Share

Tempat Baru

last update publish date: 2026-06-22 20:45:03

Mobil yang ditumpangi Iris berhenti, tepat di sebuah jalan beralaskan batu alam berwarna abu-abu muda yang membentang dari halaman depan hingga teras. Permukaannya kasar dengan guratan alami yang membuatnya tampak mewah tanpa kesan mencolok.

Dua orang pria berseragam hitam mendekati mobil dan membuka pintu dari kedua sisi. Iris keluar bersama Silas dan yang lain.

Matanya secara acak mengamati sekeliling sebelum akhirnya terperangah menyaksikan apa yang ada di depan matanya.

Sebuah rumah besar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kucing Betina

    "Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lupakan Omong Kosong

    Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Apa yang Terjadi denganmu?

    'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Fakta atau Opini?

    Di ruang makan. Meja makan malam kali ini terasa canggung dan berbeda. Iris merasa setiap gerakannya seakan diawasi. Dia hanya bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan melirik diam-diam Sebastian, Silas dan Elliot. Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, tapi Iris bisa merasakan ketegangan yang terlalu nyata. Dia mengunyah makanannya dengan lambat. Sampai suara Sebastian memecah kecanggungan. "Jadi kakimu patah setelah mencoba menyelamatkan diri?" Gerakan tangan Iris yang hendak menyuapkan makanan, seketika tertahan di udara. Dia melirik Sebastian yang menatapnya. Mulutnya yang terbuka, siap menerima makanan, seketika berhenti dan meletakkan sendok kembali. Dia dengan ragu mengangguk pelan sambil melirik Elliot dan Silas yang fokus makan tanpa menoleh, "Ya, dokter bilang... ini tidak permanen." "Kau ceroboh." Sebastian mengunci tatapannya. Membuat Iris merasakan kegelisahan di tempat duduknya. Dia ingin menjawab kalau dia hanya tida

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Main

    Sebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memilih Jalan Takdir

    "Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status