Share

Bab 8 Penyangkalan

Author: Kai24
last update publish date: 2026-08-28 20:02:26

Sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggangnya, menarik panggulnya rapat menempel pada bagian bawah tubuh seorang pria yang mengeras hangat di belakangnya. Napas berat dan teratur milik Cedric mengembus hangat di tengkuknya.

Kicauan burung keesokan paginya menyegarkan kesadaran Hailey, membuat matanya terbuka perlahan. Ia mengerjap, lalu membeku kaku.

“Astaga... apa-apaan ini?” batin Hailey menjerit panik.

Tadi malam, setelah bersusah payah memancing ikan untuk Cedric, Hailey ketiduran b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 66 Perbedaan pandangan

    "Manusia mana yang ikut dengan sukarela pada ajakan vampir, bodoh?!" Sherina menolak tegas. Jelas ia masih ingin hidup dan sama sekali tak menangkap bahwa itu permintaan tolong. Hailey tak bisa mengulur lebih banyak waktu. Wali kelasnya sedang sekarat. Akhirnya ia menyambar tubuh Sherina dan melesat keluar, melompati lantai dua dengan cepat, meski Sherina memberontak liar. "Ah, brengsek! Aku belum membuat surat wasiat." Akhirnya Sherina pasrah, membiarkan tubuhnya terkulai tanpa membuang tenaga lagi. Mungkin saja mayatnya tak akan ditemukan siapa pun. Ia mendesah jengkel. — "Kenapa tidak kau katakan sejak tadi." Sherina bergerutu, tangannya masih mengendalikan mana air dengan pendar hijau di telapaknya, peluh di dahinya mulai menetes. "Kau membuatku mengira ini malam terakhirku," ucapnya lagi, sangat datar. "Aku kesulitan bicara karena syok," Hailey membela diri. Setelah lebih dari satu jam, dada yang semula menganga akibat belati kini kembali utuh, seolah tak pernah ada

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 65 Badai yang mulai datang

    ​“Celine, kau tahu bagaimana aku mendapatkan mawar saat tur istana?” Hailey menodongkan pertanyaan begitu kelas dimulai kembali. ​Alis Celine mengernyit dalam. Ia berusaha mengingat-ingat, tetapi seberapa keras pun ia berusaha, pikirannya seolah terkunci. Akhirnya ia hanya bisa menggeleng. ​“Aku cuma ingat kau sudah membawanya waktu naik kereta kuda.” ​Hailey mendesah kecewa. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap tumpukan salju di luar dengan pikiran melayang. Apakah sihir Putra Mahkota sekuat itu sampai bisa memanipulasi ingatan semua orang sekaligus? Hailey merasa sedang berhadapan dengan bahaya yang jauh lebih mengerikan dari dugaannya. ​“Untunglah…” gumamnya sambil menopang dagu. Kalau memang bukan mimpi, setidaknya ia yakin telah berhasil menyembunyikan identitasnya dengan baik. ​Hari itu, seorang wali kelas baru bernama Lenora Edelmere datang menggantikan wali kelas sebelumnya yang sedang hamil dan katanya mengambil cuti melahirkan. ​“Aku harap kita bisa bekerja sama

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 64 Pengawasan

    ​“Kau mimpi buruk?” Laura menatap khawatir seraya mengguncang bahu Hailey yang tampak bertatap kosong. ​“Aku… masih hidup?” tanya Hailey menuntut, seolah jawaban Laura adalah vonis hidup-mati baginya. ​“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau masih hidup! Makanya, jangan tidur terlalu lama!” Laura mengacak gemas rambut Hailey hingga mengembang berantakan. ​Namun, reaksi Hailey yang mendadak tertawa nyaring hingga matanya berair justru membuat Laura bergidik ngeri. ​“Ayo cepat sadar! Aku harus pulang ke rumah, tapi tak bisa meninggalkanmu yang linglung begini,” omel Laura sembari memandangi Hailey yang kini memukul-mukul kasur dengan sisa tawa yang masih mengudara. ​“Seret saja dia ke kamar mandi lalu siram dengan air dingin,” ucapan tajam Sherina akhirnya menghentikan aktivitas absurd Hailey. ​Hailey akhirnya merasa benar-benar telah kembali ke dunia nyata. Kehadiran Laura yang mengkhawatirkannya dan Sherina dengan mulut pedasnya menjadi bukti bahwa ia sadar dari mimpi. ​Ia men

