مشاركة

Kabar Buruk

مؤلف: Koran Meikarta
last update تاريخ النشر: 2026-04-14 12:26:56

"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"

Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.

Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan baginya. Pulang dan istirahat, tapi suasana hati Iris hari ini buruk.

Sangat amat buruk.

Bibirnya mencebik dan dia mengelap meja kasir setengah hati. Hampir seperti melakukannya dengan sembarangan.

"Dia pasti masih sakit hati setelah dikira cari perhatian oleh pujaan hatinya tadi," sahut Lona yang datang sambil tertawa kecil dan merangkul Iris yang malah semakin cemberut. "Tapi hei, jangan khawatir, pria seperti itu biasanya akan jatuh ke dalam kesombongannya sendiri."

Bukannya terhibur, Iris mendesah kasar dan menyingkirkan tangan Lona sambil merapikan kasir. Tepat saat karyawan shift selanjutnya muncul. Mereka pun bisa dengan santai pergi ke loker karyawan.

"Dia bukan pujaan hatiku. Dia itu... ah!" Iris mengerang kesal mengingat kata-kata yang beberapa jam lalu membuatnya malu. "Gara-gara dia, gajiku dipotong. Aku tahu aku salah, tapi aku sudah minta maaf. Aku juga tidak sengaja. Dia malah menuduhku mencari perhatian."

"Kau sangat sial, Iris. Aku turut prihatin, tapi kita bisa apa? Sepertinya orang itu bukan orang biasa. Manajer sendiri sampai hati-hati."

Perkataan rekan prianya tidak membuat keadaan lebih baik. Iris memutar matanya terdiam saat tiba-tiba teringat dengan kartu black card milik Silas Montclair. Nama keluarga itu memang sepertinya tidak asing, hanya dia tidak ingat di mana dia pernah melihatnya.

"Kau harus lebih berhati-hati lain kali. Ngomong-ngomong, sepatumu kan patah, kau bawa penggantinya?" tanya Lona.

Iris segera tersadar dan mengambil tasnya di loker. Dia mengangguk sembari mengeluarkan sandal jeleknya dan membungkus sepatu yang sebagian patah.

Ditatapnya lama sepatu kesayangannya, yang merupakan hadiah dari ibu panti satu tahun lalu. Dia sangat menyayanginya, tapi kini benda itu telah rusak. Itu artinya dia harus membeli yang baru, karena mustahil dia hanya memakai sandal saat melayani pelanggan. Aturan kafe melarang.

"Aku bawa, tapi sepertinya aku harus beli yang baru sekarang."

"Aku punya sepatu yang lain. Masih bagus, jika kau mau."

Iris mendongak. Menatap Lona dengan seolah baru saja mendapat secercah harapan. "Kau mau memberikannya padaku?"

"Ya, itu kecil untukku, tapi mungkin akan pas untukmu. Hanya kupakai beberapa kali."

Senyum lega mengembang di bibir Iris. Dia spontan memeluk rekan kerjanya. "Lona, kau penyelamatku! Tentu saja, aku mau! Tidak masalah itu bekas. Aku membutuhkannya."

"Oke, kalau kau tertarik, aku akan membawanya besok."

Iris yang senang, sekali lagi memeluk Lona sambil melompat kecil. Tawaran Lona jelas membantu karena memang saat ini, dia sedang sulit soal keuangan. Jangankan untuk membeli sepatu baru, untuk bayar biaya sewa apartemen saja belum dia bayar.

Semua gajinya sangat pas-pasan. Nyaris tidak ada dana darurat.

"Atau kau ingin mengambilnya sekarang? Sekalian kita bermain sebentar. Mumpung masih sore."

"Apa aku boleh ikut juga?" sahut rekan kerja pria, yang langsung dapat gelengan kepala dari Lona.

"Tidak, tidak, ini hanya untuk para gadis."

Iris melepaskan pelukan dan menatap Lona sambil tertawa kecil. Pikiran untuk menghabiskan waktu dan menghilangkan penat sangat menarik, tapi sebelum dia sempat menyetujui rencana Lona, ponsel di tasnya berdering.

Sebuah nama tak asing muncul di layar ponselnya.

"Teman-teman, sebentar, ada panggilan dari ibu panti."

"It's okay. Angkatlah."

Iris mengangguk dan langsung mengangkatnya dengan sapaan ramah serta hangat seperti biasa. "Halo, Bu, ada apa? Tumben menghubungiku."

"Iris, ada masalah. Apa kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Katlyn mengalami kecelakaan."

"Apa?"

Senyum dan suara tenang Iris mendadak lenyap, digantikan teriakan melengking dan rasa khawatir. "Katlyn? Kok bisa kecelakaan? Apa yang terjadi? Bagaimana kondisinya sekarang, Bu?"

"Ada mobil yang menabraknya saat Katlyn sedang bermain. Ibu juga tidak tahu pasti, tapi menurut saksi, mobil yang menabraknya kabur. Kondisinya sekarang kritis. Ibu tidak tahu apa yang harus ibu lakukan, Iris."

Suara isak tangis bercampur dengan rasa putus asa, terdengar jelas olehnya. Iris seolah dipaksa untuk ikut merasakan kekhawatiran dan ketakutannya juga.

"A-aku akan ke sana sekarang. Ibu berikan alamatnya saja."

Iris menutup panggilan tergesa-gesa dan tepat setelahnya, alamat rumah sakit dikirim ibu panti. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas sembari menatap Lona serta rekan prianya dengan wajah tegang dan panik.

"Lona, maaf, sepertinya aku tidak bisa ke rumahmu sekarang. Ada masalah. Aku harus pergi."

Tanpa menunggu jawaban Lona, Iris segera pergi meninggalkan kafe untuk menuju rumah sakit. Dia terpaksa naik taksi agar perjalanan bisa lebih cepat, meski sial, itu membuatnya merogoh uang yang harusnya dia gunakan untuk makan hari ini.

Tapi demi anak panti yang semuanya sudah Iris anggap adik, dia rela melakukan apa pun dan akhirnya, dia tiba lebih cepat.

Iris langsung belari masuk ke area ruang IGD dan melihat dua orang wanita, yang salah satunya adalah kepala panti, berdiri di depan pintu ruangan.

"Iris!"

Tanpa banyak kata, Iris berhambur ke pelukan wanita paruh baya yang tampak khawatir dengan air mata di pipinya. "Bu, di mana Katlyn? Semuanya baik-baik saja kan?"

Iris melepaskan pelukan dan mengusap jejak air mata di wajah wanita yang selama lebih dari dua puluh tahun ini telah merawatnya. Dia ikut merasakan kesedihan yang sama meski belum melihat langsung keadaan salah satu anak panti yang celaka.

"Katlyn sedang ditangani dokter di dalam. Kondisinya kritis," sahut wanita paruh baya lainnya yang ada di sana. Dia adalah salah satu pengasuh yang menjaga panti. "Dokter bilang kita harus siap-siap seandainya Katlyn harus ditangani secara intensif."

Iris refleks menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca. "Apa? Tapi semua akan baik-baik saja kan? Tidak masalah asal Katlyn selamat."

Jawaban yang paling Iris inginkan adalah harapan positif, tapi dia melihat kedua wanita paruh baya itu menangis sembari saling memandang. Reaksinya membuat alisnya mengernyit. "Ada apa? Kenapa kalian seperti ini? Apa ada masalah lain?"

Ibu kepala panti mendekat dan memegang lengan Iris. Tampak berusaha tersenyum, meski terlihat seperti dipaksakan. "Itulah masalahnya. Kami ingin Katlyn selamat, tapi... beberapa minggu terakhir, banyak donatur menarik diri setelah kalah dari pemilu. Kita tidak punya dana lebih untuk biaya pengobatan Katlyn."

"Apa? Bagaimana bisa? Mereka menarik diri begitu saja?"

Kedua wanita paruh baya itu mengangguk dan ibu panti melanjutkan, "Ya, mereka beralasan tidak memiliki lagi dana untuk panti. Satu-satunya donatur tetap kita sekarang hanya Ravenshade. Ibu berencana untuk pergi menemuinya dan meminta bantuan, tapi Ibu tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak."

Iris bisa merasakan keraguan dalam suara ibu panti. Dia sadar ini sulit karena mereka juga sudah terlalu banyak dibantu keluarga Ravenshade. Iris ikut merasakan rasa tidak enak untuk merepotkan mereka, jadi dia segera mengeluarkan amplop berisi uang yang dia kumpulkan untuk bayar sewa apartemen.

