LOGIN"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."
Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia inginkan. Apalagi berakhir mati setelah tanpa sengaja melihat hal yang tak seharusnya. "Lepaskan aku, tolong. A-akh aku tidak punya uang, tapi aku t-tidak akan macam-macam." Iris mengangkat kepalanya. Menatap Silas yang masih dalam posisi berjongkok. Dia melihat pria itu menaikkan alisnya. "Tuan, dia harus dibungkam—" Silas mengangkat tangan tanpa berhenti menatap Iris yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Wajah dan bibirnya tampak lebih pucat, entah karena takut atau karena terlalu lama kehujanan. Namun tampaknya, pemandangan menyedihkan itu tidak membuat Silas iba. Pria itu justru mendekatkan wajahnya dengan seringai dingin yang menghiasi bibirnya. "Kau ingin bebas?" Iris mengerjap. Dia menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Alisnya berkerut dalam, kebingungan sekilas terlintas di matanya. Silas terlalu dekat dengannya. Sampai Iris bisa melihat jelas sorot matanya dan wajah yang pernah membuatnya terpesona. Setidaknya sebelum semua kegilaan ini terjadi. Jika saja saat ini mereka tidak dalam situasi gila ini, dia mungkin akan terpesona, tapi tidak ada rasa apa pun selain ngeri yang dirasakan Iris sekarang saat melihat Silas. Dia refleks melirik ke arah Elliot yang ada di sebelah pria itu. Berdiri dengan posisi siap dan machete di tangan. Seolah menunggu waktu sampai Silas kembali berkata, 'habisi'. Jelas mustahil meminta bantuannya. Dia kembali menatap Silas dan mengangguk ragu-ragu. "Ya, t-tolong bebaskan aku. A-aku bersumpah—" "Kenapa?" "Huh?" Iris terdiam saat kata-katanya dipotong Silas. Bukan oleh kalimat, melainkan pertanyaan lain dan saat Iris akan kembali bicara, Silas mendahuluinya. "Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?" Iris terperanjat di tempat. Sesaat dia hampir lupa cara bernapas. "A-apa?" Silas berdiri santai. Merapikan kemeja mahalnya yang sudah basah. Dia masih mengamati Iris yang basah kuyup dan terduduk di tanah yang kotor. Penampilannya tak ubahnya seperti anjing liar yang tercebur di selokan. Ada kilatan terhibur yang sepintas terlihat di mata Silas. "Mau bagaimana lagi? Kau melihatku dalam situasi tidak tepat." Pria itu mengulurkan tangannya santai ke arah Elliot sembari melirik machete dan tak butuh waktu lama untuk benda itu berpindah tangan pada Silas. Lalu secara tak terduga, Silas mengarahkan ujung machete tepat ke pipi Iris. Iris spontan terhenyak dan kaku. Dia tidak berani bergerak saat dinginnya logam hitam mengelus pipinya, kontras dengan deru napas hangatnya saat dia mulai panik. Karena gerakan sekecil apa pun, akan membuat pipinya tergores atau bahkan terluka, tapi sial, sang empunya malah menatap dengan senyum lebar. "Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja." Logam itu beralih turun dan menyentuh dagu Iris seperti sedang mengelus, memaksanya mendongak untuk menatap pria paling gila yang pernah Iris temui. Dia sepertinya akan benar-benar berakhir di sini. Sekarang juga. Iris tidak bisa menahan air matanya jatuh. Berkali-kali menelan ludah susah payah sambil memejamkan mata. Jika memang ini adalah akhirnya, Iris hanya bisa berharap, Tuhan akan mengampuni semua dosanya. Namun secara tak terduga, Silas menarik lagi machete dan mengamankannya sambil melirik Elliot. "Bawa dia dan suruh orang membereskan kekacauan ini. Di sini sangat dingin, aku perlu air hangat." Iris tercengang dan kembali membuka mata hanya untuk mendapati Silas menjauh. Sikapnya yang di luar dugaan, cukup membuatnya kaget dan sepertinya hal itu tidak hanya dirasakan olehnya, tapi juga oleh Elliot yang tampak kebingungan. "Tuan, Anda yakin? Wanita ini sudah—" "Jangan membantah, Elliot." Tanpa banyak kata lagi, Silas langsung berjalan lebih dulu, melewati Iris yang masih terbengong di posisinya seperti tidak terjadi apa-apa. Seakan seluruh kekacauan yang terjadi, tidak disebabkan olehnya. Iris mengikuti langkah pergerakan Silas dengan bingung. Berusaha bangun meski lututnya masih lemas. "T-tuan, tunggu, tolong aku tidak mau. Tolong lepas—akhh!" Sebelum Iris menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan dirasakan di tengkuknya yang membuat kepalanya berputar dan pandangannya buram sesaat sebelum kegelapan merenggut kesadarannya. *** "Bangun!" Iris mengernyit. Suara asing samar-samar terdengar telinganya. Matanya bergerak. Mencoba untuk terbuka, tapi sulit. Dia hanya bisa mendengar suara langkah setelahnya, sampai dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. Sebelum Iris benar-benar sadar, dia merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Menekannya dan seolah ingin membalik wajahnya. Namun kepalanya terlalu pusing untuk merespons. Sampai beberapa saat kemudian, dia merasakan tubuhnya diguncang kasar. Cukup untuk membuatnya mulai mengambil alih kesadaran dan membuka mata. Pandangannya buram. Dia berkedip sekali. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, sebelum akhirnya melihat sepasang sepatu pantofel tepat di depan wajahnya, yang ternyata merupakan milik Elliot. Iris terperanjat. Tubuhnya spontan mundur dengan dua bola mata yang membelalak. Dia berusaha bangun hanya untuk menyaksikan dirinya berada di tempat asing dengan kehadiran Elliot dan juga Silas. Matanya sejenak menatap sekitar, melihat ruangan yang minim cahaya serta dinding putih pucat yang penuh coretan dan kotor. Tidak ada jendela di mana pun atau sinar matahari yang menembus masuk. Hanya ada dua ventilasi yang menjadi satu-satunya pertukaran udara baru di ruangan. Bahkan lantai yang dia duduki kotor, penuh dengan debu dan pengap. Kontras jauh dari posisi Silas maupun Elliot saat ini. Silas, pria itu duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua kaki terbuka dan punggung bersandar. Sepatunya mengetuk lantai seirama dengan suara detik jam tangannya. Mata itu menatapnya bosan. Tapi, ada satu hal yang terlihat jelas. Tidak ada jas dan pakaian formal seperti yang sebelumnya Iris lihat. Kini pria itu memakai turtleneck hitam yang membentuk otot tubuhnya. Memberikan kesan lebih hangat dan bersih dari sebelumnya. Tidak terlihat sama sekali noda darah. Hal yang sama pun tampak pada Elliot. Matanya tidak menemukan senjata yang dilumuri darah, tapi pria itu masih berdiri kaku seperti robot di depannya. Saat sedang memerhatikan, Iris tiba-tiba merasakan sengatan sekilas di tengkuknya. Dia refleks mengusapnya dan teringat, dia sempat dipukul. Dia yakin, Elliot yang melakukannya. "Aku mohon, a-aku hanya tidak sengaja lewat. Aku mendengar suara orang minta tolong, jadi aku—" "Elliot." Suara Silas memotong ucapan Iris. Matanya melirik Elliot. "Keluarkan." Tanpa diperintah dua kali, Elliot segera mengeluarkan benda yang sangat dikenal Iris. Itu adalah tas miliknya. Tas yang entah sejak kapan berada di tangan mereka. "Bagaimana tasku ada di tangan—" Belum sempat dia melanjutkan, suara barang berjatuhan terdengar. Elliot tanpa ragu mengeluarkan isi tas itu tepat di depan mata Iris. Sepatu patah, alat make-up, dompet, bahkan sampai koin recehen berjatuhan dan diakhiri oleh suara dentingan kunci apartemen milik Iris bersama dengan selembar kertas yang sebagian terlihat basah. Melihat barang-barangnya berjatuhan, Iris mengulurkan tangan, hendak mengambil kertas dan dompetnya, tapi sial Elliot sudah lebih dulu mengambilnya. "Hei!" Elliot membuka dompet itu dengan gerakan efisien. Tak peduli tindakannya sopan atau tidak, dia mulai melakukan pengecekan terhadap apa yang ada dalam dompet Iris. Lalu mengambil kartu Identitas dan ATM. Sementara dompetnya dilempar begitu saja. "I-itu barangku! Jangan sembarangan—" "Tuan." Elliot menyerahkan kartu Identitas itu beserta kertasnya pada Silas. "Saya tidak menemukan yang lain." "Iris Hayes." Iris tersentak. Suara rendah dan berat milik Silas menarik perhatiannya. Dia melirik pria itu yang kini terlihat serius membaca identitasnya, bahkan kertas basah yang merupakan laporan dari rumah sakit. "Aku tidak pernah mendengar nama itu." "Sepertinya bukan dari keluarga lama, Tuan," sahut Elliot. "H-hayes hanyalah nama pemberian ibu panti. A-aku tidak punya keluarga," sahut Iris, berharap jawabannya akan membuat Silas iba. "A-aku hanya yatim piatu. Aku miskin, tolong... tolong jangan bunuh aku. Aku tidak akan melapor polisi." Elliot menatap dingin. "Apa yang kau lakukan di sana? Kau menguntit kami?" "Apa? Tidak!" Iris menggeleng cepat. "Aku hanya lewat. Aku baru pulang kerja, aku mau ke apartemen." "Pulang kerja tengah malam? Saat kau bekerja shift pagi? Aku sudah memerhatikanmu beberapa hari ini, kau selalu menatap Tuan Silas sangat lama di kafe. Apa tujuanmu?" Iris tersedak oleh pertanyaan Elliot. Mulutnya terbuka untuk menjelaskan, tapi tidak ada kata yang keluar. "Kau disuruh seseorang untuk memantau Tuan Silas?" Serangan pertanyaan bertubi-tubi membuat Iris tergagap dan kewalahan. Elliot tampaknya tidak mau berhenti menyudutkannya. "T-tidak, aku tidak disuruh orang untuk memantau atau melakukan apa pun. A-aku hanya ...." "Hanya apa?" Iris menelan ludah, lalu melirik Silas yang tampak asyik menonton sambil memiringkan kepalanya. "Sebaiknya kau menjawab dengan jujur." Kepala Iris tertunduk, dia menggigit bibir kuat-kuat. Mencoba menetralkan perasaan takut, malu dan terhina yang bercampur menjadi satu. "Itu karena aku... aku menyukainya."Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria
Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan
"Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati
"Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria
Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu
'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







