ログインDalam gemerlap kota Sydney yang tak pernah tidur, Celine, seorang desainer grafis muda, terhimpit utang keluarga yang menggunung. Sebuah senggolan mobil di sore yang nahas mempertemukannya dengan Davies, pengusaha dingin yang membutuhkan citra pernikahan demi warisan sang kakek. Dari tabrakan itu, tawaran tak terduga muncul: pernikahan kontrak. Terjebak tanpa pilihan, Celine menerima, menandatangani lembar demi lembar perjanjian kaku tanpa setitik pun romansa. Namun, di balik sandiwara megah dan aturan ketat, takdir punya rencana lain. Ketika ancaman dari masa lalu Davies dan intrik seorang rival bisnis menguji ikatan mereka, garis antara kontrak dan hati mulai kabur. Rahasia kelam terkuak, dan cinta yang tak terduga bersemi di tengah bahaya. Bisakah Celine dan Davies mempertahankan sandiwara mereka, atau akankah kebenaran pahit menghancurkan segalanya? Siapkah mereka mempertaruhkan segalanya demi hati yang terikat kontrak?
もっと見る“Mbak Meera, ayo kita cepat pulang ke rumah sekarang! Rumah kita tadi didatangi oleh Pak Harsono dan mereka memukuli Bapak,” ucap adiknya, tampak panik.
DEG!
Pak Harsono?
Almeera yang sedang melayani pelanggan rumah makan tempatnya bekerja, sontak berhenti.
Firasat buruk langsung memenuhi hati Almeera mendengar nama rentenir paling kejam di kampungnya itu.
Apakah ayah tirinya kembali membuat ulah?
Memang sejak Ibunya meninggal, pria paruh baya itu semakin tak bisa diandalkan.
Kerjanya hanya berjudi dan mabuk-mabukan–membuat keluarganya semakin terjerat dalam tumpukan utang.
“Baik, Mbak akan pulang. Tunggu di sini dulu, Rifki, Mbak akan berpamitan kepada Bu Sri,” ucapnya, lalu segera menemui sang pemilik rumah makan.
Untungnya, bos Almeera mengizinkan walau gajinya harus dipotong dua ratus ribu.
Tapi, Almeera tak peduli.
Bersama sang adik, dia pun bergegas keluar dari rumah makan itu.
Secepat mungkin, keduanya berlari.
Namun ketika mereka tiba di rumah, kaki Almeera melemas.
Kondisi ruang tamu mereka sudah sangat berantakan!
Meja bergeser dari tempatnya, kursi-kursi terguling, dan gelas pecah berserakan di lantai.
Terlebih, ada bercak darah entah milik siapa, di sana….
“Astaga!” pekiknya.
Air mata menggenang di pipi. Namun, dia segera mengusap itu kala teringat sang nenek.
“Nenek–”
Seolah tahu yang dimaksud sang kakak, Rifki langsung menariknya. “Tadi, Nenek di kamar, Kak.”
Almeera mengangguk.
Keduanya buru-buru menuju ke kamar.
Tapi begitu membuka pintu, jantung Almeera berdegup kencang kala melihat neneknya tampak menyiapkan sebuah tas besar.
Isi lemari pakaian Almeera dan Rifki juga tampak kosong melompong.
Tak tersisa selembar pakaian pun di sana.
“Nek? Ada apa ini? Kenapa semua baju dimasukkan ke tas?” tanya Almeera bingung.
“Meera, pergilah sekarang dari rumah bersama Rifki. Jangan pernah kembali lagi,” ujar Gayatri dengan suara parau.
Ia menatap lamat wajah sang cucu kesayangan selama beberapa saat.
Kemudian, Gayatri menyerahkan tas berwarna hitam itu kepada Almeera dengan tangan gemetar.
“Lalu, bagaimana dengan Nenek?” tanya Almeera dengan wajah memucat.
Ia bingung mengapa sang nenek tiba-tiba mengusirnya tanpa alasan yang jelas.
“Hidupmu akan berada dalam bahaya jika kamu terus berada di rumah ini, Meera. Tadi, Bapak tirimu itu sudah berjanji kepada Harsono untuk menyerahkanmu sebagai jaminan utang.”
