MasukIris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat.
“Aku tidak memanggilmu,” gumamnya tanpa menoleh. Tangannya beralih mencengkeram gaunnya. Membiarkan jarinya yang terluka dan berdarah saat menggaruk tepi jendela, mengotori pakaian mahal itu. “Aku juga tidak butuh undangan.” Iris terkesiap saat suara itu terasa begitu dekat dengan telinganya. Hingga memaksanya menoleh hanya untuk menyadari wajah mereka terlalu dekat. Rahangnya menegang, tapi Iris tidak bisa berhenti menatap wajah angkuh dengan luka di pipi yang dibiarkan terbuka. Luka yang berhasil dibuatnya tampak seperti sebuah ukiran di atas wajah sempurna itu. Tidak ada yang bergerak atau mundur. Iris tetap dalam posisinya, sampai dia merasakan Silas semakin dekat. Napasnya tercekat saat dia mulai merasakan tubuhnya perlahan terdesak ke tepi jendela. Iris bisa melihat lewat jendela, dia berada di lantai atas. Entah berapa meter, tapi satu langkah salah, tulangnya bisa remuk. “Kalau kau ingin membunuhku, lakukan. Berhenti bermain.” Tanpa memedulikan posisi Iris, Silas tetap mendekat. Sampai tiba-tiba, suara jendela yang ada di belakangnya berderit. Tertutup dan angin malam tidak lagi bisa Iris rasakan. Saat itu, Silas juga mundur. Memberi ruang untuk Iris kembali menarik napas. Tubuhnya sedikit oleng. Kakinya terasa lemas seolah tak ada tenaga dan Silas hanya diam mengamati. Iris mencoba menegakkan tubuhnya lagi. Mendongak hanya untuk menyadari kalau tingginya sebatas bahu Silas, tapi sebelum dia berhasil menenangkan diri, pria itu mencengkeram rahangnya. Kuat, tapi tidak menyakiti. Namun bahkan kedua tangan Iris tidak mampu untuk menggeser lengan Silas. Tak peduli seberapa banyak tenaga yang dia keluarkan untuk menyingkirkan tangan kurang ajar dari wajahnya, dia tetap kesulitan. Silas justru terlalu santai membolak-balik wajahnya. “Lepas—“ “Tidak. Kau akan tetap hidup. Sebagai wanitaku.” “Apa?” Pupil matanya melebar. Gerakan tangannya yang mencoba melepaskan lengan Silas terhenti. Telinganya pasti salah dengar. Dia yakin itu. “Kau tidak mungkin serius.” Silas tidak menjawab, tapi pria itu melepaskan rahangnya. Bukan mundur, tangan itu justru bersandar di tembok, tepat di sebelah Iris. Seolah-olah pria itu berusaha mengurungnya. Ruangan mendadak menyempit. Dia kesulitan bernapas seakan tekanan udara di sekitarnya menurun drastis. Detik itu pula, Iris menyadari perkataan Silas tidak main-main. Sialnya, dia terlambat menyadari jika para pelayan telah meninggalkan ruangan dan dia hanya tinggal berdua dengan Silas. Tanpa ada cara melarikan diri. Dia spontan menggigit pipi bagian dalamnya. Sulit baginya membayangkan menjadi wanita milik Silas, tanpa teringat pada apa yang telah dirinya lalui. “Aku menolak. Aku tidak mau jadi wanitamu.” Iris melihatnya bergeming. Tidak bereaksi saat dia menolaknya terang-terangan. Silas selalu terlihat tenang. Ketenangan yang yang membuat Iris tidak pernah paham apa yang ada di kepalanya saat ini. Setidaknya, sebelum kalimat Silas berikutnya berhasil mengirimkan mimpi buruk. “Katlyn, Jack, Amber, Sofia—aku yakin kau mengenal mereka.” Napas Iris tercekik. Wajahnya berubah menjadi lebih pucat. Nama yang Silas sebut, mustahil dia tidak mengenalnya. Mereka adalah anak-anak panti yang paling dekat dengannya, yang sudah dia anggap keluarga. Iris menggeleng. Napasnya mulai memburu. “Kau mengancamku dengan anak kecil tak