LOGINSuasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan.
Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat sebuah gerakan. Kursi itu bergeser saat sang pemiliknya bangkit. Dia hanya berani menatap sepatu kulit yang bergerak mendekat dan berhenti di depannya. Menginjak sepatu patahnya. "Jangan menunduk saat bicara." Iris menelan ludah susah payah saat mendengar suara Silas yang berat dan serak. Perkataan pria itu terdengar seperti larangan yang harus dipatuhi dan dia mau tak mau mengangkat kepalanya perlahan. Mendongak hanya untuk menyaksikan dua pria yang saat ini menatapnya dengan dua ekspresi berbeda. Elliot menatap dengan pandangan heran, tapi sekilas sorot mata itu menunjukkan rasa kaget. Jauh berbeda dengan Silas. Iris tidak mampu menjelaskannya, tapi dia menyaksikan kedua sudut mata Silas yang terangkat sedikit menyipit dan matanya bersinar dengan cara yang aneh. Pipinya tiba-tiba terasa sangat panas, membakar hingga mencapai telinga. Ini sama sekali bukan pengakuan cinta yang Iris inginkan. Sama sekali tidak. "Aku belum pernah bertemu orang sepertimu." Iris berkedip. Alisnya saling bertaut saat mendengar komentar Silas. Dia tidak tahu itu hinaan atau pujian, tapi dia mendengar nada geli dalam suaranya. Beberapa saat, Iris hanya bisa diam. Terlalu menyedihkan untuknya bicara, tapi selanjutnya kedua sepatu itu kembali bergerak menginjak barangnya yang lain. Hingga remuk dan benar-benar hancur. "Tahan dia." *** Dua bulan berlalu sejak hari di mana Iris ditahan. Dunia tetap bergerak maju seolah tidak ada yang hilang. Di ruangan tertutup, tepatnya di ruang kerja milik Silas yang memiliki pencahayaan minim serta didominasi warna hitam dan merah, tampak pria itu sedang duduk sambil mengamati senjata api terbaru di tangannya. Seakan dia melihat sebuah berlian. Di depannya, duduk seorang pria berusia sekitar lima puluhan. Bersandar sambil mengetuk jarinya santai. Menikmati setiap rasa tertarik di wajah Silas, meski tidak ada kata yang keluar. "Aku tahu kau akan menyukainya. Itu sangat cocok untukmu, keponakan." Seolah sadar terlalu fokus mengamati, Silas mengangkat kepalanya dan meletakkan senjata api itu di meja. "Aku tahu kau mengenal baik seleraku, tapi kuharap operasi Iron Harbor kali ini tidak gagal, Paman." Pria itu menarik napas pendek. Mendadak posisi duduknya membuat dia tidak nyaman. Terutama saat pembicaraan dialihkan dengan cepat oleh Silas. "Sebenarnya itulah alasanku datang ke sini. Tadi pagi, keluarga Ravenshade datang untuk ikut campur." Tidak ada reaksi dari Silas. Pria itu hanya mendengarkan dengan alis berkerut dan mau tak mau, sang paman melanjutkan. "Aku sudah mengatasi itu. Tenang saja, hanya mungkin jadwal keberangkatan akan terganggu dan sedikit terlambat." "Ini bukan pertama kalinya mereka ikut campur." Pernyataan Silas diangguki cepat oleh pamannya. "Kau benar. Mereka sebenarnya sudah cukup sering mengganggu. Kurasa itu karena mereka merasa cukup dekat dengan keluarga kita. Mereka berpikir, kita bisa dimanfaatkan. Kita mungkin harus memberikan sedikit pelajaran." "Aku tahu apa yang mereka inginkan." Sang paman mengerutkan kening. Mengamati ekspresi Silas yang berubah suram dan sorot mata yang lebih dingin, tapi tatapan itu tidak berpaling dari senjata api di meja. Sebelum akhirnya, mata itu menatapnya lagi, hingga dia sedikit tersentak. "Paman bisa kembali dan pastikan tidak ada gangguan lagi. Mereka akan aku urus." "O-oke, santai, Silas. Paman akan memastikan semuanya lancar." Tanpa menunggu lama, dia berdiri untuk segera keluar ruangan, tapi ketukan lain terdengar. Lalu Elliot muncul segera setelah Silas memberi izin. "Tuan, ada sesuatu—ah, maafkan saya. Saya tidak tahu ada Tuan Dominic di sini." Perkataan Elliot terhenti saat matanya melirik kehadiran sosok yang tak asing, sekaligus salah seorang yang dia hormati. "Tidak apa-apa, Elliot. Pembicaraan kami sudah berakhir. Aku akan pergi. Silakan kau bicara dengan Silas." Dominic membalas santai ucapan Elliot