بيت / Mafia / Tertawan oleh Don Mafia / Setelah Mimpi Buruk

مشاركة

Setelah Mimpi Buruk

مؤلف: Koran Meikarta
last update تاريخ النشر: 2026-05-07 13:00:09

"Apa yang—hentikan!"

Iris menggeliat. Napasnya memburu. Tubuh mereka terlalu menempel, sampai-sampai dia bisa merasakan bentuk dada lebar Silas. Panas dan sesak. Iris mengerang frustrasi saat dia tidak bisa menggeser Silas sama sekali.

Alih-alih mundur, pria itu justru menunduk. Mendekatkan wajahnya hingga Iris bergidik. Kepanikan menyerangnya. Dia merasakan napas hangat Silas di ceruk lehernya, bersamaan dengan tangan lain pria itu yang menyingkirkan helaian rambut di pund
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kesempatan Kabur

    Iris refleks mengepalkan tangannya. Matanya menatap lurus Lyra. Sungguh, dia hanya bisa bernapas bebas selama lima hari tanpa gangguan, karena sekarang tekanan datang lagi. Kepalanya tertunduk dan desahan lelah keluar dari mulutnya sebelum dia kembali menatap Lyra. "Nona, jika Anda merasa terancam dengan kehadiran saya, Anda bisa bicara dengan Silas. Anda tidak perlu repot untuk mengancam anak panti yang miskin seperti saya.""Kau!"Iris tidak bergerak ketika Lyra tiba-tiba berdiri dan menunjuknya dengan jari. Dia diam menyaksikan bagaimana perubahan warna di wajah putih pucat Lyra menjadi merah. Udara di sekitarnya kini terasa sedikit lebih panas. Lebih pegap dan gerah. Iris mulai tidak bisa duduk dengan nyaman. "Aku lebih mengenal Silas dibanding kau. Keluarga kami bahkan sangat dekat dan aku tahu apa yang tidak kau tahu."Suara Lyra terdengar sedikit naik. Napas wanita itu terengah-engah. Matanya melotot seolah akan keluar dari tempatnya. Namun Iris tidak terlalu tertarik. Dia

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tamu Tak Diundang

    "Dia baik-baik saja. Hanya kelelahan."Samar-samar, telinga Iris menangkap sebuah suara. Suara percakapan yang berada dekat dengannya. Cukup untuk menarik kesadarannya. Dia melenguh kecil. Matanya berkedip pelan, menyesuaikan cahaya yang menusuk mata. Sebelum bayangan seorang pria yang memegang papan klip di tangan terlihat di sampingnya. Butuh beberapa detik untuk Iris benar-benar bisa melihat sepenuhnya. Pria itu memakai kacamata dan di lehernya tergantung sebuah stetoskop, tapi dia tidak memakai jubah putih. Hanya kemeja dan celana bahan berwarna hitam. Itu adalah dokter pribadi Silas yang seminggu lalu sempat mengobati luka di kaki Iris dan memberinya obat. "Dokter, Nona sudah sadar."Suara lain menyahut. Mengalihkan perhatian dokter muda yang saat ini tampak sedang sibuk mencatat. Iris tidak bersuara. Dia hanya menatap lemah ketika melihat dokter dan pelayan mendekatinya. Lalu dia merasakan stetoskop yang dingin menyentuh kulitnya. Dia tak bergerak dan membiarkan dokter fok

  • Tertawan oleh Don Mafia   Setelah Mimpi Buruk

    "Apa yang—hentikan!"Iris menggeliat. Napasnya memburu. Tubuh mereka terlalu menempel, sampai-sampai dia bisa merasakan bentuk dada lebar Silas. Panas dan sesak. Iris mengerang frustrasi saat dia tidak bisa menggeser Silas sama sekali. Alih-alih mundur, pria itu justru menunduk. Mendekatkan wajahnya hingga Iris bergidik. Kepanikan menyerangnya. Dia merasakan napas hangat Silas di ceruk lehernya, bersamaan dengan tangan lain pria itu yang menyingkirkan helaian rambut di pundaknya. "Menjauh, aku bukan pela—""Aku hanya peduli pada dua hal. Berguna atau tidak berguna," bisik Silas, tepat di telinga Iris. Bibir pria itu menempel di telinganya dan Iris membeku. Sebelum akhirnya Silas menarik diri. Mundur teratur, menatapnya dengan mata berkilat geli, seakan terhibur karena berhasil mempermainkan orang lain. Tanpa perasaan, pria itu meninggalkannya yang kini merosot jatuh di lantai. Matanya menatap lurus pada punggung lebar Silas y

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum ramah di bibirnya, tapi sorot mata itu terlihat sedikit merendahkan. Cukup jelas untuk Iris lihat. "Mom, hentikan," tegur seorang wanita muda yang duduk di sebelah Iris. Kerutan ketidaknyamanan terukir jelas di wajah tenangnya. "Lho, apa salahnya, Elara? Mommy hanya bertanya dan ingin tahu."Iris melirik ke arah Elara tanpa sadar. Melihat wanita itu menunjukkan ketidaksenangan. Seakan ikut tersinggung dengan pertanyaan ibunya sendiri. "Kak Elara sensitif sekali. Tidak ada yang salah dari pertanyaan Mommy. Kita juga penasaran. Wajar, kan?" Lyra, wanita yang sejak tadi memusuhi Iris, mendelik."Lyra—""Cukup, cukup!" Octavian menyela. Menghentikan perdebatan antara Elara, Isolde dan Lyra. "T

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia melangkah keluar tanpa disambut Silas. Terpaku sejenak menatap rumah besar yang didominasi oleh warna putih dan hamparan halaman yang luas. Rumah yang lebih modern dan jauh lebih besar dari manor milik Silas sebelumnya. Akan tetapi, ada satu hal yang aneh. Iris melihat ada banyak pria berseragam hitam yang berdiri kaku hampir di setiap sudut. Sekilas matanya juga menemukan pistol yang tergantung di celana mereka. Seakan-akan tempat ini dijaga sangat ketat. "Berhenti melamun."Pandangannya beralih cepat saat Silas menegur. Dia melihat pria itu berdiri di depan pintu, menunggunya bosan. Iris mendekat terpaksa tanpa banyak bicara. Berdiri di samping Silas sambil tetap menjaga jarak. Dia pikir,

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bukan Kesepakatan

    Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,” gumamnya tanpa menoleh. Tangannya beralih mencengkeram gaunnya. Membiarkan jarinya yang terluka dan berdarah saat menggaruk tepi jendela, mengotori pakaian mahal itu.“Aku juga tidak butuh undangan.”Iris terkesiap saat suara itu terasa begitu dekat dengan telinganya. Hingga memaksanya menoleh hanya untuk menyadari wajah mereka terlalu dekat. Rahangnya menegang, tapi Iris tidak bisa berhenti menatap wajah angkuh dengan luka di pipi yang dibiarkan terbuka. Luka yang berhasil dibuatnya tampak seperti sebuah ukiran di atas wajah sempurna itu. Tidak ada yang bergerak atau mundur. Iris tetap dalam posisinya, sampai dia merasakan Silas semakin dekat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status