Share

Sisa Harga Diri

last update publish date: 2026-05-06 17:14:42

"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"

Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian.

Wanita berambut hitam panjang dengan senyum ramah di bibirnya, tapi sorot mata itu terlihat sedikit merendahkan. Cukup jelas untuk Iris lihat.

"Mom, hentikan," tegur seorang wanita muda yang duduk di sebelah Iris. Kerutan ketidaknyamanan terukir jelas di wajah tenangnya.

"Lho, apa salahnya, Elara? Mommy hanya bertanya dan ingin tahu."

Iris melirik ke arah Elara tanpa sadar. Melihat wanita itu menunjukkan ketidaksenangan. Seakan ikut tersinggung dengan pertanyaan ibunya sendiri.

"Kak Elara sensitif sekali. Tidak ada yang salah dari pertanyaan Mommy. Kita juga penasaran. Wajar, kan?" Lyra, wanita yang sejak tadi memusuhi Iris, mendelik.

"Lyra—"

"Cukup, cukup!" Octavian menyela. Menghentikan perdebatan antara Elara, Isolde dan Lyra. "Tidak enak berdebat di meja makan. Apalagi di hadapan Tuan rumah. Sebastian, Vivienne, maafkan kami."

Kerutan kecil muncul di kening Iris. Mendengar permintaan maaf Octavian, dia merasa aneh. Pria itu harusnya meminta maaf secara langsung padanya, bukan pada orang lain. Dia yang sejak tadi direndahkan, tapi Octavian bahkan tidak menatapnya.

Pandangannya hanya tertuju pada Sebastian dan Vivienne, orang tua Silas yang bahkan saat ini tampak acuh tak acuh.

"Bukan salah kalian. Ini harusnya menjadi makan malam dua keluarga." Sebastian menanggapi. Tatapannya tertuju pada Iris. Tajam dan menusuk. "Silas tidak memberitahu kami dia akan membawa orang lain."

Iris terhenyak. Dia tidak menatap Sebastian, tapi sadar jika pria paruh baya itu tidak menginginkan kehadirannya. Ayah dan anak ternyata sama saja.

Sementara Silas, pria yang sejak tadi diam dan hanya mengamati setiap omong kosong, meminum air di gelasnya santai.

Tatapannya lurus ke depan. Tepat tertuju pada Sebastian, sang ayah yang menatap penuh peringatan. Sebelum tangannya meletakkan gelas itu ke meja dengan sedikit tekanan. Cukup untuk membuat suara keras di meja, hingga isinya nyaris tumpah. "Ini rumahku juga. Aku tidak perlu izin untuk membawa siapa pun."

"Silas, jaga bicaramu! Dia Ayahmu."

Vivienne menegur, tapi Silas tampak tak acuh atau membalas perkataannya. Namun gara-gara itu, tensi di meja makan yang sempat turun, kini kembali naik.

Ini bukan makan malam.

Satu kesimpulan yang Iris tarik setelah melihat tensi yang tak biasa. Ini terasa lebih seperti medan tempur dari ego dan kekuasaan. Dia... hanyalah variabel yang tak seharusnya ada, jika Silas tidak menyeretnya masuk.

"Sudah, tidak perlu diperpanjang. Kita nikmati makan malamnya."

Sebastian mengambil alih. Memutus perdebatan di meja makan. Menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan, tapi ketegangan masih terasa.

Tatapan diam-diam yang ditujukan ke padanya, sorot mata permusuhan Lyra bahkan keheningan menyesakkan, terasa seperti ingin mencabik-cabik Iris dari segala sisi.

Saat piring kosong di depannya diisi oleh daging bakar mewah dengan aroma nikmat dan tingkat kematangan sempurna, yang harusnya membuat lidahnya tergoda, justru kini tampak tak menarik.

Iris bahkan tidak cukup yakin apakah dia akan bisa menghabiskan sesuap daging itu. Meski sejak tadi dia belum makan. Dia hanya menggenggam pisau dan garpu sambil memandang daging itu tanpa minat, ketika orang lain mulai menikmati hidangan.

Mereka masih bisa tetap makan dengan tenang dan anggun, seolah-olah perdebatan sebelumnya tidak pernah ada.

Dadanya tiba-tiba terasa panas. Kernyitan muak terukir di wajahnya.

"Kenapa tidak dimakan? Apakah ini pertama kalinya bagimu? Oh, atau kau tidak bisa memotongnya?"

