Beranda / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 52 – A Stone for a Crown

Share

52 – A Stone for a Crown

Penulis: Ivy Morfeus
last update Tanggal publikasi: 2026-04-26 22:53:47

“Kita melakukannya semalaman. Kau ingat?”

Suara Killian datar. Terlalu datar untuk pertanyaan seberat itu.

Josselyn yang duduk di atas kuda, refleks mengencangkan pegangannya pada tali kekang. Rahangnya menegang.

Ia hanya menggigit bibirnya.

“Josselyn.”

Nada itu lebih rendah. Terasa mendesak.

Josselyn menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Saya ingat, Yang Mulia.” Jawabannya singkat. Tapi terlalu cepat dan rapi.

Killian memiringkan kepalanya sedikit, menatapnya dari samping.

“B
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • The Alchemist's Touch    99 – The Kiss That Brought Him Back to Life

    Keheningan di dalam sel itu terasa lebih berat daripada rantai yang melilit pergelangan tangan Killian.Tatapan Josselyn tidak goyah.“Kami tidak datang untuk menyelamatkanmu.”Suara itu dingin. Seolah-olah ia sedang membicarakan sesuatu yang tidak memiliki emosi sama sekali.Killian tersenyum tipis, napasnya tersengal. Sesekali ia terbatuk, meringis, lalu menekan dadanya.“Bagus.”Ia mengangkat sedikit kepalanya, meski gerakan itu membuat luka di lehernya kembali terbuka.“Aku hanya khawatir kau datang dengan niat bodoh.”Josselyn tidak menjawab. Tapi matanya menyapu seluruh tubuh Killian.Darah. Luka terbuka. Memar. Bekas cambukan yang bahkan belum sempat mengering sepenuhnya.Satu titik di hati terdalamnya merasakan perih.Ia seperti melihat dirinya. Disiksa, dikhianati oleh sosok yang seharusnya melindunginya.Terdengar suara tarikan napas yang terseret dari Killian.Dan itu cukup untuk membuat satu hal jelas—dia tidak akan bertahan lama.“Howarth,” gumamnya pelan tanpa menoleh.L

  • The Alchemist's Touch    98 – The Prince They Chose to Use

    Keheningan setelah kata-kata Yorick terasa lebih menekan di dada Josselyn.Tatapannya masih tertuju pada nama yang terpahat di batu nisan itu.Anne.Jari-jarinya mengepal pelan. Lalu akhirnya, ia berbicara.“Aku tidak akan membuat keputusan dalam keadaan seperti ini.”Suaranya rendah. Stabil. Tapi dingin.Yorick mengerutkan kening.“Kita tidak punya waktu untuk—”“Waktu?” potong Josselyn tajam.Ia menoleh, menatap Yorick untuk pertama kalinya sejak tamparan itu.“Waktu adalah sesuatu yang Anda miliki sejak awal. Tapi Anda memilih diam.”Kalimat itu menghantam tanpa ampun.Yorick terdiam. Untuk sesaat, tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.Hanya napas berat yang tertahan di antara mereka.“Howarth.”Suara itu memecah ketegangan.Howarth melangkah maju dari bayangan. Tatapannya tidak tertuju pada siapa pun secara khusus. Tapi terasa seperti melihat semuanya sekaligus.“Masalahnya bukan lagi siapa yang bersalah,” ujar Howarth tenang.Ia berhenti di antara mereka.“Tapi siapa yang masi

  • The Alchemist's Touch    97 – She Choose The Enemy

    “Howarth—lepaskan aku!”Suara Josselyn pecah. Tangannya mendorong dada pria itu, mencoba melepaskan diri.Tapi Howarth tidak berhenti.Ia justru mengangkat tubuh Josselyn sepenuhnya, menahannya erat, lalu berjalan menjauh dari gerbang istana tanpa menoleh lagi.“Diam,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau kau terus seperti ini, kau akan membunuh dirimu sendiri sebelum sempat membalas.”“Aku harus kembali—!” Josselyn berusaha memberontak lagi. “Anne—dia—”“Sudah mati.”Kalimat itu jatuh datar. Tidak dingin. Tidak kejam. Tapi mutlak.Langkah Howarth tidak melambat.Josselyn membeku di pelukannya. Rasa kehilangan itu merambat perlahan di dadanya. Tidak hanya sekadar shock. Tapi seperti ada sesuatu yang retak di dalam dirinya.Tangannya yang tadi mencoba melawan perlahan jatuh lemas.Howarth membawa Josselyn melewati jalur sempit di sisi istana, menjauh dari cahaya obor dan langkah prajurit. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area yang jarang dilewati—hutan kecil di dekat danau

