LOGIN“Ini tidak akan cukup…”Suara Josselyn nyaris tak terdengar saat ia menatap anak laki-laki di hadapannya.Tubuh kecil itu menggigil. Bibirnya pucat. Dan noda merah yang mengering di sudut mulutnya membuat dada Josselyn terasa sesak.Kael berdiri di sampingnya.“Kondisinya memburuk sejak semalam.”Josselyn tidak menjawab. Tangannya sudah bergerak lebih dulu.Ia berlutut. Tangannya menyentuh dahi anak itu—panas, dengan suhu yang tak wajar.“Sejak kapan muntah darah?” tanyanya pelan.“Dua anak mulai tadi malam. Yang lain… pagi ini,” jawab salah satu wanita desa di belakang mereka.Josselyn mengangguk kecil.“Semua mundur.”Nada suaranya berubah. Lebih tegas.Orang-orang langsung menurut. Mereka mundur beberapa langkah, memberi ruang.Kael tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan di samping Josselyn.Gadis itu menarik napas panjang. Matanya terpejam sesaat. Fokus. Seperti yang selalu ia lakukan. Seperti yang biasanya berhasil.Tangannya mulai menghangat. Cahaya samar muncul di ujung jarinya
“Brengsek…”Gumamannya pelan, hampir seperti desisan. Ia menyeka bibirnya dengan kasar.Udara malam terasa lebih dingin saat Josselyn keluar dari kamar itu.Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi keras—hampir seperti ia sengaja membantingnya.Langkahnya cepat. Tidak teratur.Dadanya masih naik turun, bukan hanya karena marah, tapi juga karena sesuatu yang lebih mengganggu.Sentuhan itu.Ciuman itu.Dan cara Killian menatapnya, seolah semua yang ia katakan tadi tidak ada artinya sama sekali.“Aku benar-benar butuh udara.”Ia berbelok ke arah belakang rumah, mencari udara. Mencari jarak untuknya bernapas.Dan di sanalah ia berhenti.Seseorang sudah lebih dulu berdiri di sana.“Darius.”Bersandar santai pada pagar kayu, satu kaki terangkat sedikit, seolah ia sudah berada di sana cukup lama.Tatapannya langsung beralih ke Josselyn. Perlahan turun. Seakan sedang mengamati.Josselyn mengerutkan kening. “Apa?”Dia langsung membalikkan tubuh dan ikut bersandar di samping Darius.Pria bert
“Apa maksud Anda… hampir membunuh seseorang?”Suara Josselyn tidak keras. Tapi cukup membuat udara di dalam ruangan terasa lebih berat.Howarth tidak langsung menjawab. Ia berdiri bersandar di dekat pintu, satu tangannya menyentuh rahang yang masih memar.Sebastian melirik kakaknya, lalu kembali ke Josselyn.“Dia tidak bercanda,” gumamnya ringan, meski nada suaranya lebih serius dari biasanya. “Kalau aku tidak menarik beberapa prajurit menjauh, mungkin sekarang sudah ada mayat.”Josselyn menegang.“Siapa?” tanyanya lagi.Howarth menghela napas pelan.“Rivan.”Hening. Hanya suara napas Josselyn yang sedikit tertahan.“Apa… yang sebenarnya terjadi?” suaranya lebih rendah sekarang.Howarth menatapnya sejenak, seolah mempertimbangkan seberapa banyak yang harus ia katakan. Lalu akhirnya ia berbicara.“Malam tadi… Yang Mulia keluar tanpa pengumuman.”Josselyn mengernyit.“Dengan beberapa prajurit. Tidak banyak.”Sebastian menyilangkan tangan.“Jika kau berpikir itu untuk patroli, jelas buka
