MasukTiga tahun berlalu,
Melvin semakin melambungkan namanya baik di dalam maupun luar negeri. Pekerjaan di kantor semakin membuatnya sibuk hingga terkadang lupa dengan sekitar.
Semenjak kepergian Kanza ke luar negeri, Helen di alihkan tugas untuk berada di Perusahaan hingga suatu ketika Zeta ketahuan hamil dan tidak bisa lagi mengantar jemput putrinya, Ghea. Helen senang dengan pekerjaan barunya, gaji sama namun beban pekerjaan berbeda. Ghea kini sudah mengiKanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus
Kanza sibuk menyiapkan segala keperluan yang akan dibawanya pulang, setiap hal kecil benar-benar menjadi perhatiannya.Arumi tersenyum, ia sesekali menghapus jejak air mata yang jatuh tanpa permisi itu.“Udah, jangan sampai dia lihat kamu yang sedih ini.”ujar Hendra mengusap hangat bahu istrinya.“Masuk, bantu dia. Lihatlah betapa kerepotannya anak itu,”tawanya di akhir kalimat.Arumi masuk, tangannya dengan cekatan melipat semua pakaian dan menatanya ke dalam koper.Sesekali Kanza memeluknya, mengecup sekilas pipi wanita yang beberapa tahun ini terus menemaninya.“Kira-kira Ghea masih ingat aku nggak ya , Ma?”“Tentu saja ingat, dan jangan lupa sebentar lagi dia bakal jadi kakak.”“Dan aku tidak lupa dengan itu,”mengangkat tinggi bungkusan bergambar wajah bayi dengan warna biru laut.Arumi tersenyum, merebut dan memasukkannya ke dalam koper.“Makan, mandi. Kita harus bersiap penerbangan malam.”Dan tidak butuh waktu lama, kini ketiganya duduk di dalam pesawat yang siap lepas landas m
Tiga tahun berlalu,Melvin semakin melambungkan namanya baik di dalam maupun luar negeri. Pekerjaan di kantor semakin membuatnya sibuk hingga terkadang lupa dengan sekitar. Semenjak kepergian Kanza ke luar negeri, Helen di alihkan tugas untuk berada di Perusahaan hingga suatu ketika Zeta ketahuan hamil dan tidak bisa lagi mengantar jemput putrinya, Ghea. Helen senang dengan pekerjaan barunya, gaji sama namun beban pekerjaan berbeda. Ghea kini sudah menginjak kelas 2 sekolah dasar, gadis kecil itu sudah lebih terbuka dengan orang sekitarnya. Setelah melalui beberapa terapi akhirnya si kecil berani membuka diri pada sekitar, seperti hari ini gadis itu sedang tertawa dengan beberapa teman sekelasnya. “Harusnya nona melihat ini, semua berkat ide nona.”gumamnya dalam hati menatap pada Ghea di depan sana. - Di kantor, Melvin sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Belum berkas yang sudah berserakan di sofa ruangannya. Endi y
Kepalanya berkunang-kunang, berkali-kali menggelengkan kepala berusaha mencari kesadarannya.“Nona.”“Nona.”“Nonaaaaaa.”Teriakan yang hamper tidak terdengar, hingga sebuah tangan menepuk pundaknya dengan keras.“KEJAR !” teriaknya.Namun sayangnya kali ini langkah Helen kalah cepat. Tanpa disadarinya, semua rekaman cctv itu sudah terhapus oleh anak buah Burhan.Dan tak satupun dari pengejaran itu yang membuahkan hasil. Hanya sesal yang kini memakan ego Helen.“Nona, kami menemukan satu rekaman yang tidak sempat mereka hapus.”Bagai angin segar, Helen segera bangkit merebut flashdisk dari tangan anak buahnya. Dengan tergesa-gesa ia memasangkan di ponselnya.Rekaman itu hanya menampakkan saat Sella juga Lisa keluar dari Salon, namun hanya punggung yang nampak pada rekaman tersebut. Selebihnya rekaman saat tubuh Kanza di angkat pergi meninggalkan salon.“Brengsek!” umpat Helen marah.Tak jauh beda dengan Helen, Endi juga begitu tegang menatap deretan layar di depannya.“Temukan, sekeci