  • The Alchemist's Touch    96 – The Letter in Her Dead Hand

    Tatapan Raja tidak pernah benar-benar hangat.Malam itu, pandangan itu terasa lebih dingin dari biasanya.“Seorang Alkemis… berkeliaran di penjara bawah tanah selarut ini.”Suara Raja Aleric datar, hampir seperti tidak tertarik. Tapi ketika Josselyn melihat sorot matanya, ia bisa melihat kilatan kejam yang hampir sama dengan Killian.Ia segera menundukkan kepala sedikit.“Saya hanya… mencari udara segar, Yang Mulia.”Sepersekian detik berikutnya ia langsung menggigit bibir bagian bawahnya. Alasan itu konyol dan tak masuk akal. Tapi hanya kalimat itu yang muncul di kepalanya.‘Howarth!’Sekali lagi, ia memanggil di kepalanya.“Ah, jadi kau di sini.,” Nada ringan yang familiar itu tiba-tiba terdengar. Josselyn refleks mendongak. “Aku mencarimu ke mana-mana.”Howarth baru saja muncul dari arah koridor, berhenti beberapa langkah di belakang Raja.Josselyn menahan napas lega yang hampir lolos saat melihatnya.Pria cantik itu sempat memberi gestur dengan matanya, sebelum Raja benar-benar

  • The Alchemist's Touch    95 – The Girl in the Dungeon

    “Nona Josselyn, ini… surat untuk Anda.”Suara itu masih terngiang. Beserta sepucuk surat tanpa nama. Bukan surat wangi dan bersih—tapi tetap membuat jantung Josselyn berdebar karena alasan lain.Kertasnya lusuh, terlihat apa adanya. Juga tarikan garis pada huruf-hurufnya yang bergelombang. Seakan memberitahu keputusasaan yang dialami si penulis.Surat yang membawanya diam-diam masuk ke area ini lagi.Dinding penjara bawah tanah membangkitkan ingatan yang ingin ia lupakan—dingin, lembap dan… rasa besi.Rasa darah seperti saat itu.Josselyn berdiri diam di ambang lorong, jari-jarinya mengepal pelan di balik lengan jubahnya.Sebuah kilatan singkat melintas di benaknya—napas berat, jarak yang terlalu dekat, dan rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi mulutnya.Lalu cairan merah itu mengalir, bersamaan dengan geraman marah si pemilik bibir yang ia gigit.Ia masih mengingat dengan jelas.Di tempat inilah… ia pernah menggigit bibir Killian hingga berdarah.Tidak hanya itu, untuk pertama kalinya,

  • The Alchemist's Touch    94 – The King’s Hidden Hand

    Josselyn tidak langsung menjawab.Kata-kata Howarth masih menggantung di udara, seperti benang tipis yang tak terlihat… tapi perlahan menarik pikirannya ke arah yang tak ingin ia tuju.Orang yang salah.Itu tidak masuk akal.Atau… mungkin terlalu masuk akal.Ia menelan ludah. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.“Apa maksud Anda?” ulangnya pelan, suaranya nyaris berbisik.Howarth terdiam. Matanya yang tajam justru mengamati Josselyn. Menunggu sekaligus menilai respons gadis itu.Seolah ingin memastikan… apakah gadis itu benar-benar siap mendengar.“Kau sempat merasa aneh, kan?” katanya ringan, seolah sedang membahas gosip yang menarik.Josselyn mengernyit.“Aneh?”Howarth mengangkat bahu santai.“Raja,” lanjutnya santai. “Putranya dituduh mencoba membunuh Ratu… dan dia hanya duduk diam. Tenang sekali. Nyaris mengagumkan.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat dada Josselyn menegang. Ia memang memikirkannya.Sejak sidang itu. Sejak tatapan Raja yang terlalu tenang.“T

  • The Alchemist's Touch    78 – Silence Is Also an Answer

    “Kenapa kita tidak kabur saja?”Kata-kata Darius masih menggantung di udara, berat, menekan, seolah memiliki wujud.Ruangan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Terlalu sunyi. Bahkan Josselyn tak dapat mendengar isi kepalanya sendiri.Ia berdiri di sana, membelakangi Darius, jemarinya masih menceng

  • The Alchemist's Touch    76 – The Prince’s Dog

    Rasa sakit itu tidak datang sekaligus.Ia merambat.Perlahan. Pasti. Seperti racun yang sengaja dibiarkan menyebar.Darius menggantung dengan kedua tangan terikat rantai besi di atas kepalanya. Pergelangan tangannya sudah lecet, kulitnya terbuka, darahnya mengering lalu pecah lagi setiap kali tubuh

  • The Alchemist's Touch    72 – She Let It Happen 🔞🔞🔞

    Jarak itu seharusnya tidak pernah ada. Terlalu dekat. Begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan, hangat dan tidak stabil di antara ruang yang semakin sempit. “Lady Josselyn…” suara Darius rendah, nyaris seperti permintaan yang tidak ia sadari. Josselyn tidak langsung menjawab. Ta

  • The Alchemist's Touch    71 – The Night She Didn’t Come

    Ruangan itu terlalu sunyi—dan Killian membencinya.Tidak ada suara langkah. Tidak ada ketukan di pintu. Tidak ada napas lain selain miliknya sendiri.Killian berdiri di dekat jendela, tatapannya jatuh pada kegelapan taman istana. Tangannya terlipat di belakang punggung, posturnya tegak seperti bias

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status