تسجيل الدخولDiana, yang merasa ikut bertanggung jawab karena telah memperpanjang topik panas itu, meringis pelan. Gadis itu lantas menyenggol lengan Nabila dengan sikunya secara perlahan."Ma... jangan ngambek terus dong ke Ayah. Tuh muka Ayah udah kusut gara-gara dicuekin," bujuk Diana dengan nada manja.Nabila melirik tajam ke arah anak tirinya."Kamu diam ya, Di. Ikut-ikutan kompor.""Bukannya kompor, Ma! Aku kan cuma nggak mau weekend kita yang harusnya seru malah jadi suram begini gara-gara ulah tante caper itu," bela Diana cepat.Dewa mengangguk setuju, matanya menatap Nabila dengan penuh harap."Diana benar, Sayang. Ini hari libur. Kalau kamu mau jalan sama Rinda dan Tria nanti siang, nikmati waktunya. Jangan biarkan hal-hal gak penting merusak hari kamu."Nabila menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan lewat hidung. Ketus di wajahnya perlahan-lahan mulai melunak, meski sisa kekesalannya belum sepenuhnya hilang."Siapa juga yang mau merusak hari libur?" balas Nabila akhirnya dengan
Pagi hari ini, di rumah Dewa sudah kedatangan paket hampers kue kering dan kopi beserta kartu ucapan yang bertuliskan 'semoga kamu bahagia dengan pilihan mu, Mas. walaupun sekarang keadaannya berbeda. From L'Nabila terdiam menatap kartu ucapan itu yang ada di meja ruang tengah."Sayang," panggil Dewa yang baru saja selesai mengangkat telpon udari sekertaris nya membahas urusan kantor."Tadi itu beneran telpon dari Dimas sekertaris kamu?" Tanya Nabila penuh selidik.Nabila sangat curiga dengan pengirim hampers ini dan pengirim parsel tempo hari adalah orang yang sama. Dan dari setiap kartu ucapannya selalu tersirat jika pengirim ini adalah perempuan."Iya, tadi Dimas ajak aku buat gabung main Padel sama pihak perusahaan yang baru aja deal kerjasama kemarin." Jawab santai Dewa."Coba kamu lihat ini?" Nabila menunjuk kearah hampers itu lalu mengulurkan tangannya memberikan kartu ucapan itu pada Dewa.Dewa mengambil kartu ucapan itu dari tangan Nabila. Sekilas ia membaca nama pengirimnya
Melihat langkah Nabila yang mulai menjauh, Dewa dan Diana langsung saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menyusul sang nyonya rumah."Eh, tungguin, Sayang! Jangan ditinggal gitu dong," panggil Dewa dengan langkah cepat menyusul sang istri, sementara Diana mengekor di belakangnya sambil terkikik geli lalu memilih masuk ke kamarnya.Begitu memasuki kamar utama, Nabila sudah terlihat merebahkan diri di atas ranjang, menarik selimut tipis hingga sebatas dada dengan mata yang sudah terpejam rapat.Dewa berjalan mendekati sisi tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengelus lembut rambut istrinya."Sayang, ngambek?" Tanya Dewa dengan nada lembut."Aku gak ngambek Mas. Cuma emang lagi ngantuk aja." Jawab Nabila yang menunggui suaminya.Dewa mendekati istrinya lalu memeluk erat tubuh Nabila dari belakang."Sayang," panggil Dewa yang di balas deheman oleh Nabila."Kok cuma hmm.. hmm.. doang jawabnya? Marah ya? Kamu kan tau Mas kalo sama Diana itu memang cara komunikasi nya itu
Nabila memukul pelan dada bidang Dewa dengan sebelah tangan, meski debar di dadanya sendiri mengkhianati protes malu-malu yang ia lontarkan."Mas Dewa... apa-apaan sih, badan aku beneran udah lengket keringet," protes Nabila dengan pipi yang kian memanas.Dewa terkekeh pelan, suara baritonnya terasa begitu dekat dan bergetar di telinga Nabila. Ia justru semakin mengeratkan sebelah tangannya di pinggang Nabila, menolak membiarkan wanita itu melepaskan diri."Kalau begitu, mandinya sekalian ditemenin, gimana?" tawar Dewa dengan sebelah alis terangkat, memancarkan seringai jail yang jarang sekali diperlihatkannya."Enggak! Mau modus, ya?" cibir Nabila, meski sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum geli."Bukan modus, tapi menjalankan hak dan kewajiban sebagai suami yang baik," balas Dewa membela diri dengan nada jenaka."Lagian, siapa yang tahan berlama-lama kalau istri saya secantik ini dan baru aja mengaku kalau dia cinta sama suami nya ini hmm?"Nabila mendengus pelan, namun rona mera