Melvin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, jika saja ia tidak melihat istrinya yang sedang berjuang dengan kesadarannya mungkin ia akan keluar dan meluapkan semua emosinya.Ia kini hanya diam, menggenggam tangan istrinya penuh rasa sesal.“En,” panggilnya.“Ada apa?”“Cari tahu tentang Burhan. Selidiki tentang semua data Kanza dari sebelum dia di kota ini.”Endi terkejut, sungguh tugas yang sangat berat hingga harus mengorek kehidupan seseorang sebelum bertemu dengannya.“Baik.” hanya itu yang bisa di sampaikan.Endi pun berpamitan dan segera undur diri dari rumah sakit, ia tak ingin membuang waktu lama dan kehilangan pelaku kekerasan ini.“Kumpulkan semua anak buah dan tim IT di markas.” ucapnya di sambungan telepon dengan sangat tegas.Di lantai bawah, Lisa dan ibunya sibuk membersihkan kantong belanja sambil membahas kondisi Kanza saat ditinggalkan.“Haha
Burhan mendapati banyak kantong belanja yang berserakan di lantai ruang tamu, semua nya kosong. Belum lagi rumah nampak kosong, seperti tak berpenghuni.“Lisa! Sella!” teriaknya.Dua wanita itu masih asik di depan cermin dengan baju-baju yang baru saja mereka beli. Tawa terus menghiasi wajah mereka, sangat berseri penuh dengan kegembiraan.Brak!Plak!Tanpa aba-aba Burhan masuk dan menampar keras pipi istri nya hingga jatuh tersungkur.“Dad,” protes Sella yang membantu ibunya bangkit.“Dimana kalian letakkan telinga kalian itu!” teriaknya.“Ada apa, Dad? Kenapa marah-marah.” bujuk Lisa pada suaminya.Burhan menepis kasar tangan istrinya dari atas dadanya. Hampir saja terjatuh jika saja Sella tidak menahan tubuh ibunya.“Dad, jangan kasar dong.”“Diam!” bentaknya.“Turun, bereskan semua kekacauan yang kalian buat.” memejamkan matanya na
Ting.Bunyi pesan masuk, namun bukan dari ponsel milik Kanza melainkan dari ponsel lain yang juga berada di keranjang tadi.Hm?Tangannya mengambil ponsel dengan warna maroon itu, warna favoritnya.Kanza pun menyalakan ponsel tersebut, kemudian membuka aplikasi pesanny
Melvin masih memejamkan mata, mengabaikan Kanza yang menunggu jawaban atas apa yang telah di ucapkannya barusan.“Tuan, tolong jawab. Tuan tahu darimana masalah saya itu?”“Pilihanmu hanya dua. Menikah denganku sebagai pertanggung jawabanmu, atau menikah denganku dan kamu bisa kembali kuliah sepert
Melvin Surendra, terpaksa membatalkan rapat pentingnya karena sebuah masalah yang terjadi di kampus milik keluarganya.Sosok pria jangkung berjalan mantap di koridor kampus. Kehadirannya menarik banyak perhatian orang-orang di sana. Aura karismatik memancar kuat dari tubuh tegapnya yang dibalut set
Jemarinya bertaut, saling meremas demi mendapat sebuah ketenangan. Namun rasanya tidak lah mungkin, dinginnya pendingin tak sedingin tubuh Kanza saat ini.Kanza duduk begitu gugup di ruang rektor kampusnya, keringat mulai membasahi wajah serta tangannya.“Kanza Athalia Rozenka, apa benar yang sudah







