LOGINJosselyn hampir bernapas lega saat Killian keluar dari tepi kolam.Air menetes pelan dari tubuh pria berpostur tegap itu, saat ia meraih jubah panjang yang telah disiapkan. Tanpa tergesa, ia mengenakannya, menutup tubuhnya dengan gerakan tenang seolah tak terjadi apa pun barusan.Darius sudah berdiri tegak di dekat pintu keluar.“Yang Mulia,” ucapnya singkat, bersiap mengikuti.“Tidak,” potong Killian datar. Menghentikan langkahnya tepat di belakang pintu.Darius mengangkat pandangan.“Antar dia ke kamarnya,” lanjut Killian tanpa menoleh. “Dan pastikan, dia tidak sempat berpikir untuk kabur.”Nada suaranya rendah. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih dingin.Darius mengangguk. “Baik, Yang Mulia.”Killian melangkah pergi dan menghilang di balik pintu, tanpa sekali pun menoleh ke belakang.Josselyn menghembuskan napas panjang. “Bagus, dia sudah pergi,”“Jadi… sampai kapan kau akan berendam di sana?”Suara Darius membuat Josselyn tersentak. Dia hampir saja melupakan
Air beriak pelan saat Josselyn mundur.Tangannya refleks menyilang di depan dada, menutupi tubuhnya yang terendam setengah di dalam kolam. Napasnya tercekat begitu sosok itu semakin jelas di hadapannya.Killian berdiri di tepi kolam, menatapnya tanpa berkedip.“Kenapa Anda ada di sini?” ucap Josselyn cepat. Tapi sedetik kemudian ia langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.‘Bodoh! Ini tempat rahasia Killian. Dia bisa kapan saja berada di sini. Justru kau, Josselyn! Kenapa kau di—’Gumaman di pikiran Josselyn langsung terpotong, saat ia melihat Killian sudah bertelanjang dada dan kini masuk perlahan ke kolam.Mata biru keabuan itu terus mengamatinya. Seperti sedang menganalisa sesuatu.“Tempat ini milikku. Dan untuk selanjutnya, akan menjadi tempat pertemuan rahasia kita berdua.” gumamnya pelan.Josselyn mengernyit. “Apa maksud Anda?”Killian melangkah mendekat—tenang, tanpa riak.Josselyn kembali bergerak mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding kolam.“Berhenti di situ!” d
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahnya kaku seperti biasa.“Waktumu terbatas,” katanya dingin. “Bersiaplah.”Josselyn mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa berat. Bahkan tubuhnya juga terasa aneh.“Bersiap untuk apa?” suaranya serak. Ia mencoba untuk duduk.Darius menatapnya sekilas. “Kau dibebaskan.”Josselyn berhenti memijit kepalanya. Pandangannya naik, menatap manik mata Darius yang tertimpa cahaya obor.“…Apa?” “Dengan syarat.” Darius memotong cepat. Ekspresinya yang keras seolah tak nyaman melihat semburat harapan yang muncul di wajah gadis itu.Josselyn menghela napas berat. Wajahnya menunjukkan kelelahan luar biasa.“Syarat apa?” tanyanya sedikit malas.“Bukan tugasku menjelaskan,” jawab Darius singkat. “Be
“Yorick sudah meninggalkan penjara bawah tanah semalam, Yang Mulia.” Darius mempercepat langkahnya mengimbangi Killian. “Kau membiarkannya berdua saja dengan Josselyn di sel?” tanya Killian dingin, tanpa menoleh. “A-ada dua penjaga di luar sel. Saya pikir Josselyn butuh ruang untuk perawatan lukanya.” jawab Darius gugup. Killian belok di tikungan terakhir. Melewati dua penjaga berbadan kekar, lalu menuruni tangga yang curam menuju ruangan gelap gulita. Darius segera menyambar obor dari sisi dinding. Mengangkatnya lebih tinggi untuk menerangi koridor pengap itu. “Tapi, Yang Mulia… penjaga mendengar sesuatu yang aneh saat Yorick datang.” Darius melapor. Sontak Killian menghentikan langkahnya. Ia berbalik serong menghadap Darius. “Katakan.” “Tentang luka… dan….” Darius mencoba mengingat. “Menutup sempurna.” Killian mengernyitkan dahi. “Bicara yang jelas.” Ia melanjutkan langkahnya. Menyusuri lorong dingin dan panjang itu. Bayangan api yang meliuk-liuk di sekitar din
“Ini tidak normal.”Yorick mengulang kalimat itu pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Josselyn.Josselyn menelan ludah. “Anda sudah bilang itu tiga kali.”“Apa biasanya seperti itu?” tanya Yorick cepat. Josselyn menghela napas kesal. “Kalau ini biasa terjadi, saya tak akan seterkejut ini.”Yorick terdiam sejenak. Matanya masih menatap Josselyn, tajam, seolah sedang membedah sesuatu yang tak kasat mata.“Buka tanganmu.” perintahnya tiba-tiba.“Apa?”“Buka. Sekarang.”Josselyn ragu, tapi tetap menurut. Ia mengulurkan tangannya, dengan telapak menghadap ke atas.Yorick mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebilah pisau kecil.Josselyn langsung menarik tangannya. “Hei—! Apa yang Anda lakukan?”“Tes.” jawab Yorick tenang.“Saya tidak setuju!”“Kau ingin tahu kebenarannya atau tidak?” potong Yorick tajam.Josselyn mengatupkan rahangnya.“…Sedikit saja,” lanjut Yorick, nadanya lebih rendah. “Aku tidak akan melukaimu lebih dalam.”Josselyn menggertakkan gigi, tersirat kesal di matanya. “
“Minum.”Suara itu menariknya ke permukaan kesadaran.Josselyn membuka mata perlahan. Sosok tinggi di depan sel tampak samar di penglihatannya yang masih buram.“Kalau kau mati karena dehidrasi, aku yang disalahkan,” lanjut Darius, yang kini berjongkok di depan sel.Josselyn menatapnya tanpa ekspresi. Bibirnya masih perih—tidak, seluruh tubuhnya. Ia ingat sempat pingsan, lidahnya terluka sampai membuat tubuhnya panas dingin.“Ambil atau tidak?” tanya Darius lagi, nada suaranya tetap dingin.Josselyn perlahan bangkit duduk dengan susah payah. Rantai di pergelangan tangannya berdering pelan saat ia mengulurkan tangan, meraih cangkir kayu itu.Ia meringis saat membuka mulutnya. Sudut bibirnya, bekas darah yang mengering membuatnya sedikit perih. Tapi tenggorokannya terasa sangat kering. Ia mau tak mau meneguknya dengan hati-hati.Ia bersiap meringis ketika air dingin menyentuh lidahnya. Tapi, yang dirasakannya justru berbeda.Josselyn membeku. Alisnya sedikit berkerut.“…Tidak perih?” gu