"Aku ada segini. Siapa tahu bisa membantu, Bu. Itu mungkin sedikit, tapi aku berharap bisa sedikit mengurangi biaya pengobatannya. Lalu kurangnya kita bisa mencoba minta tolong keluarga Ravenshade."

Ibu panti mengambil amplop itu dengan ragu. Menatap Iris lekat. "Ini uang apa, Iris? Kamu yakin? Ibu bisa kok pergi ke keluarga Ravenshade dan minta tolong. Ibu tidak ingin merepotkanmu. Ibu memanggilmu hanya ingin kamu menjaga Katlyn."

Iris tersenyum dan mendorong tangan ibu panti yang memegang uang. "Itu uangku, Bu. Jangan khawatir, gunakan saja. Untuk jaga-jaga kalau mereka tidak akan meminjamkan uang. Aku tahu kita sudah terlalu banyak meminta bantuan mereka dan Katlyn juga sudah aku anggap sebagai adikku, jadi aku ingin ikut membantu."

"Kamu baik sekali. Terima kasih banyak, Iris." Ibu panti meraih Iris dalam pelukan. Erat sambil menangis. Dia tidak mampu menahan rasa sedih bercampur haru. "Ibu janji, Ibu akan usahakan ganti uangnya. Bagaimana pun, tidak seharusnya kami menggunakan uang hasil kerja kerasmu."

"Tidak apa-apa, Bu. Jangan pikirkan itu, yang penting Katlyn bisa selamat," ucap Iris sambil mengusap punggung wanita tua yang memeluknya.

Iris harap ini pilihan yang benar. Meski dia sendiri gelisah, memikirkan cara membayar sewa yang jatuh tempo hari ini, saat uangnya saja tidak ada.

***

Tengah malam menyambut Iris dengan angin yang menusuk hingga ke tulang. Sandalnya yang tipis tidak mampu melindungi kakinya yang mulai lecet, karena berjalan berkilo-kilo meter dari rumah sakit.

Kepalanya masih berdenyut, mengulang-ulang kalimat dokter tentang kondisi Katlyn yang masih kritis, namun dia terpaksa pulang karena raga dan dompetnya sudah benar-benar terkuras habis.

Sialnya, hujan mulai turun. Memperburuk suasana hatinya. Jalanan menuju apartemen menjadi lebih sepi dan gelap. Iris benar-benar nyaris tidak punya tenaga untuk melangkah lagi.

Langkahnya terseok-seok menyusuri trotoar jalan menuju apartemennya. Tidak ada seorang pun yang berkeliaran. Dia sendirian

Itu jelas menakutkan, tapi Iris yang terlalu lelah, tak memikirkan itu. Satu hal yang ada di pikirannya adalah pulang. Namun saat dia terus berjalan, matanya tanpa sengaja menangkap sosok tak asing beberapa meter di depannya.

"Silas?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pertemuan Kembali

    Dua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bencana Berjalan

    Perjalanan pulang ke wilayah pelabuhan benar-benar tidak menyenangkan. Iris mengalami hangover cukup parah karena baru pertama kali meminum alkohol dan ternyata tubuhnya menolak. Sepanjang perjalanan, dia hanya mampu bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Kepalanya masih berdenyut, meski sudah lebih baik setelah dia minum obat. Ketika mobil yang dikendarai Silas perlahan mendekati area gerbang rumah besar, Iris menghela napas lega. Dia ingin kembali tidur. Meski dia tahu jika matahari sudah mulai naik. Namun saat mobilnya berhenti di pelataran rumah, Iris yang mengangkat kepalanya dan hendak keluar, melihat Dominic yang tampak bergegas mendekati mobil. Termasuk beberapa staf rumah yang berkumpul, tapi ada yang berbeda kali ini. Iris tidak melihat mereka seperti hendak menyambut kedatangan Silas. Wajah mereka gelisah. Dominic juga terlihat lebih pucat. Pintu di sebelahnya dibuka pelan, dan seketika langsung menghentikan pengamatan Iris. Sebelum akhirnya d

