Home / Romansa / Terpaksa menikahi Tuan muda / Bab 3: bukan menantu yang diinginkan

Share

Bab 3: bukan menantu yang diinginkan

Author: itzjane
last update Last Updated: 2025-07-29 20:00:12

Cahaya matahari menembus tirai tipis kamar itu, tapi bagi Nayla, pagi ini sama kelamnya seperti malam semalam. Dia bangun dengan kepala berat, tubuh lelah, dan hati yang masih terasa sesak.

Hari pertama menjadi “istri” Arsen Hartawan.

Usai membersihkan diri dan berpakaian sederhana—blus putih dan rok panjang—Nayla memberanikan diri keluar dari kamar. Dia tahu akan berhadapan dengan keluarga Arsen, dan dari semua cerita yang dia dengar... mereka tidak akan menyambutnya dengan hangat.

Langkah kakinya pelan menyusuri koridor luas bernuansa marmer, dinding dihiasi lukisan klasik, dan lantai berkilau sempurna. Rumah itu terlalu megah, terlalu mewah… terlalu sunyi.

Sampai akhirnya ia tiba di ruang makan.

“Dia akhirnya muncul.”

Suara itu dingin dan sinis. Milik seorang wanita paruh baya yang duduk di ujung meja makan panjang—Madam Hartawan, ibu Arsen.

Wajahnya tajam, bibirnya tertarik ke samping dalam senyum mengejek. Di sebelahnya duduk seorang gadis cantik berambut keriting kemerahan. Matanya menyapu tubuh Nayla dari atas ke bawah, penuh penilaian dan penghinaan.

"Jadi ini dia? Menantu baru keluarga Hartawan yang katanya... 'terpaksa' dinikahi?" tanya gadis itu, tertawa kecil.

Nayla menunduk sopan. “Selamat pagi, Tante...”

“Jangan panggil aku tante,” potong Madam Hartawan cepat. “Aku bukan keluargamu.”

Tenggorokan Nayla tercekat.

Arsen duduk di ujung meja, dengan wajah datar seperti biasa. Dia tidak berkata apa-apa, tidak membela, tidak menyapa. Seolah-olah Nayla memang bukan siapa-siapa.

“Aku tidak tahu keputusan apa yang membuat anakku menikahi perempuan kelas bawah seperti kamu,” lanjut sang ibu. “Tapi jika kau pikir kau bisa hidup dengan nyaman di rumah ini, kau salah besar.”

“Madam—” Nayla mencoba bicara, tapi langsung dihentikan.

“Diam. Jangan bicara kecuali ditanya,” bentaknya tegas. “Selama kau di rumah ini, kau akan belajar bagaimana menjadi seorang Hartawan. Dan percayalah... tidak akan mudah.”

Gadis berambut kemerahan itu—yang kemudian Nayla tahu bernama Felicia, sepupu Arsen—tersenyum miring. “Tenang saja, Bibi. Aku bisa bantu mengawasi istri barumu ini. Dia kelihatan lugu sekali... seperti rusa yang masuk kandang singa.”

Arsen hanya meminum kopinya tanpa komentar.

Nayla menelan ludah pahit. Perasaannya hancur. Dia ingin menjerit, ingin menangis, tapi dia tidak bisa menunjukkan kelemahan di depan mereka. Dia harus kuat. Harus bertahan.

Setelah sarapan penuh ejekan itu berakhir, Arsen berdiri tanpa menoleh ke arah Nayla.

“Sore nanti ikut aku ke kantor. Ada acara formal. Berpakaianlah yang pantas.”

“Baik,” jawab Nayla pelan.

Setelah Arsen pergi, Madam Hartawan bangkit, mendekati Nayla dan membisikkan satu kalimat yang membuat darahnya membeku.

“Jangan pernah berpikir bisa mencuri hati anakku. Banyak perempuan yang lebih layak darimu... dan aku akan pastikan kau gagal.”

Nayla melangkah masuk ke ruang makan besar yang dipenuhi dengan nuansa mewah dan aroma makanan mahal. Tapi suasananya sama sekali tidak hangat. Di ujung meja duduk wanita paruh baya dengan tatapan tajam—mertua Nayla, Madam Ratna Hartawan.

"Jadi ini menantu pilihanmu?" sindir Madam Ratna kepada Arsen tanpa menoleh.

Nayla menunduk, tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Arsen menarik kursinya dengan malas, duduk tanpa sepatah kata. "Dia istri saya sekarang, Bu. Hormati dia."

