FAZER LOGINSuara mesin motor menyala, memecah sunyi sore di parkiran kampus. Alisya ragu sejenak sebelum naik ke jok belakang. Ia belum pernah dibonceng pria berseragam polisi sebelumnya, apalagi baru kenal beberapa jam. Tapi tatapan Dhimas saat tadi mengulurkan helm itu begitu yakin, seakan mengatakan bahwa bersama dia, semuanya akan baik-baik saja.
“Pegangan, ya,” ujarnya santai.
Alisya mengangguk pelan. Ia memilih memegang bagian besi di belakang jok motor, menjaga jarak. Dhimas sempat melirik ke spion, melihat posisi tangannya, lalu tersenyum tipis.
“Kalau pegang di belakang gitu, nanti kalau aku ngerem mendadak, kamu bisa jatuh,” katanya, nada suaranya seperti setengah bercanda, setengah menguji.
“Kan aku percaya sama kamu nggak bakal ngerem mendadak,” jawab Alisya cepat.
Dhimas tertawa receh. “Pinter juga jawabnya.”
Motor melaju pelan, keluar dari gerbang kampus, melewati jalanan kota yang mulai ramai. Angin sore menyapu wajah Alisya, membawa aroma bensin bercampur asap bakaran dari pedagang kaki lima. Sesekali ia mencuri pandang ke pundak Dhimas yang tegap, seragamnya tampak rapi sekali.
“Rumah kamu jauh nggak dari sini?” tanya Dhimas di tengah suara angin.
“Lumayan. Sekitar lima belas menit naik motor.”
“Bagus, berarti aku punya waktu lima belas menit buat bikin kamu tambah nyaman sama aku.”
Alisya menahan tawa. “Kamu percaya diri banget.”
“Percaya diri itu kuncinya. Lagian…,” Dhimas menurunkan sedikit kecepatan saat melewati tikungan, “…kalau aku nggak mulai dari sekarang, nanti keburu kamu diambil orang.”
Ucapan itu membuat pipi Alisya menghangat. Ia membuang pandang ke arah jalan, mencoba mengabaikan degup jantung yang mulai tak teratur.
Mereka melewati deretan toko dan kafe. Lampu-lampu mulai menyala, memberi cahaya keemasan di trotoar. Dhimas tampak sesekali melirik ke spion, memastikan Alisya baik-baik saja. Tapi setiap kali mata mereka bertemu lewat pantulan kaca kecil itu, Alisya cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Beberapa menit kemudian, ponsel Dhimas yang terselip di holder stang motor bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak: Ayu.
Refleks Alisya membaca nama itu, tapi sebelum sempat bertanya, Dhimas menekan tombol merah untuk menolak panggilan. Wajahnya tetap datar, seolah tak terjadi apa-apa.
“Kok nggak diangkat?” Alisya memberanikan diri bertanya.
Dhimas menjawab santai, “Ah, itu teman lama. Nggak penting. Kalau penting, dia pasti chat. Aku lagi fokus antar kamu pulang.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu di ujung kalimat itu yang membuat Alisya diam. Entah kenapa, ia merasa Dhimas terlalu cepat menutup topik.
Motor akhirnya berhenti di depan gang rumah Alisya. Dhimas mematikan mesin, lalu menoleh sambil membuka helmnya.
“Kalau aku bilang, aku mau ketemu kamu lagi besok… kamu mau?”
Alisya tersenyum samar. “Lihat nanti, deh.”
Dhimas tertawa kecil, lalu menyerahkan helm. “Oke, berarti aku harus mikirin cara biar kamu bilang ‘iya’.”
Sebelum pergi, ia sempat menatap Alisya lebih lama dari biasanya. Tatapan itu membuat dada Alisya bergetar, campuran antara nyaman dan waspada — perasaan yang saat itu belum ia pahami.
Motor Dhimas baru saja berbelok di ujung jalan, meninggalkan bau asap tipis yang cepat menghilang. Alisya masih berdiri di depan gang, memandangi punggungnya yang semakin mengecil. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti baru saja keluar dari sebuah adegan film yang belum selesai.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke gang. Langkahnya pelan, seolah ingin memperpanjang sisa momen tadi. Begitu sampai di depan rumah, ia melepas sepatu dan menyapa ibunya yang sedang menjemur pakaian di teras.
