Share

Menjadi Sandera

last update publish date: 2026-04-14 12:28:18

Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan.

Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat sebuah gerakan. Kursi itu bergeser saat sang pemiliknya bangkit.

Dia hanya berani menatap sepatu kulit yang bergerak mendekat dan berhenti di depannya. Menginjak sepatu patahnya.

"Jangan menunduk saat bicara."

Iris menelan ludah susah payah saat mendengar suara Silas yang berat dan serak. Perkataan pria itu terdengar seperti larangan yang harus dipatuhi dan dia mau tak mau mengangkat kepalanya perlahan.

Mendongak hanya untuk menyaksikan dua pria yang saat ini menatapnya dengan dua ekspresi berbeda.

Elliot menatap dengan pandangan heran, tapi sekilas sorot mata itu menunjukkan rasa kaget. Jauh berbeda dengan Silas. Iris tidak mampu menjelaskannya, tapi dia menyaksikan kedua sudut mata Silas yang terangkat sedikit menyipit dan matanya bersinar dengan cara yang aneh.

Pipinya tiba-tiba terasa sangat panas, membakar hingga mencapai telinga. Ini sama sekali bukan pengakuan cinta yang Iris inginkan. Sama sekali tidak.

"Aku belum pernah bertemu orang sepertimu."

Iris berkedip. Alisnya saling bertaut saat mendengar komentar Silas. Dia tidak tahu itu hinaan atau pujian, tapi dia mendengar nada geli dalam suaranya.

Beberapa saat, Iris hanya bisa diam. Terlalu menyedihkan untuknya bicara, tapi selanjutnya kedua sepatu itu kembali bergerak menginjak barangnya yang lain. Hingga remuk dan benar-benar hancur.

"Tahan dia."

***

Dua bulan berlalu sejak hari di mana Iris ditahan. Dunia tetap bergerak maju seolah tidak ada yang hilang.

Di ruangan tertutup, tepatnya di ruang kerja milik Silas yang memiliki pencahayaan minim serta didominasi warna hitam dan merah, tampak pria itu sedang duduk sambil mengamati senjata api terbaru di tangannya. Seakan dia melihat sebuah berlian.

Di depannya, duduk seorang pria berusia sekitar lima puluhan. Bersandar sambil mengetuk jarinya santai. Menikmati setiap rasa tertarik di wajah Silas, meski tidak ada kata yang keluar.

"Aku tahu kau akan menyukainya. Itu sangat cocok untukmu, keponakan."

Seolah sadar terlalu fokus mengamati, Silas mengangkat kepalanya dan meletakkan senjata api itu di meja. "Aku tahu kau mengenal baik seleraku, tapi kuharap operasi Iron Harbor kali ini tidak gagal, Paman."

Pria itu menarik napas pendek. Mendadak posisi duduknya membuat dia tidak nyaman. Terutama saat pembicaraan dialihkan dengan cepat oleh Silas. "Sebenarnya itulah alasanku datang ke sini. Tadi pagi, keluarga Ravenshade datang untuk ikut campur."

Tidak ada reaksi dari Silas. Pria itu hanya mendengarkan dengan alis berkerut dan mau tak mau, sang paman melanjutkan.

"Aku sudah mengatasi itu. Tenang saja, hanya mungkin jadwal keberangkatan akan terganggu dan sedikit terlambat."

"Ini bukan pertama kalinya mereka ikut campur."

Pernyataan Silas diangguki cepat oleh pamannya.

"Kau benar. Mereka sebenarnya sudah cukup sering mengganggu. Kurasa itu karena mereka merasa cukup dekat dengan keluarga kita. Mereka berpikir, kita bisa dimanfaatkan. Kita mungkin harus memberikan sedikit pelajaran."

"Aku tahu apa yang mereka inginkan."

Sang paman mengerutkan kening. Mengamati ekspresi Silas yang berubah suram dan sorot mata yang lebih dingin, tapi tatapan itu tidak berpaling dari senjata api di meja. Sebelum akhirnya, mata itu menatapnya lagi, hingga dia sedikit tersentak.

"Paman bisa kembali dan pastikan tidak ada gangguan lagi. Mereka akan aku urus."

"O-oke, santai, Silas. Paman akan memastikan semuanya lancar."

Tanpa menunggu lama, dia berdiri untuk segera keluar ruangan, tapi ketukan lain terdengar. Lalu Elliot muncul segera setelah Silas memberi izin.

"Tuan, ada sesuatu—ah, maafkan saya. Saya tidak tahu ada Tuan Dominic di sini."

Perkataan Elliot terhenti saat matanya melirik kehadiran sosok yang tak asing, sekaligus salah seorang yang dia hormati.

