FAZER LOGIN"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang. Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan baginya. Pulang dan istirahat, tapi suasana hati Iris hari ini buruk. Sangat amat buruk. Bibirnya mencebik dan dia mengelap meja kasir setengah hati. Hampir seperti melakukannya dengan sembarangan. "Dia pasti masih sakit hati setelah dikira cari perhatian oleh pujaan hatinya tadi," sahut Lona yang datang sambil tertawa kecil dan merangkul Iris yang malah semakin cemberut. "Tapi hei, jangan khawatir, pria seperti itu biasanya akan jatuh ke dalam kesombongannya sendiri." Bukannya terhibur, Iris mendesah kasar dan menyingkirkan tangan Lona sambil merapikan kasir. Tepat saat karyawan shift selanjutnya muncul. Mereka pun bisa dengan santai pergi ke loker karyawan. "Dia bukan pujaan hatiku. Dia itu... ah!" Iris mengerang kesal mengingat kata-kata yang beberapa jam lalu membuatnya malu. "Gara-gara dia, gajiku dipotong. Aku tahu aku salah, tapi aku sudah minta maaf. Aku juga tidak sengaja. Dia malah menuduhku mencari perhatian." "Kau sangat sial, Iris. Aku turut prihatin, tapi kita bisa apa? Sepertinya orang itu bukan orang biasa. Manajer sendiri sampai hati-hati." Perkataan rekan prianya tidak membuat keadaan lebih baik. Iris memutar matanya terdiam saat tiba-tiba teringat dengan kartu black card milik Silas Montclair. Nama keluarga itu memang sepertinya tidak asing, hanya dia tidak ingat di mana dia pernah melihatnya. "Kau harus lebih berhati-hati lain kali. Ngomong-ngomong, sepatumu kan patah, kau bawa penggantinya?" tanya Lona. Iris segera tersadar dan mengambil tasnya di loker. Dia mengangguk sembari mengeluarkan sandal jeleknya dan membungkus sepatu yang sebagian patah. Ditatapnya lama sepatu kesayangannya, yang merupakan hadiah dari ibu panti satu tahun lalu. Dia sangat menyayanginya, tapi kini benda itu telah rusak. Itu artinya dia harus membeli yang baru, karena mustahil dia hanya memakai sandal saat melayani pelanggan. Aturan kafe melarang. "Aku bawa, tapi sepertinya aku harus beli yang baru sekarang." "Aku punya sepatu yang lain. Masih bagus, jika kau mau." Iris mendongak. Menatap Lona dengan seolah baru saja mendapat secercah harapan. "Kau mau memberikannya padaku?" "Ya, itu kecil untukku, tapi mungkin akan pas untukmu. Hanya kupakai beberapa kali." Senyum lega mengembang di bibir Iris. Dia spontan memeluk rekan kerjanya. "Lona, kau penyelamatku! Tentu saja, aku mau! Tidak masalah itu bekas. Aku membutuhkannya." "Oke, kalau kau tertarik, aku akan membawanya besok." Iris yang senang, sekali lagi memeluk Lona sambil melompat kecil. Tawaran Lona jelas membantu karena memang saat ini, dia sedang sulit soal keuangan. Jangankan untuk membeli sepatu baru, untuk bayar biaya sewa apartemen saja belum dia bayar. Semua gajinya sangat pas-pasan. Nyaris tidak ada dana darurat. "Atau kau ingin mengambilnya sekarang? Sekalian kita bermain sebentar. Mumpung masih sore." "Apa aku boleh ikut juga?" sahut rekan kerja pria, yang langsung dapat gelengan kepala dari Lona. "Tidak, tidak, ini hanya untuk para gadis." Iris melepaskan pelukan dan menatap Lona sambil tertawa kecil. Pikiran untuk menghabiskan waktu dan menghilangkan penat sangat menarik, tapi sebelum dia sempat menyetujui rencana Lona, ponsel di tasnya berdering. Sebuah nama tak asing muncul di layar ponselnya. "Teman-teman, sebentar, ada panggilan dari ibu panti." "It's okay. Angkatlah." Iris mengangguk dan langsung mengangkatnya dengan sapaan ramah serta hangat seperti biasa. "Halo, Bu, ada apa? Tumben menghubungiku." "Iris, ada masalah. Apa kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Katlyn mengalami kecelakaan." "Apa?" Senyum dan suara tenang Iris mendadak lenyap, digantikan teriakan melengking dan rasa khawatir. "Katlyn? Kok bisa kecelakaan? Apa yang terjadi? Bagaimana kondisinya sekarang, Bu?" "Ada mobil yang menabraknya saat Katlyn sedang bermain. Ibu juga tidak tahu pasti, tapi menurut saksi, mobil yang menabraknya kabur. Kondisinya sekarang kritis. Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan, Iris." Suara isak tangis bercampur dengan rasa putus asa, terdengar jelas olehnya. Iris seolah dipaksa untuk ikut merasakan kekhawatiran dan ketakutannya juga. "A-aku akan ke sana sekarang. Ibu berikan alamatnya saja." Iris menutup panggilan tergesa-gesa dan tepat setelahnya, alamat rumah sakit dikirim ibu panti. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas sembari menatap Lona serta rekan prianya dengan wajah tegang dan panik. "Lona, maaf, sepertinya aku tidak bisa ke rumahmu sekarang. Ada masalah. Aku harus pergi." Tanpa menunggu jawaban Lona, Iris segera pergi meninggalkan kafe untuk menuju rumah sakit. Dia terpaksa naik taksi agar perjalanan bisa lebih cepat, meski sial, itu membuatnya merogoh uang yang harusnya dia gunakan untuk makan hari ini. Tapi demi anak panti yang semuanya sudah Iris anggap adik, dia rela melakukan apa pun dan akhirnya, dia tiba lebih cepat. Iris langsung belari masuk ke area ruang IGD dan melihat dua orang wanita, yang salah satunya adalah kepala panti, berdiri di depan pintu ruangan. "Iris!" Tanpa banyak kata, Iris berhambur ke pelukan wanita paruh baya yang tampak khawatir dengan air mata di pipinya. "Bu, di mana Katlyn? Semuanya baik-baik saja kan?" Iris melepaskan pelukan dan mengusap jejak air mata di wajah wanita yang selama lebih dari dua puluh tahun ini telah merawatnya. Dia ikut merasakan kesedihan yang sama meski belum melihat langsung keadaan salah satu anak panti yang celaka. "Katlyn sedang ditangani dokter di dalam. Kondisinya kritis," sahut wanita paruh baya lainnya yang ada di sana. Dia adalah salah satu pengasuh yang menjaga panti. "Dokter bilang kita harus siap-siap seandainya Katlyn harus ditangani secara intensif." Iris refleks menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. "Apa? Tapi semua akan baik-baik saja kan? Tidak masalah asal Katlyn selamat." Jawaban yang paling Iris inginkan adalah harapan positif, tapi dia melihat kedua wanita paruh baya itu menangis sembari saling memandang. Reaksinya membuat alisnya mengernyit. "Ada apa? Kenapa kalian seperti ini? Apa ada masalah lain?" Ibu kepala panti mendekat dan memegang lengan Iris. Tampak berusaha tersenyum, meski terlihat seperti dipaksakan. "Itulah masalahnya. Kami ingin Katlyn selamat, tapi... beberapa minggu terakhir, banyak donatur menarik diri setelah kalah dari pemilu. Kita tidak punya dana lebih untuk biaya pengobatan Katlyn." "Apa? Bagaimana bisa? Mereka menarik diri begitu saja?" Kedua wanita paruh baya itu mengangguk dan ibu panti melanjutkan, "Ya, mereka beralasan tidak memiliki lagi dana untuk panti. Satu-satunya donatur tetap kita sekarang hanya Ravenshade. Ibu berencana untuk pergi menemuinya dan meminta bantuan, tapi Ibu tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak." Iris bisa merasakan keraguan dalam suara ibu panti. Dia sadar ini sulit karena mereka juga sudah terlalu banyak dibantu keluarga Ravenshade. Iris ikut merasakan rasa tidak enak untuk merepotkan mereka, jadi dia segera mengeluarkan amplop berisi uang yang dia kumpulkan untuk bayar sewa apartemen. "Aku ada segini. Siapa tahu bisa membantu, Bu. Itu mungkin sedikit, tapi aku berharap bisa sedikit mengurangi biaya pengobatannya. Lalu kurangnya