“Kok pulangnya bareng polisi?” tanya ibunya sambil melirik cepat. Nada suaranya seperti setengah bercanda, setengah ingin tahu.
Alisya tersenyum tipis. “Teman baru, Bu. Kebetulan tadi ketemu di kampus.”
Ibunya mengangguk tanpa banyak komentar. Tapi tatapan itu sempat membuat Alisya merasa seperti remaja yang baru pulang dari kencan pertama. Ia buru-buru masuk ke kamar, meletakkan tas, dan duduk di tepi ranjang.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor baru:
“Aku udah sampai… Dhimas.”
Alisya menatap layar beberapa detik sebelum membalas. Ia memegang handphonenya erat-erat di dada. Sembari mengigit bibir bawahnya.
“Oh syukurlah. Oh iya makasih udah nganter tadi yah...”
Balasannya cepat masuk:
“Besok aku jemput ya. Kita makan siang bareng. Ada tempat enak yang mau aku kenalin.”
Alisya tersenyum tipis. Ia ingin menolak, tapi jarinya justru mengetik:
“Oke.”
Ia meletakkan ponsel di meja samping ranjang, lalu berbaring sambil menatap langit-langit. Di kepalanya, ia memutar ulang semua obrolan di motor tadi. Nada suara Dhimas, cara dia melirik lewat spion, dan kalimatnya yang selalu terdengar seperti menggoda tapi penuh keyakinan.
Entah mengapa, itu membuatnya merasa istimewa.
Tapi sesekali, bayangan nama “Ayu” di layar ponsel Dhimas kembali muncul. Siapa Ayu? Dan kenapa dia menolak panggilan itu begitu cepat?
Alisya mencoba mengusir pikirannya. Jangan suudzon, katanya pada diri sendiri. “Baru juga kenal. Lagian, dia udah jelasin kalau itu cuma teman lama.”
Namun, rasa ingin tahunya justru makin kuat.
**
Malam itu, saat makan malam, ayahnya sempat menanyakan kabar pekerjaan di kampus. Alisya menjawab singkat, pikirannya melayang. Ia jarang seperti ini — biasanya ia bisa fokus pada obrolan keluarga. Tapi sekarang, sebagian besar perhatiannya tersedot pada satu sosok yang baru saja masuk ke hidupnya.
Usai makan, ia kembali ke kamar. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini Dhimas mengirim foto secangkir kopi dengan caption:
“Lagi lembur. Tapi mikirin kamu bikin capeknya hilang.”
Kalimat itu membuat senyum Alisya mengembang, meski hatinya sedikit mencelos. Baru kenal beberapa jam, tapi rasanya Dhimas sudah tahu cara membuatnya merasa spesial.
Ia membalas, “Kerjanya jangan lupa istirahat.”
Tak lama kemudian, balasan datang:
“Kalau ada kamu di sini, aku pasti istirahatnya nyenyak.”
Alisya terdiam. Pesan itu membuat pipinya memanas. Ia mengetik balasan singkat, lalu mematikan layar ponsel.
“Gombal terus. Aku istirahat dulu yah.”
“Yah udah Sya, aku lanjut lembur dulu… sampai jumpa besok.” Balas Dhimas sebagai penutup pesan keduanya.
Di luar, suara hujan mulai turun, menepuk-nepuk genteng rumah. Alisya menarik selimut, membiarkan pikirannya terhanyut pada sosok pria berseragam itu. Ada bagian dirinya yang ingin tahu lebih dalam. Tapi ada juga bagian kecil yang berkata: Hati-hati.
Sayangnya, bagian kecil itu terlalu pelan suaranya.
POV AlisyaAku berdiri di depan bioskop lantai paling atas sebuah mal yang tidak jauh dari hotel.Tanganku memegang tali tas kecil, sementara mataku beberapa kali melihat layar jadwal film di atas loket. Hari Minggu siang, mal cukup ramai. Banyak pasangan muda berjalan sambil bergandengan tangan. Ada keluarga membawa anak-anak. Ada juga beberapa orang yang datang sendiri seperti aku, meski sebenarnya hari ini aku tidak benar-benar sendiri.Reza berdiri di sampingku.Setelah kejadian di gym tadi pagi, aku sempat berpikir akan langsung kembali ke kamar hotel dan mengunci diri sampai malam. Aku masih kepikiran pesan Mas Dhimas. Aku juga masih kepikiran pertanyaan Reza sebelum meninggalkan gym.“Sya, kamu aman?”Pertanyaan sederhana itu terus berputar di kepalaku.Aman.Sudah lama aku tidak merasa ditanya seperti itu.Bukan ditanya dengan curiga. Bukan ditanya untuk menghakimi. Tapi benar-benar ditanya karena seseorang ingin memastikan aku baik-baik saja.Dan entah bagaimana, setelah aku
POV AlisyaHari Minggu pagi, aku memutuskan turun ke gym hotel.Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang rajin olahraga di tempat seperti ini. Biasanya, kalau sedang di rumah, olahraga paling hanya jalan kaki sebentar atau mengikuti video senam dari ponsel. Tapi sejak tinggal sementara di hotel ini untuk pekerjaan kampus, aku merasa punya terlalu banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat dadaku sesak.Mas Dhimas.Susi.Video call semalam.Kain biru muda yang sempat kulihat di layar.Dan pesan terakhir Mas Dhimas yang membuatku hampir tidak bisa tidur.Kalau kamu terus begini, lebih baik kamu nggak usah pulang dulu.Kalimat itu masih menempel di kepalaku sampai pagi.Aku bangun dengan mata sembab, lalu menatap diriku di cermin kamar mandi cukup lama. Wajahku tampak lelah. Rambutku berantakan. Bibirku pucat. Entah sejak kapan aku terlihat seperti perempuan yang terus-menerus menunggu sesuatu yang tidak pernah
POV AlisyaAku duduk di tepi ranjang di kamar hotel yang disediakan pihak kampus.Kamar yang nyaman. Dari luar, suara kendaraan Jakarta masih terdengar meski malam sudah cukup larut.Aku melepas sepatu pelan-pelan, lalu memijat betisku sendiri. Hari ini benar-benar melelahkan. Sejak pagi aku ikut rapat dengan tim administrasi universitas, menyusun data, membantu verifikasi berkas, lalu menyesuaikan laporan yang harus dikirim ke pimpinan. Awalnya aku pikir tugasku di Jakarta hanya beberapa minggu, tapi ternyata pekerjaan diperpanjang karena kampus masih membutuhkan bantuan tambahan.Aku sebenarnya senang dipercaya. Tapi di sisi lain, hatiku tidak tenang.Aku jauh dari rumah.Jauh dari Mas Dhimas.Dan entah kenapa, semakin jauh jarak kami, semakin sering aku merasa seperti ada sesuatu yang berubah.Aku mengambil ponsel dari atas meja. Ada beberapa pesan kerja yang belum kubalas. Tapi yang pertama kubuka tetap chat Mas Dhima
POV DhimasSusi tersenyum saat mendengar ucapanku.Bukan senyum malu-malu seperti perempuan yang baru pertama kali diajak melewati batas. Bukan juga senyum takut karena sadar sedang masuk terlalu jauh ke rumah tangga orang lain.Itu senyum puas.Senyum perempuan yang tahu dia berhasil.Aku menatapnya dari dekat. Rambutnya masih berantakan, pipinya merah, dan matanya tampak lebih hidup daripada sebelumnya. Entah kenapa, aku suka melihatnya seperti itu. Susi terlihat berbeda dari Alisya. Lebih berani. Lebih liar. Lebih tahu cara membuat laki-laki merasa dibutuhkan.Alisya tidak seperti itu.Alisya terlalu sering menahan diri. Terlalu banyak canggung. Terlalu banyak lelah. Terlalu banyak alasan. Kalau pulang kerja, wajahnya kusut, tubuhnya capek, lalu yang keluar dari mulutnya hanya cerita tentang kampus, berkas, rapat, mahasiswa, dan semua hal yang membuatku bosan mendengarnya.Aku butuh istri, bukan pegawai administrasi yang membawa lelahnya ke rumah setiap hari.Dan sekarang, di hadap
