Dalam gemerlap kota Sydney yang tak pernah tidur, Celine, seorang desainer grafis muda, terhimpit utang keluarga yang menggunung. Sebuah senggolan mobil di sore yang nahas mempertemukannya dengan Davies, pengusaha dingin yang membutuhkan citra pernikahan demi warisan sang kakek. Dari tabrakan itu, tawaran tak terduga muncul: pernikahan kontrak. Terjebak tanpa pilihan, Celine menerima, menandatangani lembar demi lembar perjanjian kaku tanpa setitik pun romansa. Namun, di balik sandiwara megah dan aturan ketat, takdir punya rencana lain. Ketika ancaman dari masa lalu Davies dan intrik seorang rival bisnis menguji ikatan mereka, garis antara kontrak dan hati mulai kabur. Rahasia kelam terkuak, dan cinta yang tak terduga bersemi di tengah bahaya. Bisakah Celine dan Davies mempertahankan sandiwara mereka, atau akankah kebenaran pahit menghancurkan segalanya? Siapkah mereka mempertaruhkan segalanya demi hati yang terikat kontrak?
Lihat lebih banyakSore itu, George Street basah oleh gerimis yang tak kunjung reda. Langit di atas Sydney, kelabu pekat, seolah menyalin suasana hati Celine. Dua puluh lima tahun, seorang desainer grafis muda, ia merasa seluruh beban dunia bertumpu di pundaknya. Utang peninggalan ayahnya yang seorang penjudi ulung, jumlahnya menggunung, mencekiknya pelan-pelan. Pekerjaan yang seret, seolah sengaja memperparah keadaannya.
Di balik kemudi mobil Corolla tuanya, Celine menatap kosong deretan bangunan yang buram di balik guyuran hujan. Pikirannya melayang, menari-nari di antara tumpukan tagihan yang tak terbayar dan impian yang terasa semakin jauh. Angka-angka di layar bank seolah mengejeknya, dan wajah ayahnya terbayang samar, disusul rasa sesal yang menusuk. Ia ingat janji-janji manis ayahnya tentang kemenangan besar yang tak pernah datang, hanya menyisakan tumpukan kekalahan dan beban yang kini harus ia tanggung. Suara klakson dari belakangnya terdengar memekakkan telinga, tapi Celine tak bergeming. Pikirannya terlalu jauh, terlalu kalut. Ia tidak melihat lampu lalu lintas di depannya, yang tadinya hijau terang, kini berganti merah menyala. Sebuah kilatan peringatan yang tak ia sadari. Terlambat. Brak! Tubuh Celine terhuyung ke depan saat mobil usangnya menabrak bagian belakang sebuah Range Rover hitam mengkilap di depannya. Dentuman keras itu merobek kesunyian lamunannya. Jantungnya langsung berdebar kencang, lebih cepat dari denyut mesin yang baru saja terhenti. Tangannya gemetar saat ia memegang kemudi, pandangannya beralih ke mobil mewah di depannya. Kaca belakangnya retak, membentuk pola sarang laba-laba. Mata Celine terpejam. Ini adalah awal dari masalah baru, masalah yang ia tak yakin bisa ia tangani. Lebih tepatnya, masalah yang ia yakin sama sekali tidak bisa ia tangani. Desahan putus asa lolos dari bibirnya. Utang lama belum lunas, kini ia harus menambah lagi. Ini adalah hari terburuknya, dan ia tahu, esok mungkin akan lebih buruk. Pintu mobil mewah di depan terbuka perlahan, anggun seperti gerakan seekor panther. Dari sana, melangkah keluar seorang pria dengan aura dingin dan dominan. Posturnya tegap, jas mahalnya tampak tak sedikit pun kusut meski baru saja tertabrak. Ini Davies. Tatapannya setajam pisau bedah, menyapu mobil butut Celine sebelum akhirnya berhenti tepat di wajahnya. Davies adalah pengusaha ambisius, usianya sekitar tiga puluhan akhir, dengan garis rahang tegas dan mata abu-abu yang dingin. Setiap geraknya memancarkan kekuasaan dan kendali. Insiden kecil ini jelas mengganggu jadwalnya yang padat, deretan janji temu dan negosiasi penting yang tidak bisa ditunda. Awalnya, ia hanya ingin menyelesaikan masalah kerusakan mobilnya secepat mungkin, menuntut ganti rugi, lalu pergi. Namun, ada sesuatu pada diri Celine yang menarik perhatiannya. Kepanikan yang terpancar jelas di matanya, bercampur dengan guratan kelelahan di wajahnya, menceritakan beban hidup yang berat. Samar-samar, Davies mendengar gumaman Celine tentang utang dan kesulitan keuangan saat ia keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Meskipun sedang dilanda kepanikan, kecantikan alami Celine tetap memancar, kulitnya yang pucat justru menonjolkan mata hazelnya yang sayu. Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Davies. Ide itu berani, bahkan mungkin gila, tapi tatapan matanya tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Sebuah seringai tipis, nyaris tak terlihat, bermain di sudut bibirnya. Ini bukan hanya tentang kerusakan mobil lagi. Ada sesuatu yang lebih menarik di balik ketidakberdayaan wanita muda di hadapannya ini. Sesuatu yang tak terduga, yang bisa menjadi permulaan dari sebuah permainan baru. Davies tak membuang waktu. Tanpa ekspresi berarti, ia memberi isyarat agar Celine menepikan mobilnya. "Minggir ke sana," katanya singkat, menunjuk area kosong di sisi jalan. Klakson-klakson dari belakang mulai bersahutan, tak sabar menunggu lalu lintas kembali lancar. Celine mengangguk gugup, dengan cekatan ia memundurkan mobil bututnya ke bahu jalan, menjauhi keramaian. Davies mengikuti, memarkir Range Rover-nya beberapa meter di depan mobil Celine. Setelah mematikan mesin, Celine cepat-cepat keluar dari mobilnya, menghampiri Davies. "Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf," katanya, suaranya bergetar. "Saya akan ganti rugi kerusakannya. Berapa pun biayanya, saya akan... saya akan usahakan." Kalimat terakhirnya terdengar samar, lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri daripada janji. Davies tak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Celine dengan sorot mata yang sulit diartikan—dingin, namun entah mengapa terasa seperti sedang menimbang sesuatu. Ketegangan menyelimuti mereka, hanya ditemani suara bising kota yang basah. Kemudian, tanpa peringatan, Davies mengeluarkan ponselnya. Ia mengulurkannya ke arah Celine. "Ketik nomormu di sini," perintahnya, suaranya datar namun penuh otoritas. Celine ragu sejenak, lalu mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Jari-jarinya mengetikkan deretan angka, pikirannya berkecamuk. "Angkat teleponku segera, kapan pun aku menelepon," suara Davies memecah keheningan, kali ini lebih tegas, tak terbantahkan. "Jangan pernah abaikan." Setelah Celine mengembalikan ponselnya, Davies hanya mengangguk tipis. Ia bahkan tak repot-repot melihat kerusakan pada mobilnya lagi. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik, masuk ke Range Rover-nya, dan melaju pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Celine terpaku di pinggir jalan, bingung dan dipenuhi pertanyaan. .... Sore itu, ponsel Celine berdering, menampilkan nomor asing yang tak ia kenali, namun ia tahu siapa pemiliknya. Davies. Tanpa ragu, ia mengangkatnya. Suara Davies terdengar tenang, namun memerintah. "Datang ke kantor saya sekarang. Lantai dua puluh tiga, Gedung Emerald." Tanpa menunggu jawaban, sambungan terputus. Jantung Celine berdegup kencang. Ia tahu ini saatnya. Bergegas, ia meninggalkan apartemen kecilnya dan menyetop taksi. Selama perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai spekulasi. Akankah Davies menuntut ganti rugi yang besar? Akankah ia melaporkan Celine ke polisi? Setibanya di Gedung Emerald yang menjulang tinggi, Celine merasakan aura kemewahan dan kekuasaan. Lift membawanya naik, seolah membawanya masuk ke dunia yang sama sekali berbeda. Di lantai dua puluh tiga, seorang resepsionis mempersilakannya masuk ke sebuah ruangan minimalis namun elegan. Davies sudah menunggu, duduk di balik meja kaca besar, dengan tumpukan dokumen tersusun rapi di hadapannya. "Duduklah," ujar Davies tanpa basa-basi, menunjuk kursi di depannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Celine, membuat gadis itu merasa telanjang, seolah semua rahasianya terbongkar. Celine duduk, tangannya bertaut erat di pangkuan. Ia bersiap untuk mendengar deretan tuntutan finansial. Namun, yang keluar dari bibir Davies jauh