LOGINCaroline Montreal is an ordinary 23-year-old woman who enjoys her simple life with her sister and loving boyfriend. She couldnʼt ask for more until her sisterʼs illness got worse, and the only person she could rely on left her for another woman. Caroline was about to lose hope until she bumped into her boss. Calvin Vander is a 29-year-old business tycoon. Heʼs strict, arrogant, hot-tempered, and the CEO of the renowned company—Platinum Bank Incorporated. The thing is that he would never get his inheritance from his grandfather until he gets married. Thatʼs why after discovering his secretaryʼs situation, he made an offer that would benefit the two of them. “I need a contract wife, and you need money.” On the verge of desperation, Caroline agreed, and they both signed a contract just like a normal business deal. It was just supposed to be an act, but why do those sweet kisses and gestures feel so real? And why doesnʼt Calvin like the idea of her leaving him after the deal?
View MoreSeorang pemuda tampan, sedang mengemudikan mobil sport nya dengan wajah muram.
Pemuda tersebut bernama Erfan. Erfan adalah seorang pemuda tampan berumur 25 tahun, yang berasal dari keluarga kaya nomor 1 di kota tersebut. Erfan seorang anak tunggal di keluarganya, hari ini Erfan diberi perintah oleh orang tuanya untuk mengurus perusahaan paling kecil milik orang tuanya yang berada di pedesaan, yang merupakan perusahaan pertanian. Walaupun Erfan sangat enggan tapi dia tidak bisa melawan orang tuanya, karena dia sadar pasti orang tuanya ingin dia lebih mandiri karena selama ini Erfan hanya tau bersenang senang. ==== Mobil Erfan sudah memasuki jalan pegunungan, yang keadaan jalannya tidak semulus di kota. "Ohh sial, mengapa jalan nya begitu bergelombang, bisa bisa mobil ku lecet!" Umpat Erfan, dia sangat kesal. "gruk gruk" Perut Erfan berbunyi, "Duh laper banget sih, gak bawa makanan lagi ." Erfan berkata sambil memegang perutnya. Erfan melihat warung dekat sekolah SMA yang cukup ramai Siswa SMA, karena kebetulan ini jam dimana anak SMA pulang sekolah. Mobil Erfan berhenti di warung tersebut, Semua Siswa SMA tersebut menatap mobil sport lamborgini dengan mata bersinar, seketika mereka menjadi heboh. "Lihat itu, mobil sport lamborghini, keren sekali ya? sumpah keren baget!" ucap pria muda, sambil menunjuk-nunjuk mobil itu. "Baru pertama kali, ada mobil sport datang ke daerah sini!" ucap temannya, sambil menatap mobil itu dengan tatapan berbinar. Erfan keluar dari dari mobil, lalu berjalan menuju ke warung dengan langkah santai. "Sangat tampan! Para artis pria itu tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan!" ucap salah satu siswa wanita, dengan tatapan berbunga-bunga. "Aku mau walau jadi simpanannya," ucap siswa wanita yang terlihat centil, matanya menatap Erfan dengan tatapan panas. Semua murid wanita mendengus, setelah mendengar perkataan wanita genit itu. Kedatangan Erfan ke warung tersebut, langsung di sapa hangat penjaga warung wanita dewasa, yang masih terlihat cantik. "Tuan muda," sapa penjaga warung wanita, dengan ramah. Penjaga warung wanita menebak Erfan bukan lah pemuda sembarangan. Erfan tersenyum sambil mengangguk sedikit, lalu dia berkata kepada penjaga warun. "Bi Saya mau makan, apakah disini jual makan atau mie instan?" tanya Erfan sambil tersenyum hangat. Erfan pemuda yang ramah tidak pernah memandang rendah orang lain, walau dia terkenal nakal di kota asalnya. "Kalo mie instan ada tuan muda, ingin rasa apa?" tanya penjaga warung wanita itu. "Rasa apa aja deh bi, 2 yah mie instan nya," ucap Erfan sambil memperlihatkan 2 jarinya. "Silahkan duduk di dalam tuan muda, diluar banyak siswa SMA!" ucap penjaga warung wanita itu, sambil membukakan pintu masuk ke dalam warung. "Baik bi," Erfan tidak sungkan, di langsung masuk kedalam warung. Di