LOGINBukannya mendengarkan perkataan Tanisa, Ricky malah meletakkan Ewald yang tertidur di atas ranjang besar di tengah kamar tersebut. “Aku lelah menggendong Ewald, biarkan Ewald tidur di sini sebentar,” jawab Ricky dengan santai. “Jangan bersikap seenaknya di rumah orang, sini biar aku yang menggendong Ewald.” Tanisa yang geram berniat mengambil Ewald dari atas ranjang tapi tangan Ricky langsung menahannya dan memeluk Tanisa dari belakang. “Ricky, lepaskan! Bagaimana jika pemilik rumah ini tahu jika kita masuk ke kamarnya tanpa izin?” Tanisa semakin kesal dengan sikap Ricky yang seenaknya. “Apakah kamu menyukai kamarnya? Bagaimana jika kamar ini menjadi kamar kita?” tanya Ricky. “Jangan gila, bahkan kita belum tahu apakah pemilik rumah ini setuju atau tidak untuk menjaul rumahnya,” balas Tanisa. “Bagaimana jika pemilik rumahnya setuju? Apakah kamu mau jika kamar ini menjadi kamar kita?” cecar Ricky. “Lebih baik kita keluar sekarang dan hentikan omong kosongmu itu.” Tanisa berusaha
“Manja sekali dirimu,” gumam Tanisa sambil masih terus mengeringkan rambut Ricky. “Aku ingat perkataan Aaron ketika aku masih sakit hati kehilangan Catelyn, dia bilang jika setiap pria akan dipertemukan dengan wanita yang terbaik untuk dirinya dan kini aku telah menemukannya. Kamu adalah wanita yang terbaik untukku, Tanisa.” Tanisa terdiam mendengarkan perkataan Ricky, tapi terkembang senyum di bibirnya. Ricky menghentikan kegiatan Tanisa dan menarik tubuh wanita itu hingga jatuh menindih dirinya. “Apakah kamu merasa bahagia? Dadaku terasa ingin meledak merasakan kebahagiaan ini, menyadari ada dirimu di sampingku,” tanya Ricky. “Aku juga merasa sangat bahagia,” gumam Tanisa lalu meletakkan kepala di dada telanjang pria itu. Tangan Ricky kemudian melucuti pakaian Tanisa dan juga melepas selembar handuk yang menempel di tubuhnya, ketika keduanya sama-sama telanjang, Ricky membawa tubuh Tanisa ke atas ranjang dengan posisi yang nyaman. Menarik selimut yang ada dia bawah kakinya dan m
Tanisa jatuh di pelukan Ricky dengan tubuh lunglai seakan tak bertulang. Nafasnya menderu kasar tak beraturan seperti baru saja lari puluhan km. Tak berbeda jauh, Ricky mendekap erat tubuh Tanisa dengan jantung berdetak tidak karuan. Matanya berkunang dengan kepala pening akibat ledakannya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa yang baru pertama kali ini dirasakan oleh Ricky dan juga Tanisa. Keduanya kemudian tertidur dengan tubuh telanjang penuh dengan keringat dan ledakan percintaan mereka. Tenaga keduanya terkuras habis, mereka bahkan tidak mampu bergerak hanya untuk menarik selimut. Yang mereka butuhkan saat ini adalah tidur dan memulihkan tenaga. Tanisa terbangun ketika cahaya matahari masuk ke kamar dari celah gorden yang menutupi dinding kaca dan jendela rumah. Dia mengusap wajahnya dan sadar jika dirinya bangun kesiangan, hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Baru kali ini dia bangun ketika matahari sudah meninggi. Ketika dia mencari Ricky, pria itu sudah tidak ada di
“Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita,” janji Ricky yang kemudian menggendong Tanisa dan membaringkannya ke atas ranjang besar mereka. Tidak ingin kehilangan Tanisa, Ricky langsung menindih wanita itu. “Terima kasih,” gumam Ricky sambil menatap kedalaman mata Tanisa. “Untuk apa?” tanya Tanisa tidak mengerti arti kata terima kasih yang Ricky katakan. “Karena hanya aku yang kamu izinkan untuk menyentuhmu,” ujar Ricky sambil mengusap pipi Tanisa lalu bergerak ke leher dan bahu telanjang wanita itu, membuat Tanisa menelan ludah merasakan geleyar aneh di permukaan tubuhnya. Tanisa tiba-tiba merasa perlu mengungkapkan perasaannya pada pria itu karena dia tidak ingin kehilangan Ricky. Persetan dengan rasa malunya karena rasa itu tidak membuatnya bahagia. “Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi aku harap itu tidak membuatmu takut atau menjauh dariku,” ungkap Tanisa memberanikan diri untuk meraih kebahagiaannya. “Apa yang bisa membuatku menjauh darimu?” tutur Ricky.
“Izinkan aku melihatnya,” pinta Ricky dengan lembut, membuat Tanisa perlahan membuka tangan dan memperlihatkan harta karunnya. Mata Ricky tak berkedip melihatnya. Jarinya terulur dan mengusap lembut, menggoda puncaknya dan memberi rangsang pada Tanisa. Tanpa sadar desahan pelan terdengar dari bibir Tanisa, membuat matanya menatap wajah wanita itu. Tanisa tersenyum malu, membuat senyum Ricky terkembang. Mereka terkikik bersama dengan suara yang menggema di kamar mandi. Suara itu terhenti ketika Ricky melumat bibir Tanisa, gairah yang sempat tersulut membuat keduanya larut dalam tarian bibir yang tercipta indah. Tanisa tidak merasa malu lagi ketika Ricky menarik turun pakaian bagian bawah miliknya. Bahkan tangan dia menelusuri dada bidang Ricky ketika pria itu melucuti satu persatu pakaiannya. Ricky mendorong tubuh Tanisa dan menghimpitnya ke dinding kamar mandi, mengecap leher jenjangnya dan bergerak turun ke kedua bukit Tanisa yang meneggang dengan puncaknya yang mengeras. Mulutnya
Ricky yang melihat sikap Tanisa yang semakin hari semakin tak bisa dia mengerti, menghantam tembok dengan keras lalu pergi dengan membanti pintu untuk melampiaskan kemarahan. Dia benar-benar harus pergi dari rumah untuk mendinginkan pikiran. Tanisa yang berada di kamar Ewald, meletakkan putranya ke ranjang dan menatap kepergian Ricky dari jendela kamar. Air matanya jatuh membasahi pipi, tak mampu lagi untuk dibendung. Kenapa rasanya sangat berat untuk bisa berada di samping Ricky di saat pria itu hanya membutuhkannya sebagai ibu dari anaknya, bukan wanita yang diinginkannya? Tidak bisakah dirinya merasakan sebagai wanita yang dicintai? Belum juga beberapa menit Ricky pergi dari gerbang rumah, suara petir terdengar menggelegar, disertai hujan yang turun dengan sangat deras seperti air yang ditumpahkan begitu saja dari langit. Keadaan itu mengingatkan Tanisa pada kejadian di mana dirinya dan seluruh keluarganya mengalami kecelakaan. Sikap Ricky sama persis seperti sikap Karina ketik







