Beranda / Zaman Kuno / The Alchemist's Touch / 1 – A Bitter Taste of Trust

Share

The Alchemist's Touch
The Alchemist's Touch
Penulis: Ivy Morfeus

1 – A Bitter Taste of Trust

Penulis: Ivy Morfeus
last update Tanggal publikasi: 2026-02-27 15:09:15

“Sial—”

Punggungnya melengkung secara naluriah. Pikirannya kabur, entah karena efek ramuan obat atau karena kenikmatan. Matanya turun dengan sayu, mulutnya terbuka tanpa sadar.

“Killian—”

Napas Josselyn tersendat, Killian menekannya tanpa meminta izin, lalu berhenti. Sengaja ingin menggoda.

“Kau menginginkannya.”

Suara rendahnya menambah denyutan yang ia rasakan pada tubuh bagian bawahnya.

“Jangan… berhenti.”

Gadis itu hampir memekik. Gerakan Killian terlalu liar hingga membuat tumpuan tangan Josselyn melemah. Selanjutnya hanya terdengar desahan dan bunyi tak pantas yang dihasilkan dari dua tubuh.

Malam itu ia tak dapat berpikir jernih lagi—tidak, dari awal sepertinya memang ada yang salah.

***~***

“Ugh… Kepalaku sakit sekali.” keluh Josselyn begitu membuka matanya keesokan harinya.

Beberapa kali ia mengerjapkan mata, agar dapat melihat lebih jelas. Ia menyambar segelas air yang berada di atas meja. Lalu meneguknya perlahan. Berharap dapat meredakan rasa tak nyaman di kepalanya.

“Josselyn, kau sudah bangun?”

Sebuah suara terdengar dari balik pintu.

Josselyn bangkit dari tempat tidurnya, tapi pandangannya berputar. Tubuhnya oleng, ia hampir terjatuh ke lantai. Tepat saat itu, sepasang tangan menangkap tubuhnya.

“Kau hampir jatuh,” kata suara itu singkat, menopang bahu Josselyn.

Samar ia melihat sosok Yorick, tabib istana yang sudah dua minggu ini mengajarinya tentang pengobatan.

“Maaf, Tuan. Kepalaku… sedikit pusing.” jawab Josselyn.

“Kau mabuk?” tanyanya, sambil memapah Josselyn untuk duduk kembali di ranjangnya. “Bukannya semalam kau langsung tidur begitu selesai berlatih?”

Josselyn mengernyitkan dahi. Seingatnya, ia memang langsung ke kamarnya setelah dari Ruang Herbal. Tapi sepintas ingatan tentang seorang pelayan muncul.

“Ah, semalam—seorang pelayan datang dan memberi saya semangkuk ramuan. Katanya, itu dari Tuan.”

Yorick menaikkan kedua alisnya. “Aku?”

Josselyn mengangguk.

“Tidak. Aku sudah terlalu letih setelah mengajarimu membuat ramuan seharian,” ujarnya. “Lagipula, kenapa untukmu?”

Josselyn mengendikkan bahu. “Jika saya tahu, saya tak akan bertanya.”

Josselyn terdiam. Tabib itu melanjutkan maksud kedatangannya, tapi kata-katanya tak benar-benar masuk ke telinganya.

Di benak Josselyn, berbagai pertanyaan muncul,

‘Lalu, ramuan itu dari siapa?’

Josselyn mengernyit, menekan pelipisnya kuat.

‘Kenapa setelah meminumnya, kepalaku terasa berat… dan badanku…’

Josselyn baru menyadari, bagian bawah tubuhnya terasa sedikit nyeri. Jantungnya berdegup kencang, tangannya mencengkeram sprei dengan erat.

‘Apa itu bukan mimpi?’

***~***

Josselyn mengaduk ramuan itu perlahan, aroma herbal memenuhi ruangan kecil di Sayap Ratu. Tangannya sedikit gemetar, antara kesal dan takut.

