Partager

Bukan Kesepakatan

last update Date de publication: 2026-05-05 13:39:02

Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat.

“Aku tidak memanggilmu,” gumamnya tanpa menoleh.

Tangannya beralih mencengkeram gaunnya. Membiarkan jarinya yang terluka dan berdarah saat menggaruk tepi jendela, mengotori pakaian mahal itu.

“Aku juga tidak butuh undangan.”

Iris terkesiap saat suara itu terasa begitu dekat dengan telinganya. Hingga memaksanya menoleh hanya untuk menyadari wajah mereka terlalu dekat.

Rahangnya menegang, tapi Iris tidak bisa berhenti menatap wajah angkuh dengan luka di pipi yang dibiarkan terbuka. Luka yang berhasil dibuatnya tampak seperti sebuah ukiran di atas wajah sempurna itu.

Tidak ada yang bergerak atau mundur. Iris tetap dalam posisinya, sampai dia merasakan Silas semakin dekat. Napasnya tercekat saat dia mulai merasakan tubuhnya perlahan terdesak ke tepi jendela.

Iris bisa melihat lewat jendela, dia berada di lantai atas. Entah berapa meter, tapi satu langkah salah, tulangnya bisa remuk.

“Kalau kau ingin membunuhku, lakukan. Berhenti bermain.”

Tanpa memedulikan posisi Iris, Silas tetap mendekat. Sampai tiba-tiba, suara jendela yang ada di belakangnya berderit. Tertutup dan angin malam tidak lagi bisa Iris rasakan.

Saat itu, Silas juga mundur. Memberi ruang untuk Iris kembali menarik napas. Tubuhnya sedikit oleng. Kakinya terasa lemas seolah tak ada tenaga dan Silas hanya diam mengamati.

Iris mencoba menegakkan tubuhnya lagi. Mendongak hanya untuk menyadari kalau tingginya sebatas bahu Silas, tapi sebelum dia berhasil menenangkan diri, pria itu mencengkeram rahangnya.

Kuat, tapi tidak menyakiti. Namun bahkan kedua tangan Iris tidak mampu untuk menggeser lengan Silas. Tak peduli seberapa banyak tenaga yang dia keluarkan untuk menyingkirkan tangan kurang ajar dari wajahnya, dia tetap kesulitan.

Silas justru terlalu santai membolak-balik wajahnya.

“Lepas—“

“Tidak. Kau akan tetap hidup. Sebagai wanitaku.”

“Apa?”

Pupil matanya melebar. Gerakan tangannya yang mencoba melepaskan lengan Silas terhenti. Telinganya pasti salah dengar. Dia yakin itu. “Kau tidak mungkin serius.”

Silas tidak menjawab, tapi pria itu melepaskan rahangnya. Bukan mundur, tangan itu justru bersandar di tembok, tepat di sebelah Iris. Seolah-olah pria itu berusaha mengurungnya.

Ruangan mendadak menyempit. Dia kesulitan bernapas seakan tekanan udara di sekitarnya menurun drastis. Detik itu pula, Iris menyadari perkataan Silas tidak main-main.

Sialnya, dia terlambat menyadari jika para pelayan telah meninggalkan ruangan dan dia hanya tinggal berdua dengan Silas. Tanpa ada cara melarikan diri.

Dia spontan menggigit pipi bagian dalamnya. Sulit baginya membayangkan menjadi wanita milik Silas, tanpa teringat pada apa yang telah dirinya lalui. “Aku menolak. Aku tidak mau jadi wanitamu.”

Iris melihatnya bergeming. Tidak bereaksi saat dia menolaknya terang-terangan. Silas selalu terlihat tenang. Ketenangan yang yang membuat Iris tidak pernah paham apa yang ada di kepalanya saat ini.

Setidaknya, sebelum kalimat Silas berikutnya berhasil mengirimkan mimpi buruk.

“Katlyn, Jack, Amber, Sofia—aku yakin kau mengenal mereka.”

Napas Iris tercekik. Wajahnya berubah menjadi lebih pucat. Nama yang Silas sebut, mustahil dia tidak mengenalnya. Mereka adalah anak-anak panti yang paling dekat dengannya, yang sudah dia anggap keluarga.

Iris menggeleng. Napasnya mulai memburu. “Kau mengancamku dengan anak kecil tak berdosa?”