  • Tertawan oleh Don Mafia   Yang Tidak Seharusnya Disentuh

    Beberapa jam kemudian. Silas berjalan di lorong usai melakukan pemeriksaan bersama dengan Victor. Lorong itu sepi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar. "Apa dia akan baik-baik saja?" Victor melirik ke arah Silas. Namun pria yang dilirik itu hanya terus berjalan. Tidak sedikit pun melambatkan langkahnya. "Siapa?""Iris. Kau tahu dengan jelas CCTV itu rusak."Langkah Silas terhenti. Kali ini, perkataan Victor berhasil membuatnya menoleh. "Lalu?""Kau berbohong."Silas berkedip. Ada jeda sesaat, sebelum dia akhirnya melanjutkan langkahnya lagi. "Aku hanya mengatakan ada CCTV di sana."Victor tersentak. Tubuhnya langsung membeku. Diam menatap punggung Silas yang mulai menjauh. Sebelum akhirnya, senyum tipis tersungging di bibir keriputnya. Kakinya kembali melangkah sejajar dengan pria itu. "Aku dengar dari Elliot, dia pernah berniat mencuri sesuatu di ruangan Dominic dan kau mengampuninya.""Ya."Kerutan di kening keriput Victor semakin jelas terlihat. Matanya melir

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memfitnah?

    Tak. Dua buah gelas minuman diletakkan Victor tepat di depan Iris dan Silas. Gelas itu berisi cairan berwarna merah yang Iris langsung tahu jika itu adalah wine. Dia tidak mengambilnya sama sekali, saat Silas dan Victor tampak dengan santai menenggaknya. "Maaf, aku tidak minum alkohol," ucap Iris saat Victor meliriknya dan gelas yang tak tersentuh di meja secara bergantian. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil jus—""Tidak usah."Iris spontan menggelengkan kepalanya saat Victor hendak memanggil anak buahnya yang berada di balik pintu ruangan. Membuat pria itu kembali menatapnya. "Aku tidak haus."Mata Victor bertahan beberapa detik padanya, sebelum akhirnya pria itu mengangguk. Membiarkan suasana canggung mengisi ruang kerja miliknya. Tidak seperti Dominic yang sangat ekspresif, Victor lebih tenang seperti Marcus. Hingga rasanya, Iris seperti terjebak oleh situasi, meski sebenarnya ini jauh lebih baik dibanding apa yang terjadi sebelu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pembuat Masalah

    "Awas!"Iris refleks berteriak. Tangannya mengambang di udara, tapi sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi selanjutnya, sebuah tendangan mendarat tepat di dada pria yang hendak memukul Silas. Tubuh itu seketika terjengkang dan membentur sebuah mesin permainan di belakangnya. Botol minuman meluncur dari tangannya dan pecah di lantai. Mulutnya tampak menyembur mengeluarkan darah, tapi pria itu masih sadar. Iris terkesiap. Tengkuknya langsung merinding dan matanya seketika tertuju pada Silas, pelaku yang menendang pria tadi. Suasana di kasino itu juga mendadak hening. Iris tidak sempat memerhatikan sekeliling, karena matanya dibuat terpaku pada cara Silas yang mencoba menghentikan kekacauan, dengan membuat kekacauan yang lebih besar. "Uhuk! KAU! BAJINGAN SIALAN!" Pria yang ditendang Silas batuk darah, tapi tetap berusaha berdiri sambil dibantu dua pengawalnya. Suasana kini tidak lagi terasa kondusif. Kemarahan pria tadi, tidak lagi tertuju pada permainan yang dianggapnya curang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kekacauan di Kasino

    "Huh?"Iris berkedip. Dia terbengong dan mendadak berhenti. Kepalanya kembali menoleh ke belakang untuk melihat wanita tadi sudah tidak ada. Lalu dia melihat wanita lainnya yang sudah sibuk dengan pria yang memangkunya. Matanya mengamati penampilan mereka yang sangat terbuka. Tampak memalukan untuk dilihat. "Kau mucikari? Kau menjalankan bisnis prostitusi?" tanya Iris, yang kini perhatiannya kembali tertuju pada Silas. Pria ikut berhenti dan meliriknya. "Mereka membutuhkan pekerjaan."Mulut Iris seketika tekunci rapat. Dia menatap Silas dengan wajah tak percaya yang bercampur kaget. "Menjadi pelacur adalah pekerjaan bagimu? Kau mengeksploitasi mereka, kau sadar?" Suara Iris terdengar lebih seperti bisikan, tapi penuh penekanan. Rahangnya tampak menegang karena kesal dengan apa yang dikatakan Silas. Selain menjijikkan, baginya itu adalah hal yang paling tidak bermoral dan merendahkan bagi seorang wanita. Namun Silas justru dengan santai menariknya dan kembali melanjutkan langkahny

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status