LOGIN"Tuduhan gila! Ini fitnah murahan!"Sandy melompat berdiri hingga kursi kulit di belakangnya terdorong mundur dengan decit kasar di lantai marmer. Tangannya yang gemetar menyambar berkas audit di depannya, matanya membelalak liar menelusuri rincian mutasi rekening, nomor referensi perbankan, dan stempel verifikasi otoritas keuangan internasional yang tercetak jelas di sana. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. "Aku tidak pernah menandatangani pembukaan rekening apa pun di Zurich! Ini konspirasi sengaja untuk menjebakku dan Ayah!""Tanda tangan basahmu mungkin bisa kamu elak, Sandy," potong Leo dengan nada bariton yang begitu tenang, kontras dengan kekacauan di seberang meja. Ia mengetukkan ujung jari telunjuknya ke layar tablet di hadapannya, menghubungkannya ke proyektor raksasa di dinding utama ruangan. "Tapi rekaman otentikasi biometrik dan pemindaian retina saat pembukaan akun di cabang Banque Cantonale de Genève... apa itu juga hasil rekayasa?"Layar proyektor seketik
"Bukannya kursi itu bukan lagi milikmu, Leo?"Suara lantang Sandy membelah keheningan begitu pintu ruang rapat lantai empat puluh dua terbuka lebar. Pemuda itu melempar seringai penuh kemenangan dari seberang meja marmer, menatap Leo yang baru saja melangkah masuk bersama Kakek Edward dan Raia di sampingnya.Tanpa menunggu rapat resmi dibuka, Sandy sengaja menghempaskan selembar dokumen resmi berkop surat perseroan ke tengah meja."Bukankah keputusanmu sudah bulat akhir bulan lalu?" cecar Sandy pongah, melirik para komisaris yang duduk di samping ayahnya. "Dewan komisaris sudah menerima draf pernyataan mundurnya Leonardo Vaneric dari kursi CEO. Surat itu sudah kamu serahkan sendiri, dan kepemimpinan grup ini secara sah seharusnya sudah lowong mulai pagi ini!"Robert tersenyum tipis menyandarkan punggungnya, menikmati apa yang ia kira sebagai pukulan telak bagi keponakannya.Namun, Leo sama sekali tidak bergeming. Pria itu justru melangkah tenang menuju pucuk meja, menarik kursi
"Mari kita temui Kakek Edward, Pak Presdir," ujar Raia tenang dengan dagu terangkat.Leo menyunggingkan seringai tipis yang mematikan. Pria itu membetulkan kancing jasnya, lalu melangkah mendahului untuk membukakan pintu ruangan itu lebar-lebar.Keduanya melangkah keluar menuju lorong eksekutif, di ujung lorong, Kakek Edward berdiri tegak bertumpu pada tongkat elang peraknya, dikawal oleh dua orang notaris senior bersetelan resmi dan pengawal pribadi.Mata tua sang patriarki memandang lurus ke arah Leo dan Raia yang berjalan berdampingan. "Kalian berdua tampak siap menelan hidup-hidup siapa pun yang bernapas di ruang rapat nanti," suara Kakek Edward memecah hening lorong eksekutif, disusul ketukan ujung tongkat elang peraknya yang berdentang mantap di atas marmer.Langkah Leo dan Raia berhenti tepat dua jengkal di hadapan sang patriark. Dua notaris senior di belakang pria tua itu membungkuk takzim pada Leo, sementara tatapan tajam Kakek Edward langsung terkunci pada cincin berma
"Jangan bergerak, Raia."Bibir Leo merangsek maju, meredam seluruh sanggahan wanita itu di antara lumatan panas dan menuntut. Tangan pria itu yang semula menahan dagunya kini menyusup cepat ke tengkuk, jemarinya membelai rambut Raia seraya menariknya semakin merapat."Leo..." gumam Raia serak. Tangannya terangkat, merapikan dasi sutra Leo yang sedikit miring akibat tarikannya. "Lipstikku pasti berantakan.""Biar aku yang tanggung jawab merapikannya lagi nanti," sahut Leo enteng tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ibu jarinya menyeka sudut bibir Raia.Leo menegakkan tubuhnya, melangkah mundur untuk memberi ruang bagi Raia mengatur napasnya kembali."Pukul sembilan Kakek Edward tiba bersama notaris untuk serah terima saham yayasan," ujar Leo. Matanya melirik ke arah jam dinding di seberang ruangan. "Dan tepat pukul sepuluh, dewan komisaris akan berkumpul."Raia merapikan letak blazer-nya, menghembuskan napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya yang liar. Ia mengangkat map kul
"Raia! Ya ampun, konser akhir pekan kemarin itu bener-bener gila, seru banget parah!"Sinta memekik seraya meletakkan segelas iced americano di tepi meja kerja Raia. Matanya binar penuh euforia, tangannya bergerak memperagakan riuhnya penonton. "Pas lagu andalannya dinyanyiin di encore, seluruh stadion nyalain lampu barengan sampai merinding. Visual panggungnya megah, pokoknya capek antre berjam-jam langsung lunas tanpa sisa!"Raia yang baru saja duduk dengan setelan blazer abu-abu tersenyum tipis, membuka map agenda rapat seraya menatap Sinta dengan tenang. "Syukurlah kalau perjuangan war tiketmu tidak sia-sia."Namun, binar heboh di wajah Sinta mendadak meredup, berganti raut cemas dan penasaran. Ia membungkuk sedikit lebih dekat ke meja Raia, merendahkan suaranya menjadi bisikan hati-hati."Tapi ngomong-ngomong... gimana kemarin malam? Aman, kan?" tanya Sinta penasaran. Raia menarik napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Semuanya terkendali, Sinta.""Syukur deh kala
Ciuman itu tidak lagi tergesa-gesa seperti di ruang jamuan Menteng tadi. Di apartemen, bibir Leo bergerak, menuntut sekaligus memuja setiap jengkal napas Raia hingga wanita itu kehilangan akalnya.Raia membalas lumatan itu perlahan. Jemarinya menelusup di sela helai rambut hitam Leo kian mengerat, menarik pria itu semakin merapat hingga tak ada celah udara yang tersisa di antara mereka. Napas Leo memburu saat ia memiringkan wajahnya, memperdalam pagutan bibir mereka. Lengannya yang kekar mengunci pinggang ramping Raia dengan mantap, memastikan wanita itu tetap aman di tepian meja."Raia..." bisik Leo serak, suaranya bergetar di depan bibir Raia yang kini basah dan sedikit membengkak. "Mulai detik ini, jangan pernah berpikir untuk mundur selangkah pun dari hidupku."Raia membuka matanya perlahan, menyambut sorot mata posesif yang selalu berhasil meluluhkan seluruh benteng profesionalismenya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis."Bahkan kalau aku mau mundur pun," bisik Ra







