FAZER LOGINBeberapa saat setelah luapan kekesalan Iris dan pelukan menenangkan Lona, mereka kini duduk satu meja sambil makan malam bersama. Lona tidak lagi membahas soal kejadian sebelumnya atau mengomeli Iris lagi. Sedangkan Iris, dia kini menyantap makanannya dengan lahap. Menikmati makanan itu seperti orang yang belum makan tiga hari. Sampai Lona menatapnya sedikit aneh. "Pelan-pelan, kau seperti belum makan seminggu."Iris tidak berhenti mengunyah. "Masakanmu enak, Lona. Aku merindukannya.""Ckck, apa itu pujian atau kau memang lapar?"Iris tidak menjawab. Dia hanya nyengir. Tak dipungkiri, dia memang kelaparan setelah melarikan diri dari pelabuhan. Iris naik kendaraan umum dari sisa perhiasan yang menempel di tubuhnya, dan uang yang tertinggal di saku bajunya. Sisanya, Iris harus jalan kaki saat berpindah-pindah untuk mengirit ongkos perjalanan yang memang jauh. Beruntung, dia bisa sampai tanpa harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. "Ngomong-ngomong, kau sudah kembali, kau akan
"Aku senang kau masih di sini, Lona."Iris mendongak. Menatap langit-langit ruangan yang tak asing dalam ingatannya. Dia berjalan menyusuri apartemen sederhana temannya. Sementara Lona muncul sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas minuman. Dia meletakkan nampan itu di meja sambil mengamati punggung temannya yang dulu tiba-tiba menghilang. "Aku masih tidak percaya kau ada di sini."Iris membalikkan badannya saat mendengar suara temannya. Dia tersenyum kecil. Senyum yang tampak lega, yang nyaris tidak pernah terlihat saat bersama Silas. Kakinya mendekat. Melangkah dan duduk di sofa tua, di mana Lona juga duduk di hadapannya. Iris mengambil minuman itu tanpa sungkan. Menikmati kembali sesuatu yang pernah menjadi bagian dirinya dulu. "Aku juga. Aku... aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi."Suaranya melemah. Iris meletakkan gelasnya kembali. Menatap mata Lona yang tidak menunjukkan senyum sama sekali sejak tadi. Ekspresi temannya tampak serius dan sedikit te
Suara memelas Iris membuat Viviane dn Sebastian saling memandang. Keduanya tampak berkomunikasi lewat gerakan mata. Menatap tubuh Iris yang menunduk pasrah. Tampak kecil dan rapuh, seolah tidak memiliki harapan selain bebas. "Pergilah." Satu kalimat singkat keluar dari bibir Vivienne. Memecah kesunyian dan ketegangan di ruang tengah. Hingga ucapan itu berhasil menyentak Iris. Memaksanya kembali mengangkat wajah. Mata Iris membulat. Ada ketidakpercayaan yang sekilas terlihat. Dia mematung. Namun sebelum satu kata keluar dari mulutnya, Sebastian menyela, "Jangan gegabah, Vivienne. Silas tidak akan senang. Iris juga saksi kejadian.""Ada banyak saksi di sana, bukan hanya dia dan Silas tidak ada sekarang," jelas Vivienne sambil melirik suaminya yang tidak setuju. Ekspresi gusar terlihat di wajah keriput Sebastian. "Vivienne—""Apa yang kau tunggu? Kau ingin bebas kan? Pergilah sekarang."Iris terperanjat saat tatapan Vivienne tertuju kembali padanya. Wanita paruh baya itu mengambil m
Ruang tengah diselimuti hawa dingin. Bukan karena AC yang menyala, tapi karena tatapan dua orang yang kini duduk di hadapan Iris. Tidak ada siapa pun lagi di rumah itu. Hanya mereka bertiga. Tubuh Iris sedikit kaku di sofa. Dia nyaris tidak bergerak, sosial gerakan sedikit saja, bisa membuatnya mati. Namun diam-diam, matanya melirik sepasang suami istri paruh baya yang tidak asing. Orang yang ingin Iris hindari sejauh mungkin dan berharap tidak bertemu lagi. Sebastian dan Vivienne. Mereka adalah orang tua Silas yang sebelumnya Iris kira adalah Silas dan Dominic. Sialnya karena mereka telah melihatnya, dia harus terjebak untuk menjamu mereka. Meski sejak lima belas menit berlalu, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kedua orang di depannya juga tidak membuka mulut. Hanya diam menatap menatapnya dengan penuh penilaian. Iris tidak tahu niat mereka, tapi kini, dia merasa seolah duduk di atas kursi panas, di bawah tuntutan hakim. Hingga untunglah, terdengar suara langka
Dua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.
Perjalanan pulang ke wilayah pelabuhan benar-benar tidak menyenangkan. Iris mengalami hangover cukup parah karena baru pertama kali meminum alkohol dan ternyata tubuhnya menolak. Sepanjang perjalanan, dia hanya mampu bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Kepalanya masih berdenyut, meski sudah lebih baik setelah dia minum obat. Ketika mobil yang dikendarai Silas perlahan mendekati area gerbang rumah besar, Iris menghela napas lega. Dia ingin kembali tidur. Meski dia tahu jika matahari sudah mulai naik. Namun saat mobilnya berhenti di pelataran rumah, Iris yang mengangkat kepalanya dan hendak keluar, melihat Dominic yang tampak bergegas mendekati mobil. Termasuk beberapa staf rumah yang berkumpul, tapi ada yang berbeda kali ini. Iris tidak melihat mereka seperti hendak menyambut kedatangan Silas. Wajah mereka gelisah. Dominic juga terlihat lebih pucat. Pintu di sebelahnya dibuka pelan, dan seketika langsung menghentikan pengamatan Iris. Sebelum akhirnya d
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di







