ログインHujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.
Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh. Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya menyentuh kaca yang dingin, menatap halaman luas yang dipenuhi bayangan pria bersenjata. Rumah ini terlihat seperti sebuah sangkar emas, Alya menghela napas panjang, lalu berbalik. Matanya kembali menyapu ruangan mewah yang terasa asing, dan itu membuatnya gelisah. "Aku yakin, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan di rumah ini," gumamnya pelan. Pikirannya kembali pada kejadian tadi siang, ketika ia melihat Arsenal berbicara dengan beberapa pria di ruang kerja. Pintu itu selalu tertutup, dan dijaga. Alya menggigit bibir bawahnya, ada rasa ragu dalam dirinya. Tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada ketakutannya. Ia melangkah keluar, lorong mansion terlihat begitu kosong. Lampu yang redup menciptakan bayangan panjang pada dinding. Suara langkahnya nyaris tak terdengar, saat ia berjalan perlahan. Alya melangkah dengan satu tujuan, yaitu ruang kerja Arsen. Jantungnya berdetak lebih cepat, ia tahu ini berbahaya. Tapi entah kenapa, Alya merasa harus tahu sesuatu. Saat tiba di depan pintu yang besar itu, Alya langsung berhenti. Suasana di sekitar ruangan terlihat begitu sepi, biasanya selalu ada seseorang di sini. Alya menelan ludah, lalu perlahan memutar gagang pintu. Pintu itu tidak terkunci, sehingga Alya bisa masuk dengan mudah. Ruangan di dalam gelap, hanya diterangi lampu meja yang masih menyala. Aroma kayu dan parfum maskulin, memenuhi udara. Alya masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya. Matanya langsung tertuju pada meja besar yang berada di tengah ruangan. Terlihat rapi, tapi tidak ada berkas yang terlihat. "Dia tidak mungkin meninggalkan semuanya dengan begitu saja, ruangan ini tampak terlihat kosong," bisiknya. Alya mulai mencari di setiap laci, tapi semuanya terlihat kosong. Hingga pada laci ketiga, Alya merasa aneh. Karena laci ketiga dalam keadaan terkunci. "Tentu saja terkunci, karena jika ada sesuatu hal, dia tidak mungkin bersikap ceroboh." Tatapannya beralih ke sekitar ruangan, rak buku tinggi berdiri di sisi kiri. Ia mendekat, menyusuri deretan buku yang tersusun dengan rapi. Hingga tangannya menyentuh sesuatu yang berbeda, sebuah buku yang sedikit menonjol. Alya menariknya, dan suara mekanisme terdengar pelan. Seketika Alya langsung membeku, rak buku itu terlihat bergeser. Sebuah ruangan kecil yang tersembunyi, terbuka di baliknya. "Ini serius? Ada ruangan rahasia di balik rak buku ini." Alya melangkah masuk, dan di dalam hanya ada satu meja kecil, dengan beberapa dokumen yang tersusun rapi. Tidak banyak, tapi aura dari tempat itu terasa berat. Seperti menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui. Ia mendekat, tangannya gemetar saat mengambil salah satu map hitam. Di bagian depan, tertulis: PERJANJIAN PRIBADI Alisnya berkerut, perlahan Alya mulai membukanya. Matanya langsung bergerak cepat, membaca isi dokumen itu. Dan detik demi detik, raut wajahnya mulai berubah, dari penasaran menjadi tegang. Lalu pada halaman berikutnya, Alya terpaku saat melihat sesuatu. "Ini... apa ini?" suaranya bergetar. Isi dokumen itu bukan sekedar perjanjian pernikahan biasa, tetapi itu sebuah kontrak yang mengikat hidupnya. Pasal demi pasal tertulis dengan jelas, dingin, dan tanpa emosi. Pihak pertama: Arsen Alvero Mahardika. Pihak kedua: Alya Kirana Prasetyo. Alya menelan ludah, tangannya mulai dingin saat ia membaca lebih dalam. Pasal 3: Pihak kedua wajib tinggal di Mahardika Manison, selama masa peranjian berlangsung. Pasal 5: Pihak kedua, tidak diperkenankan meninggalkan area, tanpa izin dari pihak pertama. Pasal 7: Seluruh aktivitas pihak kedua, berada dalam pengawasan