로그인Rasa sakit itu tidak datang sekaligus.Ia merambat.Perlahan. Pasti. Seperti racun yang sengaja dibiarkan menyebar.Darius menggantung dengan kedua tangan terikat rantai besi di atas kepalanya. Pergelangan tangannya sudah lecet, kulitnya terbuka, darahnya mengering lalu pecah lagi setiap kali tubuhnya bergerak sedikit saja.Dingin ruang bawah tanah tidak membantu.Justru memperjelas segalanya.Setiap luka. Setiap denyut. Setiap napas.Tubuhnya hampir telanjang. Hanya sisa kain tipis yang tidak cukup untuk menutupi apa pun. Keringat mengalir dari pelipisnya, turun melewati luka-luka di dadanya.Menambah perih.Langkah sepatu terdengar. Perlahan dan berat.Darius tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa itu.“Masih hidup.”Suara itu tenang. Hampir bosan.Darius tersenyum tipis. Bibirnya pecah.“Sayangnya… masih.”Killian berdiri di depannya. Tegap. Bersih. Tidak tersentuh sedikit pun oleh kekacauan yang ia ciptakan.Pecut masih ada di tangannya. Basah. Dan ada bekas merah yang ter
“Ugh…”Josselyn masih mengusap kepalanya, yang menjadi tempat mendarat buku sebelum akhirnya itu terbuka di lantai.Josselyn membungkuk dan mengambilnya.Begitu jemarinya menyentuh sampulnya, dahinya berkerut.Buku itu tipis. Tapi sampulnya kaku, dan cukup keras, terbuat dari kayu. Josselyn membaliknya—baru menyadark dari mana rasa sakit itu berasal.Ujung dan tengah sampulnya dipasang tonjolan logam. Jelas itu akan terasa sakit sekali saat mengenai kepalanya.“Untung kepalaku tidak sobek karena logam ini.” gumamnya.Ia membukanya.Kertasnya menguning. Beberapa bagian bahkan terlipat dan lecek, seperti sudah dibuka beratus kali. Pinggirannya tidak rapi—ada bekas sobekan, noda samar yang tidak bisa ia pastikan itu apa.Tapi… sampulnya bersih. Tidak ada debu. Tidak ada lapisan yang biasanya menempel pada benda yang lama tidak disentuh.Alis Josselyn tertaut.“…seseorang sering membacanya.”Ia menoleh sekilas ke arah pintu, lalu kembali menatap buku itu.Ruang Herbal ini bukan tempat yan
“Ke mana kau semalam, Darius—hingga seseorang bisa masuk ke kamarku tanpa izin?”Udara di lorong itu berubah. Hanya ada mereka bertiga, tapi udara terasa sesak dan sempit.“Darius.”Suara itu datar. Tidak tinggi, tidak keras—tapi cukup untuk membuat tulang belakang menegang.Josselyn berhenti. Perlahan, ia menoleh.Killian sudah berdiri di sana.Tidak ada yang tahu sejak kapan. Tidak ada suara langkah. Seakan ia memang sudah seharusnya ada di sana sejak awal.Tatapannya langsung tertuju pada Darius.“Tak bisa kau jelaskan?”Pertanyaan itu sederhana. Tapi cara ia mengucapkannya, membuat udara di tenggorokan berhenti.Darius tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak. Bahunya kaku, tapi tidak menunduk.“Saya sedang tidak bertugas, Yang Mulia.”Jawaban yang aman tapi terasa janggal.“Saya bertukar jadwal dengan Eric, karena…”Darius sedikit memalingkan wajah, hingga pipi kebiruannya terlihat lebih jelas dari arah Killian.Killian tidak langsung merespons. Ia menatap bekas serius yang diak
Pipi itu semakin jelas warnanya. Biru keunguan, kontras dengan kulit Darius yang biasanya tenang dan bersih dari luka mencolok. Josselyn menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Apa tidak sakit?” tanyanya akhirnya. Darius tersenyum tipis. Menggosok pipinya pelan. “Tidak seberapa.” Josselyn mendengus pelan. “Kalau tidak segera diobati, warnanya akan semakin buruk.” Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. “Ikut. Ke Ruang Herbal.” Darius terdiam sepersekian detik di tempatnya. “…Sekarang?” tanyanya, nadanya sedikit berubah. Josselyn menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Tentu saja sekarang. Anda ingin menunggu sampai wajah Anda jadi bahan lelucon para ksatria lain?” “Tidak, aku hanya—” Darius terbatuk pelan, mengalihkan pandangan. “Baik. Aku ikut.” ‘Ada sesuatu yang aneh dengannya.’ pikir Josselyn. Cara pria itu berjalan di sampingnya sedikit kaku. Terlalu sadar akan jarak. Atau justru… terlalu sadar akan kedekatan mereka. Josselyn tidak mengataka
Jarak itu seharusnya tidak pernah ada. Terlalu dekat. Begitu dekat hingga napas mereka saling bertabrakan, hangat dan tidak stabil di antara ruang yang semakin sempit. “Lady Josselyn…” suara Darius rendah, nyaris seperti permintaan yang tidak ia sadari. Josselyn tidak langsung menjawab. Tangannya masih mencengkeram lengan pria itu—entah untuk menahan diri… atau justru karena ia tidak ingin dilepaskan. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Dan ia tahu… ia seharusnya menghentikannya. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Hanya napasnya yang berubah. Lebih berat. Lebih cepat. Darius menatapnya, mencari sesuatu—penolakan, mungkin. Ketika tidak menemukannya… ia mendekat. Ciuman itu jatuh pelan. Hampir ragu. Hanya sekilas menyentuh bibir Josselyn—ringan, seolah bisa ditarik kembali kapan saja. Dan memang ia berhenti. Menunggu. Josselyn tidak membalas. Tapi juga tidak menjauh. Hanya keheningan yang cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Darius runtuh. Ciuman berikutnya d
Ruangan itu terlalu sunyi—dan Killian membencinya.Tidak ada suara langkah. Tidak ada ketukan di pintu. Tidak ada napas lain selain miliknya sendiri.Killian berdiri di dekat jendela, tatapannya jatuh pada kegelapan taman istana. Tangannya terlipat di belakang punggung, posturnya tegak seperti biasa—terkendali, tak tergoyahkan.Setidaknya… terlihat begitu.Ia tidak bergerak saat jam berdentang pelan di sudut ruangan.Satu kali.Dua kali.Tiga.Sudah lewat dari waktu yang seharusnya.Rahangnya mengeras.Gadis itu akan datang.Dia harus datang.Karena dia selalu datang—dan semua yang menjadi miliknya, selalu kembali.Pikiran itu muncul begitu saja, dingin dan pasti—seperti semua hal lain yang selama ini berjalan sesuai kehendaknya.Namun menit-menit berikutnya berlalu.Dan pintu itu… tetap tertutup.Hening.Killian menggeser pandangannya ke arah pintu. Tatapannya tajam, seolah bisa memaksanya terbuka hanya dengan kehendaknya.Tapi tidak ada yang terjadi.Jari-jarinya menegang perlahan.
“Sebutkan namanya.”Suara Killian masih rendah. Tidak meninggi. Tidak marah. Tapi justru itu yang membuat dada Josselyn terasa sesak.Ia menatap pecahan kaca di lantai.“S-saya, tidak ingat, Yang Mulia.”Josselyn menelan ludah. Ia mengingatnya dengan jelas. Bagaimana mereka memanggil namanya dengan
“Pagi ini istana terasa lebih tenang,” lanjut Yorick.Josselyn menatap cangkirnya.Saat ibunya masih hidup, ia sering membantu meracik ramuan di laboratorium kecil mereka. Ia hafal hampir semua aroma tumbuhan dan akar kering.‘Aroma ramuan ini beda. Asing.’ Josselyn melirik Yorick. ‘Apa Tuan Yorick
“Tuan Howarth—”Suara Yorick terdengar lebih tajam dari biasanya.“Letakkan dia dengan hati-hati.”Howarth masih menopang tubuh Josselyn yang hampir jatuh di pelukannya. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah Josselyn dengan alis terangkat.“Aku tidak tahu tabib kerajaan mudah pingsan sepe
Sesuatu yang berat jatuh tepat di tubuhnya.“Bangun.”Josselyn tersentak. Matanya terbuka setengah, napasnya tercekat sejenak sebelum akhirnya ia sadar.Selimut.Ia menatap kain tebal yang kini menutupi tubuhnya, lalu mengangkat pandangan dengan pelan.Darius berdiri di ambang pintu selnya, wajahny







