Beranda / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 2 – Under the Queen’s Gaze

Share

2 – Under the Queen’s Gaze

Penulis: Ivy Morfeus
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-27 15:10:09

“Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick.

Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick.

“Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.”

Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya.

Yorick mengangguk-angguk mengerti.

“Bagus.”

Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka.

“Josselyn.”

Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu.

Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar.

“Kau lambat sekali.”

Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi tidak dengan tatapan matanya. Killian melirik Yorick sekilas, lalu kembali ke Josselyn.

“Kau membuat Ratu menunggu.” ucapnya lagi, menyudutkan.

Josselyn baru saja akan membuka mulutnya, namun terhenti saat tabib muda itu melangkah maju.

“Maaf, Yang Mulia. Ini pertama kalinya Josselyn akan bertemu dengan Ratu. Itu membuatnya gugup.”

Killian berdecak. Wajahnya seperti menyadari bahwa ucapan Yorick ada benarnya.

Ia berdiri tepat di depan pintu kamar Ratu. Tangannya bersedekap, tubuhnya menghalangi jalan seperti tembok hidup. Tatapannya turun ke tabung ramuan di atas nampan.

“Itu yang baru?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

“Ya, Yang Mulia. Saya menambahkan dengan madu. Agar Ratu lebih nyaman meminumnya.”

“Apa akan mempengaruhi khasiat ramuannya?” Killian kini menatap Yorick, seakan menegaskan ketidak percayaannya pada Josselyn.

“Pengaruh buruk tidak ada, Yang Mulia. Madu justru menambah rasa manis yang sehat dan memaksimalkan fungsi bahan herbal lainnya.” jawab Yorick tenang.

Killian menaikkan sebelah alisnya. Ekspresinya berubah, tak menyangka dengan jawaban positif Yorick. Ia memiringkan sedikit kepalanya, melirik Josselyn yang bersembunyi di belakang Yorick.

Jantung Josselyn berdebar. Ia menunduk. Tatapan Killian terlalu tajam, seperti pedang yang siap setiap saat menebas lehernya.

Pikiran itu tidak berlebihan. Seluruh Kerajaan Valenroth sudah mengetahui tentang tabiat Putra Mahkota Killian.

Kill—namanya sama seperti cerita-cerita yang beredar tentangnya—pedang yang dihunus tanpa ragu, dan perintah yang tak pernah ditarik kembali.

“Hm.” Killian menoleh ke Yorick. “Tabib.”

“Yang Mulia,” Yorick membungkuk singkat.

Killian melangkah setengah langkah mendekat. “Kalau terjadi apa pun pada ibuku—”

“Saya yang bertanggung jawab,” potong Josselyn cepat.

Killian menatapnya tajam. “Berani sekali.”

Josselyn mengangkat kepalanya pelan.

Beberapa minggu lalu, dia hanyalah anak dari pasangan pengkhianat. Ayahnya telah dihukum mati oleh Raja Aleric—ayah Killian. Dan rumornya, ibunya sempat kabur menghindari hukuman mati, walaupun pada akhirnya tetap tertangkap dan hukuman tetap dilaksanakan.

Dan kini, seolah diberi kesempatan dari langit, ia dipanggil ke istana—bukan untuk dihukum mati seperti kedua orang tuanya, melainkan untuk menyembuhkan Ratu yang sakit.

‘Tragis, bukan?’ pikir Josselyn, ‘Orang yang membunuh keluargaku, membutuhkanku untuk menyembuhkan istrinya. Alasannya? Karena hanya resep ramuan herbal dari mendiang ibu yang dapat menyembuhkan Sang Ratu.’

Josselyn hampir terkekeh menyadari nasibnya.

‘Sekarang, karena ibu sudah mereka ‘hilangkan’, aku sebagai putri satu-satunya si pemilik resep, disandera sebagai asisten tabib istana.’

Mereka berharap ia tumbuh sebagai gadis penakut. Josselyn tahu, itu tidak akan terjadi.

“Itu yang diajarkan oleh Althea, Sang Alkemis Valenroth.” jawab Josselyn akhirnya.