‘Siapa pria yang berani menyentuhku itu? Apa dia juga penghuni istana?’

Tanpa sadar, adukan Josselyn semakin keras hingga membuat suara dentangan yang nyaring antara sendok dan tabungnya.

“Jangan mengaduknya sekeras itu. Kau bisa menimbulkan busa yang akan mempengaruhi kualitas ramuan.” tegur Yorick, menahan tangan asisten barunya itu.

Josselyn tergagap, baru saja tersadar dari lamunannya.

“Maaf, Tuan,”

Yorick menarik napas panjang. Lalu melepaskan genggamannya dari tangan Josselyn.

“Josselyn, ini hari pertamamu bertemu Ratu. Kau berlatih membuat ramuan itu dengan benar selama dua minggu. Kalau sampai ada kesalahan, kau mau mereka mengembalikanmu ke rumah Count Edmund?” kata Yorick dengan nada tegas.

Tubuh Josselyn bergetar ketika nama itu disebut. “Aku tak ingin kembali ke neraka itu.”

Kata-kata Josselyn tak berlebihan. Sejak ibunya dirumorkan kabur dari hukuman mati, Josselyn tinggal bersama Paman dan Bibinya itu. Tapi karena status orang tuanya yang memalukan, membuat Count Edmund dan istrinya memperlakukannya dengan buruk.

“Karena itu, fokus. Buat ramuan yang baru dengan teknik yang benar. Aku akan ke gudang sebentar untuk mengambil beberapa bahan.” pesan Yorick, meninggalkan Josselyn sendirian di Ruang Herbal.

Josselyn menarik napas panjang. Memberi jeda sebentar untuk pikirannya agar lebih berkonsentrasi. Lalu, ia membuang ramuannya, dan mengambil wadah baru. Dengan cekatan, ia kembali meracik ramuannya. Kali ini lebih berhati-hati.

“Apakah ramuan untuk Ratu sudah siap?” sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar di belakangnya.

Josselyn menoleh, kaget setengah mati. Di sana berdiri Killian, tinggi, berambut gelap, dan menatapnya dengan mata biru keabuan yang tajam.

Sepenggal ingatan tentang semalam muncul. Ia dapat melihat samar wajah Killian dengan senyum liciknya. Tubuh Josselyn menegang.

“Yang Mulia Putra Mahkota,” Josselyn menunduk cepat, walaupun tubuhnya bergetar karena menahan amarah.

Josselyn menutupi tabung ramuan dengan kedua tangan. “Saya… sudah menyesuaikan suhunya sesuai resep.”

Killian melangkah lebih dekat, mencondongkan tubuhnya sedikit, matanya tak lepas dari ramuan itu. “Hanya menyesuaikan suhunya? Kau yakin ini akan menyembuhkan Ratu?”

Josselyn mengangguk cepat.

“Ya, Yang Mulia. Ini ramuan yang…” Josselyn menelan ludahnya, ragu. “... mendiang ibu saya ajarkan. Hanya saya yang tahu racikan resep ini.”

Killian tersenyum tipis, hampir seperti mengejek. “Hanya kau?” suaranya rendah, nyaris bergema di ruangan. “Jadi, semua harapan kerajaan ini… tergantung padamu? Bagaimana kalau justru kau menggunakannya untuk balas dendam?”

Rahang Josselyn mengeras.

“Saya tahu, saya dianggap seorang putri dari keluarga pengkhianat,” Jantungnya berdetak kencang, ia seharusnya berhenti saat itu juga, tapi entah kenapa hatinya membiarkan mulutnya terus bicara.

“Ibu saya mengajarkan satu prinsip Alkemis,” katanya pelan. “Tak setetes pun ramuan boleh melukai orang yang mempercayainya.”

Josselyn berhenti sebentar, lalu ia menatap mata biru keabuan milik Killian. “Jadi, apa Anda mempercayai saya?”