Iris menoleh ke asal suara. Dia melihat Lyra memerhatikannya. Tepatnya menatap dagingnya yang masih utuh, lalu menahan senyum yang terlihat seperti sebuah ejekan.

Bibir Iris menipis. Dia menggenggam erat garpunya. "Saya bisa."

Iris mengabaikan semua orang dan mencoba fokus pada dirinya sendiri. Dia memegang pisau dan garpu. Berusaha memotongnya, tapi tangannya gemetar.

Perasaan tujuh pasang mata yang menatapnya, membuat dia tertekan. Hingga sialnya, garpu yang harusnya menahan daging itu malah meleset. Saat daging terpotong, Iris tanpa sengaja menjatuhkan garpu dan dagingnya jatuh ke lantai.

Dentingan logam itu cukup untuk menarik perhatian seluruh orang di meja.

Wajahnya memucat. Dia terdiam sesaat, sampai terdengar suara cekikikan kecil di depannya. Itu Lyra.

Iris mengalihkan pandangannya dan menyadari semua orang di meja makan meliriknya. Mereka berhenti makan. Menatap dengan tatapan yang menunjukkan ekspresi terganggu, sinis, tapi ada yang juga tidak peduli.

Silas?

Tidak ada yang bisa diharapkan darinya. Pria itu diam menatapnya, seakan insiden itu lebih menarik daripada rasa malunya.

Iris menunduk dalam-dalam. Menahan bibirnya untuk tidak mengutuk atau air matanya yang nyaris tumpah. Dia benar-benar ingin pergi dari sana.

***

Perjalanan pulang kali ini terasa lebih seperti sebuah harapan. Untuk pertama kalinya Iris merasa sedikit lega, ketika mobil yang dikendarai Elliot memasuki pelataran manor milik Silas.

Manor suram, yang ironisnya menjadi tempat bagi Iris untuk melarikan diri dari acara makan malam yang menguji mental.

Begitu mobil berhenti, dia tidak berpikir dua kali untuk langsung keluar dan berjalan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Mengejar Silas yang sudah berjalan lebih dulu dengan langkah lebarnya.

"Selamat datang kembali, Tuan, Non—"

Iris melewati pelayan yang menyambutnya. Dia terus berjalan dengan mata yang memerah. Mengabaikan orang-orang yang berpapasan dengannya. Tanpa senyum, bahkan tanpa menoleh.

Sampai saat mereka sampai di ruang tengah, tangannya terulur meraih lengan Silas. Dia menggenggamnya. "Aku mau bicara."

Langkah Silas terhenti. Pria itu menoleh. Menatap tangannya yang masih menggenggam erat lengan itu. Tanpa membalikkan badan, Silas menurunkan tangan Iris. Memaksa Iris untuk maju dan berdiri di hadapannya hanya agar bisa berhadapan.

Silas tidak bertanya, pria itu diam. Menatapnya dengan kedua tangan menyilang di dada, seakan menunggu.

"Kau tahu itu akan terjadi kan? Dan kau tetap membawaku ke sana?" tanya Iris dengan suara yang sedikit tercekat. Dadanya naik turun. Dia mati-matian berusaha menahan untuk tidak meledak.

"Kau ingin aku membelamu?"

Pertanyaan balik Silas menyentuh titik harga diri Iris. Hingga dia membatu di tempat. Bukan karena pertanyaan Silas menyentuh inti pertanyaannya, melainkan karena cara pria itu bicara seakan-akan membelanya adalah tindakan yang harus dilakukan.

Iris berkedip. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Menetes membasahi pipinya hingga berjejak.

Bibirnya sedikit bergetar, tapi kedua tangannya mengepal. Lalu sudut bibirnya tertarik. Membentuk senyum yang penuh ironi.

"Kau membawaku ke dalam masalahmu. Menjadikan aku umpan dan kau berlepas tangan. Kau tidak pernah peduli dengan orang lain, kan?"

Silas tidak menjawab. Tidak bergerak atau pergi. Bahkan tak berkedip saat melihat air mata Iris jatuh. Hanya langkahnya mendekat. Pelan dan terukur.

Gerakan tenang, tapi berhasil meningkatkan kewaspadaan Iris. Namun sebelum Iris menghindar, tangan Silas dengan lancang merengkuh punggungnya. Menarik hingga mereka menempel, lalu tangan itu terus turun seperti sedang mengusap.

