แชร์

Penuh Kegilaan

ผู้เขียน: Koran Meikarta
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-14 12:27:27

Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria.

Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri beberapa meter di depannya, sebelum berjalan dan sosoknya menghilang di antara bagunan yang ada di tikungan jalan.

Iris perlahan berjalan mendekat tanpa sadar. Tak peduli hujan semakin deras dan membasahinya.

Saat tiba di titik di mana tadi Silas sempat berdiri, matanya memerhatikan mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dia terpaku sesaat sebelum kemudian mendekat untuk mengintip. Itu benar mobil Silas, mobil yang biasa digunakan saat berkunjung ke kafe tempat kerjanya.

Hanya saja, dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Silas di sini. Malam-malam, saat hujan deras dan berada di sekitar kompleks apartemennya.

Iris pun menoleh ke sekeliling, mencari ke arah mana Silas menghilang. Namun karena ada banyak jalan, dia sulit mengetahuinya. Jalanan yang gelap tanpa ada penerangan, membuat matanya kesulitan melihat. Hingga dia harus mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter.

Dalam keadaan bingung dan pandangan terbatas, matanya kembali menelisik sekeliling. Sampai sekilas, sebuah siluet melintas di sebuah gang gelap secara mengejutkan. Sangat cepat, hingga Iris hampir mengira itu adalah halusinasi karena efek hujan yang mulai mengaburkan pandangan, tapi setelahnya ... terdengar suara rintihan putus asa.

"Tolong... jangan... tolong!"

Iris tersentak. Dia menatap ke arah gang gelap sekali lagi, lalu memerhatikan sekitarnya dengan bingung. Tidak ada orang lain berkeliaran di sana selain dia dan Silas yang sekarang entah ke mana. Tempat itu benar-benar sepi.

"Tidak... jangan...."

Suara kembali terdengar dan kali ini, lebih jelas dari arah gang, yang tadi dia kira halusinasi. Dia menelan ludah saat menatap gang gelap itu. Gang yang diapit dua bangunan besar dan salah satunya adalah gedung terbengkalai. Perasaannya mulai tidak enak.

Bulu kuduknya berdiri. Naluri menyuruhnya untuk pergi detik itu juga saat dia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi sial, kakinya sudah lebih dulu bergerak mendekat sebelum kepalanya sempat berpikir.

Iris melangkah hati-hati, berusaha mendekat ke arah tembok dari bangunan usang, untuk mengintip sambil memegang ponselnya erat. Tubuhnya menggigil karena udara dingin dan pakaiannya yang basah oleh hujan.

Namun, rasa penasarannya terlalu kuat. Sampai saat Iris hendak pelan-pelan mengarahkan senter ke arah gang, suara petir menggelegar disertai kilatan cahaya yang membuat Iris melompat dari tempatnya dan menjatuhkan ponsel.

"Akhh!"

Iris refleks menjerit dan berjongkok sambil menutup telinga. Dia gemetar antara kaget dan takut.

Matanya terpejam sesaat, sebelum akhirnya terbuka kembali dengan pandangannya tertunduk, menatap pada ponselnya yang telah hancur. Basah oleh air dan benturan keras, tapi saat matanya fokus pada ponselnya, genangan air berwarna merah yang larut bersama hujan membuat Iris tertegun.

Pupilnya melebar. Secara naluriah, kepalanya perlahan terangkat dan matanya menatap asal dari aliran cairan itu. Hingga dia terpaku, matanya lurus dan tepat saat itu, cahaya kilat muncul lagi.

Dalam sepersekian detik itu pula, Iris bisa melihat seseorang menoleh. Menatapnya di bawah kilatan cahaya petir tanpa kedip. Napasnya tercekat saat akhirnya dia bisa melihat sosok yang tadi dilihatnya. Silas.

Pria itu berdiri angkuh, menatap diam tanpa bergerak dengan jas mahal berwarna gelap melekat di tubuhnya dan rambut basah di bawah hujan. Silas tidak berkedip meski suara guntur begitu keras dan mengejutkan.

Kilatan cahaya seolah hanya menjadi lighting alami untuk menunjukkan sosoknya yang sangat jauh berbeda dari yang Iris lihat siang tadi.

"Tuan."

Sebuah suara memanggil. Memaksa Iris untuk mengalihkan sejenak pandangannya dari Silas. Hingga akhirnya, dia bisa melihat semuanya.

Rupanya, di sana tidak hanya ada satu orang, tapi dua orang lain yang salah salah satunya bersandar tak berdaya di tembok. Penuh luka dan terus merintih minta tolong. Tempat asal cairan merah yang mengalir tadi dan orang yang Iris dengar.

