แชร์

Hidup atau Mati?

ผู้เขียน: Koran Meikarta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-14 12:27:55

"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."

Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia inginkan. Apalagi berakhir mati setelah tanpa sengaja melihat hal yang tak seharusnya.

"Lepaskan aku, tolong. A-akh aku tidak punya uang, tapi aku t-tidak akan macam-macam."

Iris mengangkat kepalanya. Menatap Silas yang masih dalam posisi berjongkok. Dia melihat pria itu menaikkan alisnya.

"Tuan, dia harus dibungkam—"

Silas mengangkat tangan tanpa berhenti menatap Iris yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Wajah dan bibirnya tampak lebih pucat, entah karena takut atau karena terlalu lama kehujanan.

Namun tampaknya, pemandangan menyedihkan itu tidak membuat Silas iba. Pria itu justru mendekatkan wajahnya dengan seringai dingin yang menghiasi bibirnya.

"Kau ingin bebas?"

Iris mengerjap. Dia menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Alisnya berkerut dalam, kebingungan sekilas terlintas di matanya.

Silas terlalu dekat dengannya. Sampai Iris bisa melihat jelas sorot matanya dan wajah yang pernah membuatnya terpesona. Setidaknya sebelum semua kegilaan ini terjadi. Jika saja saat ini mereka tidak dalam situasi gila ini, dia mungkin akan terpesona, tapi tidak ada rasa apa pun selain ngeri yang dirasakan Iris sekarang saat melihat Silas.

Dia refleks melirik ke arah Elliot yang ada di sebelah pria itu. Berdiri dengan posisi siap dan machete di tangan. Seolah menunggu waktu sampai Silas kembali berkata, 'habisi'.

Jelas mustahil meminta bantuannya. Dia kembali menatap Silas dan mengangguk ragu-ragu. "Ya, t-tolong bebaskan aku. A-aku bersumpah—"

"Kenapa?"

"Huh?" Iris terdiam saat kata-katanya dipotong Silas. Bukan oleh kalimat, melainkan pertanyaan lain dan saat Iris akan kembali bicara, Silas mendahuluinya.

"Kenapa aku harus menuruti kata-katamu?"

Iris terperanjat di tempat. Sesaat dia hampir lupa cara bernapas. "A-apa?"

Silas berdiri santai. Merapikan kemeja mahalnya yang sudah basah. Dia masih mengamati Iris yang basah kuyup dan terduduk di tanah yang kotor. Penampilannya tak ubahnya seperti anjing liar yang tercebur di selokan. Ada kilatan terhibur yang sepintas terlihat di mata Silas.

"Mau bagaimana lagi? Kau melihatku dalam situasi tidak tepat."

Pria itu mengulurkan tangannya santai ke arah Elliot sembari melirik machete dan tak butuh waktu lama untuk benda itu berpindah tangan pada Silas. Lalu secara tak terduga, Silas mengarahkan ujung machete tepat ke pipi Iris.

Iris spontan terhenyak dan kaku. Dia tidak berani bergerak saat dinginnya logam hitam mengelus pipinya, kontras dengan deru napas hangatnya saat dia mulai panik. Karena gerakan sekecil apa pun, akan membuat pipinya tergores atau bahkan terluka, tapi sial, sang empunya malah menatap dengan senyum lebar.

"Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja."

Logam itu beralih turun dan menyentuh dagu Iris seperti sedang mengelus, memaksanya mendongak untuk menatap pria paling gila yang pernah Iris temui. Dia sepertinya akan benar-benar berakhir di sini. Sekarang juga.

Iris tidak bisa menahan air matanya jatuh. Berkali-kali menelan ludah susah payah sambil memejamkan mata. Jika memang ini adalah akhirnya, Iris hanya bisa berharap, Tuhan akan mengampuni semua dosanya.

Namun secara tak terduga, Silas menarik lagi machete dan mengamankannya sambil melirik Elliot.

"Bawa dia dan suruh orang membereskan kekacauan ini. Di sini sangat dingin, aku perlu air hangat."

Iris tercengang dan kembali membuka mata hanya untuk mendapati Silas menjauh. Sikapnya yang di luar dugaan, cukup membuatnya kaget dan sepertinya hal itu tidak hanya dirasakan olehnya, tapi juga oleh Elliot yang tampak kebingungan.

"Tuan, Anda yakin? Wanita ini sudah—"

"Jangan membantah, Elliot."

Tanpa banyak kata lagi, Silas langsung berjalan lebih dulu, melewati Iris yang masih terbengong di posisinya seperti tidak terjadi apa-apa. Seakan seluruh kekacauan yang terjadi, tidak disebabkan olehnya.

Iris mengikuti langkah pergerakan Silas dengan bingung. Berusaha bangun meski lututnya masih lemas. "T-tuan, tunggu, tolong aku tidak mau. Tolong lepas—akhh!"

Sebelum Iris menyelesaikan kalimatnya, sebuah pukulan dirasakan di tengkuknya yang membuat kepalanya berputar dan pandangannya buram sesaat sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.

***

"Bangun!"

Iris mengernyit. Suara asing samar-samar terdengar telinganya. Matanya bergerak. Mencoba untuk terbuka, tapi sulit. Dia hanya bisa mendengar suara langkah setelahnya, sampai dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

Sebelum Iris benar-benar sadar, dia merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Menekannya dan seolah ingin membalik wajahnya.

Namun kepalanya terlalu pusing untuk merespons. Sampai beberapa saat kemudian, dia merasakan tubuhnya diguncang kasar. Cukup untuk membuatnya mulai mengambil alih kesadaran dan membuka mata.

Pandangannya buram.

Dia berkedip sekali. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, sebelum akhirnya melihat sepasang sepatu pantofel tepat di depan wajahnya, yang ternyata merupakan milik Elliot.

Iris terperanjat. Tubuhnya spontan mundur dengan dua bola mata yang membelalak. Dia berusaha bangun hanya untuk menyaksikan dirinya berada di tempat asing dengan kehadiran Elliot dan juga Silas.

Matanya sejenak menatap sekitar, melihat ruangan yang minim cahaya serta dinding putih pucat yang penuh coretan dan kotor. Tidak ada jendela di mana pun atau sinar matahari yang menembus masuk.

Hanya ada dua ventilasi yang menjadi satu-satunya pertukaran udara baru di ruangan. Bahkan lantai yang dia duduki kotor, penuh dengan debu dan pengap.

Kontras jauh dari posisi Silas maupun Elliot saat ini.

Silas, pria itu duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua kaki terbuka dan punggung bersandar. Sepatunya mengetuk lantai seirama dengan suara detik jam tangannya. Mata itu menatapnya bosan.

Tapi, ada satu hal yang terlihat jelas. Tidak ada jas dan pakaian formal seperti yang sebelumnya Iris lihat. Kini pria itu memakai turtleneck hitam yang membentuk otot tubuhnya. Memberikan kesan lebih hangat dan bersih dari sebelumnya.

Tidak terlihat sama sekali noda darah. Hal yang sama pun tampak pada Elliot. Matanya tidak menemukan senjata yang dilumuri darah, tapi pria itu masih berdiri kaku seperti robot di depannya.

Saat sedang memerhatikan, Iris tiba-tiba merasakan sengatan sekilas di tengkuknya. Dia refleks mengusapnya dan teringat, dia sempat dipukul. Dia yakin, Elliot yang melakukannya. "Aku mohon, a-aku hanya tidak sengaja lewat. Aku mendengar suara orang minta tolong, jadi aku—"

"Elliot." Suara Silas memotong ucapan Iris. Matanya melirik Elliot. "Keluarkan."

Tanpa diperintah dua kali, Elliot segera mengeluarkan benda yang sangat dikenal Iris.

Itu adalah tas miliknya. Tas yang entah sejak kapan berada di tangan mereka. "Bagaimana tasku ada di tangan—"

Belum sempat dia melanjutkan, suara barang berjatuhan terdengar. Elliot tanpa ragu mengeluarkan isi tas itu tepat di depan mata Iris.

Sepatu patah, alat make-up, dompet, bahkan sampai koin recehen berjatuhan dan diakhiri oleh suara dentingan kunci apartemen milik Iris bersama dengan selembar kertas yang sebagian terlihat basah.

Melihat barang-barangnya berjatuhan, Iris mengulurkan tangan, hendak mengambil kertas dan dompetnya, tapi sial Elliot sudah lebih dulu mengambilnya.

"Hei!"

Elliot membuka dompet itu dengan gerakan efisien. Tak peduli tindakannya sopan atau tidak, dia mulai melakukan pengecekan terhadap apa yang ada dalam dompet Iris. Lalu mengambil kartu Identitas dan ATM. Sementara dompetnya dilempar begitu saja.

"I-itu barangku! Jangan sembarangan—"

"Tuan." Elliot menyerahkan kartu Identitas itu beserta kertasnya pada Silas. "Saya tidak menemukan yang lain."

"Iris Hayes."

Iris tersentak. Suara rendah dan berat milik Silas menarik perhatiannya. Dia melirik pria itu yang kini terlihat serius membaca identitasnya, bahkan kertas basah yang merupakan laporan dari rumah sakit.

"Aku tidak pernah mendengar nama itu."

"Sepertinya bukan dari keluarga lama, Tuan," sahut Elliot.

"H-hayes hanyalah nama pemberian ibu panti. A-aku tidak punya keluarga," sahut Iris, berharap jawabannya akan membuat Silas iba. "A-aku hanya yatim piatu. Aku miskin, tolong... tolong jangan bunuh aku. Aku tidak akan melapor polisi."

Elliot menatap dingin. "Apa yang kau lakukan di sana? Kau menguntit kami?"

"Apa? Tidak!" Iris menggeleng cepat. "Aku hanya lewat. Aku baru pulang kerja, aku mau ke apartemen."

"Pulang kerja tengah malam? Saat kau bekerja shift pagi? Aku sudah memerhatikanmu beberapa hari ini, kau selalu menatap Tuan Silas sangat lama di kafe. Apa tujuanmu?"

Iris tersedak oleh pertanyaan Elliot. Mulutnya terbuka untuk menjelaskan, tapi tidak ada kata yang keluar.

"Kau disuruh seseorang untuk memantau Tuan Silas?"

Serangan pertanyaan bertubi-tubi membuat Iris tergagap dan kewalahan. Elliot tampaknya tidak mau berhenti menyudutkannya. "T-tidak, aku tidak disuruh orang untuk memantau atau melakukan apa pun. A-aku hanya ...."

"Hanya apa?"

Iris menelan ludah, lalu melirik Silas yang tampak asyik menonton sambil memiringkan kepalanya.

"Sebaiknya kau menjawab dengan jujur."

Kepala Iris tertunduk, dia menggigit bibir kuat-kuat. Mencoba menetralkan perasaan takut, malu dan terhina yang bercampur menjadi satu. "Itu karena aku... aku menyukainya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tertawan oleh Don Mafia   Musuh atau Sekutu?

    Raphael. Raphael Valenfort. Nama itu muncul di hasil pencarian teratas ketika Iris mencoba mencari tahu soal pria dalam video tersebut.Wajahnya terpampang jelas dan Iris semakin yakin jika pria itu memang orang yang sama yang pernah ditabraknya beberapa hari lalu. Raphael sempat berkeliaran di wilayah apartemen Lona.Iris tidak tahu apa tujuannya, tapi yang jelas, dia tidak bisa berhenti mencari tahu orang yang berani melawan Silas. Sampai beberapa detik setelahnya, dia tertegun ketika matanya melihat sebuah gambar di salah satu artikel online yang membahas Raphael. Sebuah logo yang tampak tak begitu asing. Tangannya menggulir touchpad dan segera memperbesar gambar itu. Hingga akhirnya, Iris bisa melihatnya dengan jelas. Logo itu berwarna emas dengan gambar kepala singa.Beberapa detik, tubuhnya membeku. Sebelum kemudian matanya membulat dan Iris terkesiap. Dia melotot tak percaya. "Tidak mungkin!"Logo itu... mirip dengan lencana singa emas yang dulu ditemukan Silas setelah peny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penantang

    Hari itu, Iris baru bangun jam satu siang setelah tertidur karena lelah dengan aktivitas semalam. Nyawanya belum terkumpul sempurna saat dia bersandar di sofa dengan ekspresi lesu. Di tengah suasana tenang itu, perutnya tak disangka berbunyi. Cukup keras untuk membuatnya langsung sadar jika dia kelaparan. "Berta, aku lapar," ucap Iris sambil mengusap perutnya. Suaranya sedikit keras, tapi tidak ada yang menyahut. Sampai detik selanjutnya, kesadarannya terkumpul. Pupil matanya melebar dan tubuhnya spontan terduduk tegak. Kepalanya refleks menoleh. Menatap sekeliling dan menyadari dia ada di apartemen milik Lona. Bukan rumah besar Silas. Bibirnya mendesis. Dia tertunduk sambil memijat pangkal hidungnya. "Sial. Aku lupa."Iris mengusap wajahnya kali ini. Kesadarannya pulih. Dia menyadari dirinya hanya sendirian sekarang. Tidak ada Berta yang biasa bertanya dia mau makan apa hari ini. Dia menghembuskan napas kasar. Dadanya terasa mencelos saat dia tiba-tiba teringat dengan Berta. Pa

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lebih Paranoia?

    "Huh?""Kau tahu dari mana soal itu?"Iris tertegun. Kerutan di keningnya yang sempat terlihat, mendadak lenyap, ketika dia mengamati ekspresi khawatir di wajah Lona. Sekilas, kegelisahan terlihat di sana. Cara tangan temannya meremas ujung kemejanya. Matanya menyipit penuh curiga. "Kau tahu sesuatu? Kau tahu soal rumor ini, Lona?"Pertanyaannya yang terus terang, berhasil membuat Lona memutus kontak mata dan melihat ke arah lain. Lona tidak menjawab, tapi tampak beberapa kali dia membasahi bibirnya. Makanan di atas meja tampak bukan lagi sesuatu yang penting. Tidak lagi menarik rasa laparnya. "Itu... itu bukan sesuatu yang penting. Maksudku, itu hanya rumor. Aku pernah mendengarnya, tapi tidak ada kejelasan soal faktanya. Tidak ada berita yang jelas.""Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" desak Iris. Suaranya terdengar kesal dan sedikit naik. Hingga Lona tampak tersentak dan kembali menatapnya. Kali ini, kegelisahan itu lenyap. Digantikan oleh rasa bersalah dan ekspresi menyesal

  • Tertawan oleh Don Mafia   Rumor Orang Hilang

    "Shiftmu sudah berakhir, kau bisa pulang sekarang." Suara berat seorang pria terdengar, bersamaan dengan kemunculan karyawan shift pagi. Iris yang melamun di balik meja kasir langsung tersadar. Matanya melirik ke luar melalui kaca jendela. Fajar telah menyingsing. Menggantikan pekatnya malam yang sepi saat dia menjaga supermarket sendirian. "Ah, iya, Pak." Iris menganggukkan kepalanya kaku. Menatap manager supermarket yang baru datang dan berdiri di depan kasirnya. Ada perasaan lega yang terbayar ketika akhirnya dia berhasil melewati shift pertamanya tanpa hambatan. Meski semalam, dia sempat dibuntuti. Beruntung setelahnya, pekerjaannya berjalan lancar. "Kau baik-baik saja? Semua lancar kan?" Pertanyaan basa-basi itu dijawab Iris dengan senyum kecil dan anggukan kepala. "Iya, semuanya lancar. Tidak ada masalah. Saya sudah mengisi stock kosong dan yang Anda minta semalam." Manager mengangguk dan tersenyum bangga saat mendengar jawaban Iris. "Bagus, kau melakukan tugas yang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Dibuntuti

    Keesokan malamnya. Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri. "Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. Ini hal biasa bagi kita, jangan terlalu serius."Meski Iris menjawab demikian, jauh di lubuk hatinya, dia merasakan ketakutan. Kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak dia duga. "Aku tahu, tapi kondisinya beda sekarang. Gimana kalau kau tidak usah bekerja di sana? Aku coba bicara dengan manajer kafe lagi. Siapa tahu—""Tidak. Tidak, Lona." Iris menggeleng cepat. Memotong ucapan Lona. "Aku ingin sesuatu yang baru dan kurasa, aku menemukannya di pekerjaan ini."Dia menolak untuk bicara jujur, jika

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tawa yang Kembali

    "Iris, kau tidak apa-apa?"Lona mendekat. Dia merangkul bahu Iris dan mencoba menyandarkannya di sofa. "Hei, tenanglah. Bernapaslah perlahan. Tidak ada apa-apa. Tarik napas dan buang."Lona sedikit menggeser tubuhnya. Memberi ruang bagi Iris yang tampak memegangi dadanya kesakitan. Wajah pucat dan menahan sakit tampak jelas terlihat. Namun dia tidak berhenti menenangkannya. Sampai perlahan, napas Iris mulai beraturan. Raut wajahnya yang menahan sakit, mulai rileks. Lona bisa melihat pegangan tangan Iris tidak lagi mencengkeram dadanya. Spontan, dia menggenggam tangan itu dan meremas pelan. "Kau baik-baik saja. It's okay, Iris," ucap Lona dengan nada lembut. Tangannya mengusap kening Iris yang tampak berkeringat. Mata itu terpejam beberapa saat, sebelum kembali terbuka. Iris tidak langsung bicara. Hanya menatap lekat Lona. Menyadari keadaan membaik, Lona melepaskan genggaman tangannya. "Tunggulah, aku akan membuatmu minum."Lona berdiri dan hendak beranjak ke dapur, tapi belum semp

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status