Tubuh Iris menegang. Berusaha mendorong saat tangan Silas semakin turun, tapi dia tidak berhasil. Pria itu menyentuh bokongnya. Menekannya, bukan meremas, tapi cukup membuat dada Iris semakin panas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tertawan oleh Don Mafia    Jangan Terlalu Baik

    Alih-alih pergi ke kamar atau beristirahat, Iris memilih berjalan keluar manor. Tepat menuju halaman belakang. Dia tidak ke sana untuk melampiaskan kekesalannya dengan berlatih pedang, melainkan hanya duduk di sebuah bangku taman sambil terisak pelan. Jawaban dingin Silas membayanginya kembali. Membuat rasa kesal di dadanya berubah menjadi sesak yang sulit dihilangkan. Kekhawatiran tentang orang tua Lona yang dalam masalah pun, tidak bisa lenyap begitu saja. Meski sialnya dia tidak punya daya atau upaya untuk membela mereka. Ironisnya, di saat-saat terakhir Lona, temannya sempat menyelamatkannya. Namun kini, dia justru tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang tuanya. Kepalanya perlahan tertunduk. Isak tangisnya terdengar semakin jelas. Ada penyesalan dan perasaan kesal karena ketidakberdayaannya. "Lona... maafkan aku," gumamnya lirih. Suara Iris terdengar bergetar. Dia benci dirinya yang tidak mampu melakukan sesuatu. Dia benci memikirkan Silas begitu egois. Di saat pria

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menolak Membantu

    Dua hari berselang. Iris sudah kembali berjalan. Namun kali ini dia diawasi agar tidak melakukan aktivitas berat dan hanya diizinkan jalan-jalan. Manor jelas adalah tempat membosankan. Tidak seperti di pelabuhan, di mana dia bisa banyak berinteraksi, sedangkan di sana kebanyakan hutan. Pengalaman masa lalu membuatnya tidak bodoh untuk keluar dari tempat itu. Pergi ke kota secara sembarangan juga berbahaya. Dia tidak akan melakukannya. Tidak setelah kejadian terakhir kali. Alhasil, meski sebenarnya Iris sudah sangat bosan, dia akhirnya memilih untuk menghabiskan waktunya ke ruang perpustakaan. Dia ingin mencari suasana baru dan jika beruntung, dia mungkin bisa menemukan informasi mengenai keluarga Valenfort. Walau kasus telah dianggap usai dan Valenfort tidak dihukum karena kurangnya bukti, tapi Iris tetap tidak bisa diam saja. Apalagi Lona, teman dekatnya sampai menjadi korban. Tangan Iris mengepal tanpa sadar dan bibirnya mengetat. Dia ingin keadilan untuk Lona. Kakinya melan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kita tidak Sedekat Itu

    "Anda perlu makan lebih banyak, Nona, dan ikuti saran dokter. Jangan beraktivitas terlalu banyak."Berta mengaduk makanan Iris dan hendak menyuapinya. Namun apa yang dilakukannya malah dibalas ekspresi cemberut Iris. Sampai tanpa aba-aba, piring di tangan Berta berpindah cepat ke pangkuannya. "Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tahu dan aku mendengar." Iris mengambil garpu di tangan Berta. Dia menyantap makanan itu dengan lahap. Energinya sudah habis duluan oleh kegiatannya berlatih pedang tadi. Berta yang melihatnya, hanya menghela napas kasar. Dia tersenyum lelah. "Anda itu sangat keras kepala, Nona, tapi saya senang Anda tidak apa-apa. Anda tidak tahu betapa khawatirnya saya tadi."Iris mendengarkan perkataan Berta, tapi dia tidak berhenti menyantap makan malamnya. Meski kata 'khawatir' terdengar cukup mengganggunya. "Kau berlebihan. Kau harusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri.""Berlebihan? Anda jatuh berkali-kali seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak khawati

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kucing Betina

    "Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lupakan Omong Kosong

    Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Apa yang Terjadi denganmu?

    'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Menjadi Sandera

    Suasana mendadak hening. Ketukan sepatu Silas berhenti. Elliot juga tak bersuara. Hanya detak jam tangan yang terdengar dan jelas, ini bukan keheningan yang Iris inginkan. Iris menunduk semakin rendah. Tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Silas atau Elliot, tapi matanya melihat seb

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”

  • Tertawan oleh Don Mafia   Perlawanan

    "Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status