berdosa?” Suara Iris terdengar putus asa yang bercampur rasa tak percaya juga kemarahan. Genangan air mata terlihat menumpuk di pelupuk matanya. Namun dia tidak membiarkannya jatuh. “Itu pilihanmu.” Kepala Iris tertunduk. Giginya saling bergemeletuk. Pilihan. Sudut bibirnya perlahan tertarik. Membentuk senyum getir saat kepalanya kembali terangkat. Dia menatap Silas sekali lagi dengan mata yang memerah. Sementara Silas masih sama. Tidak terusik. Semua sumpah serapah yang tertahan di ujung lidahnya, tertelan kembali tanpa sempat keluar. “Kau tidak pernah memberiku pilihan.” *** Beberapa hari berlalu. Setelah keputusan sepihak dan pilihan yang sebenarnya tidak memiliki pilihan, Iris dirongrong oleh tumpukan pembelajaran etika oleh Silas. Waktunya terkuras habis sepenuhnya. Dia nyaris tidak bisa istirahat. Bahkan saat malam tiba. Para pelayan mendandaninya. Mereka memakaikan gaun panjang tanpa lengan dan merias wajahnya. Iris tidak diberikan celah untuk memberontak atau menolak. Silas, lewat Elliot, memberitahu jika mereka akan pergi ke suatu tempat, tapi Iris tidak mengira dia akan didandani. Ketika dia selesai didandani, para pelayan membawanya keluar ruangan. Turun. Hingga dia mendapati kehadiran Silas yang berdiri bersama Elliot di depan pintu keluar. Silas, pria itu berdiri tegak dengan jas menggantung di kedua bahunya yang tegap. Kemeja putih dan rompi hitam yang membalut tubuhnya dibiarkan terekspos. Tiga kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka. Memberi kesan berantakan, tapi juga menawan. Penampilannya jauh berbeda dari Elliot yang lebih rapi dan tertutup. Iris terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya dia membuang muka. Menolak menatap terlalu lama. Menyisakan keheningan yang canggung, setidaknya sampai suara deheman Elliot memecahnya. “Apa semuanya sudah selesai?” “Sudah, Sir Elliot. Nona Iris sudah siap.” Iris melirik sekilas Elliot yang mengangguk dan berjalan keluar lebih dulu. Sementara Silas masih diam di tempatnya. “Apa yang kau tunggu?” Silas menggerakkan kepalanya ke arah luar. Isyarat yang tentu Iris mengerti. Dia mengepalkan tangannya dan melangkah keluar, tapi sebelum benar-benar keluar, langkahnya terhenti tepat di depan Silas. Iris melirik pria itu dengan bibir menipis. “Aku melakukan semua ini bukan untukmu.” Tanpa melihat reaksi Silas, Iris segera melangkah tergesa-gesa keluar dari rumah yang selama ini mengurungnya. Langit malam menyambutnya. Pemandangan asing yang tak pernah dia lihat jelas, kini bisa dilihatnya. Rumah yang Iris tinggali saat ini rupanya bukan rumah biasa, itu adalah sebuah manor dengan tembok yang mengelilingi dan pohon tinggi yang sebelumnya dia lihat dari kamarnya. Tapi tetap, dia tidak tahu di mana dirinya saat ini. “Nona, masuklah.” Teguran Elliot menyadarkannya. Iris mau tak mau menoleh. Melihat pria itu berdiri dengan wajah datar dan memegang pintu mobil. Dia cukup terganggu saat Elliot memanggilnya dengan sebutan ‘Nona’. Seakan dia memang layak dipanggil demikian bukan karena dia Iris Hayes, tapi karena dia sekarang adalah ‘wanita Silas’. Iris masuk dan duduk. Tepat di sebelah Silas yang sudah lebih dulu masuk. Tidak ada percakapan sama sekali. Dia memberi jarak dan memilih menatap keluar jendela. Saat mobil mulai melaju, meninggalkan area manor, saat itulah Iris bisa melihat sepanjang jalan hanyalah pepohonan. Tidak ada rumah. Penerangan hanya berupa lampu yang ada di setiap sisi jalan. Selain di sana, semuanya gelap. Perjalanan terasa sangat amat menyesakkan dan Iris benar-benar tenggelam dalam keheningan, sampai setelah hampir setengah jam berlalu, mobil itu berhenti. Iris terdiam dan akhirnya, dia dipaksa mengalihkan pandangan ke depan. Bukan lagi ke kaca jendela, tapi sebuah pagar rumah, di mana seorang pria berusaha membuka lebar-lebar pagar itu agar mobil yang mereka tumpangi bisa masuk. Mobil kembali berjalan, sebelum akhirnya benar-benar berhenti tepat di depan pintu utama. “Rumah siapa ini?”Keesokan malamnya. Iris akhirnya nekat untuk tetap pergi bekerja. Dia berdiri di depan cermin ketika melihat penampilannya. Jam di dinding tampak menunjukkan pukul delapan tiga puluh malam. Pintu ruangan terbuka dan Lona masuk dengan langkah santai. Menatap Iris yang baru selesai merapikan diri. "Iris, kau benar-benar serius mau kerja sekarang? Kau yakin?"Iris mendekat sambil tersenyum kecil. Tangannya menepuk pundak Lona. "Kau bicara seperti kau lupa, kita ini pernah shift malam bersama. Ini hal biasa bagi kita, jangan terlalu serius."Meski Iris menjawab demikian, jauh di lubuk hatinya, dia merasakan ketakutan. Kekhawatiran jika ada sesuatu yang tidak dia duga. "Aku tahu, tapi kondisinya beda sekarang. Gimana kalau kau tidak usah bekerja di sana? Aku coba bicara dengan manajer kafe lagi. Siapa tahu—""Tidak. Tidak, Lona." Iris menggeleng cepat. Memotong ucapan Lona. "Aku ingin sesuatu yang baru dan kurasa, aku menemukannya di pekerjaan ini."Dia menolak untuk bicara jujur, jika
"Iris, kau tidak apa-apa?"Lona mendekat. Dia merangkul bahu Iris dan mencoba menyandarkannya di sofa. "Hei, tenanglah. Bernapaslah perlahan. Tidak ada apa-apa. Tarik napas dan buang."Lona sedikit menggeser tubuhnya. Memberi ruang bagi Iris yang tampak memegangi dadanya kesakitan. Wajah pucat dan menahan sakit tampak jelas terlihat. Namun dia tidak berhenti menenangkannya. Sampai perlahan, napas Iris mulai beraturan. Raut wajahnya yang menahan sakit, mulai rileks. Lona bisa melihat pegangan tangan Iris tidak lagi mencengkeram dadanya. Spontan, dia menggenggam tangan itu dan meremas pelan. "Kau baik-baik saja. It's okay, Iris," ucap Lona dengan nada lembut. Tangannya mengusap kening Iris yang tampak berkeringat. Mata itu terpejam beberapa saat, sebelum kembali terbuka. Iris tidak langsung bicara. Hanya menatap lekat Lona. Menyadari keadaan membaik, Lona melepaskan genggaman tangannya. "Tunggulah, aku akan membuatmu minum."Lona berdiri dan hendak beranjak ke dapur, tapi belum semp
"Aku akan membayar biaya pengobatan putramu."Silas menatap pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya. Meja kaca panjang menjadi pembatas. Pandangan Silas lurus. Memindai penampilan rapi pria tersebut nyaris tanpa kedip. Sesuatu yang melekat di tubuhnya sempurna, kecuali ekspresi wajah yang tidak bisa dibohongi. Raut wajah pria di depannya kusut. Lingkaran hitam di bawah mata seperti orang kurang tidur. Wajahnya penuh kerutan dan ekspresi tidak senang muncul di sana. Jelas dia tersinggung setelah mendengar perkataan Silas yang terlampau santai, saat seharusnya pria itu meminta maaf. "Saya masih sanggup membiayai pengobatan putra saya, Tuan Montclair," tolak pria itu. Bibirnya menipis dengan senyum yang tampak ditekan. "Saran saya, alangkah baiknya Anda menggunakan uang Anda untuk sesuatu yang lebih... berguna."Suara terkesiap terdengar. Bukan dari Silas, melainkan seorang pria yang duduk di sebelahnya. Tidak lain adalah menteri dalam negeri. Menteri itu berdehem agak keras
Di pelabuhan. Sehari setelah kepergian Iris dari pelabuhan, pagi itu suasana di sana tampak lebih sibuk dari biasanya. Silas belum kembali sejak pergi bertemu dengan menteri. Sementara Dominic yang telah izin dari kemarin, akhirnya baru bisa kembali pagi ini. Kata sebentar baginya bukan pergi satu atau dua jam, tapi bisa sampai belasan jam. Ekspresi kusut terlihat di wajah tuanya saat dia berjalan menuju rumahnya. Ada lingkaran hitam di bawah mata. Menunjukkan jika Dominic mengalami gangguan tidur. Hingga telinganya nyaris tidak mendengar atau merespons panggilan anak buahnya sendiri. Langkahnya gontai sambil sesekali dia mengecek sesuatu di ponselnya. Tidak ada penampilan eksekutif yang rapi. Penampilan dan rambutnya tampak berantakan. Sampai sebuah pesan masuk dari Silas sempat menghentikan langkahnya. 'Jangan tinggalkan pelabuhan. Tetaplah tenang.'Perintah singkat tanpa penjelasan seperti biasa. Dominic dengan wajah lelah dan setengah kesal, hanya mendengkus."Anak ini. Bagai
Pagi itu, Iris telah bangun lebih dulu dibanding Lona. Dia telah selesai menyiapkan sarapan dengan beberapa bahan yang ditemukannya di kulkas. Membersihkan apartemen, termasuk mengecek jendela dan area balkon. Dia terlalu sibuk. Hingga tidak menyadari Lona telah keluar kamar dan berdiri beberapa langkah di belakangnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sana?"Iris yang sedang fokus memeriksa jendela, seketika terkejut. Dia menoleh cepat menatap Lona. "Ah, kau. Aku hanya memeriksa apakah jendela ini kokoh atau tidak. Apakah kuncinya ini masih berfungsi atau tidak?"Perkataan Iris terdengar aneh di telinga Lona. Kerutan samar terlihat menghiasi dahinya. Dia mendekat dengan senyum kecil. "Tentu saja kokoh. Pertanyaanmu aneh sekali."Iris menghembuskan napas kasar. "Aku hanya takut ada orang asing yang memanjat masuk.""Orang asing? Iris, aku sudah tiga tahun di apartemen ini. Meski tempat ini murah, tapi hampir tidak ada kejadian seperti itu."Lona tertawa kecil sembari menggeleng, seol
Beberapa saat setelah luapan kekesalan Iris dan pelukan menenangkan Lona, mereka kini duduk satu meja sambil makan malam bersama. Lona tidak lagi membahas soal kejadian sebelumnya atau mengomeli Iris lagi. Sedangkan Iris, dia kini menyantap makanannya dengan lahap. Menikmati makanan itu seperti orang yang belum makan tiga hari. Sampai Lona menatapnya sedikit aneh. "Pelan-pelan, kau seperti belum makan seminggu."Iris tidak berhenti mengunyah. "Masakanmu enak, Lona. Aku merindukannya.""Ckck, apa itu pujian atau kau memang lapar?"Iris tidak menjawab. Dia hanya nyengir. Tak dipungkiri, dia memang kelaparan setelah melarikan diri dari pelabuhan. Iris naik kendaraan umum dari sisa perhiasan yang menempel di tubuhnya, dan uang yang tertinggal di saku bajunya. Sisanya, Iris harus jalan kaki saat berpindah-pindah untuk mengirit ongkos perjalanan yang memang jauh. Beruntung, dia bisa sampai tanpa harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. "Ngomong-ngomong, kau sudah kembali, kau akan
"A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia
Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be
"Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di