kita bisa mencoba minta tolong keluarga Ravenshade." Ibu panti mengambil amplop itu dengan ragu. Menatap Iris lekat. "Ini uang apa, Iris? Kamu yakin? Ibu bisa kok pergi ke keluarga Ravenshade dan minta tolong. Ibu tidak ingin merepotkanmu. Ibu memanggilmu hanya ingin kamu menjaga Katlyn." Iris tersenyum dan mendorong tangan ibu panti yang memegang uang. "Itu uangku, Bu. Jangan khawatir, gunakan saja. Untuk jaga-jaga kalau mereka tidak akan meminjamkan uang. Aku tahu kita sudah terlalu banyak meminta bantuan mereka dan Katlyn juga sudah aku anggap sebagai adikku, jadi aku ingin ikut membantu." "Kamu baik sekali. Terima kasih banyak, Iris." Ibu panti meraih Iris dalam pelukan. Erat sambil menangis. Dia tidak mampu menahan rasa sedih bercampur haru. "Ibu janji, Ibu akan usahakan ganti uangnya. Bagaimana pun, tidak seharusnya kami menggunakan uang hasil kerja kerasmu." "Tidak apa-apa, Bu. Jangan pikirkan itu, yang penting Katlyn bisa selamat," ucap Iris sambil mengusap punggung wanita tua yang memeluknya. Iris harap ini pilihan yang benar. Meski dia sendiri gelisah, memikirkan cara membayar sewa yang jatuh tempo hari ini, saat uangnya saja tidak ada. *** Tengah malam menyambut Iris dengan angin yang menusuk hingga ke tulang. Sandalnya yang tipis tidak mampu melindungi kakinya yang mulai lecet, karena berjalan berkilo-kilo meter dari rumah sakit. Kepalanya masih berdenyut, mengulang-ulang kalimat dokter tentang kondisi Katlyn yang masih kritis, namun dia terpaksa pulang karena raga dan dompetnya sudah benar-benar terkuras habis. Sialnya, hujan mulai turun. Memperburuk suasana hatinya. Jalanan menuju apartemen menjadi lebih sepi dan gelap. Iris benar-benar nyaris tidak punya tenaga untuk melangkah lagi. Langkahnya terseok-seok menyusuri trotoar jalan menuju apartemennya. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran. Dia sendirian Itu jelas menakutkan, tapi Iris yang terlalu lelah, tak memikirkan itu. Satu hal yang ada di pikirannya adalah pulang. Namun saat dia terus berjalan, matanya tanpa sengaja menangkap sosok tak asing beberapa meter di depannya. "Silas?"Iris refleks mengepalkan tangannya. Matanya menatap lurus Lyra. Sungguh, dia hanya bisa bernapas bebas selama lima hari tanpa gangguan, karena sekarang tekanan datang lagi. Kepalanya tertunduk dan desahan lelah keluar dari mulutnya sebelum dia kembali menatap Lyra. "Nona, jika Anda merasa terancam dengan kehadiran saya, Anda bisa bicara dengan Silas. Anda tidak perlu repot untuk mengancam anak panti yang miskin seperti saya.""Kau!"Iris tidak bergerak ketika Lyra tiba-tiba berdiri dan menunjuknya dengan jari. Dia diam menyaksikan bagaimana perubahan warna di wajah putih pucat Lyra menjadi merah. Udara di sekitarnya kini terasa sedikit lebih panas. Lebih pegap dan gerah. Iris mulai tidak bisa duduk dengan nyaman. "Aku lebih mengenal Silas dibanding kau. Keluarga kami bahkan sangat dekat dan aku tahu apa yang tidak kau tahu."Suara Lyra terdengar sedikit naik. Napas wanita itu terengah-engah. Matanya melotot seolah akan keluar dari tempatnya. Namun Iris tidak terlalu tertarik. Dia
"Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan."Samar-samar, telinga Iris menangkap sebuah suara. Suara percakapan yang berada dekat dengannya. Cukup untuk menarik kesadarannya. Dia melenguh kecil. Matanya berkedip pelan, menyesuaikan cahaya yang menusuk mata. Sebelum bayangan seorang pria yang memegang papan klip di tangan terlihat di sampingnya. Butuh beberapa detik untuk Iris benar-benar bisa melihat sepenuhnya. Pria itu memakai kacamata dan di lehernya tergantung sebuah stetoskop, tapi dia tidak memakai jubah putih. Hanya kemeja dan celana bahan berwarna hitam. Itu adalah dokter pribadi Silas yang seminggu lalu sempat mengobati luka di kaki Iris dan memberinya obat. "Dokter, Nona sudah sadar."Suara lain menyahut. Mengalihkan perhatian dokter muda yang saat ini tampak sedang sibuk mencatat. Iris tidak bersuara. Dia hanya menatap lemah ketika melihat dokter dan pelayan mendekatinya. Lalu dia merasakan stetoskop yang dingin menyentuh kulitnya. Dia tak bergerak dan membiarkan dokter fok
"Apa yang—hentikan!"Iris menggeliat. Napasnya memburu. Tubuh mereka terlalu menempel, sampai-sampai dia bisa merasakan bentuk dada lebar Silas. Panas dan sesak. Iris mengerang frustrasi saat dia tidak bisa menggeser Silas sama sekali. Alih-alih mundur, pria itu justru menunduk. Mendekatkan wajahnya hingga Iris bergidik. Kepanikan menyerangnya. Dia merasakan napas hangat Silas di ceruk lehernya, bersamaan dengan tangan lain pria itu yang menyingkirkan helaian rambut di pundaknya. "Menjauh, aku bukan pela—""Aku hanya peduli pada dua hal. Berguna atau tidak berguna," bisik Silas, tepat di telinga Iris. Bibir pria itu menempel di telinganya dan Iris membeku. Sebelum akhirnya Silas menarik diri. Mundur teratur, menatapnya dengan mata berkilat geli, seakan terhibur karena berhasil mempermainkan orang lain. Tanpa perasaan, pria itu meninggalkannya yang kini merosot jatuh di lantai. Matanya menatap lurus pada punggung lebar Silas y
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum ramah di bibirnya, tapi sorot mata itu terlihat sedikit merendahkan. Cukup jelas untuk Iris lihat. "Mom, hentikan," tegur seorang wanita muda yang duduk di sebelah Iris. Kerutan ketidaknyamanan terukir jelas di wajah tenangnya. "Lho, apa salahnya, Elara? Mommy hanya bertanya dan ingin tahu."Iris melirik ke arah Elara tanpa sadar. Melihat wanita itu menunjukkan ketidaksenangan. Seakan ikut tersinggung dengan pertanyaan ibunya sendiri. "Kak Elara sensitif sekali. Tidak ada yang salah dari pertanyaan Mommy. Kita juga penasaran. Wajar, kan?" Lyra, wanita yang sejak tadi memusuhi Iris, mendelik."Lyra—""Cukup, cukup!" Octavian menyela. Menghentikan perdebatan antara Elara, Isolde dan Lyra. "T
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia melangkah keluar tanpa disambut Silas. Terpaku sejenak menatap rumah besar yang didominasi oleh warna putih dan hamparan halaman yang luas. Rumah yang lebih modern dan jauh lebih besar dari manor milik Silas sebelumnya. Akan tetapi, ada satu hal yang aneh. Iris melihat ada banyak pria berseragam hitam yang berdiri kaku hampir di setiap sudut. Sekilas matanya juga menemukan pistol yang tergantung di celana mereka. Seakan-akan tempat ini dijaga sangat ketat. "Berhenti melamun."Pandangannya beralih cepat saat Silas menegur. Dia melihat pria itu berdiri di depan pintu, menunggunya bosan. Iris mendekat terpaksa tanpa banyak bicara. Berdiri di samping Silas sambil tetap menjaga jarak. Dia pikir,
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,” gumamnya tanpa menoleh. Tangannya beralih mencengkeram gaunnya. Membiarkan jarinya yang terluka dan berdarah saat menggaruk tepi jendela, mengotori pakaian mahal itu.“Aku juga tidak butuh undangan.”Iris terkesiap saat suara itu terasa begitu dekat dengan telinganya. Hingga memaksanya menoleh hanya untuk menyadari wajah mereka terlalu dekat. Rahangnya menegang, tapi Iris tidak bisa berhenti menatap wajah angkuh dengan luka di pipi yang dibiarkan terbuka. Luka yang berhasil dibuatnya tampak seperti sebuah ukiran di atas wajah sempurna itu. Tidak ada yang bergerak atau mundur. Iris tetap dalam posisinya, sampai dia merasakan Silas semakin dekat