Keheningan menggantung. Bahkan Yorick tampak menahan napas. Josselyn tak bisa menyalahkan. Menyebut nama mendiang ibunya di depan Putra Mahkota memang sengaja ia lakukan.

Ia ingin mereka selalu ingat, hal kejam yang pernah mereka lakukan pada orang tuanya sehingga membuat kebahagiaannya runtuh seketika.

“Masuk,” kata Killian akhirnya. Ia membuka pintunya untuk Josselyn.

***~***

Kamar Ratu jauh lebih tenang dari yang Josselyn bayangkan. Tirai tipis berwarna gading menahan cahaya pagi, aroma bunga kering bercampur obat memenuhi udara.

Di ranjang besar itu, Ratu Elowen berbaring dengan punggung disangga bantal. Kulitnya pucat, tapi matanya—tajam dan hidup. Membuat Josselyn lega begitu melihatnya.

“Jadi ini gadis itu?” suara Ratu lirih, tapi tegas.

Josselyn berlutut cepat. “Hamba Josselyn, Yang Mulia.”

“Kau mencicipi ramuannya?” tanya Ratu tanpa basa-basi.

Josselyn mengangguk, dengan kepala masih tertunduk. “Ya, Yang Mulia.”

“Angkat wajahmu.” perintah Ratu.

Josselyn menuruti. Ia mengangkat kepalanya. Tatapannya bertemu dengan mata biru keabuan milik Ratu.

“Matamu tidak berbohong,” gumam Ratu. “Kau sudah mencicipinya.”

Ratu kemudian mengulurkan tangan. “Berikan.”

Josselyn berdiri, melangkah mendekat, lalu menyerahkan nampan dengan tabung di atasnya.

Ratu menghirup aromanya. “Kau menambahkan madu.”

“Iya, Yang Mulia. Sedikit. Tidak mengubah khasiatnya.”

“Siapa yang mengajarimu menakar tanpa merusak?”

Josselyn terdiam sebentar. Ada rasa perih yang berdenyut di sudut hatinya setiap kali ia akan menyebut nama ibunya.

“Ibu hamba.” jawab Josselyn akhirnya, sedikit lirih.

Hening. Ratu terlihat menyadari sesuatu.

“Althea seorang alkemis herbal yang hebat,” ucap Ratu. “Tapi sayangnya, ia terhasut oleh suaminya untuk mengkhianati kerajaan.”

Josselyn tak menjawab. Ia meremas gaunnya.

“Kami memanggilmu ke istana, dan menjadikanmu asisten tabib, untuk memberimu kesempatan menghapus pengkhianatan orang tuamu.”

Titik di hatinya bertambah sakit. Tangannya gemetar.

‘Kalian yang membunuhnya tanpa bukti yang kuat! Kalianlah yang seharusnya meminta maaf padaku!’

Ingin sekali ia meneriakkan itu tepat di depan wajah wanita tua yang berbaring lemah itu. Tapi jika ia melakukannya, Killian akan benar-benar mengayunkan pedang ke lehernya saat itu juga.

“Terima kasih, Yang Mulia.” jawab Josselyn akhirnya, suaranya bergetar menelan semua amarahnya.

Ratu menatapnya lama, lalu minum.

Killian refleks maju selangkah.

“Ibu.”

Walaupun ia mengizinkan Josselyn masuk ke kamar ibunya, tapi ia masih belum bisa mempercayai gadis itu.

Ratu hanya memberikan isyarat dengan tangannya.

Beberapa detik berlalu, yang terasa bagaikan setahun. Josselyn menahan napas, menunggu.

“Aku merasakan hangatnya,” ujar Ratu akhirnya. “Tubuhku jadi lebih nyaman.”

Josselyn hampir terjatuh karena lega.

“Mulai hari ini,” lanjut Ratu, “kau yang akan mengantar ramuanku. Tidak lewat pelayan.”

Killian langsung menoleh. “Ibu—”

“Ini perintah.”

Josselyn menunduk dalam-dalam. “Terima kasih, Yang Mulia.”