"Tidak apa-apa, Elliot. Pembicaraan kami sudah berakhir. Aku akan pergi. Silakan kau bicara dengan Silas." Dominic membalas santai ucapan Elliot sambil berjalan ke luar.

Pintu ditutup, meninggalkan Elliot dan Silas dalam suasana tenang, tapi serius. Elliot mendekat sambil menyodorkan berkas yang sedari tadi ada di tangannya.

"Tuan, ada kendala dalam pengalihan dana. Kepala bea cukai baru menolak bekerja sama."

Silas tidak bereaksi. Pria itu melirik sekilas berkas di meja yang disodorkan Elliot. "Bayar dia. Kalau tetap menolak, ganti orangnya."

"Baik, saya mengerti, Tuan." Elliot mengangguk patuh, tapi dia tidak langsung kembali. Tubuhnya masih berdiri mematung. Seolah ingin bicara, namun ragu.

Seolah tahu apa yang dipikirkan Elliot, Silas bertanya, "Ada apa?"

"Em, Tuan, soal Iris, apa yang Anda akan lakukan?"

"Iris?"

Elliot melihat Silas mengernyit. "Wanita yang Anda tahan dua bulan lalu di ruang bawah tanah. Apa yang harus kita lakukan dengannya?"

Keheningan terjadi setelah Elliot mengutarakan apa yang sempat mengganggu pikirannya. Silas tidak bereaksi, hanya diam.

Beberapa menit tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Sampai Silas tiba-tiba berdiri dan melepas jasnya. Gerakannya cukup membuat Elliot penasaran.

"Anda mau ke mana, Tuan?"

"Menemuinya. Aku ingin lihat, dia masih hidup atau tidak."

Mata Elliot mengikuti gerakan Silas yang berjalan menuju pintu. "Dia masih hidup. Dia juga sudah tidak memberontak lagi, tapi dia menjadi terlalu tenang akhir-akhir ini. Anda tidak harus ke sana."

Langkah Silas tertahan di ambang pintu. Perkataan Elliot, cukup membuat pria itu menoleh dan tersenyum tipis. "Aku perlu memastikan sebelum memutuskannya."

***

Di ruang bawah tanah, tempat Iris berada, dia saat ini sedang duduk tenang di sudut ruangan. Bersandar di dinding sambil menatap lurus ke arah pintu.

Tak jauh darinya, ada sebuah mangkuk plastik kosong dengan gelas dan sendok, tapi tidak ada sedikit pun makanan di sana. Mangkuk itu bersih dan air di gelas plastik juga habis tanpa sisa.

Semua karena Iris tidak lagi mengabaikan makanan yang diberikan. Dia selalu makan, meski tetap saja, makanan yang datang secara teratur, tidak menghentikan bentuk tubuhnya yang mulai terlihat kurus.

Wajah Iris juga tampak lebih pucat dari sebelumnya. Bibirnya pecah-pecah dan cekungan di bawah matanya terlihat cukup jelas. Dua bulan hidup tanpa sinar matahari, tak ubah membuatnya seperti mayat hidup.

Apalagi pakaiannya yang tidak pernah diganti sudah menjadi begitu lusuh. Meski Iris tetap bisa mandi, itu tidak mengubah penampilannya menjadi lebih baik. Bahkan jejak sabetan gesper di kedua kakinya terlihat cukup banyak dan jelas.

Itu adalah hasil dari upayanya setiap kali dia mencoba melarikan diri. Rasa sakit secara fisik mungkin telah hilang, tapi secara mental tidak.

Iris benar-benar sudah berada di titik muak. Dia tidak pernah berharap ini terjadi dalam hidupnya.

Seandainya dia tahu, jika harga dari sebuah rasa penasaran adalah kebebasan hidupnya, dia pasti akan memilih terus berjalan dan mengabaikan semuanya malam itu.

Seandainya waktu benar-benar dapat diulang....

Iris memejamkan matanya sesaat. Menelan rasa pahit di tenggorokannya. Namun pendengarannya yang lebih tajam, menangkap sebuah pergerakan.

Langkah kaki.

Itu bukan suara langkah kaki Elliot yang berat dan terukur. Bukan pula suara langkah kaki penjaga. Langkah ini ringan, namun setiap ketukannya terdengar penuh penekanan. Angkuh. Langkah kaki seseorang yang merasa seluruh dunia ada di bawah kendalinya.

Dan itu berhenti di depan pintu ruangannya.

Iris tidak bergerak, tapi tangannya perlahan merayap ke dalam lipatan bajunya yang dekil. Jemarinya yang gemetar, mencengkeram garpu logam yang selama ini dia curi dan simpan.

Ceklek.

Pintu ruangan yang biasanya terbuka lewat lubang kecil, kini sepenuhnya terbuka. Cahaya dari lorong menusuk mata, memaksa Iris menyipitkan matanya. Sebuah bayangan berdiri di ambang pintu.