Lidah Almeera mendadak kelu dan tenggorokannya terasa kering kerontang.
Jikalau ia meninggalkan rumah, lalu ke mana ia harus pergi?
Selain itu, ia tidak tega meninggalkan sang nenek seorang diri.
“Kita bertiga akan pergi bersama, Nek,” ucap Almeera memegang tangan Gayatri yang keriput termakan usia.
Gayatri menggeleng dengan air mata yang berlinang di kedua pipinya. “Nenek sudah tidak kuat menempuh perjalanan jauh. Lagi pula, Nenek tidak mau meninggalkan rumah peninggalan kakekmu, Meera. Bawa saja adikmu dan jaga dia baik-baik.”
“Tapi, Meera tidak mungkin membiarkan Nenek menderita di sini,” tolak Almeera bersikukuh.
“Percayalah, Kasman dan Harsono tidak akan berani mengusik wanita tua.”
Gayatri tiba-tiba mengambil secarik kertas yang sudah menguning, sebuah kacamata berbingkai tebal miliknya, dan bulatan hitam yang Almeera tak tahu apa.
“Pergilah ke Jakarta, dan carilah pria bernama Marco Biantara yang ada di alamat ini. Untuk sementara waktu, ubah penampilanmu dengan memakai kacamata dan tompel palsu ini supaya anak buah Harsono tidak bisa mengenalimu.”
Mata Almeera sontak membulat. “Tidak, Nek, aku tidak mau,” ucapnya tak setuju, “kita pasti punya jalan lain untuk–”
“Cepat, Meera! Ini satu-satunya cara.”
Almeera hendak membalas ucapan sang nenek, tetapi suara langkah kaki terdengar memasuki rumah
Gayatri seketika menatapnya tajam. “Kasman sudah datang. Pergilah bersama Rifki lewat pintu belakang,” tegasnya, lagi.
Wanita tua itu bahkan mendorong gadis itu agar melarikan diri lewat pintu belakang.
Merasakan tekanan dari sang nenek, Almeera menarik napas panjang.
Sebenarnya, dia dapat merasakan kepanikan sang nenek.
Tapi, sepertinya memang tak ada pilihan lain.
“Tolong jaga diri nenek. Kami akan kembali nanti,” ucap Almeera pada akhirnya.
Menahan tangis, gadis itu menggandeng tangan sang adik.
Keduanya pun berlari keluar dari rumah.
Secepat mungkin mencari bus menuju kota.
Hanya saja, Almeera lupa satu hal.
Ini pertama kalinya dia pergi keluar dari kampungnya sendirian tanpa sang nenek atau ibunya.
Jadi, semua tampak membingungkan untuk gadis yang kini sudah memakai kacamata tebal dan memakai tompel palsu di pipinya itu kala tiba di terminal.
Dirapikannya ikatan rambut sejenak, lalu turun dari bus bersama sang adik.
Melalui kacamata tebal yang membingkai wajahnya, Almeera lantas mengedarkan pandang.
Terminal tampak sangat ramai dan sesak.
“Dek, kamu duduk dulu, ya,” ucap gadis itu pada Rifki agar tak kelelahan.
Bocah kecil itu hanya diam dan mengangguk.
Tanpa menunggu waktu lama, gadis itu pun berusaha untuk mencari taksi atau ojek yang ada di sekitar sana dengan harga masuk akal.
Untungnya, ada sebuah taksi yang Almeera rasa tepat.
Setelah memintanya menunggu, gadis itu kembali ke tempat Rifki duduk untuk mengajaknya.
Sayangnya, mata Almeera melebar kala menemukan sang adik kini sudah terkulai lemas di kursi kala Almeera menghampirinya.
“Rifki!” teriak gadis itu kalut.