penuh pihak pertama. Napas Alya tercekat, "Pengawasan penuh?" bisiknya lirih. Matanya terus bergerak, semakin jauh ia membaca, dadanya semakin terasa sesak. Pasal 8: Pihak kedua tidak diperkenankan menjalin hubungan pribadi, dengan pihak luar tanpa persetujuan. Pasal 12: Pihak kedua wajib menjaga citra dan posisi, sebagai istri dari pihak pertama di depan publik. Alya mencengkram kertas itu, "Ini bukan pernikahan, tapi ini penahanan." Matanya berhenti di bagian terakhir, dan kalimat itu membuat tubuhnya terasa dingin. Pasal 15: Pelanggaran terhadap perjanjian itu, akan berakibat pada konsekuensi hukum dan pribadi, yang ditentukan sepenuhnya oleh pihak pertama. Alya terdiam lama, dadanya naik turun tidak teratur. "Konsekuensi pribadi? Maksudnya semua ini apa?" Alya menutup map itu dengan keras, amarah mulai muncul di matanya. "Dia pikir aku ini apa?" gumamnya. "Asetnya? Atau properti dia?" Saat Alya memikirkan semuanya, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang. Alya membeku, dan ia langsung menoleh. Dan di sana Arsen sudah berdiri di ambang pintu. Tatapannya begitu gelap, ruangan terasa begitu sunyi. Hanya ada suara hujan yang terdengar samar. "Aku selalu bertanya-tanya," suara Arsen rendah, dan tenang. "Berapa lama kamu akan menemukan itu." Alya menegakkan tubuhnya, meski jantungnya berdebar keras. "Jadi kamu sudah tahu?" balasnya. Arsen melangkah masuk, "Rumah ini bukan tempat yang mudah, untuk menyembunyikan sesuatu dari pemiliknya." Alya tertawa sinis, "Pemiliknya?" ulangnya pelan, dengan mengangkat map itu di tangannya. "Jadi ini maksudnya? Dan aku bagian dari koleksi kamu juga, iya kan?" "Tergantung bagaimana kamu melihatnya." Jawaban itu membuat Alya semakin kesal, ia melangkah mendekat, menatap pria itu tanpa takut. "Ini bukan pernikahan, Arsen. Tapi ini kontrak penjara." "Dan kamu telah menandatanganinya," jawabnya santai. Alya terdiam sesaat, dan benar, ia memang menandatangani dokumen itu, tanpa membaca detailnya. Karena saat itu, satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah menyelamatkan ayahnya. Arsen mendekat satu langkah lagi, jarak mereka kini terlalu dekat. "Tidak ada yang memaksamu, untuk menandatanganinya tanpa membaca terlebih dahulu," lanjut Arsen. Alya mengepalkan tangan, "Kamu sudah memanfaatkan situasi," ucap Alya. "Dan kamu mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dulu," balas Arsen cepat. Alya menatap mata pria itu dalam dan tajam. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di sana. Bukan sekedar dingin, tapi sebuah luka. Meskipun hanya sekilas, tapi cukup untuk membuatnya terdiam. "Sebenarnya apa tujuanmu menikahiku?" tanya Alya akhirnya. Arsen tidak langsung menjawab, ia menatap balik Alya. Seolah sedang menimbang sesuatu. "Anggap saja," katanya pelan, "ini bagian dari permainan yang lebih besar." Alya mengerutkan dahi, "Tapi aku bukan bagian dari permainan siapa pun." Arsen sedikit tersenyum, "Kamu sudah masuk ke dalamnya, sejak kamu mengatakan 'ya' di altar itu." Alya menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. "Aku tidak akan hidup seperti ini." "Hidup seperti apa? Alya, asal kamu tahu, dunia di luar sana jauh lebih kejam daripada apa yang kamu lihat di sini." Alya menatapnya tajam, "Aku tidak peduli, dan aku tidak takut sama sekali." "Bukan ketakutan yang harus kamu hadapi, tetapi kamu belum tau apa yang sebenarnya terjadi." Kalimat itu membuat Alya terdiam, ada sesuatu dalam nada suaranya. Bukan ancaman tapi seperti sebuah keyakinan, seolah ia benar-benar tahu sesuatu yang Alya tidak ketahui, dan itu membuatnya tidak nyaman. Arsen muncul satu langkah, lalu ia mengambil map dari tangan Alya dengan tenang. "Sekarang kamu sudah membaca semuanya, jadi kamu hanya punya dua pilihan." Alya menegakkan tubuhnya, "Pilihan apa?" "Bertahan, atau mencoba melawan." "Dan kalau aku memilih untuk melawan, apa yang akan terjadi?" Arsen menatapnya dengan tatapan gelap, dan Alya bisa merasa bahwa tatapan itu sangat berbahaya. "Pastikan bahwa kamu cukup kuat, untuk menghadapi konsekuensinya." Seketika suasana menjadi sunyi, hanya detak jantung Alya yang terdengar di telinganya. Namun alih-alih mundur, Alya justru malah tersenyum tipis. "Aku bukan tipe wanita yang mudah menyerah," ucap Alya tenang, dan tidak ada ketakutan di matanya. Untuk sesaat, Arsen hanya diam. Lalu susut bibirnta terangkat sedikit, "Justru itu jauh lebih bagus." Arsen berbalik berjalan keluar, namun sebelum ia benar-benar pergi, langkahnya terhenti di ambang pintu. "Jangan pernah membuka pintu, yang tidak bisa kamu tutup kembali, Alya," ucapnya Arsen tanpa menoleh. Setelah berkata seperti itu, Arsen pergi dan meninggalkan Alya sendiri. Dengan sebuah kontrak, yang kini terasa seperti rantai tak kasat mata di hidupnya. Alya berdiam diri menatap ruang kosong di depannya, napasnya perlahan kembali teratur. Namun satu hal yang jelas, bahwa ini bukan sekedar pernikahan. Tapi ini adalah permainan kekuasaan, dan ia sudah terjebak di dalamnya. Tatapannya Alya langsung berubah, seolah sedang menantang dunia Arsen, "Kalau ini memang sebuah permainan," bisiknya pelan. "Maka aku tidak akan menjadi pionnya." Di luar hujan semakin deras, seolah menjadi saksi bahwa perang diam-diam telah di mulai.Seiring berjalannya waktu, kabar tentang pengkhianatan Selena dan pemulihan nama baik keluarga Prasetyo mulai menyebar ke lingkaran bisnis dan masyarakat luas. Banyak pihak yang terkejut melihat perubahan drastis yang terjadi pada Arsen Alvero Mahardika. Pria yang selama ini dikenal sebagai sosok yang dingin, kejam, dan tak tergoyahkan, kini terlihat lebih tenang, lebih bijaksana, dan lebih terbuka dalam mengambil keputusan. Namun tidak semua orang percaya pada perubahan itu. Di balik layar, masih ada pihak yang menduga bahwa ini hanyalah strategi baru yang digunakan Arsen untuk memperkuat posisinya. Beberapa mitra lama bahkan mendekatinya dengan sikap waspada, bertanya-tanya apakah ini hanya akting belaka. Suatu sore, saat Arsen menghadiri pertemuan penting dengan dewan direksi perusahaan yang baru saja dibentuk ulang, salah satu anggota tertua berani mengajukan pertanyaan yang selama ini tersembunyi di benak banyak orang. “Tuan Ars
Dua minggu kemudian, Arsen diperbolehkan pulang ke Mahardika Mansion untuk melanjutkan masa pemulihannya di rumah, dengan pengawasan dokter pribadi. Kembali ke tempat yang dulunya terasa seperti penjara bagi Alya, kini terasa berbeda. Udara di dalam rumah itu tidak lagi terasa kaku dan penuh tekanan, meski pengawasan keamanan tetap diperketat untuk mencegah serangan balasan dari pihak yang tersisa. Arsen berjalan perlahan dengan bantuan tongkat, meski ia sering menolak menggunakannya dan berusaha terlihat kuat. Namun Alya selalu mengingatkannya agar tidak memaksakan diri, menunjukkan perhatian yang semakin hari semakin terlihat jelas. “Kau harus istirahat lebih banyak, Arsen,” tegur Alya saat melihat suaminya itu masih duduk di meja kerja meneliti laporan perusahaan. “Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Dokter bilang terlalu banyak berpikir bisa membuat tekanan darahmu naik.” Arsen menoleh, lalu tersenyum tipis, senyum yang kini terasa lebih alami
Selama tujuh hari berikutnya, Arsen menghabiskan waktunya terbaring di tempat tidur rumah sakit, meski kondisi fisiknya mulai membaik dengan cepat. Namun ia tidak pernah diam saja. Bahkan saat terbaring lemah, ia tetap memimpin operasi pencarian dan pengumpulan bukti melalui Dante, bukan Dante yang berkhianat, melainkan tim pengawas khusus yang ia bentuk bertahun-tahun lalu sebagai cadangan jika terjadi pengkhianatan dari dalam. Kabar tentang kebenaran perlahan mulai disebarkan secara hati-hati. Dokumen asli yang ditemukan di tempat persembunyian Dante berhasil membuktikan bahwa Bima Prasetyo tidak bersalah dalam kasus korupsi lima belas tahun lalu. Sebaliknya, dokumen itu menunjukkan bahwa Selena dan ayahnya sendiri yang mencuri dana dan memalsukan bukti untuk menghindari tanggung jawab. Suatu sore, Bima dan Ratna datang berkunjung ke ruang perawatan. Suasana terasa canggung pada awalnya, mengingat selama ini hubungan mereka terjalin dalam ke
Sementara Arsen berjuang mempertahankan nyawanya di ruang perawatan, kekacauan di luar masih berlanjut. Kabar tentang serangan, penculikan, dan pengkhianatan di lingkaran tertinggi keluarga Mahardika menyebar dengan cepat, meski berusaha dibungkam oleh tim keamanan. Namun Arsen memiliki jaringan yang luas, dan kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya.Di ruang kerja sementara yang aman di lantai atas rumah sakit, Alya duduk bersama Bima dan Ratna, ditemani oleh sejumlah pengawal setia yang kini menjaga mereka dengan ketat. Salah satu asisten lama Arsen, yang baru saja tiba dengan laporan terbaru, melangkah masuk dengan wajah serius.“Nyonya Alya, Tuan Bima,” sapanya sopan. “Kami telah mengamankan lokasi kejadian. Selain itu, kami juga mendapatkan informasi penting mengenai keberadaan Dante dan Selena, serta motif sebenarnya di balik pengkhianatan mereka.”“Katakan saja,” perintah Alya dengan nada tegas, mencoba meniru ketegasan Arsen agar dirinya terlihat mampu menghadapi situas
Hujan deras mengguyur wilayah pinggiran kota sejak sore, mengubah jalanan menjadi sungai lumpur dan menutupi suara apa pun di luar pagar tinggi gudang tua itu. Udara terasa dingin, bercampur bau besi berkarat, minyak tanah, dan samar-samar bau logam basah yang hanya bisa dikenali sebagai bau darah.Di dalam ruangan utama yang remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu sorot yang berkedip-kedip, suasana terasa mencekam. Arsen Alvero Mahardika bersandar pada tiang penyangga beton, tubuhnya terasa semakin berat seiring berjalannya waktu. Sebuah luka tembus di sisi perutnya masih mengeluarkan darah, merembes membasahi kain kemeja hitam yang sudah lusuh dan kotor. Namun rasa sakit itu terasa jauh lebih kecil dibandingkan rasa takut yang mencengkeram dadanya saat ia melihat Alya tergeletak tak sadarkan diri di lantai beberapa meter di depannya.“Alya…” gumamnya, suaranya serak dan napasnya memburu. Ia mencoba melangkah maju, tapi kakinya terasa lemas. Setiap gerakan membuat rasa nyeri di
Dengan berakhirnya pertarungan, waktunya tiba untuk mengungkapkan seluruh kebenaran secara terbuka, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk membersihkan nama baik semua pihak yang telah terjebak dalam kebohongan selama bertahun-tahun. Semua bukti yang dikumpulkan. Dokumen, rekaman, dan kesaksian, disusun rapi. Arsen memutuskan untuk menyerahkan sebagian besar bukti yang bersifat hukum kepada pihak berwenang yang dapat dipercaya, sementara yang berkaitan dengan urusan internal akan diselesaikan secara adil tanpa melibatkan kekerasan lagi. Suatu sore, di ruang kerja yang kini terasa lebih damai, Arsen, Alya, Bima, dan Ratna berkumpul kembali untuk membaca bersama seluruh isi dokumen yang disimpan Nyonya Elvira 15 tahun lalu. Di dalamnya terdapat rincian yang sangat jelas mengenai rencana pembunuhan, nama-nama yang terlibat, serta alasan mengapa mereka ingin menjatuhkan Nyonya Elvira. Ternyata, selain ambisi ke
Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen
Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b
Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin
Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.