Susi tidak lagi malu-malu seperti sebelumnya. Cara dia membalas ciumanku justru membuatku semakin yakin bahwa dari awal perempuan ini memang sedang menunggu waktu yang tepat. Dia bukan sekadar tergoda. Dia memang ingin masuk lebih jauh ke dalam hidupku.Dan aku membiarkannya.Bukan karena terpaksa. Bukan karena khilaf. Tapi karena aku memang menginginkannya.Alisya sudah lama terasa jauh bagiku. Bahkan sebelum dia berangkat ke Jakarta untuk urusan kampus itu, hatiku sudah lebih dulu menjauh. Di rumah, dia terlalu sering terlihat lelah, terlalu sering mengeluh, terlalu sering membuatku merasa seperti pria yang harus selalu memahami. Aku capek. Aku bosan. Aku butuh perempuan yang bisa membuatku merasa diinginkan tanpa banyak alasan.Dan Susi memberikan itu.Ia menarik diri sebentar, menatapku dengan napas yang masih berat. Matanya menyala, penuh kemenangan dan keinginan yang tak lagi ia sembunyikan.“Mas…” bisiknya, tangannya masih mencengkeram bahuku. “Jangan lihat aku seperti itu.”“K
POV DhimasPonselku bergetar di atas meja ruang tamu.Suara itu kecil, tapi cukup untuk memotong suasana yang sejak tadi sudah terlalu jauh. Aku menoleh malas, lalu melihat nama yang muncul di layar.Alisya.Aku menghela napas pelan. Dari semua waktu yang ada, kenapa dia harus menelepon sekarang?Susi yang berdiri tidak jauh dariku ikut melihat ke arah ponsel itu. Wajahnya masih merah, napasnya belum benar-benar teratur. Kaus biru muda yang melekat di tubuhnya membuat mataku beberapa kali gagal berpaling. Sejak dia tinggal di rumah ini, aku sudah berkali-kali mencoba menahan diri. Tapi semakin hari, semakin sulit.Susi bukan perempuan polos. Aku tahu itu.Dia tahu cara berjalan di depanku. Tahu kapan harus bicara manja. Tahu kapan harus pura-pura tidak sengaja menyentuh tanganku. Dan yang paling berbahaya, dia tahu aku menikah dengan Alisya, tapi dia tetap tidak benar-benar menjaga jarak.Mungkin karena dia tahu aku juga tidak mau menjaga jarak.“Mas…” suara Susi pelan, matanya turun k
Pagi itu rumah masih sunyi ketika Alisya menarik koper kecilnya keluar kamar. Jantungnya berdetak kencang, seakan setiap langkah menuju pintu membawa beban yang semakin berat. Tangannya menggenggam gagang koper erat-erat, sementara matanya melirik ke arah ruang tamu, tempat ibu mertua sudah duduk s
Pagi itu udara kampus masih terasa sejuk. Langit biru terang membentang, dihiasi awan tipis yang bergerak pelan. Alisya melangkah masuk ke gedung administrasi dengan langkah mantap, meski dalam hati ada kegugupan yang tak bisa ia sembunyikan. Ia baru saja mendapat izin dari Dhimas untuk pergi ke
Pagi itu, Alisya terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya sembab, bekas tangisan semalam masih terasa perih. Ia melirik Dhimas yang masih terlelap di sampingnya, dengan ponsel yang masih tergenggam erat. Ada rasa perih yang menjalar setiap kali ia mengingat pesan singkat dari Susi yang sempat
Ponsel Alisya masih tergeletak di atas meja kantor, layarnya gelap. Pesan misterius yang ia terima semalam tetap belum dibalas.Ia duduk lama menatapnya, jari-jarinya beberapa kali menyentuh layar seakan ingin menuliskan sesuatu. Tapi tiap kali hendak mengetik, dadanya sesak oleh keraguan.