dalam warung, Erfan duduk di kursi sederhana. Dia mengeluarkan sebatang rokis, lalu menyalakannya. Penjaga warung wanita, memasak tidak jauh dari Erfan. Mata nakal Erfan menatap tubuh penjaga warung wanita itu, dengan tatapan tidak hati-hati. "Tidak kusangka ada wanita yang menggoda di desa seperti ini," gumam Erfan dalam hati, sambil tersenyum nakal. "Tuan muda, seperti anda bukan berasal dari sini yah?" tanya Penjaga Warung Wanita, sambil terus memasak mie. "Iyah bi, aku baru sampai di sini," jawab Erfan. "Ohh begitu, memang tujuan tuan muda mau kemana? " tanya Penjaga Warung Wanita tersebut. "Ke Desa Mawar Bi," jawab Erfan santai, matanya sambil memperhatikan pantat wanita dewasa itu. "Oh Desa Mawar," jawab Warung Wanita tersebut menjawab sambil mengangguk ngangguk. "Apakah masih jauh bi?" tanya Erfan. "Enggak kok, paling 2 kilometer lagi udah sampe!" jawab Penjaga Warung Tersebut. "Bagus kalo gitu, aku sudah sangat lelah," erfan berkata dengan malas. "Kalo boleh tau, ada tujuan apa tuan muda ke desa mawar?" tanya Penjaga Warung Wanita Tersebut, sambil memasukkan mie yang sudah matang kedalam mangkuk. "Aku di suruh orang tua, mengurus perusahaan pertanian buah buahan yang ada di desa mawar," Erfan menjawab jujur. Deg Penjaga Warung Wanita tersebut terkejut, "Ternyata tuan muda pemilik perusahaan pertanian di desa mawar?" ucap Penjaga Warung Tersebut, sambil meletakkan mangkuk mie di depan Erfan. "Iyah bi, walau yah aku sedikit enggan!" ucap Erfan berkata tanpa daya . "Bibi jamin deh kalo tuan muda sudah ke desa mawar pasti betah," ucap Penjaga Warung Wanita itu. Erfan bingung dengan perkataan wanita dewasa itu, "Eh nanti, jika tuan muda santai main kesini yah, sesekali makan mie atau ngopi!" ucap Penjaga Warung Wanita itu dengan suara menggoda. "Oke bi, siapa nama bibi?" tanya Erfan santai. "Nama Bibi Ayu." ucap Penjaga Warung Wanita itu .  "Oke Bi Ayu, aku mengingatnya!" Erfan menjawab sambil mengangguk ngangguk, mulutnya di penuhi makanan. Wanita Dewasa Bernama Ayu itu menatap Erfan dengan tatapan aneh, sebuah pemikiran nakal muncul di kepalanya. Beberapa menit, Erfan pun menyelesaikan makan mienya. Dia langsung bangkit berdiri, ingin segera melanjutkan perjalanannya. "Bi Ayu ini aku membayar!" Erfan mengeluarkan uang 100 rb . Bi Ayu yang sedang melayani pembeli pun, buru-buru menghampiri Erfan. "Tunggu tuan muda, saya akan mengambil kembalian!" ucap Bi Ayu. "Tidak perlu Bi, buat Bi Ayu saja," jawab Erfan sambil tersenyum. "Beneran tuan muda?" tanya Bi Ayu senang. Erfan mengangguk, "Hehe, kalo tuan muda jajan di warung bibi setiap hari, bibi akan cepat kaya," ucap Bi Ayu, sambil terkekeh. Erfan tertawa, "Hahaha, nanti kalo santai aku main ke sini bi. warung ini tutup sampai jam berapa?" tanya Erfan "Sampai jam 8 malam tuan muda," jawab Bi Ayu sambil menatap Erfan dengan tatapan genit. "Oke, kalo gitu aku pamit dulu!" Erfan berkata, lalu keluar dari warung Bi Ayu. Saat Erfan berjalan menuju mobil, dia melihat banyak siswa yang memfoto mobil ya. Erfan hanya tersenyum, dia tidak marah sama sekali. "Hey awas! yang punya nya datang tuh," ucap Siswa pria, dia mengingatkan, para siswa lainnya yang sedang memfoto di depan mobil Erfan. "Semua nya permisi yah, saya mau lanjut perjalanan lagi," Erfan berkata dengan ramah. "Sialahkan Kak," ucap para siswa itu, sambil tersenyum sedikit malu. Erfan mengangguk sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil. Mobil Lamborghini melaju pelan pelan meninggalkan tempat tersebut, di bawah tatapan kagum para siswa SMA. Beberapa menit kemudian, Erfan melihat tugu bertuliskan "Desa Mawar" "Huh, akhirnya sampai," Erfan berkata dengan lega. Mobil Erfan masuk kedalam jalan yang lumayan lebar tapi agak jelek. Mobil Erfan melaju dengan pelan. Saat penduduk desa melihat kedatangan mobil Erfan mereka