Wangi parfum mahal, aroma tembakau tipis yang bercampur dengan bubuk mesiu, menyeruak masuk. Menggantikan bau busuk di ruangan yang selama dua bulan ini menemani Iris.

Di sana, Silas berdiri. Tanpa jas mahal dan hanya mengenakan kemeja abu-abu muda yang digulung mencapai siku. Begitu bersih, angkuh dan kontras dengan keadaan Iris saat ini.

"Kau masih hidup rupanya."

Iris tidak menjawab. Kepalanya justru tertunduk. Membiarkan helaian rambut menutupi wajahnya yang pucat. Dia bisa merasakan Silas melangkah masuk. Lebih dekat ke arahnya.

"Tuan, hati-hati."

Suara lain menyela dan Iris melihat langkah lain di belakang Silas, tapi peringatan tersebut tampaknya diabaikan Silas. Hingga tepat di depannya, pria itu berhenti melangkah. Iris hanya menatap sepatu hitam mengkilat sambil menggigit pipi bagian dalamnya.

"Elliot bilang kau sudah tidak memberontak lagi."

Iris tidak bersuara, sampai tiba-tiba Silas berjongkok di depannya dan menarik dagunya. Dia dipaksa mendongak, hanya untuk menatap mata biru yang dingin tanpa belas kasih.

Pria itu membolak-balik wajahnya, menyingkirkan setiap helaian rambut yang menghalangi begitu lembut, tapi alih-alih terlihat seperti sebuah kepedulian, itu justru lebih terlihat seperti sebuah pengecekan.

Iris tidak memberontak dan Silas juga tidak bicara lagi. Mereka hanya saling menatap. Sampai pria itu bergerak lebih dekat dan dia tidak menghindar.

Saat itulah, dengan satu sentakan tenaga terakhir yang dikumpulkan selama ini, Iris menggerakan tangannya yang tersembunyi. Mengayunkan garpu tajam sekuat tenaga ke arah wajah dari orang yang membuat hidupnya seperti ini.

"TUAN!"

Jleb!

Suasana mendadak hening. Gerakan Iris yang tiba-tiba cukup mengejutkan, tapi rupanya tangan Silas bergerak lebih cepat dari yang siapa pun duga.

Tidak seperti yang Iris harapkan, garpu itu tertancap di lengan Silas dan hanya berhasil menggores sedikit pipinya. Tidak cukup lebar, namun tetap membuat darah segar berhasil menetes.

"Tuan, Anda—Kau!"

Elliot dengan satu gerakan cepat menarik pistol dan mengarahkannya pada Iris. Membuat Iris tersentak, lalu spontan mundur. Tangannya refleks melepaskan garpu yang masih tertancap di lengan Silas.

Tak disangka, alih-alih membiarkan Elliot menembak Iris, Silas mengangkat tangan dan mencabut garpu itu. Melemparnya asal.

"Tahan, Elliot."

"Tapi, Tuan, dia—"

"Jangan membantah."

Silas berdiri mematung, mengunci tatapan Iris yang masih menunjukkan kewaspadaan. Tangannya terluka, robek dengan cukup dalam dan memanjang. Membuat tetesan darah merembes, membasahi lengan kemejanya.

Cukup memberikan corak merah pada warna abu muda, sebelum kemudian tetesannya jatuh ke lantai. Namun bukannya berteriak atau marah, bibir Silas justru berkedut. Membentuk seringai lebar dan perlahan, jempolnya mengusap darah di area pipi, lalu menjilatnya.

"Tidak buruk."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pertemuan Kembali

    Dua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bencana Berjalan

    Perjalanan pulang ke wilayah pelabuhan benar-benar tidak menyenangkan. Iris mengalami hangover cukup parah karena baru pertama kali meminum alkohol dan ternyata tubuhnya menolak. Sepanjang perjalanan, dia hanya mampu bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Kepalanya masih berdenyut, meski sudah lebih baik setelah dia minum obat. Ketika mobil yang dikendarai Silas perlahan mendekati area gerbang rumah besar, Iris menghela napas lega. Dia ingin kembali tidur. Meski dia tahu jika matahari sudah mulai naik. Namun saat mobilnya berhenti di pelataran rumah, Iris yang mengangkat kepalanya dan hendak keluar, melihat Dominic yang tampak bergegas mendekati mobil. Termasuk beberapa staf rumah yang berkumpul, tapi ada yang berbeda kali ini. Iris tidak melihat mereka seperti hendak menyambut kedatangan Silas. Wajah mereka gelisah. Dominic juga terlihat lebih pucat. Pintu di sebelahnya dibuka pelan, dan seketika langsung menghentikan pengamatan Iris. Sebelum akhirnya d

