공유

Perlawanan

last update 게시일: 2026-05-04 19:33:16

"Masuklah!"

Bruk!

Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya.

Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Bukan lagi ruangan tanpa jendela yang kotor, tapi itu adalah ruangan klasik dengan ranjang berukuran queen dan furniture antik. Tentu dengan sirkulasi udara yang lebih baik.

Tempat yang sangat bersih dan luas, yang mungkin semua orang inginkan, tapi tidak untuknya.

Tak sedikit pun Iris memahami kenapa dia dibawa ke sana, setelah menyerang bahkan melukai wajah Silas. Di saat dia sendiri mengira dirinya akan dibawa ke tiang jagal.

Iris spontan mendongak. Menatap kembali Elliot dengan pupil mata membesar dan memasang sikap waspada. Pria itu, pernah melakukan hal kasar saat dia mencoba kabur dan sepertinya, sikapnya tidak berubah.

"Kau harus berterima kasih pada Tuan Silas. Kau harusnya digantung, bukan dibawa ke sini."

Iris tersentak mendengar nada tajam Elliot. Dia masih merasakan kemarahan dalam kata-katanya. Pria itu jelas masih marah karena insiden dia melukai Silas, tapi Iris juga tidak mau disalahkan.

"Kenapa aku harus melakukannya? Kalian yang membuat hidupku seperti ini." Senyum tipis terbit di kedua ujung bibir Iris. Sorot matanya yang kosong menatap karpet berbulu di bawahnya.

Sementara tatapan Elliot tampak berubah menusuk. Menyipit. Ketidaksenangan terlihat jelas di matanya yang biasa tanpa emosi. Namun dia tidak mendekat. Tetap diam di posisinya.

"Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Silas, tapi... seseorang yang masuk ke dunia kami, hanya memiliki dua pilihan. Menjadi mayat, atau menjadi bagian dari kami."

"Apa?"

Iris terdiam sesaat. Kedua alisnya mengernyit. Kata-kata Elliot membuatnya sulit memahami. Meski dia pernah melihat mereka secara langsung, dia belum tahu siapa mereka sebenarnya. Bahkan setelah dua bulan disekap, Iris hanya berpikiran mereka adalah dua orang gila yang hobi membunuh dan menyiksa orang.

Mulut Iris terbuka untuk bertanya lagi, tapi Elliot menghentikan ucapannya dengan tepukan tangan. Gerakan yang terlihat aneh, namun rupanya adalah sebuah isyarat sederhana karena tak lama setelahnya beberapa pelayan muncul dari belakang Elliot.

Mereka membawa alat rias, kebersihan, makanan sampai dengan pakaian wanita. Masing-masing dari mereka membawa sesuatu yang berbeda. Iris melihat sekitar tujuh orang.

Dia tidak bisa menahan rasa kaget dan bingung selain mematung, ketika ketujuh orang itu tersenyum ke arahnya yang terduduk di atas karpet berbulu.

"K-kalian mau apa?"

Mereka mengelilingi dan memerhatikan penampilannya dengan raut wajah yang prihatin. Saling pandang dan tampak seolah bicara lewat tatapan.

Bahasa yang tidak Iris pahami, tapi berhasil meningkatkan kewaspadaannya. Kedua tangannya secara protektif memeluk dirinya sendiri. Lalu mundur secara teratur tanpa melepaskan sorot matanya.

"Urus dia. Tuan Silas ingin dia bersih dan sempurna sebelum makan malam ini. Jangan biarkan ada noda sedikit pun. Aku sudah memanggil dokter dan dia akan segera datang."

Suara Elliot yang memerintah, kembali menarik perhatian Iris yang kebingungan. Perintah itu ditujukan untuk para pelayan dan dia melihat tujuh pelayan itu mengangguk patuh.

"Kami mengerti."

Perasaan tidak nyaman mendadak Iris rasakan ketika Elliot malah berbalik meninggalkan kamar dan menutupnya. Dia spontan berdiri. Berlari untuk menggapai pintu, tapi....

"Nona, bagaimana kalau kami memandikan Anda dulu?"

Iris merasakan tubuhnya ditahan oleh tujuh orang pelayan itu. Dia ditarik kembali tanpa bisa melakukan apa-apa. Lalu dibawa menuju kamar mandi. Tak peduli seberapa keras Iris memberontak, dia kalah tenaga.

***

Matahari telah terbenam dan Iris saat ini telah menjalani banyak sekali perawatan tubuh dari sejak siang tadi. Entah pembersihan atau pengecekan soal kesehatan. Tidak ada waktu baginya sendirian. Para pelayan selalu bersamanya.

Datang untuk sekadar membawakan banyak baju baru, merapikan ruangan sampai memastikan setiap kondisinya. Termasuk mengingatkan Iris untuk meminum vitamin yang diberikan dokter.

Kebaikan ini, tentu bukan sesuatu yang Iris harapkan. Meski saat ini, dia duduk dan melihat wajahnya yang berubah 180 derajat. Hanya dalam hitungan jam. Tidak ada lagi kulit dekil yang kering, lingkaran hitam di bawah mata, bibir pecah-pecah atau luka.

Semua itu disamarkan. Tepatnya ditutup oleh riasan yang membuat Iris sendiri tidak percaya itu dia. Penampilannya sekarang, nyaris membuat dia tidak mengenal dirinya sendiri. Tidak dengan gaun mahal yang memeluk erat tubuhnya.