di luar dugaannya. "Saya punya solusi untuk masalahmu, dan masalah saya," kata Davies, suaranya tenang namun penuh otoritas. Ia mendorong selembar dokumen tebal ke arah Celine. Bukan tagihan perbaikan mobil, apalagi laporan asuransi. Judulnya tercetak jelas: KONTRAK PERNIKAHAN. Celine terdiam. Pernikahan? Otaknya berputar, mencoba memahami situasi absurd ini. Davies melanjutkan, "Kakek saya mensyaratkan saya untuk menikah jika ingin mewarisi seluruh asetnya. Dan saya memilihmu." Davies membiarkan keheningan mengisi ruangan, membiarkan informasi itu meresap ke benak Celine. Jauh dari romansa yang biasa terlukis dalam bayangan pernikahan, ini terasa seperti sebuah transaksi bisnis yang dingin. Celine, yang tak memiliki pilihan lain, merasa dirinya terjebak dalam perangkap yang tak terduga. Dengan tangan gemetar, Celine meraih kontrak itu. Ia membaca setiap pasal dengan cermat, seolah mencari celah, secercah harapan untuk melarikan diri. Durasi kontrak: lima tahun. Kompensasi finansial: jumlah yang akan melunasi seluruh utangnya, bahkan lebih. Aturan-aturan ketat untuk menjaga jarak emosional: tidak ada cinta, tidak ada sentuhan yang tidak perlu, tidak ada campur tangan dalam kehidupan pribadi masing-masing. Ini adalah kesepakatan murni, sebuah perjanjian legal tanpa melibatkan perasaan. Di antara kata-kata formal dan bahasa hukum yang kaku, tak ada sedikit pun ruang untuk perasaan. Ini adalah kesepakatan bisnis, sebuah transaksi. Celine, yang terdesak oleh tumpukan utang dan keputusasaan, akhirnya menghela napas pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan dirinya pada takdir yang baru ini. Dengan hati hampa, ia meraih pulpen yang disodorkan Davies, dan membubuhkan tanda tangannya.Dengan beban masa lalu yang perlahan terangkat, Gerald melangkah menjauh dari bayang-bayang Evan dan dunia lamanya. Udara pagi terasa lebih bersih, seolah beban di pundaknya telah terangkat. Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Dunia yang telah ia tinggalkan tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun kini, ia punya tujuan yang jelas: menjadi kakak yang pantas bagi Celine. Ia akan menebus kesalahannya, melindungi adiknya, dan membangun kembali apa yang telah hancur. Sementara itu, di kediaman mereka, Davies dan Celine duduk berdekatan di sofa, tangan mereka bertaut erat. Cahaya pagi menyusup masuk melalui jendela, menerangi wajah mereka yang tampak lelah namun tenang. Konflik yang telah memporak-porandakan mereka, badai demi badai yang terus datang, justru telah menempa sebuah ikatan yang tak terduga. Mereka telah melewati cobaan yang menyakitkan, bahaya yang mengancam nyawa, dan rahasia kelam yang nyaris menghancurkan segalanya. Namun, cinta yang tumbuh di tengah semua it
Tawaran gencatan senjata Davies menggantung di udara, dipenuhi harapan dan ketidakpastian. Gerald masih terdiam, wajahnya kaku, namun di dalam dirinya badai emosi tengah mengamuk. Kata-kata Davies tentang ayahnya yang juga tak bersih, menghantamnya dengan telak. Realitas pahit itu, bahwa dendamnya dibangun di atas fondasi yang rapuh, mulai meruntuhkan dinding pertahanannya. Namun, yang paling menghantamnya adalah tatapan Davies pada Celine, dan kata-kata, "Aku yakin kau juga tidak ingin... membawa adikmu ke dalam bahaya." Memori Celine yang pingsan, wajahnya yang pucat, dan peluru yang menembus kakinya, semua itu berkelebat di benak Gerald. Ia telah melukai adiknya sendiri, orang yang ia sayangi, demi sebuah dendam yang kini terasa hampa Gerald menyadari bahwa siklus dendam ini harus diakhiri. Ia tak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang kegelapan yang telah merenggut begitu banyak darinya, masa mudanya, kebebasannya, dan kini, nyaris merenggut adiknya. Ia ingin sebuah kehidupa
