Masuk“Kau sadar, satu tetes madu bisa dianggap racun di istana ini?” bisik Yorick.
Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Tidak mungkin,” Josselyn hampir berhenti. “Justru jika saya tak ubah rasanya, saya takut Ratu akan mengira ku berusaha meracuninya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya hampir menyentuh rambut Josselyn—gerakan refleks yang lembut—namun berhenti saat sebuah suara memanggil. “Josselyn.” Suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi tidak dengan tatapan matanya. Killian melirik Yorick sedikit lebih lama, lalu kembali ke Josselyn. “Kau membuat Ratu menunggu.” ucapnya lagi, menyudutkan. Josselyn baru saja akan membuka mulutnya, namun terhenti saat tabib muda itu melangkah maju. “Maaf, Yang Mulia. Ini pertama kalinya Josselyn akan bertemu dengan Ratu. Dia pasti gugup.” Killian berdecak. Wajahnya seperti menyadari bahwa ucapan Yorick ada benarnya. Ia berdiri di depan pintu kamar Ratu. Tangannya bersedekap, tubuhnya menghalangi jalan seperti tembok hidup. Tatapannya turun ke tabung ramuan di atas nampan. “Itu yang baru?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan. “Ya, Yang Mulia. Saya menambahkan dengan madu. Agar Ratu lebih nyaman meminumnya.” “Apa akan mempengaruhi khasiat ramuannya?” Killian kini menatap Yorick, seakan menegaskan ketidak percayaannya pada Josselyn. “Pengaruh buruk tidak ada, Yang Mulia. Madu justru menambah rasa manis yang sehat dan memaksimalkan fungsi bahan herbal lainnya.” jawab Yorick tenang. Killian menaikkan sebelah alisnya. Ekspresinya berubah, tak menyangka dengan jawaban positif Yorick. Ia memiringkan sedikit kepalanya, melirik Josselyn yang bersembunyi di belakang Yorick. Jantung Josselyn berdebar. Ia menunduk. Tatapan Killian terlalu tajam, seperti pedang yang siap setiap saat menebas lehernya. Pikiran itu tidak berlebihan. Seluruh Kerajaan Valenroth sudah mengetahui tentang tabiat Putra Mahkota Killian. Kill—namanya sama seperti cerita-cerita yang beredar tentangnya—pedang yang dihunus tanpa ragu, dan perintah yang tak pernah ditarik kembali. “Hm.” Killian menoleh ke Yorick. “Tabib.” “Ya, Yang Mulia,” Yorick membungkuk singkat. Killian melangkah setengah langkah mendekat. “Kalau terjadi apapun pada ibuku—” “Saya yang bertanggung jawab,” potong Josselyn cepat. Killian menatapnya tajam. “Berani sekali.” Josselyn mengangkat kepalanya pelan. Beberapa minggu lalu, dia hanyalah anak dari pasangan pengkhianat. Ayahnya telah dihukum mati oleh Raja Aleric—ayah Killian. Dan rumornya, ibunya sempat kabur menghindari hukuman mati, walaupun pada akhirnya tetap tertangkap dan hukuman tetap dilaksanakan. Dan kini, seolah diberi kesempatan dari langit, ia dipanggil ke istana—bukan untuk dihukum mati seperti kedua orang tuanya, melainkan untuk menyembuhkan Ratu yang sakit. ‘Tragis, bukan?’ pikir Josselyn, ‘Orang yang membunuh keluargaku, membutuhkanku untuk menyembuhkan istrinya. Alasannya? Karena hanya resep ramuan herbal dari mendiang ibu yang dapat menyembuhkan Sang Ratu.’ Josselyn hampir terkekeh menyadari nasibnya. ‘Sekarang, karena ibu sudah mereka ‘hilangkan’, aku sebagai putri satu-satunya si pemilik resep, disandera sebagai asisten tabib istana.’ Mereka berharap ia tumbuh sebagai gadis penakut. Tapi itu tidak akan terjadi. “Itu yang diajarkan oleh Althea, Sang Alkemis Valenroth.” jawab Josselyn akhirnya. Keheningan menggantung. Bahkan Yorick tampak menahan napas. Josselyn tak bisa menyalahkan. Menyebut nama mendiang ibunya di depan Putra Mahkota memang sengaja ia lakukan. Ia ingin mereka selalu ingat, hal kejam yang pernah mereka lakukan pada orang tuanya sehingga membuat kebahagiaannya runtuh seketika. “Masuk,” kata Killian akhirnya. Ia membuka pintunya untuk Josselyn. ***~*** Kamar Ratu jauh lebih tenang dari yang Josselyn bayangkan. Tirai tipis berwarna gading menahan cahaya pagi, aroma bunga kering bercampur obat memenuhi udara. Di ranjang besar itu, Ratu Elowen berbaring dengan punggung disangga bantal. Kulitnya pucat, tapi matanya—tajam dan hidup. Membuat Josselyn lega begitu melihatnya. “Jadi ini gadis itu?” suara Ratu lirih, tapi tegas. Josselyn berlutut cepat. “Hamba Josselyn, Yang Mulia.” “Kau mencicipi ramuannya?” tanya Ratu tanpa basa-basi. Josselyn mengangguk, dengan kepala masih tertunduk. “Ya, Yang Mulia.” “Angkat wajahmu.” perintah Ratu. Josselyn menuruti. Ia mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan mata biru keabuan milik Ratu. “Matamu tidak berbohong,” gumam Ratu. “Kau sudah mencicipinya.” Ratu kemudian mengulurkan tangan. “Berikan.” Josselyn berdiri, melangkah mendekat, lalu menyerahkan nampan dengan tabung di atasnya. Ratu menghirup aromanya. “Kau menambahkan madu.” “Iya, Yang Mulia. Sedikit. Tidak mengubah khasiatnya.” “Siapa yang mengajarimu menakar tanpa merusak?” Josselyn terdiam sebentar. Ada rasa perih yang berdenyut di sudut hatinya setiap kali ia akan menyebut nama ibunya. “Ibu hamba.” jawab Josselyn akhirnya, sedikit lirih. Hening. Ratu terlihat menyadari sesuatu. “Althea seorang alkemis herbal yang hebat,” ucap Ratu. “Tapi sayangnya, ia terhasut oleh suaminya untuk mengkhianati kerajaan.” Josselyn tak menjawab. Ia meremas gaunnya. “Kami memanggilmu ke istana, dan menjadikanmu asisten tabib, untuk memberimu kesempatan menghapus pengkhianatan orang tuamu.” Titik di hatinya bertambah sakit. Tangannya gemetar. ‘Kalian yang membunuhnya tanpa bukti yang kuat! Kalianlah yang seharusnya meminta maaf padaku!’ Ingin sekali ia meneriakkan itu tepat di depan wajah wanita tua yang berbaring lemah itu. Tapi jika ia melakukannya, Killian akan benar-benar mengayunkan pedang ke lehernya saat itu juga. “Terima kasih, Yang Mulia.” jawab Josselyn akhirnya, suaranya bergetar menelan semua amarahnya. Ratu menatapnya lama, lalu minum. Killian refleks maju selangkah. “Ibu.” Walaupun ia mengizinkan Josselyn masuk ke kamar ibunya, tapi ia masih belum bisa mempercayai gadis itu. Ratu hanya memberikan isyarat dengan tangannya. Beberapa detik berlalu, yang terasa bagaikan setahun. Josselyn menahan napas, menunggu. “Aku merasakan hangatnya,” ujar Ratu akhirnya. “Tubuhku jadi lebih nyaman.” Josselyn hampir terjatuh karena lega. “Mulai hari ini,” lanjut Ratu, “kau yang akan mengantar ramuanku. Tidak lewat pelayan.” Killian langsung menoleh. “Ibu—” “Ini perintah.” Josselyn menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Yang Mulia.” Ratu tersenyum samar. “Jangan berterima kasih dulu. Kepercayaanku bukan hadiah. Itu beban.” Josselyn menerima kata-kata itu tanpa membantah. Beban selalu berarti satu hal: ia kini sedang diuji. Ia menunduk, lalu berbalik meninggalkan kamar Ratu. “Jantungmu masih berdetak?” bisik Yorick saat mereka berjalan di koridor. Josselyn tertawa kecil, gugup. “Hampir berhenti.” “Kau menjawab Ratu dengan sangat baik.” Yorick menoleh ke arah Josselyn. “Dan aku percaya padamu.” Langkah Josselyn melambat. Kepercayaan. Sudah lama tak ada yang memberinya itu. “Josselyn, ada apa?” Josselyn tersadar. Ternyata Yorick sudah beberapa langkah di depannya. Ia menggeleng cepat. “Tidak. Tidak apa-apa.” Josselyn bergegas menghampiri Yorick. “Kau sakit? Ah kau pasti lelah karena terlalu keras berlatih. Apa lagi suasana di dalam tadi.” Josselyn tersenyum lebar. “Tidak, Tuan. Hanya… terima kasih.” Yorick berhenti sebentar. Ia menghadap Josselyn. “Untuk apa?” Josselyn tak segera menjawab. Ia berdehem beberapa kali. “Karena mempercayaiku.” jawabnya malu-malu. Yorick tertawa pendek. Lalu mulai melangkahkan kaki lagi. “Josselyn,” Yorick menurunkan suaranya. “Mulai sekarang, kau harus berhati-hati. Jangan mempercayai siapapun.” “Aku tahu,” lanjut Josselyn. Ingatannya tentang malam itu kembali hadir. Tangannya tanpa sadar mengepal. Yorick melirik, sekilas ia menangkap ketegangan di wajah Josselyn. Tapi ia tak berkomentar. “Statusmu—” “Sebagai anak pengkhianat?” Yorick mengangguk canggung. “mengundang orang untuk berbisik. Terlebih kehadiranmu di istana.” Josselyn menarik napas panjang. Ia tahu. Dan ketika seseorang tidak menyukai sesuatu, ia akan melakukan apapun untuk meluapkannya. Seperti yang Killian lakukan padanya. “Aku hanya memperingatkanmu saja. Karena besok Raja mengadakan pesta untuk Putra Mahkota. Jadi, akan lebih banyak orang yang hadir di istana.” Josselyn menoleh. Ekspresinya berubah penasaran. “Pesta? Di saat Ratu sedang sakit?” “Justru itu upaya Raja mempersiapkan tahta untuk Putra Mahkota. Pesta itu untuk mencari jodoh buat Putra Mahkota Killian.” “Ah…” “Raja berharap Putra Mahkota segera menikah dan mewarisi tahtanya. Sehingga ia bisa lebih leluasa menemani Ratu.” jelas Yorick. Josselyn tak menjawab. Suatu ide muncul di benaknya. “Tuan Yorick, apakah Putra Mahkota akan langsung memilih calon istrinya di pesta itu?” Yorick terlihat berpikir sebentar. “Iya dan tidak. Jika Putra Mahkota sudah menemukan Putri yang tepat, tentu mereka akan segera bertunangan. Tapi sayangnya…” Josselyn menatap Yorick dengan penuh harap. “Ini sudah ketiga kalinya pesta diadakan, tapi Putra Mahkota belum memilih siapapun.” Sudut bibir Josselyn sedikit terangkat. Ia menatap ke arah aula besar di ujung koridor. Jika ia bisa menarik perhatian Killian—bukan sebagai anak Alkemis, tapi sebagai seseorang yang tak bisa diabaikan—takdir istana mungkin berpihak padanya.Aula itu belum sepenuhnya tenang.Bisik-bisik masih berdesir, lebih tajam dari sebelumnya. Kali ini bukan lagi sekadar kegelisahan—melainkan kecurigaan. Mata para bangsawan berpindah, dari satu wajah ke wajah lain, sebelum akhirnya berhenti pada satu titik yang sama.Raja.Dan Clarissa.Ratu masih berada dalam pelukan Killian. Napasnya lemah, tapi stabil. Setiap tarikan napasnya seperti bukti hidup yang membungkam tuduhan yang selama ini dilontarkan.Josselyn berdiri tegak, botol kosong di tangannya masih terasa dingin.“Ini bukan percobaan pembunuhan biasa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, tapi cukup keras untuk menjangkau seluruh aula.Semua mata beralih padanya.“Racun ini tidak bekerja seperti racun biasa. Ia tidak membunuh dengan cepat.” Ia berhenti sejenak. “Ia menunggu.”Sunyi.“Menunggu kebahagiaan.”Beberapa bangsawan saling pandang.Yorick melangkah maju satu langkah, wajahnya serius.“Ramuan seperti ini,” katanya pelan, “tidak mungkin dibuat tanpa pengetahuan khusus. Dan
Josselyn menarik napas panjang, tatapannya belum berpindah dari langit hari itu.Warna birunya yang bersih dan cerah, tidak terasa seperti akhir dari segalanya.Istana Valenroth berdiri megah, dihiasi kain-kain putih dan emas yang menjuntai dari pilar ke pilar. Bunga-bunga segar memenuhi setiap sudut aula utama, aromanya manis—terlalu manis, hampir memualkan.Hari pernikahan Putra Mahkota.Hari yang seharusnya menjadi perayaan.Namun bagi Josselyn, ini terasa seperti panggung eksekusi yang disamarkan dengan kemewahan.Ia berdiri di antara para pelayan, mengenakan gaun sederhana berwarna pucat. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tenang. Sangat kontras dengan detakan jantungnya yang menggila ini.Matanya mengarah ke depan.Clarissa.Gaun pengantin itu tampak sempurna di tubuhnya—putih bersih, berkilau, dengan sulaman emas yang mempertegas statusnya sebagai calon Ratu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi mata itu… penuh kemenangan.Seolah semua ini memang sudah menjadi miliknya sejak awal