"Hormati?" Ratna tertawa kecil. "Kau pikir pernikahan kontrak bisa membuatku menghormatinya?"

Nayla mencengkeram roknya di bawah meja, berusaha tetap tenang.

"Mulai sekarang, kau akan tinggal di rumah ini. Tapi jangan harap kau akan dianggap keluarga," ujar Ratna dingin. "Aku tidak butuh menantu murahan yang hanya datang demi uang."

Air mata hampir menetes dari mata Nayla, tapi dia menahannya. Dia tahu, ini baru permulaan. Dan dia bersumpah, dia takkan kalah.

Arsen memandang ibunya tajam. “Cukup, Bu. Aku sudah menikahinya, dan aku yang tentukan siapa pantas berada di rumah ini.”

Madam Ratna menatap balik dengan sinis. “Kau berubah, Arsen. Hanya karena seorang wanita biasa?”

Nayla mengangkat kepalanya perlahan, matanya bertemu dengan tatapan Arsen. Pria itu tetap dingin, tetapi untuk sesaat, Nayla rasa ada sedikit perlindungan dalam nadanya.

Setelah makan malam selesai, Nayla berjalan menyusuri lorong panjang menuju kamar mereka. Hatinya penuh sesak. Dunia baru ini terlalu asing, terlalu dingin… dan Arsen? Dia seperti teka-teki yang tak bisa ditebak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 13: kebenaran yang membunuh

    Langit sore itu kelabu, tapi suasana di apartemen jauh lebih suram. Nayla berdiri membelakangi Arsen, menatap keluar jendela yang dipenuhi butiran hujan. Suara langkah pria itu terdengar mendekat, berat dan penuh tekanan.“Aku akan ceritakan semuanya,” ucap Arsen akhirnya, suaranya dalam. “Tapi setelah ini, kau tidak bisa berpura-pura tidak tahu.”Nayla tetap diam, jemarinya meremas pinggiran sweater.“Ayahku… tidak mati karena sakit, seperti yang semua orang pikirkan,” lanjut Arsen. “Dia dibunuh. Dan yang membunuhnya adalah orang-orang yang sekarang berada di belakang Clara. Waktu itu, aku hanya anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Sampai suatu malam, aku melihat mereka… memukuli ayahku sampai dia berhenti bernapas.”Nayla menutup mata, menahan mual.“Aku ingin balas dendam. Tapi aku tahu aku tidak bisa melawan mereka sendirian. Jadi aku masuk ke lingkaran mereka, pura-pura ikut permainan kotor mereka. Aku harus kotor, Nayla… karena hanya

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 12: kedatangan yang tak terduga

    Hujan belum berhenti sejak malam sebelumnya. Udara dingin merayap ke dalam apartemen, membuat Nayla menarik selimut tipis di pundaknya saat duduk di ruang tamu. Arsen berangkat pagi-pagi sekali, tanpa banyak bicara. Ia hanya meninggalkan satu kalimat sebelum pergi: “Jangan buka pintu untuk siapa pun.”Nayla mengira itu hanya bentuk proteksi berlebihan. Sampai bel pintu berbunyi.Awalnya ia mengabaikan. Namun bunyi itu terdengar lagi, kali ini disertai ketukan pelan. Rasa penasaran mengalahkan kehati-hatian. Nayla mendekat, melihat melalui lubang intip.Seorang wanita berdiri di luar. Rambut hitam panjangnya basah oleh hujan, wajahnya cantik sempurna meski tanpa riasan. Matanya tajam, namun senyum tipisnya menusuk seperti pisau.Clara.Nayla membuka pintu sedikit, hanya sebatas rantai pengaman. “Apa yang kau inginkan?” suaranya dingin.“Aku pikir sudah saatnya kita bicara… sebagai dua wanita yang mencintai pria yang sama,” jawab C

