Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 3 - Ulah Raia

Share

Bab 3 - Ulah Raia

Author: Anidania
last update publish date: 2026-08-12 15:12:40

Raia menatap rencana yang ia susun di laptopnya. Bagaimana ia harus menjalankan perintah ibu bosnya?

Tatapannya tertuju pada sebuah foto di atas meja kamar tidurnya——foto dirinya tengah tertawa bahagia bersama tunangannya, diambil hanya beberapa minggu sebelum kecelakaan tragis yang merenggut seluruh rencana pernikahan dan masa depan keduanya. 

Kenangannya kembali melayang jauh ketika melewati hari-hari penuh tawa bahagia dan merajut mimpi-mimpi indah, kini harus terkubur tanpa ia tahu harus bagaimana lagi caranya bertahan. 

Pernikahan impian, gaun pengantin, bahkan persiapan yang hampir jadi seketika musnah dalam satu malam.

Dan kini berusaha menyembuhkan pria dengan cinta?

Air mata yang ditahannya seharian, akhirnya menetes membasahi pipinya. Tangannya terulur, mengusap permukaan bingkai tersebut dengan tangan sedikit bergetar. 

Luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam, kini kembali menguap, memukulnya dengan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan. 

Namun, dibalik rasa sakit yang menggerogoti jiwanya, profesionalisme yang  tertanam selama tujuh tahun ini tidak membiarkannya runtuh begitu saja. 

Dengan jemari sedikit gemetar, ia mencoba fokus pada layar laptop di hadapannya. Memeriksa satu per satu profil wanita pilihan Ibu Rica. 

Menyusun agenda satu per satu dengan cermat, menyamarkan ajang perjodohan itu menjadi pertemuan bisnis yang terllihat formal. 

Ia mengatur segalanya tanpa terkecuali, termasuk siapa yang seharusnya mewakili perusahaan masing-masing.

Drttt. Drttt.

Getaran ponsel Raia membuatnya sedikit tersentak. Nama Ibu Rica Vaneric kembali tertera di layar ponselnya. Raia menarik napas panjang, mencoba mengatur napas dan suaranya agar tak menimbulkan kecurigaan apapun.

“Selamat malam, Ibu?” sapa Raia lembut.

“Rai, bagaimana perkembangannya?” jawab Ibu Rica terdengar tak sabar. “Kamu sudah menyusun jadwal pertemuan untuk Leo, kan?”

Raia menghela napas lelah. “Sudah, Ibu. Pekan ini saya sudah menyisipkan schedule tersebut di sela-sela agenda bisnis beliau.”

“Bagus,” jawab Ibu Rica, cepat. “Ingat, Rai. Jangan sampai Leo menyadari rencana perjodohan ini. Kalau dia sampai tahu, Ibu yakin dia akan menolak untuk datang.”

“Saya mengerti, Ibu,” sahut Raia. “Saya juga sudah mengkonfirmasi agar para putri dari keluarga tersebut yang mewakili dan hadir secara pribadi.”

“Terima kasih, Raia. Kamu memang bisa diandalkan,” puji Ibu Rica. “Bantu Ibu membuka hati anak itu.”

….

“Keluarga kita sudah lama bekerja sama Leo, tapi jujur, aku lebih tertarik mengenal kamu,” bisik Clarissa, target utamanya. 

Ia mendekatkan tubuhnya pada Leo, menatap pria itu, dan mengabaikan pembahasan bisnis. 

“Kamu ada waktu kosong gak di luar jam kerja? Pergi yuk? lanjutnya.

Leo terdiam sejenak. Matanya mengunci manik mata Clarissa, menatapnya selama beberapa saat. 

“Nona Clarissa, saya menghargai undangan Anda dengan penuh hormat … namun, sepertinya saya belum bisa menerima tawaran Anda untuk kali ini,” jawab Leo, dengan nada formal.

Clarissa tersenyum tipis, “Lagipula, sekretaris kamu tidak keberatan juga kan kalau kita pergi?”

Raia, yang duduk di meja berbeda tak jauh dari meja keduanya, sedikit memicingkan matanya, ia menyadari raut wajah Leo yang tak nyaman. 

Sementara Clarissa yang terus mencari celah untuk mencuri perhatian Leo.

“Raia,” panggil Leo rendah. 

Tubuh Raia sedikit tersentak, namun sedetik kemudian, ia berusaha terlihat biasa saja. Ia segera berdiri, merapikan blazernya  da melangkah cepat menghampiri keduanya. Ekor matanya menangkap raut wajah Clarissa yang terlihat kesal.

“Iya, Pak?” tanya Raia, berdiri tepat di sebelah Leo.

“Kapan saya memiliki waktu luang di sela agenda minggu depan?” 

Raia mengernyitkan dahinya sejenak, lalu, ia segera mengambil tabletnya dengan cepat. dan Leo menimbangnya dengan dehaman.

“Sepertinya … tidak ada, Pak,” jawab Raia terfokus pada tabletnya saat mengerti perintahnya. 

Leo mengangguk, “Selain itu?” tanyanya lagi.

“Apakah Anda memiliki agenda mendesak yang harus saya masukkan sebagai prioritas? Atau, Anda ingin saya merombak schedule tersebut?”

Leo menghela napas panjang, lega, dengan kemampuan analisis Raia yang begitu tajam tanpa harus ia jelaskan lebih lanjut. 

“Mohon Maaf, Nona. Seperti yang sudah Anda dengar sendiri, sepertinya schedule saya sudah penuh.”

“Tapi, Leo—” ujar Clarissa lagi.

“Kalau begitu, kami pamit.” sergah Leo tak ingin memberikan Clarissa waktu untuk berpikir. Lalu melengang pergi yang diikuti Raia.

Ia berdeham sebelum terhenti, “Itu ulah kamu, Raia?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ratu As
wkwk ushamu gagal Raia 🫢🫢🫣 nunggu bnget Pak Leo diem-diem suka sekretarisnya. 🩷
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • The Day We Do It   Bab 6 - Malam Ini, Jangan Pergi!

    “Ahh! Nghhh ... h-hah ... pelan ... Pak... ahh!” Desahan Raia panas, bersatu dengan hembusan napas berat Leo yang kian membara di atas tubuhnya, menandai awal dari penyatuan yang semakin dalam dan intens.Tempo pergerakan di antara keduanya semakin tak terkendali. Hentakan Leo dengan cepat menghujam milik Raia begitu dalam, menciptakan hawa panas yang membakar seluruh tubuhnya. Satu tangan Leo bergerak turun, melingkari pinggang Raia lalu mencengkeram dan meremas pinggul serta bokongnya keras, menahan tubuh wanita itu agar semakin menempel rapat pada setiap dorongannya.“Nghhh! Ahh ... Leo! L-lebih cepat ... ahhh!” jerit Raia terputus-putus.Raia tak mampu lagi menahan puncaknya yang semakin dekat. Punggungnya melengkung ke atas, dadanya terangkat ketika puncak dahsyat menjalar dari pusat tubuhnya. Kakinya yang melingkari pinggang Leo terasa semakin erat, memburu klimaks yang sudah di pelupuk mata.“Nghh ... sekali lagi, Raia ...,” geram Leo dengan suara serak, mempercepat ritmeny

  • The Day We Do It   Bab 5 - Apa yang Mereka Lakukan?

    “Mmp—Pak?”Tanpa menunggu lebih lama lagi, tubuh Leo perlahan semakin maju, mengikis jarak di antara keduanya, membuat napas beraroma alkohol miliknya menerpa wajah Raia. Otot-ototnya melunak ketika ia mendekap tubuh Raia dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raia, memeluk wanita itu begitu erat. Pelukan rapuh dan keputusasaan atas rasa sepi yang begitu mendalam ia rasakan selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan tempat untuk berlindung.Raia tersentak. Tubuhnya membeku ketika merasakan rengkuhan hangat dan jantung Leo yang berdetak begitu cepat. Rasa pening akibat alkohol yang ia rasakan membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih. Ia ingin mendorong tubuh pria itu menjauhinya, namun, pelukan erat itu justru membuatnya terdiam.“P-Pak Leo?” lirihnya.“Saya ... saya sangat lelah, Rai,” guman Leo serak. Ia mengeratkan pelukannya, tak memberi kesempatan Raia untuk menjahuinya.Belum sempat Raia merespon apa yang Leo lakukan, pria itu menarik kepalanya dan memberi sedikit jarak.