Suara Iris terdengar putus asa yang bercampur rasa tak percaya juga kemarahan. Genangan air mata terlihat menumpuk di pelupuk matanya. Namun dia tidak membiarkannya jatuh.

“Itu pilihanmu.”

Kepala Iris tertunduk. Giginya saling bergemeletuk. Pilihan. Sudut bibirnya perlahan tertarik. Membentuk senyum getir saat kepalanya kembali terangkat.

Dia menatap Silas sekali lagi dengan mata yang memerah. Sementara Silas masih sama. Tidak terusik.

Semua sumpah serapah yang tertahan di ujung lidahnya, tertelan kembali tanpa sempat keluar.

“Kau tidak pernah memberiku pilihan.”

***

Beberapa hari berlalu.

Setelah keputusan sepihak dan pilihan yang sebenarnya tidak memiliki pilihan, Iris dirongrong oleh tumpukan pembelajaran etika oleh Silas. Waktunya terkuras habis sepenuhnya. Dia nyaris tidak bisa istirahat.

Bahkan saat malam tiba. Para pelayan mendandaninya. Mereka memakaikan gaun panjang tanpa lengan dan merias wajahnya. Iris tidak diberikan celah untuk memberontak atau menolak.

Silas, lewat Elliot, memberitahu jika mereka akan pergi ke suatu tempat, tapi Iris tidak mengira dia akan didandani.

Ketika dia selesai didandani, para pelayan membawanya keluar ruangan. Turun. Hingga dia mendapati kehadiran Silas yang berdiri bersama Elliot di depan pintu keluar.

Silas, pria itu berdiri tegak dengan jas menggantung di kedua bahunya yang tegap. Kemeja putih dan rompi hitam yang membalut tubuhnya dibiarkan terekspos. Tiga kancing kemejanya sengaja dibiarkan terbuka. Memberi kesan berantakan, tapi juga menawan.

Penampilannya jauh berbeda dari Elliot yang lebih rapi dan tertutup.

Iris terdiam beberapa detik, sebelum akhirnya dia membuang muka. Menolak menatap terlalu lama. Menyisakan keheningan yang canggung, setidaknya sampai suara deheman Elliot memecahnya.

“Apa semuanya sudah selesai?”

“Sudah, Sir Elliot. Nona Iris sudah siap.”

Iris melirik sekilas Elliot yang mengangguk dan berjalan keluar lebih dulu. Sementara Silas masih diam di tempatnya.

“Apa yang kau tunggu?”

Silas menggerakkan kepalanya ke arah luar. Isyarat yang tentu Iris mengerti. Dia mengepalkan tangannya dan melangkah keluar, tapi sebelum benar-benar keluar, langkahnya terhenti tepat di depan Silas. Iris melirik pria itu dengan bibir menipis.

“Aku melakukan semua ini bukan untukmu.”

Tanpa melihat reaksi Silas, Iris segera melangkah tergesa-gesa keluar dari rumah yang selama ini mengurungnya. Langit malam menyambutnya. Pemandangan asing yang tak pernah dia lihat jelas, kini bisa dilihatnya.

Rumah yang Iris tinggali saat ini rupanya bukan rumah biasa, itu adalah sebuah manor dengan tembok yang mengelilingi dan pohon tinggi yang sebelumnya dia lihat dari kamarnya.

Tapi tetap, dia tidak tahu di mana dirinya saat ini.

“Nona, masuklah.”

Teguran Elliot menyadarkannya. Iris mau tak mau menoleh. Melihat pria itu berdiri dengan wajah datar dan memegang pintu mobil. Dia cukup terganggu saat Elliot memanggilnya dengan sebutan ‘Nona’. Seakan dia memang layak dipanggil demikian bukan karena dia Iris Hayes, tapi karena dia sekarang adalah ‘wanita Silas’.

Iris masuk dan duduk. Tepat di sebelah Silas yang sudah lebih dulu masuk. Tidak ada percakapan sama sekali. Dia memberi jarak dan memilih menatap keluar jendela.

Saat mobil mulai melaju, meninggalkan area manor, saat itulah Iris bisa melihat sepanjang jalan hanyalah pepohonan.

Tidak ada rumah. Penerangan hanya berupa lampu yang ada di setiap sisi jalan. Selain di sana, semuanya gelap.

Perjalanan terasa sangat amat menyesakkan dan Iris benar-benar tenggelam dalam keheningan, sampai setelah hampir setengah jam berlalu, mobil itu berhenti.