Ratu tersenyum samar. “Jangan berterima kasih dulu. Kepercayaanku bukan hadiah. Itu beban.”

Josselyn menerima kata-kata itu tanpa membantah. Beban selalu berarti satu hal: ia kini sedang diuji.

Ia menunduk, lalu berbalik meninggalkan kamar Ratu.

“Jantungmu masih berdetak?” bisik Yorick saat mereka berjalan di koridor.

Josselyn tertawa kecil, gugup. “Saya pikir akan berhenti barusan.”

“Kau menjawab Ratu dengan sangat baik.”

“Itu bukan keberanian,” kata Josselyn pelan. “Itu keputusasaan.”

Yorick tak menjawab. Hanya mengangguk.

“Madu tidak masalah, kan?” Josselyn memastikan kembali.

“Tidak.” Yorick tersenyum. “Justru itu sentuhan yang cerdas.”

“Terima kasih.”

“Josselyn,” Yorick menurunkan suaranya. “Mulai sekarang, jangan meracik sendirian sebisa mungkin. Istana ini—”

“—tidak aman,” lanjut Josselyn. Ingatannya tentang malam itu kembali hadir. Tangannya tanpa sadar mengepal.

Yorick melirik, sekilas ia menangkap ketegangan di wajah Josselyn. Tapi ia tak berkomentar.

“Statusmu—”

“Sebagai anak pengkhianat?”

Yorick mengangguk canggung. “mengundang orang untuk berbisik. Terlebih kehadiranmu di istana. Banyak orang yang tidak menyukainya.”

Josselyn menarik napas panjang. Ia tahu. Dan ketika seseorang tidak menyukai sesuatu, ia akan melakukan apapun untuk meluapkannya. Seperti yang Killian lakukan padanya.

“Aku hanya memperingatkanmu saja. Karena besok Raja mengadakan pesta untuk Putra Mahkota. Jadi, akan lebih banyak orang yang hadir di istana.”

Josselyn menoleh. Ekspresinya berubah penasaran.

“Pesta? Di saat Ratu sedang sakit?”

“Justru itu upaya Raja mempersiapkan tahta untuk Putra Mahkota. Pesta itu untuk mencari jodoh buat Putra Mahkota Killian.”

“Ah…”

“Raja berharap Putra Mahkota segera menikah dan mewarisi tahtanya. Sehingga ia bisa lebih leluasa menemani Ratu.” jelas Yorick.

Josselyn tak menjawab. Suatu ide muncul di benaknya.

“Tuan Yorick, apakah Putra Mahkota akan langsung memilih calon istrinya di pesta itu?”

Yorick terlihat berpikir sebentar. “Iya dan tidak. Jika Putra Mahkota sudah menemukan Putri yang tepat, tentu mereka akan segera bertunangan. Tapi sayangnya…”

Josselyn menatap Yorick dengan penuh harap.

“Ini sudah ketiga kalinya pesta diadakan, tapi Putra Mahkota belum memilih siapapun.”

Sudut bibir Josselyn sedikit terangkat.

Jika Raja membuka pesta untuk memilih calon istri Putra Mahkota, maka ia akan memaksa Killian melihatnya—bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai kandidat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Alchemist's Touch    5 – Wine, Steel, and Unwanted Heat

    “Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” potong Josselyn. Yorick berdiri di sisi ranjang, wajahnya tak lagi santai. “Sejak minum ramuan herbal darimu, Ratu sudah membaik. Tapi dua hari belakangan, kembali memburuk.” “Jadi, apa kita perlu naikkan dosisnya?” Josselyn menoleh, meminta konfirmasi. Ia tak bisa begitu saja menaikkan dosis tanpa persetujuan dari Kepala Tabib, alias Yorick. Yorick memejamkan mata. “Masih banyak mata dari kerajaan lain yang terus menatap Ratu di istana ini. Jika mereka mengetahui kelemahan ini, kerajaan Valenroth akan dalam masalah besar. Setidaknya, sampai musim dingin berakhir,” sahut Yorick datar. Josselyn menunduk, ia ingat tentang Howarth dan Sebastian, dua bangsawan dari kerajaan lain yang masih tingg

  • The Alchemist's Touch    4 – Whispers Behind the Throne

    ‘Edevan?’Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda.Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa.“Namamu…”“Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru memperkenalkan diri setelah hampir menyaksikan pertumpahan darah.“Oh,” Howarth tersenyum lebih lebar. “Terimakasih karena tahun ini kau membuat pesta menjadi lebih menarik.”Josselyn bergerak kikuk. Tak paham dengan maksud pria berambut perak itu.“Kakakku hanya menyukai situasi berbahaya,” kata Sebastian sekenanya.“Aku hanya tak suka pesta membosankan,” sahut Howarth terkekeh. “Seperti tahun-tahun kemarin.”Howarth menatap Josselyn. Ia maju setengah langkah, mendekatkan wajah ke telinganya.“Tapi ternyata keputusanku datang tepat. Aku bisa melihat Putra Mahkota yang terkenal kejam itu mengangkat pedangnya,” bisik Howarth. “Dan anehnya hanya untukmu.”Napasnya tercekat. Sejenak, aura berbahaya How

  • The Alchemist's Touch    3 – Protected by The Heir

    “Nona Josselyn, Ratu… kondisi Ratu…”Tubuh Josselyn menegang saat ketukan tergesa terdengar di pintunya.Seorang pelayan berdiri di sana, wajahnya pucat.“Apa yang terjadi?” Tanpa sadar, suaranya meninggi. Kilatan pedang terbayang di depan matanya.“Tubuh Ratu berkeringat hebat. Perutnya melilit, dan ia tak bisa tidur.” jawab pelayan.Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung keluar dari kamarnya.“Ayo kita ke sana.”Suara langkahnya bergema selama di koridor Sayap Ratu. Ia terus bergumam dalam hati.‘Tolong selamatkan Ratu, Tuhan. Jika tidak, kepalaku akan jadi taruhannya.’ doanya.Sesampainya di depan pintu kamar Ratu, dari arah lain muncul Yorick. Rambutnya terlihat berantakan. Dan ia masih menggunakan baju tidurnya. Mereka saling bertatapan, lalu Yorick mengangguk.Prajurit yang berjaga segera membukakan pintu kamar Ratu.“Yang Mulia, Anda baik-baik saja?” tanya Josselyn, menghampiri Ratu.Ratu sedang duduk, wajahnya terlihat pucat. Keringat sebesar biji jagung muncul di dahinya. Baj

  • The Alchemist's Touch    2 – Under the Queen’s Gaze

    “Kau bilang menambahkan madu dalam ramuan herbal untuk Ratu?” bisik Yorick. Josselyn mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah panjang Yorick. “Ya, karena saya sempat mencicipinya,” Josselyn hampir berhenti, karena mengingat perlakuan Killian saat di Ruang Herbal. “Rasanya pahit sekali. Saya takut Ratu akan menolak meminumnya.” Ia menoleh pada Yorick, menunggu responnya. Kata bisik-bisik di istana, Yorick terbilang muda untuk seorang tabib, namun keahliannya meracik ramuan herbal membuat semua orang tunduk pada penilaiannya. Yorick mengangguk-angguk mengerti. “Bagus.” Tangannya sempat menyentuh rambut Josselyn—singkat. Sentuhan itu belum sempat membuat Josselyn bernapas lega ketika suara sepatu berhenti tepat di belakang mereka. “Josselyn.” Sebuah suara dingin menggelegar di koridor itu. Langkah Josselyn terhenti. Di ujung koridor, di depan pintu kamar Ratu, berdiri Killian dengan tatapannya yang membakar. “Kau lambat sekali.” Nada itu dingin. Terlalu tenang tapi t

  • The Alchemist's Touch    1 – A Bitter Taste of Trust

    “Sial—” Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar. “Killian—” Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda. “Kau menginginkannya.” Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya. “Jangan… berhenti.” Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh. Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah. ***~*** “Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status