Killian mendengus. Ia mendekatkan wajahnya, hingga hembusan napasnya terasa di pipi Josselyn.

“Bukan aku yang memutuskan untuk membawamu ke istana.”

Jawaban itu cukup membuat Josselyn mengerti, bahwa Killian belum mempercayainya sepenuhnya. Tapi ia tak peduli.

Karena tujuan utamanya saat ini adalah membuat Raja percaya bahwa dengan resep ramuan dari ibunya, ia dapat menyembuhkan Sang Ratu. Sebelum akhirnya ia memulai rencana selanjutnya.

“Minum.” perintah Killian, matanya melirik tabung ramuan di tangan Josselyn. Mengisyaratkan gadis itu untuk meminumnya.

Tangan Josselyn mengepal di samping tubuhnya. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia menegak habis isi tabung ramuan itu. Dahinya berkerut sebentar, saat rasa pahit memenuhi permukaan lidahnya. Perutnya bergejolak, tapi ia berusaha menahannya di hadapan Killian.

Killian menatapnya. Tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram rahang Josselyn, dan menekannya.

“Buka.” perintahnya lagi.

Tekanan di kedua pipinya, membuat Josselyn terpaksa membuka mulutnya. Menunjukkan rongga mulutnya yang sudah bersih, tak menyisakan setetespun ramuan itu.

Kedua sudut bibir Killian diam-diam terangkat. “Bagus.”

Ia melepaskan cengkramannya. Lalu melangkah mundur.

“Bawa ramuan yang baru untuk Ratu. Pastikan kau mengantarnya sendiri.”

Setelah itu, Killian membalikkan badannya dan pergi.

Josselyn bergidik, jijik. Ia menggebrak meja begitu sosok Killian menghilang di ujung koridor. Napasnya naik turun dengan jelas.

“Baik, kau yang mengubah arahnya sekarang, Killian.” ucapnya dengan nada kesal.

“Aku datang ke istana ini untuk mendapatkan kepercayaan Raja dan membalas dendam. Tapi, sepertinya menargetkan kepercayaanmu akan lebih menyenangkan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • The Alchemist's Touch    108 – The Same Sky, A Different Ending

    Aula itu belum sepenuhnya tenang.Bisik-bisik masih berdesir, lebih tajam dari sebelumnya. Kali ini bukan lagi sekadar kegelisahan—melainkan kecurigaan. Mata para bangsawan berpindah, dari satu wajah ke wajah lain, sebelum akhirnya berhenti pada satu titik yang sama.Raja.Dan Clarissa.Ratu masih berada dalam pelukan Killian. Napasnya lemah, tapi stabil. Setiap tarikan napasnya seperti bukti hidup yang membungkam tuduhan yang selama ini dilontarkan.Josselyn berdiri tegak, botol kosong di tangannya masih terasa dingin.“Ini bukan percobaan pembunuhan biasa,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang, tapi cukup keras untuk menjangkau seluruh aula.Semua mata beralih padanya.“Racun ini tidak bekerja seperti racun biasa. Ia tidak membunuh dengan cepat.” Ia berhenti sejenak. “Ia menunggu.”Sunyi.“Menunggu kebahagiaan.”Beberapa bangsawan saling pandang.Yorick melangkah maju satu langkah, wajahnya serius.“Ramuan seperti ini,” katanya pelan, “tidak mungkin dibuat tanpa pengetahuan khusus. Dan

  • The Alchemist's Touch    107 – The Wedding & The Truth

    Josselyn menarik napas panjang, tatapannya belum berpindah dari langit hari itu.Warna birunya yang bersih dan cerah, tidak terasa seperti akhir dari segalanya.Istana Valenroth berdiri megah, dihiasi kain-kain putih dan emas yang menjuntai dari pilar ke pilar. Bunga-bunga segar memenuhi setiap sudut aula utama, aromanya manis—terlalu manis, hampir memualkan.Hari pernikahan Putra Mahkota.Hari yang seharusnya menjadi perayaan.Namun bagi Josselyn, ini terasa seperti panggung eksekusi yang disamarkan dengan kemewahan.Ia berdiri di antara para pelayan, mengenakan gaun sederhana berwarna pucat. Rambutnya ditata rapi, wajahnya tenang. Sangat kontras dengan detakan jantungnya yang menggila ini.Matanya mengarah ke depan.Clarissa.Gaun pengantin itu tampak sempurna di tubuhnya—putih bersih, berkilau, dengan sulaman emas yang mempertegas statusnya sebagai calon Ratu. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tapi mata itu… penuh kemenangan.Seolah semua ini memang sudah menjadi miliknya sejak awal

  • The Alchemist's Touch    106 – The Price of Salvation

    Kotak kayu kecil itu terasa lebih berat dari seharusnya di tangan Josselyn—seolah apa pun yang ada di dalamnya, bisa menyelamatkan… atau menghancurkan semuanya.Pintu terbuka tiba-tiba.Langkah berat masuk tanpa izin.Itu Darius.Tanpa basa-basi, tanpa penjelasan—ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Josselyn.“Darius—”“Aku yang akan membukanya.”Nada suaranya tegas. Tidak memberi celah Josselyn membantah.Josselyn mengernyit. “Anda bahkan tidak tahu isinya—”“Aku mendengar Raja sudah mengirim prajurit untuk menangkap pencuri di perpustakaan pribadinya. Kita tak ada waktu untuk ragu.”Ia menatapnya sekilas. Dalam. Mantap.“Aku akan memastikan kalian keluar hidup-hidup,” ucapnya pelan. “Meski harus kutukar dengan nyawaku sendiri.”Sunyi.Yorick mendengus pelan. Josselyn yakin, ia tahu mereka tak ada pilihan lain.“Terlalu sembrono.” ucapnya, menutupi kekhawatirannya.Namun, itu tidak menghentikan Darius.Darius membuka kotak itu perlahan. Engsel kayu berderit pelan. Suara kecil,

  • The Alchemist's Touch    105 – The Missing Cure

    Ruangan herbal itu sunyi.Hanya suara gesekan daun kering dan aroma pahit dari ramuan yang memenuhi udara. Cahaya dari jendela kecil jatuh miring ke meja batu, menyoroti botol-botol kaca yang tersusun rapi—seolah menyimpan rahasia yang tak ingin dibongkar.Josselyn berdiri di sana, kedua tangannya bertumpu di meja.Matanya dingin.“Tuan Yorick.”Namanya dipanggil tanpa basa-basi.Pria itu yang sedang mengaduk sesuatu dalam mangkuk kecil berhenti. Gerakannya melambat. Lalu diam.Josselyn menoleh.“Saya ingin memastikan sesuatu.”Nada suaranya tenang. Yorick mengangkat pandangannya perlahan. Matanya awas, mewaspadai ucapan Josselyn berikutnya.“Ingat yang Anda janjikan pada saya?” lanjut Josselyn.Sunyi.“Saya membantu Anda,” katanya lagi. “Saya ikut dalam rencana Anda untuk menjatuhkan Killian.” Napasnya tertahan sejenak. “Dan sebagai gantinya… Anda akan memberi saya penawar.”Tatapannya menajam. Seolah sedang menuntut respons.“Penawar untuk efek kekuatan penyembuh saya.”Yorick masi

  • The Alchemist's Touch    104 – A Smile That Kills

    “Menggantikan Ratu?”“Apa maksudnya?”Bisik-bisik para bangsawan masih berdesir pelan, seperti angin yang menolak reda. Ancaman perang dari Edevane dan ucapan Howarth tentang pengganti Ratu barusan jelas mengguncang mereka.Mempertanyakan bagaimana nasib mereka selanjutnya di Kerajaan Valenroth. Isi dalam istana yang berantakan, ditambah tidak ada yang ingin menjadi alasan kehancuran keluarga mereka sendiri.Dan Raja tahu itu.Ia menarik napas pelan, lalu mengangkat tangannya sedikit. Satu gerakan kecil—cukup untuk membungkam seluruh ruangan.Matanya menyapu kerumunan. Lalu berhenti pada satu orang.“Ah… aku ingat sekarang.”Suaranya berubah lebih ringan. Hampir seperti percakapan biasa.Semua mata mengikuti arah pandangnya.Clarissa.Gadis itu menegang seketika ketika namanya disebut tanpa benar-benar dipanggil.“Kau… sepupu Josselyn, bukan?” lanjut Raja, seolah baru menyadari. “Dan kau pernah mengatakan ingin menikah dengan Putra Mahkota.”Clarissa membeku.Josselyn ikut menatapnya.

  • The Alchemist's Touch    103 – The Crown’s Judgment

    “Jalan!”Suara prajurit itu lantang. Mendorong Josselyn dan kelima pria lainnya di hadapan singgasana Raja. Lantai marmer itu dingin ketika tubuh mereka dijatuhkan tanpa belas kasihan.Rantai di pergelangan tangan beradu dengan suara nyaring.Josselyn mengangkat wajahnya perlahan.Aula itu penuh.Para menteri. Para bangsawan. Mata-mata yang terbiasa menilai tanpa berbicara. Semua berkumpul, berdiri dalam setengah lingkaran, menyisakan ruang kosong di tengah—ruang yang kini mereka isi.Di ujung ruangan, di atas tangga marmer yang tinggi, duduk Raja.Diam. Menunggu.Killian menghela napas pelan, lalu menyeka darah tipis di sudut bibirnya dengan punggung tangan yang terikat.“Jadi menurutmu ini ide bagus?” gumamnya, suaranya rendah tapi jelas terdengar di keheningan itu.Howarth berdiri sedikit di belakangnya, bahu santai seolah tidak sedang dihadapkan pada eksekusi.“Kalau tidak,” jawabnya ringan, “Jossie tidak akan menyetujuinya.”Killian menoleh tajam.“Berhenti memanggilnya Jossie.”

  • The Alchemist's Touch    7 - Not A Bargaining Piece

    Pintu ruang dewan ditutup dengan bunyi berat.“Mulai,” suara Raja Aleric terdengar datar.Killian berdiri di sisi meja panjang, kedua tangan bertumpu di sandaran kursi. Hari ini rapat darurat diadakan lagi. Ia bertekad untuk fokus, tapi akhir-akhir ini wajah gadis itu selalu muncul di benaknya.“Pe

  • The Alchemist's Touch    6 - A Kiss He Shouldn't Have Taken

    Yang Josselyn rasakan saat itu hanya: telapak tangan dingin Killian yang mencengkeram tengkuknya. Wajah mereka nyaris bersentuhan. Bau anggur dan amarah bercampur di udara sempit itu. “Semua ini…” suara Killian rendah, serak. “Karena kau.” Josselyn menatap lurus ke mata biru keabuan itu. Tidak m

  • The Alchemist's Touch    5 – When The Prince Came Drunk

    “Denyut nadinya melemah lagi.” Josselyn menempelkan dua jarinya ke pergelangan tangan Ratu. Kulitnya dingin. Terlalu dingin di ruangan yang hangat. “Sudah berapa kali darah keluar?” tanyanya. “Dua kali sampai malam ini,” jawab pelayan istana. “Tidak banyak, tapi—” “Setiap tetes berarti,” pot

  • The Alchemist's Touch    4 – The Sword Raised For Me

    ‘Edevan?’ Josselyn melirik badge di dada dua pria itu—lambang sama, warna berbeda. Sepersekian detik cukup untuk menyimpulkan: satu kerajaan. Namun jika mereka bersaudara, darah tak cukup kuat membuat wajah mereka serupa. “Namamu…” “Saya Josselyn.” jawabnya sedikit canggung. Rasanya keliru mempe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status