ANMELDENSuasana di ruang kerja Arsen terasa seperti neraka yang membeku. Telepon genggam yang baru saja ia terima pesannya tergenggam erat di tangannya, hingga tulang-tulang jari memutih dan urat-urat di lengannya menonjol.Di layar itu tertulis pesan singkat namun cukup untuk membuat darahnya mendidih:“Wanita yang kau jaga itu kini ada di tangan kami. Serahkan seluruh saham dan kendali perusahaan dalam 24 jam, atau kau akan menerima mayatnya sepotong demi sepotong.”Arsen melempar ponsel itu ke dinding dengan kekuatan penuh. Benda itu pecah berkeping-keping, menyisakan suara benturan yang memekakkan telinga.“Mereka berani… mereka benar-benar berani menyentuh milikku!”Suaranya menggelegar, dingin namun sarat amarah yang meledak-ledak. Selama ini, tidak ada satu pun orang yang berani menantangnya secara terbuka, apalagi mengambil apa yang ia anggap sebagai haknya. Namun kini, mereka menyentuh titik terlemahnya Alya.Dante, yang baru saja masuk membawa laporan, langsung membeku di tempat. Ia
Suasana di halaman belakang Mahardika Mansion terasa gelap dan sunyi. Hanya diterangi lampu taman yang redup, menciptakan bayangan panjang di atas rumput yang basah embun. Alya berjalan perlahan, berniat mencari udara segar setelah seharian terkurung di dalam ruangan. Ia tidak menyadari bahwa malam itu, bahaya sedang mengintai dari balik kegelapan.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tiba-tiba dua sosok pria muncul dari balik semak-semak. Wajah mereka tertutup topeng, dan di tangan mereka tergenggam senjata tajam yang berkilau samar.“Jangan bergerak!” bentak salah satu dari mereka, suaranya berat dan kasar.Alya tertegun, napasnya tertahan. Ia berusaha mundur, namun punggungnya sudah menyentuh dinding tembok. “Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”“Kami hanya menjalankan perintah,” jawab pria lainnya sambil melangkah mendekat. “Kau menjadi beban bagi banyak orang, Nona Mahardika. Dan beban harus disingkirkan.”Saat salah satu pria itu hendak menyergapnya, tiba-tiba suara langkah
Udara di ruang kerja Arsen dipenuhi aroma kayu dan wangi tembakau yang halus. Di hadapannya terbenayt tumpukan dokumen lama, foto laporan, dan catatan yang telah tersimpan selama lima belas tahun.Arsen duduk di kursi besarnya, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Di sebelahnya, Dante berdiri tegap, sementara dua wanita lain juga hadir. Laras sekretarisnya yang setia, dan Sari, asisten pribadinya yang selalu siap sedia. Keduanya berdiri dengan sikap waspada, pandangan mereka sesekali beralih pada Alya yang berdiri di dekat jendela."Semua ini berasal dari arsip lama yang berhasil kami temukan di gudang perusahaan," kata Dante sambil menunjuk tumpukan kertas. "Ternyata kasus kebangkrutan perusahaan ibu anda tidak sesederhana yang tercatat."Arsen meraih satu foto lama, di sana terlihat ibunya, dan si sampingnya berdiri Bima Prasetyo, ayah Alya dengan senyum yang tampak palsu."Ayahmu bukan hanya saksi, Alya," ucap Arsen dengan suara rendah namun tegas. "Dia adalah salah satu or
Malam di Mahardika Mansion tidak pernah benar-benar sunyi. Alya baru saja selesai bekerja di ruang kerjanya, menutup sketsa desain yang sudah ia kerjakan berjam-jam.Saat ia berjalan menuju kamar utama, langkahnya terhenti mendengar suara kendaraan berhenti mendadak di depan gerbang. Diikuti suara teriakan dan derap langkah cepat. Belum sempat ua berpikir, pintu utama terbuka keras. Arsen masuk lebih dulu, diikuti Dante dan dua orang pengawal lainnya. Wajah Arsen tegang, matanya tajam memindai seluruh ruangan seolah mencari ancaman, jasnya sedikit robek di lengan, dan ada noda darah di bahunya."Tuan, mereka berusaha mendekat dari arah timur," lapor Dante sambil memegang senjata rakitan di pinggangnya. "Sepertinya kelompok yang bekerja sama dengan Selena."Arsen tidak menjawab, matanya tertuju langsung pada Alya yang berdiri di tangga. Tanpa bicara, ia melangkah cepat mendekatinya, menarik pergelangan tangan Alya dengan cengkraman kuat namun tidak kasar."Kamu di sini. Jangan berger
Jam dinding di ruang tengah Mahardika Mansion menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Suasana sunyi, hanya terdengar suara angin malam yang berhembus pelan menembus celah jendela besar. Alya baru saja selesai memeriksa sketsa desain yang ia kerjakan, hendak beranjak ke kamar ketika tiba-tiba lampu seluruh rumah padam seketika.“Apa ini...” gumam Alya, berusaha menenangkan diri. Sebelum ia sempat melangkah, suara tembakan memecah keheningan, diikuti teriakandan langkah kaki yang berlarian kencang di halaman depan.“Nyonya! Tetap di tempat!” teriak suara Dante dari arah lorong, disusul suara tembakan lain yang lebih keras.Alya merasakan detak jantungnya berpacu kencang. Ia bergerak meraba dinding, mencoba mencari jalan menuju kamar tidur utama tempat Arsen biasanya berada. Namun sebelum ia sempat sampai, sosok besar tiba-tiba muncul dari balik bayangan, menarik lengannya dengan cepat namun tidak kasar.“Di sini!” suara berat Arsen terdengar tepat di telinganya. Napasnya teratur, tidak ter
Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat, tapi tidak mampu menghilangkan dinginnya pandangan yang saling bertautan di antara meja makan panjang itu. Arsen duduk di ujung, punggungnya tegak lurus seperti patung. Di sebelahnya Dante berdiri diam sebagai bayangan, sementara di sisi lain meja, jauh du posisi Arsen terdapat dua tamu tidak terduga. Salah satunya adalah Rafael, rekan bisnis Arsen dari Singapura yang dikenal dengan pesonanya yang memikat. Dan satunya lagi adalah Luna, mitra kerja dari Eropa yang cerdas dan berani, yang sering bekerja sama dengan Arsen dalam proyek internasional. Alya duduk di tengah, memainkan sendok dengan tenang meski hatinya bergemuruh. Sejak tiba ia langsung bisa merasakan tatapan Arsen yang tidak pernah lepas darinya, tatapan antara kepemilikan, kecurigaan, dan sesuatu yang mulai sulit di artikan. "Jadi, ini istri yang sering kamu sebut, Arsen?" tanya Rafael sambil tersenyum tipis, matanya menatap Alya dengan pandangan yang penuh rasa ingi