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 11: rahsia yang terkubur

    Pagi itu, udara terasa berat. Langit mendung, seakan ikut menyimpan sesuatu yang tak ingin diungkapkan. Nayla duduk di meja makan sendirian, menggulir sendok di dalam cangkir kopi yang sudah dingin.Arsen belum keluar dari kamarnya sejak subuh. Biasanya ia sudah rapi dengan jas dan dasi, siap berangkat ke kantor. Namun kali ini, ada keheningan yang aneh.Pintu kamar terbuka perlahan. Arsen keluar, masih mengenakan kaos hitam dan celana santai. Rambutnya sedikit berantakan, tatapannya sayu. “Kita harus bicara,” ucapnya tanpa basa-basi.Nayla mengangkat alis. “Tentang apa?”“Clara.”Nama itu membuat perut Nayla mengencang. Ia mempersiapkan diri, meski hatinya berdebar.Arsen duduk di depannya, menautkan jari-jari tangan. “Aku dan Clara… tidak seperti yang kau pikirkan.”Nayla tersenyum miring. “Oh? Jadi selama ini aku salah menilai? Kau tidak tidur dengannya? Tidak berjanji menikahinya?”Arsen menghela napas, mena

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 10: Retakan di antara kita

    Malam telah larut ketika Arsen pulang. Suara pintu yang terbuka pelan memecah kesunyian apartemen. Nayla duduk di sofa, menunggu, meski matanya berat dan tubuhnya letih.Ia tidak bertanya dari mana Arsen datang. Hanya menatapnya diam-diam, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah lelaki itu. Tapi Arsen, seperti biasa, tahu bagaimana menyembunyikan rahasianya.“Kau belum tidur?” tanyanya, sambil melepas jas dan meletakkannya di kursi.“Aku menunggu,” jawab Nayla singkat.Arsen menatapnya sebentar, lalu berjalan menuju dapur, menuangkan segelas air. “Menunggu apa?”“Menunggu jawaban. Tentang Clara. Tentang kita.”Suara Nayla terdengar datar, tapi di baliknya ada badai yang siap meledak. Arsen meletakkan gelas, lalu menatapnya dengan mata yang dalam. “Aku lelah, Nayla. Kita bicarakan ini besok.”“Besok? Berapa lama lagi aku harus menunggu?!” Nayla berdiri, nadanya meninggi. “Aku bukan boneka yang kau simpan dan ambil kapan k

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 9: gairah yang terlarang

    Pagi itu, matahari belum sepenuhnya naik saat Nayla membuka matanya. Suasana kamar masih remang, hanya cahaya tipis dari jendela yang menyelinap masuk. Ia merasakan hangatnya tubuh Arsen yang memeluknya dari belakang, napasnya tenang dan stabil di leher Nayla.Degup jantung Nayla mulai tak beraturan. Ia tak bergerak, hanya berbaring dengan dada yang sesak oleh perasaan yang bercampur aduk. Semalam mereka tidak berbicara banyak, tapi malam itu tubuh mereka yang saling mendekat telah berbicara sendiri.“Sudah bangun?” suara Arsen serak, berat, dan masih lelap.Nayla hanya mengangguk kecil. Tapi pelukan Arsen semakin erat. Ia menarik tubuh Nayla lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna di dada bidang lelaki itu.“Maaf,” bisik Arsen, mengecup lembut tengkuk Nayla. “Aku hanya... ingin kamu tetap di sini.”Kucupan itu membuat tubuh Nayla bergetar. Ia seharusnya menjauh, mengingat Clara, mengingat semua yang telah terjadi. Tapi saat tangan Arsen mulai mengusap lengan dan pinggangnya

  • Terpaksa menikahi Tuan muda   Bab 8: batas kesabaran

    Langit malam menurunkan gerimis lembut, seakan memahami apa yang sedang dirasakan Nayla. Ia berdiri di depan jendela, menatap tetesan air hujan yang mengalir perlahan di balik kaca. Dadanya sesak. Hatinya sakit.Sudah beberapa hari sejak pertengkaran terakhirnya dengan Arsen. Kata-kata lelaki itu masih terngiang-ngiang di telinganya—tajam, dingin, seakan semua kesalahan ditumpahkan padanya."Jadi menurutmu aku yang salah? Setelah semua yang aku korbankan untuk hubungan ini?" bentak Nayla saat itu.Namun Arsen hanya diam. Tatapannya kosong, bahkan tak sedikitpun menyesal telah menyakitinya.Kini Nayla duduk di tepi ranjang, menatap bingkai foto yang dulu mereka ambil bersama saat awal pacaran. Senyuman Arsen di foto itu terasa begitu asing sekarang. Seakan lelaki itu bukan lagi orang yang sama."Kenapa kamu berubah, Arsen?" bisiknya lirih. "Atau... aku yang terlalu buta sejak awal?"Ponselnya berdering. Sebuah notifikasi pesan mas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status