sambil berjalan ke luar. Pintu ditutup, meninggalkan Elliot dan Silas dalam suasana tenang, tapi serius. Elliot mendekat sambil menyodorkan berkas yang sedari tadi ada di tangannya. "Tuan, ada kendala dalam pengalihan dana. Kepala bea cukai baru menolak bekerja sama." Silas tidak bereaksi. Pria itu melirik sekilas berkas di meja yang disodorkan Elliot. "Bayar dia. Kalau tetap menolak, ganti orangnya." "Baik, saya mengerti, Tuan." Elliot mengangguk patuh, tapi dia tidak langsung kembali. Tubuhnya masih berdiri mematung. Seolah ingin bicara, namun ragu. Seolah tahu apa yang dipikirkan Elliot, Silas bertanya, "Ada apa?" "Em, Tuan, soal Iris, apa yang Anda akan lakukan?" "Iris?" Elliot melihat Silas mengernyit. "Wanita yang Anda tahan dua bulan lalu di ruang bawah tanah. Apa yang harus kita lakukan dengannya?" Keheningan terjadi setelah Elliot mengutarakan apa yang sempat mengganggu pikirannya. Silas tidak bereaksi, hanya diam. Beberapa menit tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara. Sampai Silas tiba-tiba berdiri dan melepas jasnya. Gerakannya cukup membuat Elliot penasaran. "Anda mau ke mana, Tuan?" "Menemuinya. Aku ingin lihat, dia masih hidup atau tidak." Mata Elliot mengikuti gerakan Silas yang berjalan menuju pintu. "Dia masih hidup. Dia juga sudah tidak memberontak lagi, tapi dia menjadi terlalu tenang akhir-akhir ini. Anda tidak harus ke sana." Langkah Silas tertahan di ambang pintu. Perkataan Elliot, cukup membuat pria itu menoleh dan tersenyum tipis. "Aku perlu memastikan sebelum memutuskannya." *** Di ruang bawah tanah, tempat Iris berada, dia saat ini sedang duduk tenang di sudut ruangan. Bersandar di dinding sambil menatap lurus ke arah pintu. Tak jauh darinya, ada sebuah mangkuk plastik kosong dengan gelas dan sendok, tapi tidak ada sedikit pun makanan di sana. Mangkuk itu bersih dan air di gelas plastik juga habis tanpa sisa. Semua karena Iris tidak lagi mengabaikan makanan yang diberikan. Dia selalu makan, meski tetap saja, makanan yang datang secara teratur, tidak menghentikan bentuk tubuhnya yang mulai terlihat kurus. Wajah Iris juga tampak lebih pucat dari sebelumnya. Bibirnya pecah-pecah dan cekungan di bawah matanya terlihat cukup jelas. Dua bulan hidup tanpa sinar matahari, tak ubah membuatnya seperti mayat hidup. Apalagi pakaiannya yang tidak pernah diganti sudah menjadi begitu lusuh. Meski Iris tetap bisa mandi, itu tidak mengubah penampilannya menjadi lebih baik. Bahkan jejak sabetan gesper di kedua kakinya terlihat cukup banyak dan jelas. Itu adalah hasil dari upayanya setiap kali dia mencoba melarikan diri. Rasa sakit secara fisik mungkin telah hilang, tapi secara mental tidak. Iris benar-benar sudah berada di titik muak. Dia tidak pernah berharap ini terjadi dalam hidupnya. Seandainya dia tahu, jika harga dari sebuah rasa penasaran adalah kebebasan hidupnya, dia pasti akan memilih terus berjalan dan mengabaikan semuanya malam itu. Seandainya waktu benar-benar dapat diulang.... Iris memejamkan matanya sesaat. Menelan rasa pahit di tenggorokannya. Namun pendengarannya yang lebih tajam, menangkap sebuah pergerakan. Langkah kaki. Itu bukan suara langkah kaki Elliot yang berat dan terukur. Bukan pula suara langkah kaki penjaga. Langkah ini ringan, namun setiap ketukannya terdengar penuh penekanan. Angkuh. Langkah kaki seseorang yang merasa seluruh dunia ada di bawah kendalinya. Dan itu berhenti di depan pintu ruangannya. Iris tidak bergerak, tapi tangannya perlahan merayap ke dalam lipatan bajunya yang dekil. Jemarinya yang gemetar, mencengkeram garpu logam yang selama ini dia curi dan simpan. Ceklek. Pintu ruangan yang biasanya terbuka lewat lubang kecil, kini sepenuhnya terbuka. Cahaya dari lorong menusuk mata, memaksa Iris menyipitkan matanya. Sebuah bayangan berdiri di ambang pintu. Wangi parfum mahal, aroma tembakau tipis yang bercampur dengan bubuk mesiu, menyeruak masuk. Menggantikan bau busuk di ruangan yang selama dua bulan ini menemani Iris. Di