LOGIN"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Bukan lagi ruangan tanpa jendela yang kotor, tapi itu adalah ruangan klasik dengan ranjang berukuran queen dan furniture antik. Tentu dengan sirkulasi udara yang lebih baik. Tempat yang sangat bersih dan luas, yang mungkin semua orang inginkan, tapi tidak untuknya. Tak sedikit pun Iris memahami kenapa dia dibawa ke sana, setelah menyerang bahkan melukai wajah Silas. Di saat dia sendiri mengira dirinya akan dibawa ke tiang jagal. Iris spontan mendongak. Menatap kembali Elliot dengan pupil mata membesar dan memasang sikap waspada. Pria itu, pernah melakukan hal kasar saat dia mencoba kabur dan sepertinya, sikapnya tidak berubah. "Kau harus berterima kasih pada Tuan Silas. Kau harusnya digantun
Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat sebuah gerakan. Kursi itu bergeser saat sang pemiliknya bangkit. Dia hanya berani menatap sepatu kulit yang bergerak mendekat dan berhenti di depannya. Menginjak sepatu patahnya. "Jangan menunduk saat bicara."Iris menelan ludah susah payah saat mendengar suara Silas yang berat dan serak. Perkataan pria itu terdengar seperti larangan yang harus dipatuhi dan dia mau tak mau mengangkat kepalanya perlahan. Mendongak hanya untuk menyaksikan dua pria yang saat ini menatapnya dengan dua ekspresi berbeda. Elliot menatap dengan pandangan heran, tapi sekilas sorot mata itu menunjukkan rasa kaget. Jauh berbeda dengan Silas. Iris tidak mampu menjelaskannya, tapi dia menyaksikan kedua sudut mata Silas
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia inginkan. Apalagi berakhir mati setelah tanpa sengaja melihat hal yang tak seharusnya. "Lepaskan aku, tolong. A-akh aku tidak punya uang, tapi aku t-tidak akan macam-macam." Iris mengangkat kepalanya. Menatap Silas yang masih dalam posisi berjongkok. Dia melihat pria itu menaikkan alisnya. "Tuan, dia harus dibungkam—"Silas mengangkat tangan tanpa berhenti menatap Iris yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Wajah dan bibirnya tampak lebih pucat, entah karena takut atau karena terlalu lama kehujanan. Namun tampaknya, pemandangan menyedihkan itu tidak membuat Silas iba. Pria itu justru mendekatkan wajahnya dengan seringai dingin yang menghiasi bibirnya. "Kau ingin bebas?"Iris meng
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri beberapa meter di depannya, sebelum berjalan dan sosoknya menghilang di antara bagunan yang ada di tikungan jalan. Iris perlahan berjalan mendekat tanpa sadar. Tak peduli hujan semakin deras dan membasahinya. Saat tiba di titik di mana tadi Silas sempat berdiri, matanya memerhatikan mobil yang terparkir di pinggir jalan. Dia terpaku sesaat sebelum kemudian mendekat untuk mengintip. Itu benar mobil Silas, mobil yang biasa digunakan saat berkunjung ke kafe tempat kerjanya. Hanya saja, dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan Silas di sini. Malam-malam, saat hujan deras dan berada di sekitar kompleks apartemennya. Iris pun menoleh ke sekeliling, mencari ke arah mana Silas menghilang. Namun ka
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan baginya. Pulang dan istirahat, tapi suasana hati Iris hari ini buruk. Sangat amat buruk. Bibirnya mencebik dan dia mengelap meja kasir setengah hati. Hampir seperti melakukannya dengan sembarangan. "Dia pasti masih sakit hati setelah dikira cari perhatian oleh pujaan hatinya tadi," sahut Lona yang datang sambil tertawa kecil dan merangkul Iris yang malah semakin cemberut. "Tapi hei, jangan khawatir, pria seperti itu biasanya akan jatuh ke dalam kesombongannya sendiri."Bukannya terhibur, Iris mendesah kasar dan menyingkirkan tangan Lona sambil merapikan kasir. Tepat saat karyawan shift selanjutnya muncul. Mereka pun bisa dengan santai pergi ke loker karyawan. "Dia bukan pujaan hatiku. Dia
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di pintu kaca menghentikan niatnya. Karena pelanggan lain rupanya telah tiba. Iris menoleh cepat dan tersenyum. Membuka mulut untuk menyapa dengan ceria seperti biasa, tapi kata-katanya tertahan di lidah saat matanya melihat kehadiran seorang pria berkemeja abu dengan tiga kancing terbuka, dan di belakangnya ada pria lain menyusul dengan kemeja lebih rapi berwarna hitam. Kehadiran keduanya membuat tubuhnya membeku beberapa detik. Dia nyaris tak berkedip saat matanya terus memerhatikan pria berkemeja abu yang menyugar rambutnya santai. Hingga membuatnya agak berantakan. Suara detak jantungnya meningkat tanpa bisa dikontrol. Sensasi aneh di perut yang terus naik mencapai dada, membuat rasa pa







