang tersebut. ​“Apa aku sudah tampan?” ​“Iya,” jawab Hailey malas sambil memutar bola mata. ​“Bagaimana dengan rambutku?” ​“Sudah rapi. Tak ada cela apa pun.” Hailey mendorong punggung Cedric yang tampak enggan beranjak dan terus mengulur waktu. ​“Gaunmu sudah kusiapkan.” Cedric menunjuk sebuah gaun mewah yang tersampir rapi di atas sofa. ​“Aku tahu.” ​“Segera susul aku,” perintah Cedric tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi wajah Hail

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status