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 63 Sihir ilusi

    ​Hailey berjalan dengan pikiran melayang, teringat tatapan menelisik yang dilayangkan Putra Mahkota padanya. Ia sudah berhati-hati dan merasa tak ada perilakunya yang mencurigakan, tetapi kenapa pria itu memicingkan mata? ​Tiba-tiba ia hampir terjungkal. Hailey menoleh ke bawah dan mendapati tali sepatu botnya terurai. ​“Rasanya tadi sudah kuikat kuat,” gumamnya seraya berjongkok untuk membenahi simpulnya. ​Ia melirik teman-temannya yang berjalan pelan di depan, menyimak penjelasan pemandu mengenai sejarah bagian-bagian istana. Hailey mempercepat gerakan jemarinya agar tak tertinggal. Namun, begitu mendongak, seluruh temannya—bahkan Profesor Elena—telah jauh dari pandangan. ​Hailey yakin ia hanya mengikat sepatu beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang saat instingnya memberi tanda bahaya. Ada sesuatu yang salah. ​“Celine!” teriak Hailey sekuat tenaga. ​Gadis tukang gosip itu tak menoleh sedikit pun, seolah rintihan suaranya tak pernah menembus udara. ​“Profesor Elena!” ​Sa

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 62 Kesadaraan saat mengingatmu

    Keringat dingin mulai merayapi pelipis Hailey. Tangannya memilin rok hingga terasa kebas, manakala netra safirnya menangkap sesuatu yang janggal, yang seharusnya tak ada di meja jamuan. "Kenapa itu ada di sana?" tanya Hailey pada Celine dengan napas yang terasa tertahan di tenggorokan. Ia menatap kembali ke tengah meja dan menelan ludah. "Katanya, Putra Mahkota memang selalu menyajikan segelas darah di meja jamuan untuk mengetahui apakah tamunya vampir atau bukan." Celine berbisik di telinga Hailey dengan tangan menutupi mulutnya. "Katanya lagi, Putra Mahkota yang sekarang sangat keras pada vampir. Dia yang membuat titah untuk menumpas semua makhluk monster itu," tambahnya, tanpa menyadari kulit Hailey yang sudah pucat pasi. "Be-benarkah?" Celine mengangguk sebelum akhirnya mereka duduk di kursi paling jauh dari sana. "Tapi memang pantas dibasmi, setelah mereka membuat banyak keonaran. Satu murid sekolah bahkan mati karena makhluk itu. Benar-benar menjijikkan." Seorang g

  • Terpaksa Menjadi Pelayan Putra Duke Arogan   Bab 61 Firasat buruk

    "Oh, bukan." Hailey segera menggeleng, meski ia tahu itu memang benar. Ia teringat Cedric pernah berkata akan mengganti syal yang tiba-tiba disobeknya dengan belati. Untungnya dalam suratnya hanya rertulis 'pakai selama musim dingin' tidak menunjukkan ciri khusus yang mengarah pada Cedric. "Ini dari Celine Montclair, temanku di kelas." Ia berdalih dengan menumbalkan gadis berkuncir yang duduk di hadapannya saat pelajaran. Di sisi ranjang yang lain, Ruby, yang hampir menerjang Hailey, mengurungkan niatnya setelah mendengar jawaban itu. Sejak tadi ia memang tidak tidur sedikit pun, hanya malas bertemu siapa pun kecuali Penelope. Ia mulai menajamkan telinga, jaga-jaga kalau Hailey membual. Ia berharap Penelope mau mengoreknya sampai gadis itu jujur. "Tiba-tiba memberi hadiah?" Penelope mengernyit penasaran. "Itu karena ulang tahunku di musim gugur tidak akan terlewati saat lulus nanti, jadi dia bilang ingin memberikan kado lebih dulu," kilah Hailey dengan nada yang terdengar alami.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status