berbisik-bisik entah apa yang mereka bisikan. Mata Erfan bersinar, saat melihat keadaan penduduk desa. Erfan melihat banyak sekali wanita cantik berlalu lalang di sana. "Sial, apakah ini yang di maksud Bi Ayu?" Erfan berkata dengan penuh semangat. "Kalo gini, aku bisa betah, hahaha," Erfan tertawa. Erfan menghentikan mobilnya, saat melihat banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul. Dia ingin menanyakan letak perusahaan milik keluarganya itu. Para Wanita Dewasa itu melirik ke mobil Erfan dengan penasaran, Karena mereka baru pertama kali melihat mobil sebagus itu. Erfan turun dari mobilnya, lalu menghampiri ibu-ibu itu. "Bibi permisi saya mau tanya, Perusahaan Pertanian Nusantara dimana yah?" Tanya Erfan dengan sopan. "Tuan muda lurus saja, nanti di sebelah kiri ada gedung yang sangat besar, di situlah tempatnya tuan muda," jawab Salah Satu Wanita Dewasa dengan cepat. "Oh, baik terimakasih," Erfan berkata lalu kembali kedalam mobil. Mobil Erfan kembali melaju, mengikutinya arah yang di tunjukkan ibu tadi. Tidak lama, Erfan pun sampai di depan Perusahaan Pertanian Nusantara. Erfan menelepon seseorang, Telepon tersambung, "Halo, apakah ini tuan muda?" terdengar suara wanita di seberang telepon. "Benar ini saya, saya sudah berada di depan perusahaan," ucap Erfan . "Baik tuan muda, saya akan ke depan," ucap Wanita di seberang telepon, terdengar dia sangatlah terburu buru. Tidak lama seorang wanita berumur 30 tahun, dengan wajah cantik, dan mempunyai tubuh tinggi yang menggoda, ukuran dada yang sangat besar, menghampiri mobil Erfan. Erfan keluar dari mobil, "Tuan muda," sapa Wanita tersebut, sambil sedikit membungkuk. "Apakah anda pengurus perusahaan?" tanya Erfan, sambil menatap wanita itu. "Benar tuan muda, nama saya Anne," jawab Wanita tersebut.  "Oke Nona Anne, antar saya ke tempat tinggal dulu! saya ingin istirahat dulu, cukup melelahkan di jalan!" ucap Erfan dengan nada lesu. "Baik mari," ucap Anne. Mereka pun masuk kedalam mobil Erfan, Di sepanjang jalan, Anne mencuri curi pandang kepada Erfan yang sedang menyetir. "Kalo aku belum punya suami, mungkin aku akan berusaha mendekati nya!" gumam Anne, di dalam hatinya. "Nona Anne, untuk kedepannya anda akan menjadi sekretaris ku, apakah anda keberatan?" Tanya Erfan . "Tentu saja tidak tuan muda," jawab Anne, dia tampak bersemangat, saat mendengar penawaran Erfan. "Bagus, gaji mu akan aku naikkan 2 kali lipat," ucap Erfan santai. Anne terkejut, perlahan ekspresi wajahnya berubah tampak bersemangat. "Terimakasih tuan muda," ucap Anne, dengan nada bahagia. Tidak lama, Mereka sampai di sebuah Vila. Vila tersebut, memiliki gaya arsitektur klasik yang membuat suasa di sana terasa nyaman dan tenang. Erfan memandang vila tersebut, dengan tatapan penuh kepuasan. "Hey cukup bagus juga," ucap Erfan, setelah turun dari mobil. Anne dan Erfan pun masuk kedalam Vila. Di dalam vila, Erfan menengok ke kanan dan ke kiri, ekspresi wajahnya penuh kepuasan. Erfan melirik Anne yang ada di sampingnya, lalu dia menanyakan sesuatu. "Nona Anne, apakah tidak ada pengurus vila?" tanya Erfan. "Belum ada tuan muda, tapi tenang saja saya sudah mencarikan pengurus vila, dia akan ke sini sebentar lagi," jawab Anne. "Oke bagus," balas Erfan. "Kalo gitu, saya pergi dulu ada yang harus saya kerjakan," ucap Anne, sambil tersenyum, dan tubuhnya sedikit membungkuk. "Baik, apakah perlu di antar, cukup jauh ke perusahaan?" tanya Erfan. "Tidak perlu tuan muda, saya mau mampir ke rumah pengurus vila sebentar, untuk memberi tahunya!" ucap Anne. Erfan mengangguk sambil tersenyum. Anne pun pergi dari vila.PAGKARATING sa opisina ay agad na inasikaso ni Caroline ang mga tambak na papeles sa ibabaw ng kaniyang mesa. Nang tingnan niya ito isa-isa ay napagtanto niya na galing ang mga ito mula sa marketing at finance department. Agad naman niyang sinamsam ang mga papeles para papirmahan kay Calvin.