Se connecterDua hari setelah ketegangan di vila mereda, Estela mengambil langkah yang sebenarnya dilarang keras oleh Edward. Tanpa membawa iring-iringan pengawal suaminya, ia menyelinap keluar menuju apartemen tersembunyi di pinggiran kota, tempat Victoria Sebastian kini menghabiskan harinya dalam kesunyian. Victoria sedang duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke arah lembah berkabut. Ia tidak bergerak sedikit pun saat mendengar langkah kaki mendekat. "Berani sekali kau muncul di sini setelah Edward mengurungku seperti tahanan kembali," ujar Victoria. Suaranya masih terdengar angkuh, meski ada keletihan yang tidak bisa ia sembunyikan dari raut wajahnya. Estela menarik kursi dan duduk dengan tenang di hadapan ibu mertuanya. Ia tidak datang untuk berbasa-basi atau menawarkan permintaan maaf yang tidak tulus. "Sonia Moreno tahu semuanya, Bu," ucap Estela langsung pada intinya. "Dia tahu soal kecelakaan itu. Dia juga tahu tentang bayi yang meninggal tiga puluh tahun yang lalu." Vict
"Nyonya Sebastian, permainan berakhir," ucap pria itu datar. Laras senjatanya terangkat, mengunci pergerakan Estela. Estela mundur hingga punggungnya membentur pintu kaca balkon yang dingin. Ia tidak punya ruang lagi. Sambil memeluk perutnya, ia memejamkan mata, menunggu suara letusan yang mungkin akan menjadi hal terakhir yang ia dengar. Namun, yang terdengar justru deru mesin helikopter yang mendekat dengan cepat dari balik hutan pinus. Cahaya lampu sorot yang kuat langsung menyapu balkon, menyilaukan pandangan pria itu. Angin dari baling-baling yang terbang rendah menghantam dahan pohon hingga berderak patah. Prang! Kaca balkon hancur saat beberapa tali baja dilemparkan dari atas. Sebelum pria itu sempat menarik pelatuk, sebuah sosok melompat turun dengan cepat. Edward mendarat di sana, langsung menerjang pria tersebut sebelum ia sempat bereaksi. Perkelahian itu berlangsung pendek namun brutal. Edward tidak menggunakan senjata. Ia menghajar pria itu dengan tangan
"Dia sudah di dalam. Koordinatnya sudah kukirim," suara Leo pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Tolong... lepaskan adikku sekarang. Aku sudah memberikan apa yang kalian mau."Sementara itu, di pusat Jakarta, Edward duduk sendirian di sebuah meja bundar yang mewah di tengah restoran yang sunyi. Hanya ada suara denting jam dinding dan gemericik air dari pancuran hias di sudut ruangan. Ia sudah menunggu selama tiga puluh menit, namun Sonia Moreno tak kunjung menampakkan batang hidungnya.Pintu restoran akhirnya terbuka. Namun, yang melangkah masuk bukanlah Sonia dengan gaun mahalnya, melainkan seorang pelayan restoran yang tampak ketakutan, membawa sebuah nampan perak berisi sebuah tablet digital."Ini dikirimkan untuk Anda, Tuan Sebastian," ucap pelayan itu dengan suara bergetar sebelum segera berlalu.Edward mengerutkan kening. Ia meraih tablet itu dan layar otomatis menyala. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat apa yang ditampilkan di sana. Itu adalah siaran langsun
Angin malam di pinggiran kota terasa lebih dingin saat Estela memarkirkan motornya di balik deretan kontainer, tak jauh dari gedung arsip tua yang tampak tak terurus. Napasnya masih memburu, rasa mual yang tadi sempat mereda kini kembali dengan rasa yang lebih hebat. Ia menyandarkan tubuhnya sejenak pada dinding beton, mendekap map cokelat asli itu di balik jaketnya seolah itu adalah nyawanya sendiri. Ia meraih ponsel sekali pakainya. Satu pesan singkat dikirimkan kepada kontak bernama 'Aris'.“Aku di depan. Buka pintu samping.” pinta EstelaTak lama kemudian, sebuah pintu besi kecil yang tersembunyi di balik rambatan tanaman liar berdecit pelan. Seorang pria berkacamata dengan wajah pucat muncul, matanya membelalak melihat kondisi Estela yang berantakan."Estela? Gila, kau benar-benar nekat! Seluruh kota sedang mencari motor yang kau bawa itu," bisik Aris sambil menariknya masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma kertas tua dan debu."Aku tidak punya pilihan, Ris. Aku harus m
Pria bertato mawar itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Estela mundur selangkah, punggungnya menabrak pintu kaca kafe yang dingin. "Aku bisa pulang sendiri," suara Estela bergetar, namun ia berusaha keras menjaga dagunya tetap tegak. Pria itu terkekeh pelan, suara serak yang membuat bulu kuduk berdiri. "Edward Sebastian memang hebat dalam menyembunyikan berlian, tapi dia lupa kalau berlian yang terlalu terang akan selalu mengundang pencuri. Map itu, Nyonya... berikan padaku, dan Anda bisa pulang dengan kaki yang masih utuh." ucapnya mengancam Estela melirik ke ujung jalan. Sirine itu terdengar makin nyaring, membelah keheningan malam. Jika itu polisi, ia selamat. Jika itu orang-orang Edward, ia akan kembali ke 'sel isolasi' mewahnya. Namun, jika pria di depannya ini bergerak lebih cepat, semua usahanya akan musnah. Alih-alih menyerahkan map itu, Estela justru menarik napas panjang. Ia memutar otak, mencari celah. Matanya menangkap sebuah motor pengantar makan
Di dalam kamar yang kini terasa lebih mirip sel isolasi mewah, Estela duduk menghadap meja gambar besarnya. Cahaya lampu menyinari lembaran-lembaran kertas yang berserakan. Tubuhnya memang terasa lemas, mual di pagi hari masih sering menyerang tanpa ampun, menguras energinya dan membuat berat badannya turun drastis. Namun, di balik wajah tirus itu, matanya tidak menunjukkan kelemahan sedikit pun. Alih-alih hanya berbaring meratapi nasib atau membaca buku panduan kehamilan yang membosankan, Estela justru membentangkan peta topografi dan salinan sertifikat tanah lama.Dokumen-dokumen itu ia dapatkan secara diam-diam. Ia memanfaatkan celah komunikasi dengan asisten pribadinya yang lama, sebelum Edward mengganti seluruh staf dengan orang-orang pilihannya yang kaku dan patuh. Sebagai seorang arsitek, Estela memiliki mata yang terlatih untuk melihat detail yang sering dilewatkan orang awam. Ia tidak sedang mencari kesalahan akuntansi yang rumit. Estela sedang memetakan aset utama keluar
Clarissa terpaku, wajahnya yang tadinya cerah mendadak pucat pasi. Ia ingin membalas, namun punggung Estela yang menjauh dengan langkah angkuh memberikannya tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Estela tidak lagi berjalan seperti mangsa, ia berjalan seperti pemilik tempat ini. Namun,
"Jangan... jangan pergi ke paviliun itu," igau Edward. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. "Gelap... aku tidak bisa membukanya..."Estela menyadari bahwa Edward sedang terjebak dalam mimpi buruk masa lalunya. Dia mengusap rambut Edward yang basah oleh keringat dengan lembut. "Sssttt... tenang
"Sudah kutegaskan untuk tidak masuk ke sini, Estela." Suara bariton itu menyambar seperti petir di tengah keheningan. Estela tersentak hebat hingga map di tangannya terjatuh, isinya berserakan di atas karpet. Edward berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jasnya yang sedikit berantakan. Waj
Saat mereka memasuki aula utama, musik orkestra yang tenang seketika meredup, digantikan oleh kesunyian yang mencekam sebelum suara riuh rendah bisikan tamu mulai memenuhi ruangan. Edward menggandeng lengan Estela dengan posesif, memandu langkahnya menuruni tangga besar."Itu dia... gadis mahasis