“Kau tidak bisa menyembuhkan dirimu sendiri?”Suara Kael rendah. Hampir seperti bisikan, tapi cukup dekat untuk membuat Josselyn menegang.Ia tidak langsung menjawab. Napasnya masih berat sejak tadi. Setiap gerakan kecil membuat punggungnya terasa seperti terbakar dari dalam.“Aku bertanya,” ulang Kael pelan, sedikit menunduk agar sejajar dengannya. “Kau tidak bisa?”Josselyn mengerjapkan mata perlahan.Bayangan itu datang begitu saja.Darah.Pisau.Dan senyum tenang Yorick.Ia ingat dengan jelas bagaimana pria itu pernah menyayat tangan Josselyn—dalam, tanpa ragu. Dan bagaimana lukanya menutup cepat. Dan hampir tak meninggalkan bekas.Josselyn menelan ludah.“Aku… bisa,” gumamnya akhirnya. “Seharusnya bisa.”Kael tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun ke punggung Josselyn, meski tertutup kain yang mulai menggelap karena darah.“Lalu kenapa tidak?” tanyanya lagi.Josselyn menggeleng pelan.“Aku juga tidak tahu…” suaranya semakin kecil. “Mungkin… karena lukanya terlalu parah.”‘At
“Siapa yang melemparnya?”Suara Killian tidak keras. Justru itu yang membuat seluruh balai desa terasa membeku.Josselyn masih berada dalam pelukannya. Napasnya tidak stabil. Setiap tarikan terasa seperti menggesek luka di punggungnya.Tidak ada yang berani menjawab. Hanya suara angin yang melewati sela bangunan kayu.“Yang Mulia—”Seorang prajurit maju setengah langkah.“Biarkan kami—”“Tidak.”Satu kata pendek dan tegas.Josselyn mendengar gemuruh di dada Killian. Dan tak sengaja, matanya menangkap gerakan tangan Killian, memegang gagang pedang.‘Dia tak akan melakukan itu kan?’ pikir Josselyn, panik. Jarinya langsung mencengkeram lengan baju Killian.“Yang Mulia, jangan…”Suaranya lemah. Hampir tidak terdengar.Killian tidak berhenti.“Lepaskan.” perintahnya, datar dan dingin.Josselyn menggeleng pelan. Napasnya tersengal.“Kalau Anda melakukan itu…” ia menarik napas dengan susah payah, “semua yang saya lakukan di sini… akan sia-sia.”Killian akhirnya menoleh. Matanya turun menatap
“Kita melakukannya semalaman. Kau ingat?”Suara Killian datar. Terlalu datar untuk pertanyaan seberat itu.Josselyn yang duduk di atas kuda, refleks mengencangkan pegangannya pada tali kekang. Rahangnya menegang.Ia hanya menggigit bibirnya.“Josselyn.”Nada itu lebih rendah. Terasa mendesak.Josselyn menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.“Saya ingat, Yang Mulia.” Jawabannya singkat. Tapi terlalu cepat dan rapi.Killian memiringkan kepalanya sedikit, menatapnya dari samping.“Benarkah?”Josselyn menggertakkan gigi samar. ‘Kenapa dia bertingkah seperti bocah yang menginginkan perhatian?’Ia menoleh sebentar, lalu menatap lurus ke depan.“Apa Anda ingin saya mengulangnya satu per satu, Yang Mulia?” Ia mengedarkan pandangannya—ke Darius, Howarth, Sebastian, Kael dan beberapa prajurit. “Agar mereka juga mendengarnya.”Josselyn menahan napasnya. Sambil terus berdoa dalam hati,‘Katakan ‘tidak’ dan sudahi pembicaraan ini. Kalau tidak, aku harus berbohong lebih banyak lagi.
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny
Yorick berdiri di bawah bayangan lengkungan batu taman, memperhatikan jalur batu yang membentang menuju danau kecil istana.Langkah seseorang terdengar dari kejauhan.Ia mengenali gaun hijau itu bahkan sebelum wajahnya terlihat jelas.“Josselyn…”Gadis itu berjalan perlahan, tapi langkahnya goyah.