  • Tertawan oleh Don Mafia   Yang Tidak Seharusnya Disentuh

    Beberapa jam kemudian. Silas berjalan di lorong usai melakukan pemeriksaan bersama dengan Victor. Lorong itu sepi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar. "Apa dia akan baik-baik saja?" Victor melirik ke arah Silas. Namun pria yang dilirik itu hanya terus berjalan. Tidak sedikit pun melambatkan langkahnya. "Siapa?""Iris. Kau tahu dengan jelas CCTV itu rusak."Langkah Silas terhenti. Kali ini, perkataan Victor berhasil membuatnya menoleh. "Lalu?""Kau berbohong."Silas berkedip. Ada jeda sesaat, sebelum dia akhirnya melanjutkan langkahnya lagi. "Aku hanya mengatakan ada CCTV di sana."Victor tersentak. Tubuhnya langsung membeku. Diam menatap punggung Silas yang mulai menjauh. Sebelum akhirnya, senyum tipis tersungging di bibir keriputnya. Kakinya kembali melangkah sejajar dengan pria itu. "Aku dengar dari Elliot, dia pernah berniat mencuri sesuatu di ruangan Dominic dan kau mengampuninya.""Ya."Kerutan di kening keriput Victor semakin jelas terlihat. Matanya melir

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memfitnah?

    Tak. Dua buah gelas minuman diletakkan Victor tepat di depan Iris dan Silas. Gelas itu berisi cairan berwarna merah yang Iris langsung tahu jika itu adalah wine. Dia tidak mengambilnya sama sekali, saat Silas dan Victor tampak dengan santai menenggaknya. "Maaf, aku tidak minum alkohol," ucap Iris saat Victor meliriknya dan gelas yang tak tersentuh di meja secara bergantian. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil jus—""Tidak usah."Iris spontan menggelengkan kepalanya saat Victor hendak memanggil anak buahnya yang berada di balik pintu ruangan. Membuat pria itu kembali menatapnya. "Aku tidak haus."Mata Victor bertahan beberapa detik padanya, sebelum akhirnya pria itu mengangguk. Membiarkan suasana canggung mengisi ruang kerja miliknya. Tidak seperti Dominic yang sangat ekspresif, Victor lebih tenang seperti Marcus. Hingga rasanya, Iris seperti terjebak oleh situasi, meski sebenarnya ini jauh lebih baik dibanding apa yang terjadi sebelu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pembuat Masalah

    "Awas!"Iris refleks berteriak. Tangannya mengambang di udara, tapi sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi selanjutnya, sebuah tendangan mendarat tepat di dada pria yang hendak memukul Silas. Tubuh itu seketika terjengkang dan membentur sebuah mesin permainan di belakangnya. Botol minuman meluncur dari tangannya dan pecah di lantai. Mulutnya tampak menyembur mengeluarkan darah, tapi pria itu masih sadar. Iris terkesiap. Tengkuknya langsung merinding dan matanya seketika tertuju pada Silas, pelaku yang menendang pria tadi. Suasana di kasino itu juga mendadak hening. Iris tidak sempat memerhatikan sekeliling, karena matanya dibuat terpaku pada cara Silas yang mencoba menghentikan kekacauan, dengan membuat kekacauan yang lebih besar. "Uhuk! KAU! BAJINGAN SIALAN!" Pria yang ditendang Silas batuk darah, tapi tetap berusaha berdiri sambil dibantu dua pengawalnya. Suasana kini tidak lagi terasa kondusif. Kemarahan pria tadi, tidak lagi tertuju pada permainan yang dianggapnya curang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekacauan di Kasino

    "Huh?"Iris berkedip. Dia terbengong dan mendadak berhenti. Kepalanya kembali menoleh ke belakang untuk melihat wanita tadi sudah tidak ada. Lalu dia melihat wanita lainnya yang sudah sibuk dengan pria yang memangkunya. Matanya mengamati penampilan mereka yang sangat terbuka. Tampak memalukan untuk dilihat. "Kau mucikari? Kau menjalankan bisnis prostitusi?" tanya Iris, yang kini perhatiannya kembali tertuju pada Silas. Pria ikut berhenti dan meliriknya. "Mereka membutuhkan pekerjaan."Mulut Iris seketika tekunci rapat. Dia menatap Silas dengan wajah tak percaya yang bercampur kaget. "Menjadi pelacur adalah pekerjaan bagimu? Kau mengeksploitasi mereka, kau sadar?" Suara Iris terdengar lebih seperti bisikan, tapi penuh penekanan. Rahangnya tampak menegang karena kesal dengan apa yang dikatakan Silas. Selain menjijikkan, baginya itu adalah hal yang paling tidak bermoral dan merendahkan bagi seorang wanita. Namun Silas justru dengan santai menariknya dan kembali melanjutkan langkahny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status