“Come in,” wika nito pagkatapos niyang kumatok sa pinto.Dahan-dahan naman siyang pumasok sa loob. Sa pag-angat ng tingin ni Calvin sa kaniya ay napangiwi na lang ito nang makita ang mga dala niya.“Bakit ba hindi nauubos ang mga paperworks na ʼyan?” He grunted.Napangiti naman si Caroline bago maingat na inilapag ang mga papeles sa mesa nito.“Kung wala ang mga ito ay wala kayong magiging trabaho, Sir.”Napasandal naman ito sa kinauupuang executive chair. “Tama ka naman.” Bigla itong napaisip. “Pero paano kaya kung bigyan na lang kita ng authority na pumirma on my behalf para hindi ko na talaga kakailanganing pumasok?” He smirked.Natawa naman siya. “Puwede naman, Sir. Basta ba sa ʼkin mapupunta
MALAKAS na napasinghap si Caroline nang marinig niya ang isang pamilyar na boses. Agad naman siyang napalingon dito. Sa dinami-rami naman ng tagpo na puwede nitong maabutan ay bakit ʼyon pa? “Austin.” Pinaglipat-lipat nito ang tingin sa kanila ni Calvin. “Whatʼs the meaning of this? Bakit nakikipaghalikan ka sa boss mo?” Bakas ang kalituhan sa mukha nito. Akmang magpapaliwanag siya nang bigla niyang naramdaman ang kamay ni Calvin na humawak sa kaniya. “Why? Whatʼs wrong with me kissing my wife?” Calvin asked innocently. Marahas namang napahugot ng hininga si Austin. “Y-your wife?” Bumaba ang tingin nito sa kanilang mga kamay kung saan ay tila sinasadya pang ipakita ni Calvin ang suot nilang singsing. Hindi makapaniwala itong napaangat ng tingin sa kaniya. “I donʼt understand. Halos dalawang linggo pa lang ang nakalilipas magmula noong huli tayong nagkita. Pagkatapos ngayon ay may asawa ka na agad?” Napatiim bagang ito. “Donʼt tell me that you have been cheating on me all this t
BUONG maghapon na naging abala si Calvin nang dahil sa dalawang meeting na inatendan niya at dami ng paperwork na kailangan niyang basahin at pirmahan. Dahil dito ay hindi na niya namalayan pa ang oras. Sa pag-angat niya ng tingin sa bilugang orasan ay napamaang na lang siya nang mapansin kung anong oras na. Itʼs 5:30 pm already. Kung dati ay saktong ala-singko kung umuwi si Caroline, ngayon ay tila ba hinihintay siya nitong matapos dahil hindi pa ito pumasok ulit sa opisina niya pagkatapos siyang hatiran ng kape kanina. Agad na inayos niya ang mga natira pang papeles sa isang tabi. Bukas na lamang niya ito tatapusin. Mayroon pa kasi silang kailangan puntahan ngayon. Nang matapos ay tinanggal na niya ang suot na suit bago tumayo. Sa paglabas niya ng opisina ay naabutan niya si Caroline na abala pa rin sa pagtitipa ng keyboard. “Darling, thatʼs enough for today. Letʼs go.” Gulat na nilingon siya nito. “You donʼt need to call me like that while weʼre in the office.” Pinatay na nito
KINABUKASAN ay maaga silang nag-almusal. Kasabay rin nila ang kapatid niyang si Shiela. “Dalawang linggo na lang pala at pasukan nʼyo na. It will be your first year in senior high school. May napupusuan ka na bang strand?” tanong dito ni Calvin. Sunod-sunod namang napatango ang kapatid niya. Bakas ang excitement sa mukha nito. “Yes. I want to take ABM.” “Thatʼs nice,” Calvin commented. “So are you interested in putting up a business in the future?” “Not really. What I want is to apply to one of your branches.” Shiela giggled. Napangiti na lang si Caroline nang dahil sa inasta ng kapatid. Sheʼs more lively now than before. Napatango naman si Calvin. “I would love to have you in one of our branches. So Iʼll be looking forward to it.” Shiela smiled. “You can count on me.” Ibinaba na ni Calvin ang hawak na kutsara bago uminom at tumingin sa kaniya. “Are you done already?” Uminom muna siya bago tumango. “Yes.” Napatayo na si Calvin. “Letʼs go then.” Nilingon naman niya ang kapat












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore