The Contractual Heart

The Contractual Heart

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-08-15
Oleh:  LalaaOn going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
21Bab
156Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Dalam gemerlap kota Sydney yang tak pernah tidur, Celine, seorang desainer grafis muda, terhimpit utang keluarga yang menggunung. Sebuah senggolan mobil di sore yang nahas mempertemukannya dengan Davies, pengusaha dingin yang membutuhkan citra pernikahan demi warisan sang kakek. Dari tabrakan itu, tawaran tak terduga muncul: pernikahan kontrak. Terjebak tanpa pilihan, Celine menerima, menandatangani lembar demi lembar perjanjian kaku tanpa setitik pun romansa. Namun, di balik sandiwara megah dan aturan ketat, takdir punya rencana lain. Ketika ancaman dari masa lalu Davies dan intrik seorang rival bisnis menguji ikatan mereka, garis antara kontrak dan hati mulai kabur. Rahasia kelam terkuak, dan cinta yang tak terduga bersemi di tengah bahaya. Bisakah Celine dan Davies mempertahankan sandiwara mereka, atau akankah kebenaran pahit menghancurkan segalanya? Siapkah mereka mempertaruhkan segalanya demi hati yang terikat kontrak?

Lihat lebih banyak

Bab 1

SATU

Sore itu, George Street basah oleh gerimis yang tak kunjung reda. Langit di atas Sydney, kelabu pekat, seolah menyalin suasana hati Celine. Dua puluh lima tahun, seorang desainer grafis muda, ia merasa seluruh beban dunia bertumpu di pundaknya. Utang peninggalan ayahnya yang seorang penjudi ulung, jumlahnya menggunung, mencekiknya pelan-pelan. Pekerjaan yang seret, seolah sengaja memperparah keadaannya.

Di balik kemudi mobil Corolla tuanya, Celine menatap kosong deretan bangunan yang buram di balik guyuran hujan. Pikirannya melayang, menari-nari di antara tumpukan tagihan yang tak terbayar dan impian yang terasa semakin jauh. Angka-angka di layar bank seolah mengejeknya, dan wajah ayahnya terbayang samar, disusul rasa sesal yang menusuk. Ia ingat janji-janji manis ayahnya tentang kemenangan besar yang tak pernah datang, hanya menyisakan tumpukan kekalahan dan beban yang kini harus ia tanggung.

Suara klakson dari belakangnya terdengar memekakkan telinga, tapi Celine tak bergeming. Pikirannya terlalu jauh, terlalu kalut. Ia tidak melihat lampu lalu lintas di depannya, yang tadinya hijau terang, kini berganti merah menyala. Sebuah kilatan peringatan yang tak ia sadari.

Terlambat.

Brak!

Tubuh Celine terhuyung ke depan saat mobil usangnya menabrak bagian belakang sebuah Range Rover hitam mengkilap di depannya. Dentuman keras itu merobek kesunyian lamunannya. Jantungnya langsung berdebar kencang, lebih cepat dari denyut mesin yang baru saja terhenti. Tangannya gemetar saat ia memegang kemudi, pandangannya beralih ke mobil mewah di depannya. Kaca belakangnya retak, membentuk pola sarang laba-laba.

Mata Celine terpejam. Ini adalah awal dari masalah baru, masalah yang ia tak yakin bisa ia tangani. Lebih tepatnya, masalah yang ia yakin sama sekali tidak bisa ia tangani. Desahan putus asa lolos dari bibirnya. Utang lama belum lunas, kini ia harus menambah lagi. Ini adalah hari terburuknya, dan ia tahu, esok mungkin akan lebih buruk.

Pintu mobil mewah di depan terbuka perlahan, anggun seperti gerakan seekor panther. Dari sana, melangkah keluar seorang pria dengan aura dingin dan dominan. Posturnya tegap, jas mahalnya tampak tak sedikit pun kusut meski baru saja tertabrak. Ini Davies. Tatapannya setajam pisau bedah, menyapu mobil butut Celine sebelum akhirnya berhenti tepat di wajahnya.

Davies adalah pengusaha ambisius, usianya sekitar tiga puluhan akhir, dengan garis rahang tegas dan mata abu-abu yang dingin. Setiap geraknya memancarkan kekuasaan dan kendali. Insiden kecil ini jelas mengganggu jadwalnya yang padat, deretan janji temu dan negosiasi penting yang tidak bisa ditunda. Awalnya, ia hanya ingin menyelesaikan masalah kerusakan mobilnya secepat mungkin, menuntut ganti rugi, lalu pergi.

Namun, ada sesuatu pada diri Celine yang menarik perhatiannya. Kepanikan yang terpancar jelas di matanya, bercampur dengan guratan kelelahan di wajahnya, menceritakan beban hidup yang berat. Samar-samar, Davies mendengar gumaman Celine tentang utang dan kesulitan keuangan saat ia keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa. Meskipun sedang dilanda kepanikan, kecantikan alami Celine tetap memancar, kulitnya yang pucat justru menonjolkan mata hazelnya yang sayu.

Sebuah ide tiba-tiba muncul di benak Davies. Ide itu berani, bahkan mungkin gila, tapi tatapan matanya tak menunjukkan keraguan sedikit pun. Sebuah seringai tipis, nyaris tak terlihat, bermain di sudut bibirnya. Ini bukan hanya tentang kerusakan mobil lagi. Ada sesuatu yang lebih menarik di balik ketidakberdayaan wanita muda di hadapannya ini. Sesuatu yang tak terduga, yang bisa menjadi permulaan dari sebuah permainan baru.