Di ruang tamu rumah kecil itu, Gerald duduk di sofa, tatapannya kosong ke depan. Davies berdiri tidak jauh dari Celine, matanya tetap waspada, mengawasi setiap gerak-gerik Gerald. Celine duduk di sofa lain, menatap kakaknya dengan campuran luka dan kerinduan. "Aku... aku minta maaf, Celine," Gerald memulai, suaranya terdengar berat, dipenuhi beban masa lalu yang menyesakkan. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku sudah meninggalkanmu dan memilih jalan seperti ini." Ia menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Gerald melarikan diri dari kekejaman sang ayah, dari rumah yang penuh dengan pukulan dan teriakan. Ia mencari perlindungan di rumah teman, tempat yang tanpa disangka menjadi awal dari jalan gelapnya. Ayah temannya, seorang mafia berpengaruh, melihat potensi dalam dirinya, mungkin juga rasa sakitnya. Lingkungan itu membentuknya, mengajarinya kerasnya hidup, dan perlahan membawanya pada keterlibatan dalam bisnis gelap yang kini menjeratnya. Ia tidak menyembuny
Di markasnya yang gelap, Gerald duduk sendiri di balik meja besarnya dengan segelas wiski di tangan. Telinganya yang terluka masih berdenyut nyeri, namun rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan gejolak di hatinya. Pikirannya melayang pada Celine, adiknya, dan ingatan tentang masa lalu yang pahit. Ia teringat masa kecil adiknya, Celine yang polos dan ceria, selalu tersenyum, selalu ingin tahu. Sebuah kontras yang tajam dengan kekejaman ayahnya yang tak terlupakan, seringai kejam, dan cambukan yang dulu biasa mendarat di tubuhnya. Ayahnya, seorang pria yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber teror di rumah mereka. Gerald selalu berusaha melindungi Celine dari amarah ayah mereka, menjadi perisai bagi adiknya yang rapuh. Semua itu memuncak pada satu malam yang dingin, bertahun-tahun silam. Setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya, di mana Gerald mencoba membela Celine, ia akhirnya memutuskan pergi. Ia kabur dari rumah, meninggalkan Celine dan ayahnya, sebuah keputusan
Davies menggendong Celine ke kamar, dengan hati-hati membaringkannya di tempat tidur. Ia memeriksa kaki Celine yang terluka, menekan lukanya dengan tangan untuk menghentikan pendarahan, berusaha menenangkan napasnya yang masih memburu. Di ruang tamu, Gerald masih berdiri mematung. Darah terus mengalir dari telinganya yang terluka, menodai kerah kemejanya yang mahal. Matanya kosong, menatap lantai, seolah sedang memproses realitas yang baru saja menamparnya. Adik perempuannya. Adiknya yang ia tinggalkan sejak lama, kini tergeletak tak sadarkan diri, bersama orang yang ia siksa, ia kendalikan, ia manfaatkan. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Tidak ada pengikut Gerald yang berani bicara. Mereka hanya saling pandang, bingung dengan perubahan sikap pemimpin mereka yang tiba-tiba. Sesaat setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gerald berbalik. Langkahnya berat, namun tegas. Ia berjalan keluar dari rumah, diikuti oleh para pengikutnya yang masih terkejut. Pintu depan tert
Malam itu, di rumah kecil di kota terpencil, ketegangan terasa begitu pekat. Davies dan Celine duduk dalam keheningan, hanya ditemani suara napas mereka yang berat. Davies berdiri di dekat jendela, matanya menatap tajam ke jalanan yang gelap. Tiba-tiba, lampu sorot mobil menyinari kegelapan. Sebuah iring-iringan mobil hitam melaju perlahan, berhenti di depan rumah. Jantung Davies mencelos. Itu Gerald, pemimpin sindikat paling berbahaya di Sidney. "Sembunyi, Celine! Sekarang!" desis Davies, suaranya penuh urgensi. Ia berbalik, matanya menatap Celine. "Masuk ke loteng. Aku akan mengulur waktu di sini." Celine mengangguk, wajahnya pucat pasi namun tekadnya tak goyah. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Davies melangkah ke lemari, menarik laci, dan mengeluarkan sebuah Glock 17, pistol semi-otomatis mematikan yang diam-diam ia ambil dari gudang sewaktu melarikan diri kala itu. Ia memeriksa magasinnya, memastikan peluru terisi penuh. "Jangan pernah keluar sampai aku memberimu tan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen