Se connecterLangkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria.
Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri beberapa meter di depannya, sebelum berjalan dan sosoknya menghilang di antara bagunan yang ada di tikungan jalan. Iris perlahan berjalan mendekat tanpa sadar. Tak peduli hujan semakin deras dan membasahinya. Saat tiba di titik di mana tadi Silas sempat berdiri, matanya memerhatikan mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dia terpaku sesaat sebelum kemudian mendekat untuk mengintip. Itu benar mobil Silas, mobil yang biasa digunakan saat berkunjung ke kafe tempat kerjanya. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Silas di sini. Malam-malam, saat hujan deras dan berada di sekitar kompleks apartemennya. Iris pun menoleh ke sekeliling, mencari ke arah mana Silas menghilang. Namun karena ada banyak jalan, dia sulit mengetahuinya. Jalanan yang gelap tanpa ada penerangan, membuat matanya kesulitan melihat. Hingga dia harus mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter. Dalam keadaan bingung dan pandangan terbatas, matanya kembali menelisik sekeliling. Sampai sekilas, sebuah siluet melintas di sebuah gang gelap secara mengejutkan. Sangat cepat, hingga Iris hampir mengira itu adalah halusinasi karena efek hujan yang mulai mengaburkan pandangan, tapi setelahnya ... terdengar suara rintihan putus asa. "Tolong... jangan... tolong!" Iris tersentak. Dia menatap ke arah gang gelap sekali lagi, lalu memerhatikan sekitarnya dengan bingung. Tidak ada orang lain berkeliaran di sana selain dia dan Silas yang sekarang entah ke mana. Tempat itu benar-benar sepi. "Tidak... jangan...." Suara kembali terdengar dan kali ini, lebih jelas dari arah gang, yang tadi dia kira halusinasi. Dia menelan ludah saat menatap gang gelap itu. Gang yang diapit dua bangunan besar dan salah satunya adalah gedung terbengkalai. Perasaannya mulai tidak enak. Bulu kuduknya berdiri. Naluri menyuruhnya untuk pergi detik itu juga saat dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi sial, kakinya sudah lebih dulu bergerak mendekat sebelum kepalanya sempat berpikir. Iris melangkah hati-hati, berusaha mendekat ke arah tembok dari bangunan usang, untuk mengintip sambil memegang ponselnya erat. Tubuhnya menggigil karena udara dingin dan pakaiannya yang basah oleh hujan. Namun, rasa penasarannya terlalu kuat. Sampai saat Iris hendak pelan-pelan mengarahkan senter ke arah gang, suara petir menggelegar disertai kilatan cahaya yang membuat Iris melompat dari tempatnya dan menjatuhkan ponsel. "Akhh!" Iris refleks menjerit dan berjongkok sambil menutup telinga. Dia gemetar antara kaget dan takut. Matanya terpejam sesaat, sebelum akhirnya terbuka kembali dengan pandangannya tertunduk, menatap pada ponselnya yang telah hancur. Basah oleh air dan benturan keras, tapi saat matanya fokus pada ponselnya, genangan air berwarna merah yang larut bersama hujan membuat Iris tertegun. Pupilnya melebar. Secara naluriah, kepalanya perlahan terangkat dan matanya menatap asal dari aliran cairan itu. Hingga dia terpaku, matanya lurus dan tepat saat itu, cahaya kilat muncul lagi. Dalam sepersekian detik itu pula, Iris bisa melihat seseorang menoleh. Menatapnya di bawah kilatan cahaya petir tanpa kedip. Napasnya tercekat saat akhirnya dia bisa melihat sosok yang tadi dilihatnya. Silas. Pria itu berdiri angkuh, menatap diam tanpa bergerak dengan jas mahal berwarna gelap melekat di tubuhnya dan rambut basah di bawah hujan. Silas tidak berkedip meski suara guntur begitu keras dan mengejutkan. Kilatan cahaya seolah hanya menjadi lighting alami untuk menunjukkan sosoknya yang sangat jauh berbeda dari yang Iris lihat siang tadi. "Tuan." Sebuah suara memanggil. Memaksa Iris untuk mengalihkan sejenak pandangannya dari Silas. Hingga akhirnya, dia bisa melihat semuanya. Rupanya, di sana tidak hanya ada satu orang, tapi dua orang lain yang salah salah satunya bersandar tak berdaya di tembok. Penuh luka dan terus merintih minta tolong. Tempat asal cairan merah yang mengalir tadi dan orang yang Iris dengar. Sialnya... pria yang baru saja memanggil Silas dan berdiri sambil memegang sebuah machete adalah... Elliot. Pria yang sama, yang tadi siang datang ke kafe tempatnya bekerja. Wajah Iris memucat melihat tetesan merah di ujung machete yang digenggam pria itu. Tangannya refleks menutup mulut. Dia merangsek mundur dan melihat kembali Elliot serta Silas bergantian. Mereka masih pada posisinya, tapi pandangan mereka tertuju padanya. Sepenuhnya, seolah mengunci pergerakan Iris. "Kita punya penonton. Haruskah saya—" "Tidak," jawab Silas tanpa menoleh ke arah Elliot. Matanya tetap tertuju pada Iris. Menatapnya lekat, sebelum salah satu sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang berhasil membuat Iris menggigil takut. Pria itu bahkan dengan tenang menyugar rambut kirinya yang membuat keningnya sedikit terlihat. Kewaspadaan Iris meningkat. Rasa dingin dari hujan dan gemuruh guntur kini seolah tidak lagi terasa menakutkan dibanding sosok pria di depannya. Mulutnya terbuka. Hendak bicara atau memohon, tapi tidak ada kata yang keluar. Sampai kata-kata Silas selanjutnya, membuat dia membeku. "Habisi." Tepat saat itu, suara machete yang diayunkan dan menebas udara terdengar, bersamaan dengan gemuruh langit malam yang membuat Iris langsung menutup mata dan meringkuk karena takut. Dia pikir, dialah yang akan dihabisi. Iris hanya bisa pasrah dan menangis, tapi beberapa detik selanjutnya dia tidak merasakan apa pun. Justru yang dia dengar adalah jeritan seorang pria. Sampai tiba-tiba, dia merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Matanya kembali terbuka perlahan dan menyadari dia tidak mati, tapi saat dia mencoba melihat apa yang menyentuh kakinya, Iris dibuat syok hingga terjengkang ke belakang. "AKKHH!" Jeritan histeris tidak bisa Iris tahan saat dia melihat yang menggelinding itu adalah sebuah wajah. Wajah pria asing yang matanya melotot dengan mulut terbuka. Cairan merah beserta isinya tampak larut dan bercampur bersama air hujan. Iris tidak bisa menahan rasa mual yang mengocok perutnya. Tubuhnya gemetar hebat dan kedua kakinya lemas. Dia hanya bisa merangkak menjauh secara perlahan, tapi yang dia lihat adalah potongan tubuh tanpa kepala yang membuat Iris merasa semakin gila. Pria yang bersandar tadi... dialah yang mati. Apa yang sebenarnya baru dia lihat? Kegilaan apa yang terjadi sekarang? Iris tidak bisa berpikir jernih dan sebelum dia benar-benar bisa sadar dari rasa takutnya, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram rahangnya. Memaksanya mendongak, menatap seseorang yang tidak lain adalah Silas. Pria itu berjongkok di depannya. Menyeringai dengan wajah menahan geli. Seakan ketakutannya begitu menyenangkan untuk dinikmati. "Sepertinya aku pernah melihatmu." Bibir Iris bergetar. Kedua tangannya mengepal erat. Dia merasakan adrenalinenya berpacu kuat. Rasa takut dan syok masih terasa sangat jelas. Bahkan perutnya bergejolak untuk mengeluarkan isinya. Pria ini, Iris tahu Silas terlihat berbeda, tapi dia tidak pernah menyangka akan melihat adegan di mana Silas masih bisa tersenyum lebar setelah menyaksikan apa yang dilakukan Elliot. Ironisnya lagi, pria itu bahkan tidak ingat siapa dirinya. Padahal mereka sempat bertemu tadi siang. "A-aku.... " Suara Iris tersendat, parau dan retak. Kata-kata seolah sulit keluar dan terlalu kecil untuk bisa didengar, kalah dari suara hujan yang semakin deras. "Dia adalah pelayan kafe tadi siang, Tuan." Elliot mendekat. Menimpali perkataan Silas tanpa peduli wajah dan pakaiannya berwarna merah. Machete yang digenggamnya bahkan masih meneteskan cairan merah pekat yang disapu air hujan. "Ah, yang berpura-pura jatuh itu?" "A-apa? T-tidak, aku tidak pernah—" "Ya, yang diam-diam menatap Anda. Haruskah kita tutup mulutnya sekarang?" Mata Iris membelalak. Perkataan Elliot membuatnya semakin terguncang. Apalagi saat pria itu mengangkat machete dengan santai. Membuat Iris spontan membungkuk. "J-jangan! Kumohon, j-jangan bunuh aku."Wajah Iris berubah kaku. Dia melirik meja gelisah, lalu kembali menatap Silas. "Semua teh sama saja. Tidak ada yang berbeda. Hidungmu mungkin yang bermasalah."Iris menjawab dengan nada sedikit ketus. Dia meraih gelasnya sendiri dan menyesap teh miliknya, seolah menunjukkan kalau Silas terlalu berlebihan. Namun mata biru itu masih menatapnya. Membuat Iris sedikit gelisah. Hingga tanpa diduga, sebuah tangan meraih gelas yang baru diletakkan olehnya. Iris terkesiap saat melihat Silas mengendus gelas tersebut dan meletakkannya beberapa saat kemudian. "Ini berbeda. Tidak sama."Pupil matanya melebar. Wajahnya berubah lebih pucat. Iris menelan ludah saat matanya bertatapan dengan Silas. "Tidak sama apanya?! Itu sama! Itu teh baru yang bahkan baru dibuka." Iris mengalihkan pandangannya dari Silas ke arah para pelayan di belakangnya. Ketiganya yang menyadari tatapan Iris, seketika mengangkat kepala mereka. Begitu pun dengan Berta yang akhirnya angkat suara. "Maaf jika saya lancang, tap
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Para pelayan sedang menyiapkan makan malam seperti biasa, termasuk Berta yang ikut serta memasak di dapur. Ada sekitar tiga orang di sana. Semuanya sibuk dengan bagian masing-masing. Sampai ketika Iris melangkah masuk, tidak ada yang menyadarinya sama sekali. "Apa masakan sudah beres?" tanya Iris yang mendekat. Membuat ketiga pelayan termasuk Berta, seketika menoleh serempak. "Belum, Nona. Apa Anda sudah lapar?" Iris menggeleng pelan. "Tidak, Berta. Aku... hanya ingin membantu. Apa Silas sudah pulang?" Ketiga pelayan itu saling melirik, sebelum akhirnya Berta menggeleng. "Tuan sepertinya masih di perjalanan. Kami belum mendengar mobilnya." "Baguslah." Iris mengangguk paham. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Menarik perhatian tiga pelayan itu. "Bagus? Maksud Anda?" Seolah tersadar, senyum Iris lenyap. Ekspresi wajahnya berubah kembali menjadi santai. Dia mendekati ketiganya. "Bagus karena aku bisa membantu kalian. Apa ya
Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria
Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan
"Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati
"Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







