分享

Kontrak Pernikahan

作者: Mentari Senja
last update publish date: 2026-05-01 10:45:13

Hujan masih turun sejak sore hari, meninggalkan jejak basah di kaca yang tinggi, di Mahardika Mansion.

Malam itu terasa lebih sunyi, bahkan suara langkah para penjaga di lorong pun, terdengar seperti gema yang jauh.

Alya berdiri di depan jendela kamar, yang kini telah menjadi miliknya. Jemarinya menyentuh kaca yang dingin, menatap halaman luas yang dipenuhi bayangan pria bersenjata.

Rumah ini terlihat seperti sebuah sangkar emas, Alya menghela napas panjang, lalu berbalik. Matanya kembali menyapu ruangan mewah yang terasa asing, dan itu membuatnya gelisah.

"Aku yakin, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan di rumah ini," gumamnya pelan.

Pikirannya kembali pada kejadian tadi siang, ketika ia melihat Arsenal berbicara dengan beberapa pria di ruang kerja. Pintu itu selalu tertutup, dan dijaga.

Alya menggigit bibir bawahnya, ada rasa ragu dalam dirinya. Tapi rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada ketakutannya.

Ia melangkah keluar, lorong mansion terlihat begitu kosong. Lampu yang redup menciptakan bayangan panjang pada dinding. Suara langkahnya nyaris tak terdengar, saat ia berjalan perlahan. Alya melangkah dengan satu tujuan, yaitu ruang kerja Arsen.

Jantungnya berdetak lebih cepat, ia tahu ini berbahaya. Tapi entah kenapa, Alya merasa harus tahu sesuatu.

Saat tiba di depan pintu yang besar itu, Alya langsung berhenti. Suasana di sekitar ruangan terlihat begitu sepi, biasanya selalu ada seseorang di sini.

Alya menelan ludah, lalu perlahan memutar gagang pintu.

Pintu itu tidak terkunci, sehingga Alya bisa masuk dengan mudah. Ruangan di dalam gelap, hanya diterangi lampu meja yang masih menyala. Aroma kayu dan parfum maskulin, memenuhi udara.

Alya masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya. Matanya langsung tertuju pada meja besar yang berada di tengah ruangan. Terlihat rapi, tapi tidak ada berkas yang terlihat.

"Dia tidak mungkin meninggalkan semuanya dengan begitu saja, ruangan ini tampak terlihat kosong," bisiknya.

Alya mulai mencari di setiap laci, tapi semuanya terlihat kosong. Hingga pada laci ketiga, Alya merasa aneh. Karena laci ketiga dalam keadaan terkunci.

"Tentu saja terkunci, karena jika ada sesuatu hal, dia tidak mungkin bersikap ceroboh."

Tatapannya beralih ke sekitar ruangan, rak buku tinggi berdiri di sisi kiri. Ia mendekat, menyusuri deretan buku yang tersusun dengan rapi. Hingga tangannya menyentuh sesuatu yang berbeda, sebuah buku yang sedikit menonjol. Alya menariknya, dan suara mekanisme terdengar pelan.

Seketika Alya langsung membeku, rak buku itu terlihat bergeser. Sebuah ruangan kecil yang tersembunyi, terbuka di baliknya.

"Ini serius? Ada ruangan rahasia di balik rak buku ini."

Alya melangkah masuk, dan di dalam hanya ada satu meja kecil, dengan beberapa dokumen yang tersusun rapi. Tidak banyak, tapi aura dari tempat itu terasa berat. Seperti menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui.

Ia mendekat, tangannya gemetar saat mengambil salah satu map hitam. Di bagian depan, tertulis:

PERJANJIAN PRIBADI

Alisnya berkerut, perlahan Alya mulai membukanya. Matanya langsung bergerak cepat, membaca isi dokumen itu. Dan detik demi detik, raut wajahnya mulai berubah, dari penasaran menjadi tegang. Lalu pada halaman berikutnya, Alya terpaku saat melihat sesuatu.

"Ini... apa ini?" suaranya bergetar.

Isi dokumen itu bukan sekedar perjanjian pernikahan biasa, tetapi itu sebuah kontrak yang mengikat hidupnya.

Pasal demi pasal tertulis dengan jelas, dingin, dan tanpa emosi.

Pihak pertama: Arsen Alvero Mahardika.

Pihak kedua: Alya Kirana Prasetyo.

Alya menelan ludah, tangannya mulai dingin saat ia membaca lebih dalam.

Pasal 3:

Pihak kedua wajib tinggal di Mahardika Manison, selama masa peranjian berlangsung.

Pasal 5:

Pihak kedua, tidak diperkenankan meninggalkan area, tanpa izin dari pihak pertama.

Pasal 7:

Seluruh aktivitas pihak kedua, berada dalam pengawasan penuh pihak pertama.

Napas Alya tercekat, "Pengawasan penuh?" bisiknya lirih.

Matanya terus bergerak, semakin jauh ia membaca, dadanya semakin terasa sesak.

Pasal 8:

Pihak kedua tidak diperkenankan menjalin hubungan pribadi, dengan pihak luar tanpa persetujuan.

Pasal 12:

Pihak kedua wajib menjaga citra dan posisi, sebagai istri dari pihak pertama di depan publik.

Alya mencengkram kertas itu, "Ini bukan pernikahan, tapi ini penahanan."

Matanya berhenti di bagian terakhir, dan kalimat itu membuat tubuhnya terasa dingin.

Pasal 15:

Pelanggaran terhadap perjanjian itu, akan berakibat pada konsekuensi hukum dan pribadi, yang ditentukan sepenuhnya oleh pihak pertama.

Alya terdiam lama, dadanya naik turun tidak teratur. "Konsekuensi pribadi? Maksudnya semua ini apa?"

Alya menutup map itu dengan keras, amarah mulai muncul di matanya.

"Dia pikir aku ini apa?" gumamnya. "Asetnya? Atau properti dia?"

Saat Alya memikirkan semuanya, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari belakang. Alya membeku, dan ia langsung menoleh. Dan di sana Arsen sudah berdiri di ambang pintu.

Tatapannya begitu gelap, ruangan terasa begitu sunyi. Hanya ada suara hujan yang terdengar samar.

"Aku selalu bertanya-tanya," suara Arsen rendah, dan tenang. "Berapa lama kamu akan menemukan itu."

Alya menegakkan tubuhnya, meski jantungnya berdebar keras.

"Jadi kamu sudah tahu?" balasnya.

Arsen melangkah masuk, "Rumah ini bukan tempat yang mudah, untuk menyembunyikan sesuatu dari pemiliknya."

Alya tertawa sinis, "Pemiliknya?" ulangnya pelan, dengan mengangkat map itu di tangannya. "Jadi ini maksudnya? Dan aku bagian dari koleksi kamu juga, iya kan?"

"Tergantung bagaimana kamu melihatnya."

Jawaban itu membuat Alya semakin kesal, ia melangkah mendekat, menatap pria itu tanpa takut. "Ini bukan pernikahan, Arsen. Tapi ini kontrak penjara."

"Dan kamu telah menandatanganinya," jawabnya santai.

Alya terdiam sesaat, dan benar, ia memang menandatangani dokumen itu, tanpa membaca detailnya. Karena saat itu, satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah menyelamatkan ayahnya.

Arsen mendekat satu langkah lagi, jarak mereka kini terlalu dekat. "Tidak ada yang memaksamu, untuk menandatanganinya tanpa membaca terlebih dahulu," lanjut Arsen.

Alya mengepalkan tangan, "Kamu sudah memanfaatkan situasi," ucap Alya.

"Dan kamu mengambil keputusan tanpa berpikir terlebih dulu," balas Arsen cepat.

Alya menatap mata pria itu dalam dan tajam. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di sana. Bukan sekedar dingin, tapi sebuah luka. Meskipun hanya sekilas, tapi cukup untuk membuatnya terdiam.

"Sebenarnya apa tujuanmu menikahiku?" tanya Alya akhirnya.

Arsen tidak langsung menjawab, ia menatap balik Alya. Seolah sedang menimbang sesuatu.

"Anggap saja," katanya pelan, "ini bagian dari permainan yang lebih besar."

Alya mengerutkan dahi, "Tapi aku bukan bagian dari permainan siapa pun."

Arsen sedikit tersenyum, "Kamu sudah masuk ke dalamnya, sejak kamu mengatakan 'ya' di altar itu."

Alya menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang hampir meledak. "Aku tidak akan hidup seperti ini."

"Hidup seperti apa? Alya, asal kamu tahu, dunia di luar sana jauh lebih kejam daripada apa yang kamu lihat di sini."

Alya menatapnya tajam, "Aku tidak peduli, dan aku tidak takut sama sekali."

"Bukan ketakutan yang harus kamu hadapi, tetapi kamu belum tau apa yang sebenarnya terjadi."

Kalimat itu membuat Alya terdiam, ada sesuatu dalam nada suaranya. Bukan ancaman tapi seperti sebuah keyakinan, seolah ia benar-benar tahu sesuatu yang Alya tidak ketahui, dan itu membuatnya tidak nyaman.

Arsen muncul satu langkah, lalu ia mengambil map dari tangan Alya dengan tenang. "Sekarang kamu sudah membaca semuanya, jadi kamu hanya punya dua pilihan."

Alya menegakkan tubuhnya, "Pilihan apa?"

"Bertahan, atau mencoba melawan."

"Dan kalau aku memilih untuk melawan, apa yang akan terjadi?"

Arsen menatapnya dengan tatapan gelap, dan Alya bisa merasa bahwa tatapan itu sangat berbahaya.

"Pastikan bahwa kamu cukup kuat, untuk menghadapi konsekuensinya."

Seketika suasana menjadi sunyi, hanya detak jantung Alya yang terdengar di telinganya. Namun alih-alih mundur, Alya justru malah tersenyum tipis.

"Aku bukan tipe wanita yang mudah menyerah," ucap Alya tenang, dan tidak ada ketakutan di matanya.

Untuk sesaat, Arsen hanya diam. Lalu susut bibirnta terangkat sedikit, "Justru itu jauh lebih bagus."

Arsen berbalik berjalan keluar, namun sebelum ia benar-benar pergi, langkahnya terhenti di ambang pintu.

"Jangan pernah membuka pintu, yang tidak bisa kamu tutup kembali, Alya," ucapnya Arsen tanpa menoleh.

Setelah berkata seperti itu, Arsen pergi dan meninggalkan Alya sendiri. Dengan sebuah kontrak, yang kini terasa seperti rantai tak kasat mata di hidupnya.

Alya berdiam diri menatap ruang kosong di depannya, napasnya perlahan kembali teratur. Namun satu hal yang jelas, bahwa ini bukan sekedar pernikahan. Tapi ini adalah permainan kekuasaan, dan ia sudah terjebak di dalamnya.

Tatapannya Alya langsung berubah, seolah sedang menantang dunia Arsen, "Kalau ini memang sebuah permainan," bisiknya pelan. "Maka aku tidak akan menjadi pionnya."

Di luar hujan semakin deras, seolah menjadi saksi bahwa perang diam-diam telah di mulai.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kejatuhan Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Selena Terpojok

    Pagi itu, ponsel Alya berdering tepat jam tujuh, nomor tidak dikenal yang sama seperti sebelumnya. Ia melirik ke arah Arsen yang sedang bersiap-siap di ruang ganti, kemudian menjawab panggilan itu dengan suara pelan. "Alya," suara Selena terdengar tegang, jauh berbeda dari ketenangan yang ia tunjukkan kemarin. "Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin bekerja sama dengan kalian, tapi aku butuh perlindungan segera. Reza mulai curiga bahwa aku ragu-ragu, dan aku takut dia akan bertindak lebih cepat dari rencana." "Di mana kau sekarang?" Alya bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Aku di apartemen pribadiku di kawasan Kemang. Tapi Alya, aku pikir aku sedang diawasi. Ada mobil yang sudah parkir di depan gedung sejak semalam, dan aku yakin itu bukan kebetulan." Alya segera memberi isyarat pada Arsen yang langsung mendekat begitu melihat ekspresi seriusnya. "Tunggu, Selena. Aku akan memberitahu Arsen sekarang. Kami akan mengirim bantuan segera."

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pengkhianatan Terakhir

    Dua hari sebelum rapat pemegang saham darurat, suasana di Mahardika Corporation semakin tegang. Setiap sudut gedung dipenuhi bisik-bisik ketakutan, dan Alya bisa merasakan tatapan curiga dari para karyawan setiap kali ia melintasi lorong kantor bersama Arsen. Tim hukum sudah bekerja siang malam untuk menyusun berkas yang akan membongkar identitas asli David Halim sebagai Reza Aditama, menggunakan dokumen yang diberikan Bima Prasetyo. Namun ada satu masalah besar yang mengganjal pikiran Arsen. "Kita butuh saksi hidup untuk menguatkan bukti dokumen ini di pengadilan, jika mereka menggugat balik," kata pengacara utama Mahardika Corporation, seorang wanita bernama Ibu Sari, dalam rapat strategi pagi itu. "Dokumen saja bisa dipertanyakan keasliannya." "Bima Prasetyo sudah setuju untuk bersaksi," Arsen menjawab, meski nada suaranya menunjukkan betapa rumitnya keputusan itu baginya. "Itu bagus, tapi mengingat keterlibatannya dalam penipuan aset l

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Pagi menyingsing dengan cahaya keemasan yang menembus tirai kamar, namun suasana di Mahardika Mansion jauh dari kata tenang. Alya terbangun mendapati Arsen sudah berpakaian rapi, berdiri di dekat jendela dengan ponsel menempel di telinganya, suaranya rendah namun tegas, mode kerja yang sudah sangat dikenalnya. "...aku ingin laporan lengkap tentang pergerakan David Halim dalam dua puluh empat jam terakhir," Arsen berkata pada seseorang di ujung telepon. "Jangan ada yang terlewat, sekecil apa pun itu." Ia menutup telepon begitu menyadari Alya sudah bangun, ekspresinya melunak sedikit meski ketegangan masih terlihat jelas di garis rahangnya. "Selamat pagi," katanya, melangkah mendekat dan mengecup dahi Alya. "Bagaimana tidurmu?" "Lebih baik dari yang kuduga," Alya menjawab jujur, duduk bersandar pada headboard ranjang. "Ada kabar baru?" Arsen duduk di tepi ranjang, wajahnya serius. "Dante menemukan sesuatu semalam. David Halim, ata

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Malam Pengakuan

    Setibanya di mansion, Arsen sudah menunggu di depan pintu utama, wajahnya tegang, namun begitu melihat Alya keluar dari mobil dengan selamat, sesuatu di matanya melunak untuk sesaat sebelum ia menariknya ke dalam pelukan yang begitu erat hingga Alya nyaris kehabisan napas. "Kau membuatku hampir gila," bisiknya di rambut Alya, suaranya bergetar dengan emosi yang jarang ia perlihatkan. "Aku bilang tim akan berjaga sepuluh meter darimu, bukan berarti kau boleh membiarkan mereka mengenalimu." "Aku tidak sengaja," Alya membalas, suaranya teredam di dada Arsen. "Aku tidak tahu salah satu dari mereka pernah melihatku di acara amal bulan lalu." Arsen melepaskan pelukannya, tangannya masih menggenggam bahu Alya, matanya memindai wajahnya seolah memastikan tidak ada luka yang tersembunyi. "Kau terluka?" "Tidak. Hanya... terkejut." Arsen menghela napas panjang, tangannya bergerak untuk mengusap pipi Alya dengan lembut—gerakan yang begitu b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Satu Langkah di Depan

    Pagi berikutnya, Alya terbangun mendapati sisi ranjang Arsen sudah kosong dan dingin — tanda bahwa suaminya sudah bangun jauh sebelum matahari terbit. Ia menemukan pria itu di ruang kerja pribadinya, dikelilingi oleh tumpukan dokumen dan tiga layar monitor yang menampilkan data finansial serta rekaman CCTV. "Kau tidak tidur semalaman?" Alya bertanya, bersandar di kusen pintu. "Aku tidak punya waktu untuk tidur." Arsen tidak mengangkat pandangannya dari layar. "Reza Aditama menghilang selama lima belas tahun. Itu berarti dia sudah membangun jaringan barunya di suatu tempat, dengan identitas berbeda. Aku harus menemukan tempat itu sebelum dia dan Selena menyelesaikan rencana mereka." Alya melangkah masuk, matanya jatuh pada salah satu foto yang tertempel di papan kerja Arsen — foto seorang pria paruh baya dengan senyum yang menurut Alya terlihat terlalu ramah untuk seseorang yang dicurigai terlibat dalam kematian dan pengkhianatan. "Ini dia?

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Dunia yang Tidak Alya Kenal

    Langkah Alya terhenti di ambang pintu kaca besar, yang menghadap ke halaman mansion. Pagi itu tidak terasa sunyi seperti kemarin, ada sesuatu yang berubah. Udara terasa lebih berat dan berbahaya. Dari balik tirai tipis yang ia geser perlahan, Alya melihat pemandangan yang membuat dadanya mengen

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Mansion yang Terlalu Sunyi

    Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status