LOGIN
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."
Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di pintu kaca menghentikan niatnya. Karena pelanggan lain rupanya telah tiba. Iris menoleh cepat dan tersenyum. Membuka mulut untuk menyapa dengan ceria seperti biasa, tapi kata-katanya tertahan di lidah saat matanya melihat kehadiran seorang pria berkemeja abu dengan tiga kancing terbuka, dan di belakangnya ada pria lain menyusul dengan kemeja lebih rapi berwarna hitam. Kehadiran keduanya membuat tubuhnya membeku beberapa detik. Dia nyaris tak berkedip saat matanya terus memerhatikan pria berkemeja abu yang menyugar rambutnya santai. Hingga membuatnya agak berantakan. Suara detak jantungnya meningkat tanpa bisa dikontrol. Sensasi aneh di perut yang terus naik mencapai dada, membuat rasa panas perlahan menjalar di kedua pipinya, ketika mata mereka bertemu. Tampan. Mata tajam itu menatapnya, hanya sepersekian detik sebelum pria itu berpaling dan berjalan menuju meja kosong di pojok ruangan. Gerakannya yang halus dan elegan, tidak bisa tidak menarik perhatian Iris. Dia memerhatikan caranya yang duduk dengan salah satu kaki menyilang, maupun gayanya yang terlihat bossy. Selalu begitu, atau itulah yang terjadi setidaknya dalam beberapa hari ini. Pelanggan baru yang biasa datang di waktu jam makan siang, duduk di sudut ruangan yang jauh dari perhatian orang, tapi jelas daya tariknya terlalu sulit diabaikan. Wajahnya mencolok. Bahkan hanya dengan kemeja abu dan celana hitam ala pegawai korporat, kehadirannya sudah cukup mampu untuk membuat mata para wanita melirik dua kali. Seperti yang juga terjadi padanya sekarang. Beberapa pelanggan, bukan hanya Iris, memerhatikannya diam-diam, bahkan terang-terangan. "Nona?" Iris terbengong. Matanya tidak berpaling sedikit pun dari meja pojok. Dia tidak menyadari pria lainnya, yang tadi datang bersama pria itu sedang memanggilnya. "Permisi?" Panggilan itu tidak digubris karena Iris masih dalam posisinya, membuat si pria berkemeja hitam mengernyit dan spontan mengikuti arah pandangnya. Sadar panggilannya tak juga diindahkan, pria itu mencondongkan tubuhnya dan membuat bibirnya lebih dekat ke telinga Iris. "PERMISI, NONA. SAYA MAU PESAN." "AKHH!" Iris spontan menjerit dan mundur ketika mendengar suara yang terlalu dekat di telinganya. Matanya melotot pada pria yang menatap datar seakan tindakannya tidak bersalah. Napasnya terengah-engah seperti baru saja lari maraton. Bibirnya nyaris saja mengumpat, jika tidak ingat yang di depannya adalah pelanggan. "Elliot, ada apa?" Suara lain terdengar, menarik perhatian dan ketika dia menoleh, dia melihat pria yang berkemeja abu yang tadi dilihatnya, rupanya tengah memerhatikan mereka. Sepertinya teriakannya cukup untuk menarik fokus para pelanggan. "Tidak ada apa-apa, Tuan. Jangan khawatir," jawab pria di depannya tanpa mengalihkan pandangan. "Apa Anda sudah sadar? Saya ingin memesan." "Huh?" Matanya berkedip beberapa kali. Tampak seperti mencoba menarik kesadarannya kembali. Sampai akhirnya, perhatiannya kembali beralih pada pria di depannya—Elliot—dengan kikuk dan canggung. "O-oke, maaf, Tuan, Anda mau pesan apa?" "Grilled salmon. Club sandwich. Satu espresso, dan satu americano." Iris mengangguk. Mencatat segera pesanan lewat mesin kasir meski terlihat tangannya sedikit tremor. Dia mengulang perkataannya, memastikan tidak ada kesalahan. "Anda mau bayar cash atau kartu?" Elliot tidak banyak bicara dan segera mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam. Iris mengambilnya dan sekilas melihat nama yang tercantum di sana. Silas Montclair. Alisnya mengernyit sesaat. Dia kira, tadi dia mendengar nama pria di depannya ini adalah Elliot. Siapa Silas? Tatapannya pun berpaling sesaat pada pria yang duduk di sudut ruangan sambil bermain gadget. Pria yang sejak awal menarik perhatiannya, tapi dia tidak pernah benar-benar tahu siapa namanya. Mungkinkah dia yang bernama Silas? "Nona? Ada masalah?" tegur Elliot. Iris tersentak dan menoleh saat dirinya kembali melamun. "Ah, tidak. Maaf, Tuan." Tak mau membuat pelanggan menunggu, dia segera menggesek kartu hitam itu dan menyelesaikan pembayaran. Lalu memberikannya kembali pada Elliot dengan senyum ramah, yang tampak seperti dipaksakan. "Terima kasih. Kami akan segera memproses pesanan Anda. Mohon ditunggu, Tuan." Elliot tidak menjawab. Hanya mengangguk dan pergi. Mata Iris mengikuti langkahnya yang menghampiri meja pojok. Bergabung dengan pria sebelumnya. Saat Iris fokus memerhatikan dan menebak hubungan keduanya, sebuah tepukan di pundak menyentaknya. "Hei! Kau melamun? Apa yang kau lihat?" Tepukan itu cukup membuat Iris berjingkat kaget dan mengelus dada. Hingga dia memelototi seorang wanita berambut pendek yang tersenyum penuh rasa penasaran. Iris berdecak kesal. "Lona! Kau membuat jantungku hampir copot!" Bukannya merasa bersalah, wanita itu malah tertawa kecil. "Kau terlihat melamun. Lihat siapa memangnya? Ah, dua pria tampan itu datang lagi?" "Aku tidak melamun. Lona, jangan bicara terlalu keras." Iris mengalihkan perhatiannya pada rekan kerjanya dan menariknya agak menjauh dari kasir. "Kamu sudah selesai istirahat?" "Sudah, sekarang giliranmu. Pergilah, biar aku yang jaga di sini." Iris melirik temannya dan dua pria yang sama, yang kini masih menunggu pesanan—secara bergantian. "Sebentar lagi. Aku harus mengantar pesanan untuk mereka." "Tidak masalah, aku saja yang urus mereka." "Tidak, aku yang akan mengantarkannya," tolak Iris bersikeras, membuat rekan kerjanya spontan mengangkat alis dan tampak menunjukkan kecurigaan. "Wow, itu aneh. Biasanya kau paling semangat untuk istirahat makan siang. Ada apa ini? Jangan bilang, kau tertarik dengan salah satu dari mereka? Mereka memang tampan sih." Iris langsung membuang muka dan mendengkus. Menghindari tatapan Lona yang kini menatapnya dengan seringai menggoda. "Apa sih? Tidak, aku hanya ingin melakukannya saja. Memang salah kalau aku bekerja dengan baik?" "Kau tidak bisa menyembunyikan ekspresimu, Iris. Lihatlah pipimu! Ada tomat di sini. Siapa yang kau suka? Silas atau Elliot?" Iris berdecak dan menyingkirkan tangan Lona yang menusuk-nusuk pipinya. Tampak gangguan itu tidak akan benar-benar berakhir, tapi saat mendengar pertanyaan terakhir rekannya, dia spontan mengangkat alis. "Kau tahu nama mereka? Bagaimana mungkin?" "Serius kau bertanya begitu? Mereka sudah berkunjung ke sini hampir seminggu. Apa kau hanya fokus pada wajahnya tanpa mengetahui namanya? Luar biasa, kau sepertinya benar-benar terhipnotis." Iris bisa merasakan, panas di pipinya naik hingga telinga. Kata-kata Lona membuatnya gerah dan panas sendiri, tapi sumpah, dia memang tidak pernah benar-benar memerhatikan secara detail. Pekerjaan dan pelanggan lain selalu mengalihkan fokusnya. "Diam, Lona, satu-satunya yang aku tahu hanyalah bekerja. Sudahlah, aku harus mengantar pesanan." Tak ingin berlama-lama di sana, Iris memilih pergi meninggalkan Lona di kasir. Dia mengabaikan suara rekannya yang memanggil dan memilih berjalan ke dapur. Iris mengambil pesanan untuk dua pria itu. Rasa gugup tiba-tiba menyerang saat perlahan langkahnya mendekati meja Elliot dan Silas. Tidak terdengar ada percakapan antara keduanya. Silas tampak sibuk dengan gadget dan Elliot duduk diam seperti patung. Suasana yang terasa aneh bagi Iris, sepertinya tidak berlaku bagi keduanya. Iris menenangkan diri dan memasang senyum. Bersiap mengantarkan makanan, tapi saat hanya beberapa langkah lagi, dia merasakan sepatu heelsnya patah. Langkahnya mendadak oleng. "Eh!" Keseimbangannya goyah dan dia tanpa sengaja melempar nampan berisi makanan dan minuman ke udara, saat tubuhnya sendiri hendak jatuh. Kejadian begitu cepat. Iris yang menyadari kekacauan akan terjadi, spontan menutup matanya pasrah. Namun, beberapa detik berlalu, tidak terdengar suara piring pecah atau rasa sakit bokongnya mencium lantai. Satu-satunya yang terdengar adalah suara orang-orang yang terkesiap. "Nyaris saja." Dengkusan kasar seorang pria terdengar, memaksa Iris kembali membuka mata dan dia dibuat melongo ketika melihat Silas berdiri sambil menahan pinggangnya dan memegang nampan dengan keseimbangan sempurna. Tanpa ada makanan atau air yang tumpah. "Anda tidak apa-apa, Tuan?" Elliot bertanya. "Tidak. Semuanya aman." Silas meletakkan nampan dengan elegan serta melepaskan pegangan di pinggang Iris, membuatnya bisa berdiri kembali tanpa harus merasa sakitnya mencium lantai. Iris yang tersadar, menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga sembari meringis malu dan sedikit menunduk. Sadar kalau dia nyaris membuat kesalahan fatal. "Terima kasih sudah menolong saya, Tuan, dan maaf atas yang terjadi barusan." "Anda hampir mencelakai Tuan Silas. Kecerobohan seperti ini harusnya bisa diantisipasi!" tegur Elliot. Nada suaranya datar, tapi tajam, cukup untuk membuat Iris menyadari kesalahannya dan menunduk dalam. Atmosfer ruangan benar-benar berubah tidak enak. Iris bisa merasakan dirinya diperhatikan orang-orang, tapi dia tidak bisa membela diri. "Saya salah, Tuan. Tolong maafkan saya." "Tidak perlu seperti itu, Elliot. Ini hanya kesalahan kecil." "Tuan—" "Sstt." Silas mengangkat tangan. Iris mendongak kaget. Alisnya berkerut ketika dia bertatapan dengan Silas yang tersenyum tipis padanya. Pria itu tidak menghakimi tindakannya. Tidak menegur dan justru terkesan membelanya. Sampai Iris yang awalnya bingung dan takut, merasa sedikit lega. Berpikir jika Silas mungkin memahami maksudnya dan mau memaafkan kecerobohan yang tidak sengaja. "Tuan, saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, Anda sangat ba—" "Tapi..." Silas menyela. Melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Iris dari atas sampai bawah. Tubuhnya sedikit condong ke depan. "Kalau mau pakai trik lama, setidaknya jangan terlalu jelas." "Apa?"Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria
Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan
"Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati
"Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria
Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu
'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka







