Mag-log in“Jadi seperti inilah kelakuan seorang Saintess?!” Wajah Cedric mengeras, diselimuti aura gelap yang menyerupai awan mendung pembawa badai. “Selirmu terus-terusan membuatku emosi!” Helena berteriak tak terima. “Apa yang akan dikatakan orang lain jika wanita yang dianggap penuh kasih justru melakukan kekerasan?” “Sudah kubilang, dia yang memulai duluan!” “Dan di sebelah mana kekasihku memukulmu?” Helena terdiam. Gadis itu memang tidak memukulnya secara fisik, tetapi ucapan Hailey sungguh pantas untuk dibungkam. Di sudut-sudut kastil, para pelayan yang sedang berlalu-lalang mulai saling berbisik, sementara beberapa lainnya mengintip penuh rasa penasaran. Helena mengepalkan kedua tangannya. Pandangan-pandangan menghakimi itu tertuju padanya, menilai perangainya. Dan yang paling buruk, para pelayan adalah penyebar gosip paling cepat di muka bumi. “Cedric …” Helena menatap penuh permohonan agar masalah ini tidak diperpanjang. “Ini hanya salah paham. Aku tidak bermaksud melak
Hailey duduk anggun setelah sang Saintess mempersilakannya. Cangkir teh hangat yang baru kembali dihidangkan, menyingkirkan teh lama yang telah dingin. Sementara itu, meski pegangan pada cangkirnya sempat mengerat dalam beberapa detik, Helena dengan cepat kembali memasang raut wajah anggun. “Aku berterima kasih padamu. Kau sudah menyisihkan waktu untuk memenuhi undanganku di antara kesibukanmu melayani tunanganku.” “Saya senang Anda memiliki kemurahan hati seperti ini. Jangan khawatir, Nona Helena, Anda bisa duduk dengan tenang dan biarkan tugas itu saya yang melaksanakannya,” sahut Hailey mulai bersikap makin tak tahu malu. Ia kemudian memberikan kode pada Grace. Memahami isyarat tersebut, Grace melangkah maju lalu menyerahkan sekeranjang mawar segar kepada Helena. “Apa ini?” Helena mengernyit menatap kuntum-kuntum bunga yang merekah cantik, tetapi masih penuh duri dan dedaunan yang belum dirapikan. “Saya sangat antusias untuk bertemu dengan Anda. Karena itu … saya menyemp
“Wanita itu akan mengundang Anda minum teh,” ucap Lunelle sambil jemarinya telaten menyisir rambut Hailey. “Kapan?” “Mungkin besok atau lusa.” “Kalau begitu, aku harus bersiap.” Hailey mengetuk-ngetukkan jarinya di meja rias, mulai merancang strategi untuk membuat Helena semakin muak. Lagi pula, sudah seminggu wanita itu cukup sabar setelah Cedric secara terang-terangan mengabaikannya. Hailey tahu persis bagaimana cara menguji kesabaran wanita itu hingga membuatnya tidak betah. Ia harus terus memprovokasinya, mengingat ia hanya memiliki waktu setengah tahun sebelum pasangan itu melangsungkan pernikahan. “Apa dia sangat marah?” “Iya, dia terus mengamuk di kamarnya.” Lunelle berbisik makin pelan. “Dan sebaiknya Anda juga berhati-hati.” Tanpa peringatan dari Lunelle pun, Hailey memang sudah waspada pada wanita itu. “Apa ada sesuatu yang aneh?” “Setelah saya amati, setiap kali dia marah, mananya terselimuti aura gelap. Bahkan, tumbuhan hidup yang disentuhnya atau berada d
“Tuan Muda sedang ada rapat darurat bersama Duke, jadi beliau pergi duluan,” jelas Grace ketika memasuki kamar. Para pelayan lain mengekor di belakang, bersiap melayani Hailey kembali. “Iya, tidak masalah,” jawab Hailey singkat. Ia tidak perlu merengek hanya karena pria itu tidak ada di sisinya. Masalah utamanya saat ini adalah ia kesulitan melangkah; tungkai kakinya terasa lemas dan gemetar, sementara inti tubuhnya masih mendera perih. Grace yang memahami keadaan tanpa perlu bertanya segera memapah Hailey menuju bak mandi yang telah diisi air hangat untuk merelaksasi otot-ototnya. Pelayan-pelayan lain hanya bisa mencuri-curi pandang dengan wajah memerah saat melihat sekujur tubuh nyonya yang mereka layani dipenuhi bercak kemerahan, sebelum akhirnya mendapat tatapan teguran tajam dari Grace. Ketika selesai dan keluar dari kamar mandi, sprei yang bernoda darah itu pun telah diganti. Saksi bisu bagaimana ia telah kehilangan keperawanannya—Cedric telah merenggutnya. Haile
Hailey menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. “Bukankah perjamuannya belum selesai?” “Karena kau tidak ada di sana, aku jadi bosan.” Cedric membuka satu per satu kancing kemeja putihnya. Hal itu membuat Hailey merasa mengalami déjà vu. Dulu, mereka pernah berada di posisi serupa, bedanya pria di atasnya saat itu hanya bersandiwara. Namun kini, Cedric sama sekali tidak sedang main-main. Kemeja putih itu dilempar Cedric ke sembarang arah. Pria yang kini setengah telanjang tersebut menunduk, membenamkan wajah di ceruk leher Hailey, lalu mulai menciumi kulitnya. Sementara itu, tangan sang gadis meremas sprei hingga kusut. “Apa ini tidak jadi masalah? Duke mungkin akan mencarimu.” “Bukan Ayah, melainkan Helena. Jadi, mendesahlah lebih keras.” Ah! Hailey refleks mengerang saat Cedric memberikan gigitan kecil di bawah tulang selangkanya, membuat kulit seputih porselain itu memerah. Ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, tetapi Cedric langsung meraih ta
“Pergilah,” perintah Hailey sembari melirik jarum jam yang berdetak di dinding. Para tamu undangan pasti telah berdatangan memenuhi halaman kastil. Mulai dari pihak istana hingga kaum bangsawan tinggi, tak seorang pun akan melewatkan acara megah ini. “Kau mengusirku dari kamarku sendiri.” Hailey mendadak salah tingkah. Ucapan itu memang benar—tempat ini adalah kamar pria itu, kamar yang dulu menjadi saksi insiden paling memalukan dalam hidupnya. Ia bahkan bisa menghitung berapa kali dirinya pernah berada di ruangan ini, termasuk di atas ranjang tersebut. “Apa aku sudah tampan?” “Iya,” jawab Hailey malas sambil memutar bola mata. “Bagaimana dengan rambutku?” “Sudah rapi. Tak ada cela apa pun.” Hailey mendorong punggung Cedric yang tampak enggan beranjak dan terus mengulur waktu. “Gaunmu sudah kusiapkan.” Cedric menunjuk sebuah gaun mewah yang tersampir rapi di atas sofa. “Aku tahu.” “Segera susul aku,” perintah Cedric tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi wajah Hail