Satu-satunya yang tidak bisa disembunyikan hanyalah kulitnya yang memang masih begitu pucat. Dokter mengatakan, dia kekurangan cahaya matahari dan oksigen. Butuh waktu agar semuanya kembali seperti semula.

Mereka semua sibuk memperbaiki penampilannya, tapi tidak ada satu pun yang bertanya bagaimana keadaan dirinya saat ini.

"Nona? Tuan Silas pasti sudah menunggu."

Ketenangannya terganggu. Iris menoleh. Menatap pelayan dari pantulan cermin. Mereka menatapnya hati-hati, tapi mendengar nama Silas disebut, dia melengos.

Ini sudah memasuki jam makan malam yang Elliot sebutkan. Di mana dia harus bertemu Silas.

Namun, alih-alih mengikuti apa yang diperintahkan, dia berjalan menjauh. Mendekat ke arah jendela dan membukanya. Berharap angin malam akan membuatnya merasa lebih baik, tapi yang dirasakannya hanya dingin menusuk kulit.

Rasa marah yang tertahan dalam dadanya selama dua bulan ini, tidak bisa lenyap hanya dengan angin yang berhembus. Dia ingin menghilangkan semuanya. Rasa takut dan kegelisahan, tapi itu tidak mudah.

Dia hanya menatap lurus ke depan. Menyaksikan malam gelap dan pagar tinggi yang mengelilingi tempat itu. Termasuk pohon-pohon besar yang ada di baliknya.

Iris tidak bisa melihat di mana dirinya berada, termasuk apakah ada rumah lain atau tidak. Semuanya terlalu gelap, terlalu sunyi. Dia tidak yakin, apakah akan ada yang mendengar jika dia meminta tolong?

Mungkin tidak.

Dia bahkan tidak tahu, siapa yang bisa dia jadikan teman di tempat seperti ini. Dia sendirian dan takdir seakan sedang mengejeknya. Kalau dia mungkin tidak akan punya jalan keluar dari tempat ini.

"Aku tidak akan turun atau menemuinya."

Terdengar suara para pelayan yang terkesiap saat dia merespons agak keras dan menolak untuk patuh.

Bisik-bisik bernada khawatir di belakangnya bisa dia dengar, tapi dia mengabaikan semuanya. Menolak menjadi mainan oleh orang yang dengan mudah mempermainkan hidup dan mati seseorang.

"Tapi, Nona—"

"Berani sekali."

Suara berat terdengar tak jauh di belakangnya. Menghentak Iris hingga tubuhnya menegang kaku.

Suara itu.

Iris merasakan pundaknya meremang. Suara detak jantungnya yang memompa darah lebih cepat, membuat napasnya sedikit tersengal. Kedua tangannya refleks mencengkeram kuat kusen jendela, menggaruknya tanpa peduli apakah kukunya terluka atau tidak.

"Belum pernah ada orang yang memerintahku seperti itu."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lupakan Omong Kosong

    Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Apa yang Terjadi denganmu?

    'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Fakta atau Opini?

    Di ruang makan. Meja makan malam kali ini terasa canggung dan berbeda. Iris merasa setiap gerakannya seakan diawasi. Dia hanya bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan melirik diam-diam Sebastian, Silas dan Elliot. Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, tapi Iris bisa merasakan ketegangan yang terlalu nyata. Dia mengunyah makanannya dengan lambat. Sampai suara Sebastian memecah kecanggungan. "Jadi kakimu patah setelah mencoba menyelamatkan diri?" Gerakan tangan Iris yang hendak menyuapkan makanan, seketika tertahan di udara. Dia melirik Sebastian yang menatapnya. Mulutnya yang terbuka, siap menerima makanan, seketika berhenti dan meletakkan sendok kembali. Dia dengan ragu mengangguk pelan sambil melirik Elliot dan Silas yang fokus makan tanpa menoleh, "Ya, dokter bilang... ini tidak permanen." "Kau ceroboh." Sebastian mengunci tatapannya. Membuat Iris merasakan kegelisahan di tempat duduknya. Dia ingin menjawab kalau dia hanya tida

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Main

    Sebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memilih Jalan Takdir

    "Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Berawal darimu

    "Kau harus menjelaskan semuanya."Iris tidak berhenti bicara. Dia menuntut jawaban dari Silas atas berita yang baru didengarnya. Meski sepanjang perjalanan, pria itu memilih bungkam. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di manor, Silas masih tetap tidak bicara. Iris harus menahan gelisah saat dirinya digendong dan dipindahkan oleh pria itu. "Silas!""Penjelasan apa? Kau sudah mendengar semuanya," jawab Silas sambil mendorong kursi roda Iris untuk masuk. Suasana di manor tampak hening dan sepi. Tidak ada pelayan yang menyambut, tapi langkah Silas tidak berhenti. Sampai akhirnya mereka tiba di kamar Iris. "Aku tahu, tapi bukan itu maksudku."Iris berusaha memutar kursi rodanya untuk menghadap pria itu. Matanya menatap dengan rasa gelisah yang tidak bisa lenyap. "Kau baru saja menantang mereka. Kau membuat masalah. Bagaimana kalau mereka semakin berniat menargetkanku? Kau membuatku dalam bahaya!""Mereka tidak akan bisa menyentuhmu sekarang."Iris mendengkus kasar dan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status