Nabila menunjuk map biru di pangkuan Dewa dengan suara parau."Tapi surat perjanjian ini...""Bagaimanapun juga, ini tanda awal hubungan kita. Aku takut. Takut kalau semua perasaan sayang ini cuma bentuk rasa tanggung jawab Mas sebagai ayah dari anak yang aku kandung."Dewa langsung meraih tangan Nabila, menggenggamnya erat dan membawanya ke dekat dadanya. Nabila bisa merasakan debaran jantung Dewa yang begitu cepat dan nyata."Dengar detak jantung saya, Nabila," ucap Dewa dengan suara berat nan bergetar."Ini tidak pernah berbohong. Ini berdetak untuk kamu, bukan cuma karena anak kita. Kalau kamu masih ragu, kita bisa buat perjanjian baru."Nabila mengangkat wajahnya, menatap manik mata Dewa yang basah."Perjanjian baru?""Iya," senyum tipis terukir di bibir Dewa, meski matanya masih berkaca-kaca."Perjanjian seumur hidup. Tanpa batas waktu, tanpa tanggal kadaluarsa, dan isinya cuma satu kita bersama sebagai suami istri yang saling mencintai sampai maut memisahkan."Suasana kamar men
Setelah makan malam selesai, mereka pulang ke rumah. Nabila yang baru saja selesai mandi langsung merebahkan badannya ke kasur."Cepe banget ya, sayang hari ini?" Tanya Dewa yang baru saja masuk kamar karena tadi mengangkat telpon dari sekertaris di kantor ada beberapa berkas yang perlu di tandatangani secara digital malam ini juga.Nabila hanya menjawab dengan deheman matanya terpejam tapi tidak tidur."Saya mau bicara serius sama kamu sekarang bisa?" Suara Dewa yang terdengar sangat tegang membuat Nabila membuka matanya yang terpejam."Mau ngomong apa?" Tanya Nabila yang mendudukan badannya.Dewa mendekati Nabila dan duduk di pinggir ranjang samping istrinya duduk."Apa kamu yakin masih mau lanjutin perjanjian itu? Saya tau anak kita pasti butuh Mama nya sampai kapan pun. Kalo dia di tinggal begitu saja sama Mama nya dari bayi apa kamu tega meninggalkan bayi yang sama sekali tidak bersalah itu?"Nabila mendengar itu terdiam, tangannya mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.
Pintu kamar rawat inap VVIP itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang begitu mencekam di antara mereka berdua. Begitu perawat selesai memasang infus dan meninggalkan ruangan, Nabila langsung menatap Dewa dengan tatapan seolah ingin membunuhnya.Matanya yang sembap menyalang merah, menahan amara
Jam digital menunjukkan pukul 21:00 saat Nabila terpaksa masuk ke mobil sedan mewah milik Dewa demi menghindari sorotan rekan kerjanya di lobi hotel.Suasana kabin terasa mencekam. Dewa membawa mobilnya menepi di area parkir sepi sebuah apotek 24 jam, lalu menyodorkan kantong berisi tiga merek test
Dua Minggu berlalu sejak malam itu. Nabila selalu mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa kuliah lalu di lanjut bekerja, namun tubuhnya seolah berkhianat.Setiap pagi, Nabila selalu di sambut mual yang hebat. Aroma kopi, parfum menyengat, Bahkan aroma kantin kampus yang biasanya ia sukai kini
"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah. Dewa menatapnya dengan pandangan yang dal