  • The Day We Do It   Bab 4 - Bosnya, Menciumnya?

    Semua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaannya. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Gagal.Leo hadir, memang. Tapi sebagai seorang CEO. Namun, tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi. Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu. Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia. “Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya. Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya. “Dari tiga k

  • The Day We Do It   Bab 3 - Ulah Raia

    Raia menatap rencana yang ia susun di laptopnya. Bagaimana ia harus menjalankan perintah ibu bosnya?Tatapannya tertuju pada sebuah foto di atas meja kamar tidurnya——foto dirinya tengah tertawa bahagia bersama tunangannya, diambil hanya beberapa minggu sebelum kecelakaan tragis yang merenggut seluruh rencana pernikahan dan masa depan keduanya. Kenangannya kembali melayang jauh ketika melewati hari-hari penuh tawa bahagia dan merajut mimpi-mimpi indah, kini harus terkubur tanpa ia tahu harus bagaimana lagi caranya bertahan. Pernikahan impian, gaun pengantin, bahkan persiapan yang hampir jadi seketika musnah dalam satu malam.Dan kini berusaha menyembuhkan pria dengan cinta?Air mata yang ditahannya seharian, akhirnya menetes membasahi pipinya. Tangannya terulur, mengusap permukaan bingkai tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam, kini kembali menguap, memukulnya dengan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan. Namun, dibalik rasa sakit ya

  • The Day We Do It   Bab 2 - Kekeuh Leo

    Deg.Darah Raia berhenti mengalir. Kalimat Bu Rica menampar kesadarannya. Pastor? Pria dingin, rasional, dan seorang penguasa bisnis dunia yang selama tujuh tahun ini berdiri di sampingnya ... ingin mengikrarkan janji suci dan meninggalkan kehidupan duniawinya demi mengabdi pada Tuhannya?“Ibu tidak akan membiarkan ini terjadi, Raia. Tidak akan pernah,” tegas Bu Rica mengguncang tangan Raia. “Satu-satunya cara untuk menggagalkannya adalah jika ada wanita yang mampu mengikat hatinya di dunia ini. Ibu mohon padamu ... kamu adalah orang terdekat dan paling dipercaya Leo. Bantu ibu dekatkan dengan wanita-wanita pilihan Ibu sebelum semuanya terlambat,” Membayangkan bagaimana keberlanjutan keluarganya, jika anak semata wayang keluarga Vane, memutuskan menjadi Pastor dan mengorbankan semua aset yang dimilikinya.Raia terpaku. Di satu sisi, otaknya masih berusaha memproses kenyataan luar biasa tentang jalan hidup yang dipilih atasannya. Namun, disisi lain, bayangan masa lalunya sendiri m

  • The Day We Do It   BAB 1 - Permintaan Tak Masuk Akal

    “Minggu ini, mulailah perbarui portofoliomu dan silakan cari pekerjaan di tempat lain. Saya akan fasilitasi surat rekomendasi terbaik dari perusahaan.”Perintah itu muncul begitu saja dari pria di hadapan Raia yang sudah tujuh tahun ini menjadi atasannya.Seketika, tubuh Raia membeku. Jemarinya mencengkram dokumen lebih erat. “Ma-maksud Bapak?” tanya Raia sedikit bergetar. “Apakah saya dipecat? Atau ada laporan tentang kinerja saya yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan?” lanjutnya, menatap Leo bosnya dengan penuh tanya.Leo tak menjawab. Ia meletakkan pulpennya, lalu mengangkat pandangannya. “Bukan. Kerjaanmu selalu sempurna, Raia,” jawabnya, menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya. “Hanya saja ... dalam waktu dekat, saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini.”“M-mundur, Pak?” potong Raia terkejut.Leo mengangguk, sekali. “Saya berencana pindah ke tempat yang jauh, dan saya tidak bisa membawamu.”Raia semakin membelalak. “Pindah ke tempat yang ...jauh? maksud Bapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status