sana, Silas berdiri. Tanpa jas mahal dan hanya mengenakan kemeja abu-abu muda yang digulung mencapai siku. Begitu bersih, angkuh dan kontras dengan keadaan Iris saat ini. "Kau masih hidup rupanya." Iris tidak menjawab. Kepalanya justru tertunduk. Membiarkan helaian rambut menutupi wajahnya yang pucat. Dia bisa merasakan Silas melangkah masuk. Lebih dekat ke arahnya. "Tuan, hati-hati." Suara lain menyela dan Iris melihat langkah lain di belakang Silas, tapi peringatan tersebut tampaknya diabaikan Silas. Hingga tepat di depannya, pria itu berhenti melangkah. Iris hanya menatap sepatu hitam mengkilat sambil menggigit pipi bagian dalamnya. "Elliot bilang kau sudah tidak memberontak lagi." Iris tidak bersuara, sampai tiba-tiba Silas berjongkok di depannya dan menarik dagunya. Dia dipaksa mendongak, hanya untuk menatap mata biru yang dingin tanpa belas kasih. Pria itu membolak-balik wajahnya, menyingkirkan setiap helaian rambut yang menghalangi begitu lembut, tapi alih-alih terlihat seperti sebuah kepedulian, itu justru lebih terlihat seperti sebuah pengecekan. Iris tidak memberontak dan Silas juga tidak bicara lagi. Mereka hanya saling menatap. Sampai pria itu bergerak lebih dekat dan dia tidak menghindar. Saat itulah, dengan satu sentakan tenaga terakhir yang dikumpulkan selama ini, Iris menggerakan tangannya yang tersembunyi. Mengayunkan garpu tajam sekuat tenaga ke arah wajah dari orang yang membuat hidupnya seperti ini. "TUAN!" Jleb! Suasana mendadak hening. Gerakan Iris yang tiba-tiba cukup mengejutkan, tapi rupanya tangan Silas bergerak lebih cepat dari yang siapa pun duga. Tidak seperti yang Iris harapkan, garpu itu tertancap di lengan Silas dan hanya berhasil menggores sedikit pipinya. Tidak cukup lebar, namun tetap membuat darah segar berhasil menetes. "Tuan, Anda—Kau!" Elliot dengan satu gerakan cepat menarik pistol dan mengarahkannya pada Iris. Membuat Iris tersentak, lalu spontan mundur. Tangannya refleks melepaskan garpu yang masih tertancap di lengan Silas. Tak disangka, alih-alih membiarkan Elliot menembak Iris, Silas mengangkat tangan dan mencabut garpu itu. Melemparnya asal. "Tahan, Elliot." "Tapi, Tuan, dia—" "Jangan membantah." Silas berdiri mematung, mengunci tatapan Iris yang masih menunjukkan kewaspadaan. Tangannya terluka, robek dengan cukup dalam dan memanjang. Membuat tetesan darah merembes, membasahi lengan kemejanya. Cukup memberikan corak merah pada warna abu muda, sebelum kemudian tetesannya jatuh ke lantai. Namun bukannya berteriak atau marah, bibir Silas justru berkedut. Membentuk seringai lebar dan perlahan, jempolnya mengusap darah di area pipi, lalu menjilatnya. "Tidak buruk."Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan
"Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati
"Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria
Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu
'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b
Di ruang makan. Meja makan malam kali ini terasa canggung dan berbeda. Iris merasa setiap gerakannya seakan diawasi. Dia hanya bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan melirik diam-diam Sebastian, Silas dan Elliot. Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, tapi Iris bisa merasakan ketegangan yang terlalu nyata. Dia mengunyah makanannya dengan lambat. Sampai suara Sebastian memecah kecanggungan. "Jadi kakimu patah setelah mencoba menyelamatkan diri?" Gerakan tangan Iris yang hendak menyuapkan makanan, seketika tertahan di udara. Dia melirik Sebastian yang menatapnya. Mulutnya yang terbuka, siap menerima makanan, seketika berhenti dan meletakkan sendok kembali. Dia dengan ragu mengangguk pelan sambil melirik Elliot dan Silas yang fokus makan tanpa menoleh, "Ya, dokter bilang... ini tidak permanen." "Kau ceroboh." Sebastian mengunci tatapannya. Membuat Iris merasakan kegelisahan di tempat duduknya. Dia ingin menjawab kalau dia hanya tida
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka







