Se connecterPagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap ke dalam kamar.
Sunrise terbangun perlahan. Mimpi buruknya telah pergi. Hanya sisa rasa hangat yang masih tertinggal di lengannya. Ia mengedipkan mata, menoleh sedikit, lalu menyadari Khairen sudah tidak lagi duduk di tepi ranjang.Ia menarik napas lega sekaligus merasa aneh. Hampa justru menyelinap saat mendapati Khairen tak berada di dekatnya.Semalam Khairen meninggalkan kamar setelah Sunrise sudah terlelap tidur.Sunrise banKhairen berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan, lingkar hitam tipis di bawah matanya menandakan kurang tidur. Namun matanya, mata itu, tetap sama. Tajam, dalam, dan kini memuat sesuatu yang sulit Sunrise baca.“Kau sudah kembali,” ucap Sunrise pelan.“Iya,” jawab Khairen. “Baru sampai satu jam lalu.”Mereka saling diam beberapa detik. Udara di antara mereka terasa tegang, penuh hal-hal yang belum terucap.“Boleh aku masuk?” tanya Khairen akhirnya.Sunrise mengangguk dan menyingkir. Khairen melangkah masuk, pandangannya langsung tertuju pada Ellion. Wajahnya melunak seketika.“Dia tidur,” bisik Sunrise.Khairen mendekat, berdiri di sisi ranjang. Tangannya terulur, mengusap rambut Ellion dengan gerakan yang sama seperti sebelumnya, seolah ia sudah menghafalnya.“Aku bawa sesuatu,” katanya pelan. Ia mengeluarkan sebuah mobil mainan dari paperbag, sederhana, namun terlihat dipilih dengan hati-hati. Ia meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.Sunrise menatap benda itu, dadany
Pintu itu tertutup pelan, meninggalkan Sunrise sendirian bersama bunyi mesin monitor dan napas halus Ellion yang teratur. Ia memandang lama daun pintu. Berharap Khairen berbalik. Namun langkah kaki itu menjauh, lenyap di lorong rumah sakit.Ada perasaan aneh yang tertinggal di dadanya, bukan lagi takut atau cemas, melainkan sesuatu yang lebih rumit. Harapan yang selama ini ia paksa mati, kini perlahan menggeliat, menuntut ruangnya kembali."Apa yang kau pikirkan, Sunrise? Sadarlah..." Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri berulang kali. Pipinya pun terasa menghangat.Sunrise berusaha kembali fokus pada buah hatinya. Ia mengusap rambut Ellion pelan. “Daddy kamu pergi sebentar, Sayang,” bisiknya lirih, lebih pada dirinya sendiri. “Tapi… dia akan kembali.”Kata-kata itu terasa asing di lidahnya. Enam tahun ia membesarkan Ellion seorang diri, mengajarinya menyebut dunia tanpa sosok ayah. Kini, realitas itu berubah begitu cepat.Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme rumah sakit yang melelah
Suara itu lirih, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat dunia Sunrise dan Khairen berhenti berputar.“Mommy…”Sunrise tersentak, tubuhnya menegang sebelum ia condong ke depan. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan kecil Ellion yang terbaring lemah di ranjang HCU. Kulit anak itu pucat, selang oksigen terpasang di hidung mungilnya, namun matanya, mata itu terbuka.“Iya, Sayang… Mommy di sini,” bisik Sunrise dengan suara pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah, membasahi punggung tangan Ellion. “Mommy di sini… kamu sudah aman.”Di sisi lain ranjang, Khairen berdiri membeku. Dadanya terasa sesak, napasnya berat, seolah ada tangan tak kasatmata yang mencengkeram jantungnya kuat-kuat. Ia menatap wajah kecil yang selama ini hanya hidup dalam bayangan dan penyesalan.“Daddy…”Satu kata itu menghancurkan dinding terakhir yang masih berdiri di dalam diri Khairen. Ia tak mungkin salah dengar, Ellion memanggilnya dengan sebutan Daddy.Ia melangkah mendekat, perlahan, seolah takut
Mobil Sunrise melaju menembus jalanan basah dengan kecepatan yang nyaris tak masuk akal. Tangannya gemetar di kemudi, namun ia memaksa diri tetap fokus.Di kursi penumpang, Khairen terdiam. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangannya mencengkeram sabuk pengaman. Wajah kecil Ellion, terus berkelebat di kepalanya.Sejak Sunrise mengucapkan kebenaran itu, dunia Khairen yang sudah gelap seolah menemukan cahayanya lagi. Ia sempat berpikir Sunrise menggugurkan kandungannya. Ternyata, bayi itu tumbuh dengan sehat.Enam tahun ia hidup tanpa mendapat kabar dan tak pernah melihat anaknya tumbuh di luar sana, dan kini saat bertemu ia justru dihadapkan dengan kenyataan pahit, nyawa itu berada di ujung benang.Mobil berhenti mendadak di depan rumah sakit. Sunrise bahkan belum mematikan mesin ketika Khairen sudah turun lebih dulu, berlari mengitari mobil dan membuka pintu untuknya.“Ayo,” katanya singkat.Mereka berlari masuk. Bau antiseptik langsung menyergap, dingin dan menyesakkan. Seorang pera
Sunrise berdiri lama di depan lemari kecil di sudut kamar. Tangannya ragu saat menarik laci nakas paling bawah, tempat yang selama ini jarang ia sentuh, seakan di sana tersimpan sesuatu yang terlarang untuk dibuka kembali.Kotak kayu itu masih ada.Ia mengangkatnya perlahan, setelah enam tahun tak tersentuh. Engselnya berderit pelan saat dibuka. Di dalamnya, tertumpuk rapi selembar foto yang warnanya sudah sedikit pudar, namun tetap utuh.Foto pernikahan mereka. Sunrise masih menyimpannya.Sunrise dan Khairen berdiri berdampingan. Gaun putih yang cantik, dan jas warna senada yang elegan. Tidak ada senyum kebahagiaan, hanya tatapan saling menguntungkan dengan tujuan masing-masing.Dadanya terasa perih. Sunrise duduk di tepi ranjang, menatap foto itu lama, lalu tanpa sadar memeluknya ke dada. Bahunya bergetar. Tangis yang ia tahan sejak sore akhirnya pecah, sunyi namun menyakitkan.Ia tidak tahu bahwa sepasang mata kecil mengintip dari balik pintu.Ellion berdiri mematung, jari-jarinya
Sunrise bersandar pada pintu kayu, tangannya gemetar saat menutup wajah. Dadanya naik turun, napasnya patah-patah. Ia mengira enam tahun cukup untuk mengubur segalanya, rasa cinta, luka, harapan. Nyatanya, hanya butuh satu kehadiran untuk merobohkan dinding yang ia bangun dengan susah payah.Di luar, Khairen berdiri terpaku di depan etalase. Lampu kuning dari dalam toko memantulkan bayangannya di kaca, membuatnya tampak seperti orang asing yang terdampar di kehidupan orang lain.Tangannya mengepal, lalu mengendur. Ia tidak marah. Tidak pula ingin memaksa. Ia hanya takut kehilangan untuk kedua kalinya.Enam tahun lalu, ia melepaskan Sunrise karena percaya itulah satu-satunya cara melindunginya. Ia memilih diam, percaya waktu akan menata segalanya. Namun, waktu justru memberinya kenyataan paling kejam, seorang anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya.“Mom?” suara kecil Ellion terdengar dari balik pintu ruang belakang.Sunrise tersentak. Ia menghapus air mata cepat-cepat, mengatur napa
Khairen menutup pintu mobil, tubuhnya bersandar lelah di kursi. Sorot matanya yang tadi hangat kini memudar menjadi gelap. “Siapa?” tanyanya tanpa basa-basi.Nick menoleh sekilas sebelum mengalihkan pandangan kembali ke jalan. Ia melesatkan mobilnya meninggalkan apartemen Sunrise.“Kami harus memas
Sunrise masih tak beranjak dari meja dapur, kepalanya tergeletak lelah di meja. Segelas air yang tadi dipegangnya kini kosong. Ia belum bergerak sejak percakapan terakhir dengan Khairen terputus. Denting lift terdengar di lorong apartemen Sunrise. Pintu terbuka, memperlihatkan Khairen keluar denga
Sunrise berdiri di tengah ruang apartemennya yang porak-poranda. Cahaya lampu langit-langit nampak putih pucat seperti wajahnya. Nafasnya berat, dada naik turun, jemari yang mengepal terasa bergetar.Tidak ada barang berharga yang hilang. Hanya dokumen perjanjian kontrak. Artinya, mereka orang yang
Sunrise meninggalkan kamar Khairen. Berjalan keluar dari mansion, langkahnya cepat tapi hatinya masih tertinggal di sana, di ruangan gelap dengan aroma obat dan napas berat yang tadi nyaris membuatnya ingin menetap.Kata-kata Khairen masih menggema di telinganya, tentang berdiri di sisinya, melindu







