LOGINLangkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion.
Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengencang. Beberapa pria berdiri tersebar di halaman, bukan seperti penjaga biasa. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, tubuh gelap, dengan gerakan gang terlatih untuk sekedar pengamanan rumah. Dan yang paling membuat Alya tak bisa mengalihkan pandangannya, adalah sebuah senjata. Mereka membawa senjata api. Nafas Alya langsung tercekat, “A-apa ini,” gumamnya pelan. Ia mundur satu langkah, tapi rasa penasaran itu terus mendorongnya untuk kembali melihat. Seorang pria sedang berbicara dengan yang lain, menunjuk ke arah pagar luar. Gerakannya tegas, seperti memberi sebuah instruksi. Dua orang lainnya berjalan menyusuri perimeter, mata mereka begitu tajam saat mengawasi setiap sudut. Alya merasa ini bukan rumah, tapi seperti markas. “Apakah anda nyasar, Nyonya?” Suara berat itu datang dari belakang, hingga membuat Alya tersentak kaget. Ia berbalik cepat, Andre sudah berdiri di ambang pintu, bersandar dengan kedua tangan yang berada di saku celanannya. Wajahnya datar, tapi tatapannya seperti sedang menilai sesuatu. Alya mengerutkan dahi, “Aku cuma lihat-lihat saja,” jawabnya dingin. Andre melangkah masuk, sepatu kulitnya beradu pelan dengan lantai marmer. Ia berhenti beberapa langkah dari Alya, lalu melirik ke arah halaman. “Apakah pemandangannya menarik?” tanyanya santai. Alya meyilangkan tangan di dada, “Kalau ini yang kamu sebut ‘rumah’, aku rasa suasananya agak berbeda.” Andre tersenyum tipis, bukan senyum yang ramah, tapi senyum yang tau akan sesuatu. “Selamat datang di dunia Tuan Arsen,” ucapnya pelan. Alya tidak menyukai cara pria itu berbicara, seolah ia sedang di uji. “Aku tidak pernah mendaftar untuk masuk ke dalam dunia ini.” “Memang benar,” sahut Andre tanpa ragu. “Tapi sekarang anda sudah berada di dalamnya, Nyonya.” Alya menahan nafas, mencoba menjaga ekspresinta agar tetap tenang. “Apa sebenarnya yang dia lakukan?” tanyanya akhirnya. Andre tidak langsung menjawab, ia berjalan mendekati jendela, lalu berdiri di samping Alya. Dan Andre ikut memandang keluar. “Dia sedang mengendalikan,” katanya singkat. “Mengendalikan apa?” “Banyak hal yang dia kendalikan, mungkin saja dia akan mengendalikan anda juga.” Jawaban itu membuat Alya merasa kesal, “Tolong berhenti bicara teka-teki denganku,” desaknya. “Aku berhak tau apa yang dia lakukan, karena aku istrinya.” Andre menoleh, menatap Alya dengan tatapan yang sulit di baca. “Anda hanya seorang istri di atas kertas,” ucapnya datar. Alya mengepalkan tangan, “Kalau begitu, tolong jelaskan kenapa ada orang bersenjata di halaman rumah suamiku?” Andre terdiam beberapa detik, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu ia kembali menghela nafas pendek. “Karena dunia di luar sana, tidak seaman yang anda kira, Nyonya.” Alya mengerutkan dahi, “Lalu bagaimana dengan dunia di dalam sini?” tanyanya balik. “Mungkin bisa jauh lebih berbahaya,” ucap Andre dengan tersenyum tipis. Alya kembali menatap keluar, dan kini semua terlihat berbeda. Gerakan para pria itu bukan lagi sekedar penjagaan, tetapi itu lebih seperti sebuah kesiapan dalam menghadapi hal apapun. “Atau mungkin seseorang,” bisik Alya tanpa sadar. “Ternyara anda cepat dalam menangkap suatu hal,” katanya. Alya menelan ludah, “Apa ada yang sedang mengincar, Arsren?” “Bukan ada lagi, tapi selalu ada. Orang seperti dia, tidak pernah benar-benar sendirian. Ada