Dengan beban masa lalu yang perlahan terangkat, Gerald melangkah menjauh dari bayang-bayang Evan dan dunia lamanya. Udara pagi terasa lebih bersih, seolah beban di pundaknya telah terangkat. Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Dunia yang telah ia tinggalkan tidak akan melepaskannya begitu saja. Namun kini, ia punya tujuan yang jelas: menjadi kakak yang pantas bagi Celine. Ia akan menebus kesalahannya, melindungi adiknya, dan membangun kembali apa yang telah hancur. Sementara itu, di kediaman mereka, Davies dan Celine duduk berdekatan di sofa, tangan mereka bertaut erat. Cahaya pagi menyusup masuk melalui jendela, menerangi wajah mereka yang tampak lelah namun tenang. Konflik yang telah memporak-porandakan mereka, badai demi badai yang terus datang, justru telah menempa sebuah ikatan yang tak terduga. Mereka telah melewati cobaan yang menyakitkan, bahaya yang mengancam nyawa, dan rahasia kelam yang nyaris menghancurkan segalanya. Namun, cinta yang tumbuh di tengah semua it
Tawaran gencatan senjata Davies menggantung di udara, dipenuhi harapan dan ketidakpastian. Gerald masih terdiam, wajahnya kaku, namun di dalam dirinya badai emosi tengah mengamuk. Kata-kata Davies tentang ayahnya yang juga tak bersih, menghantamnya dengan telak. Realitas pahit itu, bahwa dendamnya dibangun di atas fondasi yang rapuh, mulai meruntuhkan dinding pertahanannya. Namun, yang paling menghantamnya adalah tatapan Davies pada Celine, dan kata-kata, "Aku yakin kau juga tidak ingin... membawa adikmu ke dalam bahaya." Memori Celine yang pingsan, wajahnya yang pucat, dan peluru yang menembus kakinya, semua itu berkelebat di benak Gerald. Ia telah melukai adiknya sendiri, orang yang ia sayangi, demi sebuah dendam yang kini terasa hampa Gerald menyadari bahwa siklus dendam ini harus diakhiri. Ia tak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang kegelapan yang telah merenggut begitu banyak darinya, masa mudanya, kebebasannya, dan kini, nyaris merenggut adiknya. Ia ingin sebuah kehidupa
Di ruang tamu rumah kecil itu, Gerald duduk di sofa, tatapannya kosong ke depan. Davies berdiri tidak jauh dari Celine, matanya tetap waspada, mengawasi setiap gerak-gerik Gerald. Celine duduk di sofa lain, menatap kakaknya dengan campuran luka dan kerinduan. "Aku... aku minta maaf, Celine," Gerald memulai, suaranya terdengar berat, dipenuhi beban masa lalu yang menyesakkan. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku sudah meninggalkanmu dan memilih jalan seperti ini." Ia menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Gerald melarikan diri dari kekejaman sang ayah, dari rumah yang penuh dengan pukulan dan teriakan. Ia mencari perlindungan di rumah teman, tempat yang tanpa disangka menjadi awal dari jalan gelapnya. Ayah temannya, seorang mafia berpengaruh, melihat potensi dalam dirinya, mungkin juga rasa sakitnya. Lingkungan itu membentuknya, mengajarinya kerasnya hidup, dan perlahan membawanya pada keterlibatan dalam bisnis gelap yang kini menjeratnya. Ia tidak menyembuny
Di markasnya yang gelap, Gerald duduk sendiri di balik meja besarnya dengan segelas wiski di tangan. Telinganya yang terluka masih berdenyut nyeri, namun rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan gejolak di hatinya. Pikirannya melayang pada Celine, adiknya, dan ingatan tentang masa lalu yang pahit. Ia teringat masa kecil adiknya, Celine yang polos dan ceria, selalu tersenyum, selalu ingin tahu. Sebuah kontras yang tajam dengan kekejaman ayahnya yang tak terlupakan, seringai kejam, dan cambukan yang dulu biasa mendarat di tubuhnya. Ayahnya, seorang pria yang seharusnya melindungi, justru menjadi sumber teror di rumah mereka. Gerald selalu berusaha melindungi Celine dari amarah ayah mereka, menjadi perisai bagi adiknya yang rapuh. Semua itu memuncak pada satu malam yang dingin, bertahun-tahun silam. Setelah pertengkaran hebat dengan ayahnya, di mana Gerald mencoba membela Celine, ia akhirnya memutuskan pergi. Ia kabur dari rumah, meninggalkan Celine dan ayahnya, sebuah keputusan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.