Iris terdiam dan akhirnya, dia dipaksa mengalihkan pandangan ke depan. Bukan lagi ke kaca jendela, tapi sebuah pagar rumah, di mana seorang pria berusaha membuka lebar-lebar pagar itu agar mobil yang mereka tumpangi bisa masuk.

Mobil kembali berjalan, sebelum akhirnya benar-benar berhenti tepat di depan pintu utama.

“Rumah siapa ini?”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kucing Betina

    "Lepas! Turunkan aku!"Iris tidak bisa diam dalam gendongan Silas. Dia terus meronta sambil memukuli dadanya. Meski semua percuma karena Silas dengan santai terus melangkah menuju kamarnya. "Kalau kau tidak bisa diam, kau akan jatuh."Silas meliriknya, yang segera dibalas dengan pelototan olehnya. Iris tidak berhenti melawan. "Aku tidak peduli!" Iris mencengkeram bahu Silas dengan erat. Tak peduli jika kukunya yang panjang menggores kulit pria itu. Namun yang dilihatnya hanyalah sorot mata biru yang tampak acuh tak acuh. Membuatnya seketika merasa gemas. Hingga Iris bergerak mendekat dan tanpa aba-aba menggigit telinga Silas dengan kuat. Seketika itu juga, Iris merasakan tubuh Silas menegang seolah tersentak. Pria itu pun mematung di tempat. Tidak terasa lagi pergerakan. "Apa yang kau lakukan?" tanya Silas dengan suara sedikit serak dan seperti kaget. Gigitan Iris seketika terlepas. Dia refleks melirik Silas yang menatapnya dengan pandangan tak bisa dijelaskan, dan telinga pria

  • Tertawan oleh Don Mafia   Lupakan Omong Kosong

    Beberapa hari berlalu. Kaki Iris yang sempat sulit digerakan, kini telah menjadi lebih baik. Dia sudah bisa berjalan lagi. Namun kasus tentang kematian Lona pun ditutup karena tiga pelakunya mati dan tidak ada bukti yang mengarah pada keluarga Valenfort. Simbol singa emas yang ditemukannya di salah satu pakaian pelaku, dinilai tidak bisa menjadi bukti kuat. Sialnya, entah bagaimana namanya tidak disebut. Iris tidak dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. "Berengsek!"Iris mengumpat sambil mengayunkan pedang kayu ke udara secara sembarangan. Dia melampiaskan rasa kecewanya dengan tanggapan kepolisian yang menutup kasus Lona dan bagaimana keluarga berpengaruh seperti Valenfort bisa tetap tidak bersalah. Cengkeramannya pada gagang pedang kayu itu menguat saat dia kembali mengayunkannya. "AKHHH!"Iris menjerit dengan penuh emosi. Dia menggerakan kakinya mendekati batang kayu yang menjadi alat berlatih. Hendak memukul dengan pedang kayunya, tanpa peduli tentang dokter yang telah menyu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Apa yang Terjadi denganmu?

    'Dia... tertarik padamu. Sebagai seorang pria.' Iris menggigit bibirnya sambil memotong-motong wortel di dapur. Sayangnya, ucapan Sebastian yang terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak dua hari lalu, membuat pisau yang dipegangnya justru tak sengaja melukai jarinya. "Akhh!" Dia menjerit dan refleks menjatuhkan pisau saat rasa perih itu terasa jelas. Dia menahan ngilu sambil menatap jarinya yang berdarah. Sampai tak terduga, sebuah tangan tiba-tiba menariknya. Iris belum sempat menyadari siapa ketika dia merasakan usapan lembut, sebelum sebuah kain menekan jarinya yang terluka. "Pendarahannya akan berhenti. Pegang ini." Matanya berkedip saat dia melihat bahwa itu ternyata adalah Silas. Pria itu menekan sapu tangan yang melilit jarinya yang terluka dan bergerak ke arah kabinet sebelum Iris sempat bereaksi. Silas kembali dengan cepat dan segera membuka kembali sapu tangannya. Lalu membersihkan luka dengan antiseptik yang membuat Iris harus menahan ngilu. Beruntung itu tak b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Fakta atau Opini?

    Di ruang makan. Meja makan malam kali ini terasa canggung dan berbeda. Iris merasa setiap gerakannya seakan diawasi. Dia hanya bisa menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan melirik diam-diam Sebastian, Silas dan Elliot. Suara dentingan sendok memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun yang berbicara, tapi Iris bisa merasakan ketegangan yang terlalu nyata. Dia mengunyah makanannya dengan lambat. Sampai suara Sebastian memecah kecanggungan. "Jadi kakimu patah setelah mencoba menyelamatkan diri?" Gerakan tangan Iris yang hendak menyuapkan makanan, seketika tertahan di udara. Dia melirik Sebastian yang menatapnya. Mulutnya yang terbuka, siap menerima makanan, seketika berhenti dan meletakkan sendok kembali. Dia dengan ragu mengangguk pelan sambil melirik Elliot dan Silas yang fokus makan tanpa menoleh, "Ya, dokter bilang... ini tidak permanen." "Kau ceroboh." Sebastian mengunci tatapannya. Membuat Iris merasakan kegelisahan di tempat duduknya. Dia ingin menjawab kalau dia hanya tida

  • Tertawan oleh Don Mafia   Aturan Main

    Sebuah mobil silver berhenti di pelataran manor. Sebastian keluar dan segera disambut oleh dua penjaga. Matanya menatap keduanya, sebelum beralih pada pintu manor yang tertutup. Hari sudah malam ketika dia tiba di sana. "Silas di dalam?" "Ya, Tuan besar. Apa Anda ingin bertemu? Kami akan memberitahu—" "Tidak, aku akan menemuinya sendiri." Tanpa menunggu respons keduanya, Sebastian segera berjalan dengan langkah lebar dan sedikit tergesa-gesa. Dia sudah terlalu lama menunggu ini. Sebastian berharap Silas benar-benar ada di dalam. Karena dia tidak mungkin mencari anaknya di setiap rumah yang tersebar di seluruh Valenor. Beberapa pelayan yang datang menyapa dan memberi hormat, diabaikannya. Sebastian terus melangkah, sampai di ruang tengah dia menemukan keberadaan seseorang yang tak asing. Langkahnya melambat. Matanya menyipit ketika melihat punggung seorang wanita yang duduk di kursi roda. Menghadap ke arah televisi yang menampilkan sebuah berita. Berita yang masih memba

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memilih Jalan Takdir

    "Makan siang sudah siap, Nona. Anda mau makan di sini atau di dalam?"Berta berdiri di samping Iris yang duduk di kursi roda. Mereka saat ini sedang berada di halaman belakang setelah kepulangan Iris dari pemakaman. Namun wanita itu tidak menjawab sama sekali. Pandangan Iris lurus ke depan. Pada hamparan bunga foxglove. Berta mengernyit dan seketika melambaikan tangan di depan wajahnya. Berusaha menarik perhatiannya kembali. "Nona, Anda mendengar saya?"Iris mengerjap dan menoleh. Lamunannya buyar. "Ada apa?"Berta menarik napas dan mensejajarkan tubuhnya dengan Iris, hingga nyaris bersimpuh. "Saya bertanya Anda mau di sini atau di dalam? Tapi sepertinya Anda memikirkan sesuatu sampai tidak mendengar saya. Terjadi sesuatu saat Anda pergi dengan Tuan?"Pertanyaan Berta tidak langsung dijawab. Iris diam beberapa saat ketika dirinya justru teringat kembali dengan penolakan ibunya Lona atau perkataan Silas yang menyebut semua ini pilihannya. Bibirnya tersenyum kecut dengan kedua tangan

  • Tertawan oleh Don Mafia   Hidup atau Mati?

    "A-aku, aku tidak akan m-mengatakan apa pun. Aku akan tutup mulut. Tolong, Tuan."Suara Iris terdengar memelas dan gagal, percampuran antara rasa putus asa dan takut. Dia bersimpuh di bawah kaki Silas dengan tubuh gemetar hebat. Menjadi saksi pembunuhan seorang pria asing, bukanlah sesuatu yang dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Penuh Kegilaan

    Langkah Iris terhenti. Dia mematung di tempat dan berkedip beberapa kali. Menatap ke depan sekali lagi untuk memperjelas penglihatannya yang buram akibat hujan. Mobil yang tak asing dan siluet seorang pria. Saat Iris mencoba memicingkan mata, dia semakin yakin itu adalah Silas. Pria itu berdiri be

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status