sekutu, musuh, dan juga kadang sangat sulit untuk membedakannya,” jelas Andre padanya. Alya terdiam, sebuah rasa dingin menjalar di punggungnya. “Dan aku?” tanyanya pelan. Andre mengangkat alisnya, “Apa maksud anda, Nyonya?” “Kalau seseorang ingin menyerangnya, bukankah aku juga bisa menjadi target mereka?” Untuk pertama kalinya, Andre tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah menjadi lebih serius, bahkan terlihat lebih tajam. “Itu sebabnya anda tidak boleh keluar dari mansion ini tanpa izin,” katanya akhirnya. Nada suaranya tidak lagi santai, itu seperti sebuah peringatan. Dan Alya merasakan ada sesuatu yang seolah mencengkram dadanya. “Jadi... apa aku ini tahanan?” Andre menggeleng pelan, “Anda bukan tahanan, Nyonya. Tapi anda lebih seperti sebuah aset yang berharga.” Alya tertawa pahit, “Bedanya apa?” Andre menatapnya beberapa detik, lalu ia mulai berkata pelan. “Tahanan bisa di ganti.” Kalimat itu membuat Alya membeku, ia menatap Andre dan mencoba mencari tahu apakah ia sedang bercanda atau tidak. Tapi Alya hanya melihat bahwa pria itu berkata jujur dan terlihat serius “Aku tidak suka cara kalian melihat manusia,” bisiknya. Namun Andre tidak merasa tersinggung sama sekali. “Dunia inu tidak peduli anda suka atau tidak,” jawabnya datar. Alya mengalihkan pandangan, dadanya terasa sesak. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang, yang tidak pernah ia sadari sebelumnya. Semua yang Alya tahu selama ini, ia hidup normal, pekerjaan, dan keluarga. Semuanya terasa seperti ilusi yang perlahan mulai runtuh. “Kenapa dia menikahiku?” tanya Alya. “Apa ini juga bagian dari mengendalikannya?”lanjutnya. Andre hanya terdiam, ia tidak langsung menjawab. Andre menatap Alya cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu. Hingga akhirnya Andre mulai berkata. “Karena anda itu sangat penting, Nyonya.” Alya mengernyit heran, “Penting dalam hal apa?” Andre tersenyum tipis, “Maaf, Nyonya. Tapi itu bukan bagianku untuk menjelaskan semuanya.” Alya hanya bisa mendengus kesal, ia berbalik dan meninggalkan ruangan itu. Namun sebelum Alya melangkah jauh, suara Andre kembali menghentikannya. “Nyonya.” Alya berhenti tapi tidak menoleh. “Kalau anda pintar, anda akan mencari tahu lebih dalam lagi,” lanjut Andre. Alya memejamkan mata sejenak, “Dan kalau aku tidak pintar?” tanyanya pelan. Andre terdiam beberapa detik, sebelum ia berkata kembali. “Dunia ini akan menggigit anda lebih cepat, dari yang anda bayangkan.” Alya membuka matanya perlahan, lalu ia menoleh. Tatapannya kini mulai berbeda, bukan lagi bingung, tapi tatapan yang penuh dengan tekad. “Aku tidak suka hidup dalam kebohongan,” katanya tegas. “Tapi kali dunia ini begitu berbahaya, aku akan mencoba untuk memahami semuanya.” Andre menatapnya dalam diam, ada sesuatu yang lain di matanya, sesuatu yang hampir terlihat seperti sebuah penghargaan. “Atau anda akan hancur olehnya,” balas Andre. Alya tidak menjawab lagi, ia hanya menatapnya beberapa detik. Lalu Alya berjalan keluar dari ruangan itu, meski dalam hatinya badai seolah sedang mengamuk. *** Di lantai atas, dari balik pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, sepasang mata sedang mengamati semuanya. Arsen berdiri dalam bayangan, diam dan tidak bergerak. Tatapannya mengikuti setiap langkah Alya yang menjauh, setiap ekspresi dan reaksi ia sudah mendengar semuanya. Dan setiap keberanian yang di tunjukkan wanita itu, sudut bibirnya terangkat perlahan, ada segurat senyum tipis di bibir Arsen. “Cukup menarik,” gumamnya pelan. Tangannya bergerak mengambil gelas yang berisi minuman amber di meja, ia memutar gelas itu perlahan, cairannya berkilau terkena cahaya. “Semakin kamu mencoba memahami, semakin dalam kamu akan tenggelam, Alya.” Matanya menyipit, bukan marah ataupun kesal. Tapi ada ketertarikan di matanya, obsesi kecil mulai tumbuh, dan ia tidak berniat untuk menghentikannya. “Dan aku ingin melihat, seberapa jauh kamu bisa bertahan.” Di luar, suara langkah kaki para penjaga masih terdengar. Langkah itu terdengar begitu teratur, dan selalu siap. Seolah dunia ini memang tidak pernah benar-benar tenang. Dan tanpa Alya sadari, ia sudah berada tepat di tengahnya.Tujuh bulan kemudian, tangisan bayi memenuhi Mahardika Mansion untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang rumah besar itu. Ratih Alya Mahardika, dinamai sesuai kesepakatan yang telah dibuat orang tuanya jauh sebelum kelahirannya, lahir sehat di sebuah pagi musim hujan, disambut air mata bahagia dari kedua orang tuanya yang telah menantikan kehadirannya dengan penuh cinta. Arsen berdiri di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan Alya yang masih lemah namun berbinar bahagia, matanya tak lepas dari sosok mungil yang kini terbaring damai dalam pelukannya. "Dia cantik banget," bisik Arsen, suaranya bergetar oleh emosi yang meluap. "Persis kayak kamu." "Matanya kayak kamu," Alya membalas lembut, tersenyum menatap suaminya yang tak sanggup mengalihkan pandangan dari putri kecil mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsen Alvero Mahardika, pria yang dulu dijuluki predator karena kedinginan dan ketegasannya yang tak kenal ampun, merasakan kerapuhan yang begitu murni, begit
Enam bulan berlalu dengan cepat, dan hari kepulangan Alya dari Milan akhirnya tiba. Arsen berdiri di area kedatangan bandara, jantungnya berdebar penuh antisipasi menunggu istrinya muncul dari pintu kedatangan internasional, dikelilingi buket bunga anggrek putih besar yang telah ia siapkan khusus untuk menyambutnya. Ketika akhirnya Alya muncul, mendorong troli berisi koper-koper besar, wajahnya langsung berbinar melihat sosok Arsen yang menunggu dengan senyum lebar dan buket bunga di tangan. "Arsen!" Alya berlari kecil meninggalkan trolinya, menghambur ke pelukan suaminya yang telah lama ia rindukan. Arsen menangkapnya erat, memutar tubuhnya sedikit di udara sebelum menurunkannya kembali, mencium bibirnya dengan penuh kerinduan yang telah terpendam selama berbulan-bulan. "Aku kangen banget sama kamu," bisiknya di sela ciuman mereka. "Aku juga," Alya membalas, air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya. "Enam bulan itu lama banget rasanya." Dalam perjalanan pulang menuju m
Enam bulan setelah pernikahan kedua mereka, kehidupan Alya berubah drastis dengan cara yang tidak pernah ia duga. Bisnis desain interiornya berkembang pesat, hingga akhirnya sebuah firma desain ternama di Milan mengirimkan tawaran kerja sama yang begitu menggiurkan, kesempatan untuk memimpin proyek renovasi sebuah hotel butik bersejarah, sebuah proyek yang bisa melambungkan namanya ke panggung internasional. Ia duduk di studio kerjanya, menatap email tawaran itu berulang kali, hatinya dipenuhi kegembiraan sekaligus kebingungan. Proyek itu membutuhkan waktu enam bulan penuh di Italia, waktu yang berarti ia harus meninggalkan Jakarta, meninggalkan Arsen, meninggalkan kehidupan yang baru saja mereka bangun bersama dengan susah payah. "Kamu kelihatan bingung," suara Arsen mengejutkannya dari ambang pintu, membawa dua cangkir teh sore seperti kebiasaan mereka belakangan ini. "Aku dapet tawaran kerja," Alya menyerahkan ponselnya, membiarkan Arsen membaca email itu sendiri. "Proyek besar
Tiga bulan berlalu sejak vonis Damar dijatuhkan, dan kehidupan di Mahardika Mansion telah menemukan kedamaian yang jauh lebih stabil dari yang pernah Alya bayangkan bisa ia miliki. Yayasan sosial atas nama Ratih Mahardika resmi diluncurkan bulan lalu, dengan Alya turut membantu merancang pusat kegiatan bagi anak-anak yang menjadi penerima manfaat program tersebut. Pagi itu, Arsen bangun lebih awal dari biasanya, gelisah dengan sesuatu yang telah ia rencanakan diam-diam selama beberapa minggu terakhir. Ia mengintip ke kamar sebelah, memastikan Alya masih tertidur pulas, sebelum menyelinap keluar untuk menemui Dante yang sudah menunggunya di ruang kerja. "Semua udah disiapin, Bos?" Dante bertanya, menyerahkan sebuah folder tipis berisi rincian rencana yang telah mereka susun bersama. "Hampir," Arsen membuka folder itu, memeriksa kembali setiap detail dengan teliti. "Aku cuma butuh pastiin semuanya sempurna. Ini kesempatan aku buat nebus semua kesalahan awal pernikahan kita." Rencana
Dua bulan setelah persidangan Damar Vardian dimulai, hakim akhirnya menjatuhkan vonis, dua puluh tahun penjara, hukuman yang dianggap adil oleh sebagian besar publik yang telah mengikuti kasus itu dengan saksama sejak awal. Arsen menghadiri sidang pembacaan vonis itu bersama Alya, duduk berdampingan di kursi pengunjung, tangan mereka saling menggenggam erat sepanjang persidangan. Damar tidak menoleh sekali pun ke arah mereka saat vonis dibacakan, matanya menatap kosong ke depan, seolah sudah menerima nasibnya jauh sebelum palu hakim diketuk. Ketika petugas membawanya keluar ruang sidang, untuk sepersekian detik, matanya bertemu dengan mata Arsen, dan dalam tatapan singkat itu, tersirat sesuatu yang menyerupai permintaan maaf yang tak pernah terucap. "Kamu nggak apa-apa?" Alya bertanya pelan begitu mereka keluar dari gedung pengadilan, disambut kerumunan wartawan yang segera diusir menjauh oleh tim keamanan. "Aku baik," Arsen mengangguk, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang be
Satu bulan setelah malam mencekam di Cakung, kehidupan di Mahardika Mansion perlahan menemukan ritme barunya, ritme yang jauh lebih tenang, jauh lebih hangat dari yang pernah Alya bayangkan bisa terjadi di rumah yang dulu terasa seperti benteng dingin dan penuh rahasia. Persidangan Damar Vardian telah dimulai, disorot ketat oleh media yang kini bersimpati penuh pada keluarga Mahardika. Bukti-bukti yang diajukan tim hukum, ditambah kesaksian Bima yang jujur dan terperinci, membuat kemungkinan besar Damar akan menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Sebagian kecil dari Alya merasa iba pada pria itu, korban dari kebencian dan kesetiaan yang salah arah selama lima belas tahun, tapi ia juga tahu, keadilan harus tetap ditegakkan bagi semua yang telah ia korbankan demi ambisinya. Ia membaca laporan berita pagi itu di ponselnya, foto Damar yang diborgol digiring memasuki ruang sidang, wajahnya jauh berbeda dari sosok tenang dan terkendali yang pernah menyanderanya beberapa minggu
Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya me
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin
Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.