Davies tak membuang waktu. Tanpa ekspresi berarti, ia memberi isyarat agar Celine menepikan mobilnya. "Minggir ke sana," katanya singkat, menunjuk area kosong di sisi jalan. Klakson-klakson dari belakang mulai bersahutan, tak sabar menunggu lalu lintas kembali lancar.

Celine mengangguk gugup, dengan cekatan ia memundurkan mobil bututnya ke bahu jalan, menjauhi keramaian. Davies mengikuti, memarkir Range Rover-nya beberapa meter di depan mobil Celine.

Setelah mematikan mesin, Celine cepat-cepat keluar dari mobilnya, menghampiri Davies. "Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf," katanya, suaranya bergetar.

"Saya akan ganti rugi kerusakannya. Berapa pun biayanya, saya akan... saya akan usahakan." Kalimat terakhirnya terdengar samar, lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri daripada janji.

Davies tak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Celine dengan sorot mata yang sulit diartikan—dingin, namun entah mengapa terasa seperti sedang menimbang sesuatu. Ketegangan menyelimuti mereka, hanya ditemani suara bising kota yang basah.

Kemudian, tanpa peringatan, Davies mengeluarkan ponselnya. Ia mengulurkannya ke arah Celine. "Ketik nomormu di sini," perintahnya, suaranya datar namun penuh otoritas.

Celine ragu sejenak, lalu mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Jari-jarinya mengetikkan deretan angka, pikirannya berkecamuk.

"Angkat teleponku segera, kapan pun aku menelepon," suara Davies memecah keheningan, kali ini lebih tegas, tak terbantahkan. "Jangan pernah abaikan."

Setelah Celine mengembalikan ponselnya, Davies hanya mengangguk tipis. Ia bahkan tak repot-repot melihat kerusakan pada mobilnya lagi. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik, masuk ke Range Rover-nya, dan melaju pergi dengan terburu-buru, meninggalkan Celine terpaku di pinggir jalan, bingung dan dipenuhi pertanyaan.

....

Sore itu, ponsel Celine berdering, menampilkan nomor asing yang tak ia kenali, namun ia tahu siapa pemiliknya. Davies. Tanpa ragu, ia mengangkatnya. Suara Davies terdengar tenang, namun memerintah. "Datang ke kantor saya sekarang. Lantai dua puluh tiga, Gedung Emerald." Tanpa menunggu jawaban, sambungan terputus.

Jantung Celine berdegup kencang. Ia tahu ini saatnya. Bergegas, ia meninggalkan apartemen kecilnya dan menyetop taksi. Selama perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai spekulasi. Akankah Davies menuntut ganti rugi yang besar? Akankah ia melaporkan Celine ke polisi?

Setibanya di Gedung Emerald yang menjulang tinggi, Celine merasakan aura kemewahan dan kekuasaan. Lift membawanya naik, seolah membawanya masuk ke dunia yang sama sekali berbeda. Di lantai dua puluh tiga, seorang resepsionis mempersilakannya masuk ke sebuah ruangan minimalis namun elegan. Davies sudah menunggu, duduk di balik meja kaca besar, dengan tumpukan dokumen tersusun rapi di hadapannya.

"Duduklah," ujar Davies tanpa basa-basi, menunjuk kursi di depannya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Celine, membuat gadis itu merasa telanjang, seolah semua rahasianya terbongkar.

Celine duduk, tangannya bertaut erat di pangkuan. Ia bersiap untuk mendengar deretan tuntutan finansial. Namun, yang keluar dari bibir Davies jauh di luar dugaannya.

"Saya punya solusi untuk masalahmu, dan masalah saya," kata Davies, suaranya tenang namun penuh otoritas. Ia mendorong selembar dokumen tebal ke arah Celine. Bukan tagihan perbaikan mobil, apalagi laporan asuransi. Judulnya tercetak jelas: KONTRAK PERNIKAHAN.

Celine terdiam. Pernikahan? Otaknya berputar, mencoba memahami situasi absurd ini. Davies melanjutkan, "Kakek saya mensyaratkan saya untuk menikah jika ingin mewarisi seluruh asetnya. Dan saya memilihmu."

Davies membiarkan keheningan mengisi ruangan, membiarkan informasi itu meresap ke benak Celine. Jauh dari romansa yang biasa terlukis dalam bayangan pernikahan, ini terasa seperti sebuah transaksi bisnis yang dingin. Celine, yang tak memiliki pilihan lain, merasa dirinya terjebak dalam perangkap yang tak terduga.

Dengan tangan gemetar, Celine meraih kontrak itu. Ia membaca setiap pasal dengan cermat, seolah mencari celah, secercah harapan untuk melarikan diri. Durasi kontrak: lima tahun. Kompensasi finansial: jumlah yang akan melunasi seluruh utangnya, bahkan lebih. Aturan-aturan ketat untuk menjaga jarak emosional: tidak ada cinta, tidak ada sentuhan yang tidak perlu, tidak ada campur tangan dalam kehidupan pribadi masing-masing. Ini adalah kesepakatan murni, sebuah perjanjian legal tanpa melibatkan perasaan.

Di antara kata-kata formal dan bahasa hukum yang kaku, tak ada sedikit pun ruang untuk perasaan. Ini adalah kesepakatan bisnis, sebuah transaksi. Celine, yang terdesak oleh tumpukan utang dan keputusasaan, akhirnya menghela napas pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan dirinya pada takdir yang baru ini. Dengan hati hampa, ia meraih pulpen yang disodorkan Davies, dan membubuhkan tanda tangannya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen

Tidak ada komentar
21 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status