Sialnya... pria yang baru saja memanggil Silas dan berdiri sambil memegang sebuah machete adalah... Elliot. Pria yang sama, yang tadi siang datang ke kafe tempatnya bekerja.

Wajah Iris memucat melihat tetesan merah di ujung machete yang digenggam pria itu. Tangannya refleks menutup mulut. Dia merangsek mundur dan melihat kembali Elliot serta Silas bergantian.

Mereka masih pada posisinya, tapi pandangan mereka tertuju padanya. Sepenuhnya, seolah mengunci pergerakan Iris.

"Kita punya penonton. Haruskah saya—"

"Tidak," jawab Silas tanpa menoleh ke arah Elliot. Matanya tetap tertuju pada Iris. Menatapnya lekat, sebelum salah satu sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyum dingin yang berhasil membuat Iris menggigil takut. Pria itu bahkan dengan tenang menyugar rambut kirinya yang membuat keningnya sedikit terlihat.

Kewaspadaan Iris meningkat. Rasa dingin dari hujan dan gemuruh guntur kini seolah tidak lagi terasa menakutkan dibanding sosok pria di depannya. Mulutnya terbuka. Hendak bicara atau memohon, tapi tidak ada kata yang keluar. Sampai kata-kata Silas selanjutnya, membuat dia membeku.

"Habisi."

Tepat saat itu, suara machete yang diayunkan dan menebas udara terdengar, bersamaan dengan gemuruh langit malam yang membuat Iris langsung menutup mata dan meringkuk karena takut. Dia pikir, dialah yang akan dihabisi.

Iris hanya bisa pasrah dan menangis, tapi beberapa detik selanjutnya dia tidak merasakan apa pun. Justru yang dia dengar adalah jeritan seorang pria. Sampai tiba-tiba, dia merasakan sesuatu menyentuh kakinya.

Matanya kembali terbuka perlahan dan menyadari dia tidak mati, tapi saat dia mencoba melihat apa yang menyentuh kakinya, Iris dibuat syok hingga terjengkang ke belakang.

"AKKHH!"

Jeritan histeris tidak bisa Iris tahan saat dia melihat yang menggelinding itu adalah sebuah wajah. Wajah pria asing yang matanya melotot dengan mulut terbuka. Cairan merah beserta isinya tampak larut dan bercampur bersama air hujan.

Iris tidak bisa menahan rasa mual yang mengocok perutnya. Tubuhnya gemetar hebat dan kedua kakinya lemas. Dia hanya bisa merangkak menjauh secara perlahan, tapi yang dia lihat adalah potongan tubuh tanpa kepala yang membuat Iris merasa semakin gila. Pria yang bersandar tadi... dialah yang mati.

Apa yang sebenarnya baru dia lihat? Kegilaan apa yang terjadi sekarang? Iris tidak bisa berpikir jernih dan sebelum dia benar-benar bisa sadar dari rasa takutnya, sebuah tangan tiba-tiba mencengkeram rahangnya. Memaksanya mendongak, menatap seseorang yang tidak lain adalah Silas.

Pria itu berjongkok di depannya. Menyeringai dengan wajah menahan geli. Seakan ketakutannya begitu menyenangkan untuk dinikmati.

"Sepertinya aku pernah melihatmu."

Bibir Iris bergetar. Kedua tangannya mengepal erat. Dia merasakan adrenalinenya berpacu kuat. Rasa takut dan syok masih terasa sangat jelas. Bahkan perutnya bergejolak untuk mengeluarkan isinya.

Pria ini, Iris tahu Silas terlihat berbeda, tapi dia tidak pernah menyangka akan melihat adegan di mana Silas masih bisa tersenyum lebar setelah menyaksikan apa yang dilakukan Elliot.

Ironisnya lagi, pria itu bahkan tidak ingat siapa dirinya. Padahal mereka sempat bertemu tadi siang.

"A-aku.... "

Suara Iris tersendat, parau dan retak. Kata-kata seolah sulit keluar dan terlalu kecil untuk bisa didengar, kalah dari suara hujan yang semakin deras.

"Dia adalah pelayan kafe tadi siang, Tuan." Elliot mendekat. Menimpali perkataan Silas tanpa peduli wajah dan pakaiannya berwarna merah. Machete yang digenggamnya bahkan masih meneteskan cairan merah pekat yang disapu air hujan.

"Ah, yang berpura-pura jatuh itu?"

"A-apa? T-tidak, aku tidak pernah—"

"Ya, yang diam-diam menatap Anda. Haruskah kita tutup mulutnya sekarang?"

Mata Iris membelalak. Perkataan Elliot membuatnya semakin terguncang. Apalagi saat pria itu mengangkat machete dengan santai. Membuat Iris spontan membungkuk.

"J-jangan! Kumohon, j-jangan bunuh aku."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Main

    Sebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memilih Jalan Takdir

    "Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Berawal darimu

    "Kau harus menjelaskan semuanya."Iris tidak berhenti bicara. Dia menuntut jawaban dari Silas atas berita yang baru didengarnya. Meski sepanjang perjalanan, pria itu memilih bungkam. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di manor, Silas masih tetap tidak bicara. Iris harus menahan gelisah saat dirinya digendong dan dipindahkan oleh pria itu. "Silas!""Penjelasan apa? Kau sudah mendengar semuanya," jawab Silas sambil mendorong kursi roda Iris untuk masuk. Suasana di manor tampak hening dan sepi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tapi langkah Silas tidak berhenti. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar Iris. "Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."Iris berusaha memutar kursi rodanya untuk menghadap pria itu. Matanya menatap dengan rasa gelisah yang tidak bisa lenyap. "Kau baru saja menantang mereka. Kau membuat masalah. Bagaimana kalau mereka semakin berniat menargetkanku? Kau membuatku dalam bahaya!""Mereka tidak akan bisa menyentuhmu sekarang."Iris mendengkus kasar dan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Salahmu

    Iris mendongak. Dia mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya. Matanya menatap ibu Lona dengan sedih. Tangannya terulur untuk menggapai."Tante—"Belum sempat melengkapi kalimatnya, tangan Iris ditepis kasar. Tubuhnya yang tidak siap dengan penolakan itu, seketika goyah. Hingga buket bunga yang digenggamnya terjatuh. "Pergi dari sini!"Iris terhenyak ketika ibu Lona tiba-tiba membentaknya. Dia bisa menyaksikan ekspresi marah dan tidak senang di sana. Sesaat, mulutnya hanya bisa terkatup.Dia sadar jika dirinya penyebab kematian Lona, tapi kedatangannya memiliki niat baik. "T-tante, tolong izinkan aku melihat Lona untuk terakhir kalinya." Iris mengiba. Dia kembali mencoba meminta izin untuk mengikuti acara pemakaman Lona. Ekspresi wajahnya yang keras, tidak berubah. Ibu Lona tampak memandang marah pada Iris. Dia bukan tidak tahu jika Iris telah bersama putrinya beberapa hari terakhir. Lona pernah bercerita soal Iris yang muncul kembali setelah menghilang berbulan-bulan. Bahkan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Satu-satunya?

    "Nona, itu tidak—""Aku akan mengantarmu."Suara lain menyela, tepat ketika Elliot hendak menolak keinginan Iris. Pintu ruangan terbuka semakin lebar dan di sana, Silas muncul bersama dengan dokter di belakangnya. Elliot seketika segera bergeser. Memberi ruang bagi Silas untuk mendekat. "Tuan, bukankah Nona sedang sakit?"Silas melirik Elliot sekilas. Lalu beralih cepat pada dokter yang segera berdehem pelan. "Anda benar, Sir Elliot. Kondisi Nona Iris memang tidak memungkinkan untuk berkeliaran bebas. Apalagi berjalan terlalu jauh."Iris menatap sang dokter dengan pandangan tidak setuju. Dia hendak mengeluarkan protes, tapi dokter kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi itu bisa diatasi jika Nona tidak perlu berjalan. Saya sudah menduga hal ini, dan untunglah kursi roda telah tersedia untuk digunakan."Elliot mengangguk pelan. "Kalau begitu, saya akan menyiapkan mobil dan—""Tidak perlu." Silas segera memotong sebelum Elliot sempat pergi. Hingga langkah pria itu tertahan di tempat.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kepedulian?

    "Ini adalah ancaman. Seseorang telah mengusik keluarga kami dan bertindak seenaknya. Kami tidak bisa tinggal diam!"Suara seorang pria terdengar jelas di layar televisi. Ekspresi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Kamera kemudian beralih, memperlihatkan beberapa video yang diambil di area gerbang kediaman Valenfort dari beberapa titik berbeda. Namun karena dianggap terlalu sadis, beberapa bagian dari video tampak disensor. Tidak ada yang tahu apa itu, jika pembawa acara tidak menjelaskannya. "Mereka langsung mengangkat ini menjadi drama," ucap Elliot, setelah menonton siaran berita sore itu. Penemuan tiga kepala yang ditancapkan di ujung gerbang kediaman Valenfort berhasil membuat heboh publik. Kemarahan mereka, terutama tuan muda Raphael terdengar sangat keras di layar TV. Berita mereka bahkan segera menggeser kasus kematian Lona dengan cepat. "Apa yang akan Anda lakukan sekarang, Tuan? Sepertinya mereka tahu itu Anda."Elliot menoleh dan mendapati Silas yang ternyata malah as

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status