Kotak kayu kecil itu terasa lebih berat dari seharusnya di tangan Josselyn—seolah apa pun yang ada di dalamnya, bisa menyelamatkan… atau menghancurkan semuanya.Pintu terbuka tiba-tiba.Langkah berat masuk tanpa izin.Itu Darius.Tanpa basa-basi, tanpa penjelasan—ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Josselyn.“Darius—”“Aku yang akan membukanya.”Nada suaranya tegas. Tidak memberi celah Josselyn membantah.Josselyn mengernyit. “Anda bahkan tidak tahu isinya—”“Aku mendengar Raja sudah mengirim prajurit untuk menangkap pencuri di perpustakaan pribadinya. Kita tak ada waktu untuk ragu.”Ia menatapnya sekilas. Dalam. Mantap.“Aku akan memastikan kalian keluar hidup-hidup,” ucapnya pelan. “Meski harus kutukar dengan nyawaku sendiri.”Sunyi.Yorick mendengus pelan. Josselyn yakin, ia tahu mereka tak ada pilihan lain.“Terlalu sembrono.” ucapnya, menutupi kekhawatirannya.Namun, itu tidak menghentikan Darius.Darius membuka kotak itu perlahan. Engsel kayu berderit pelan. Suara kecil,
Ruangan herbal itu sunyi.Hanya suara gesekan daun kering dan aroma pahit dari ramuan yang memenuhi udara. Cahaya dari jendela kecil jatuh miring ke meja batu, menyoroti botol-botol kaca yang tersusun rapi—seolah menyimpan rahasia yang tak ingin dibongkar.Josselyn berdiri di sana, kedua tangannya bertumpu di meja.Matanya dingin.“Tuan Yorick.”Namanya dipanggil tanpa basa-basi.Pria itu yang sedang mengaduk sesuatu dalam mangkuk kecil berhenti. Gerakannya melambat. Lalu diam.Josselyn menoleh.“Saya ingin memastikan sesuatu.”Nada suaranya tenang. Yorick mengangkat pandangannya perlahan. Matanya awas, mewaspadai ucapan Josselyn berikutnya.“Ingat yang Anda janjikan pada saya?” lanjut Josselyn.Sunyi.“Saya membantu Anda,” katanya lagi. “Saya ikut dalam rencana Anda untuk menjatuhkan Killian.” Napasnya tertahan sejenak. “Dan sebagai gantinya… Anda akan memberi saya penawar.”Tatapannya menajam. Seolah sedang menuntut respons.“Penawar untuk efek kekuatan penyembuh saya.”Yorick masi
“Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.
“Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”
Udara di ruang pemeriksaan terasa terlalu tegang. Bahkan semua orang menahan napas.Josselyn berdiri di sisi ruangan, sedikit di belakang barisan bangsawan. Posisi yang cukup aman—tidak mencolok, tapi masih bisa melihat segalanya dengan jelas.Di tengah ruangan, kursi kayu tinggi ditempatkan sepert
Pintu kamar Ratu terbuka dengan cepat.Aroma obat langsung menyambut begitu Josselyn melangkah masuk—pekat, pahit, bercampur dengan wangi bunga yang mulai layu di sudut ruangan.“Lady Josselyn!”Seorang pelayan bergegas menghampirinya, wajahnya pucat. “Kami sudah mencoba memanggil Tuan Yorick, tapi
Ruangan itu gelap. Hanya cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut meja.Darius berdiri diam di dekat jendela, napasnya berat. Ia sudah mencoba tidur.Gagal.Ia sudah mencoba mengalihkan pikirannya.Lebih gagal lagi.Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.“... Sial.”Ia memejamkan mata.Dan itu kesal
Angin dingin masuk melalui celah jendela, membuat tubuh Josselyn meremang.“Tidak.”Suara Josselyn jatuh tegas di tengah ruangan kecil itu.Semua mata langsung tertuju padanya.Sebastian mengerutkan kening. “Kau menolak?”“Ya,” jawab Josselyn cepat. “Saya tidak akan menjelaskan tentang Tuan Yorick.







