LOGIN“Keluarga kita sudah lama bekerja sama Leo, tapi jujur, aku lebih tertarik mengenal kamu,” bisik Clarissa, salah satu putri kebanggaan keluarga Santosa, yang menjadi target pertama perjodohan ini.
Restoran mendadak terasa pengap bagi Leo. Matanya memicingkan menatap wanita di depannya yang anggun.
Clarissa mendekatkan tubuhnya pada Leo, menatap pria itu, dan mengabaikan pembahasan bisnis yang Leo lontarkan.
“Kamu ada waktu kosong gak di luar jam kerja? Pergi yuk?” lanjut gadis itu.
Leo terdiam sejenak. Matanya mengunci manik mata Clarissa, menatapnya selama beberapa saat.
“Nona Clarissa, saya menghargai undangan Anda dengan penuh hormat … Namun, sepertinya saya belum bisa menerima tawaran Anda untuk kali ini,” jawab Leo, dengan nada formal.
Clarissa tersenyum tipis, “Kenapa? Lagipula, sekretaris kamu tidak keberatan juga kan kalau kita pergi?”
Raia, yang duduk di meja berbeda tak jauh dari meja keduanya, sedikit memicingkan matanya, ia menyadari raut wajah Leo yang tak nyaman.
Sementara Clarissa yang terus mencari celah untuk mencuri perhatian Leo.
“Raia,” panggil Leo rendah.
Tubuh Raia sedikit tersentak, namun sedetik kemudian, ia berusaha terlihat biasa saja. Ia segera berdiri, merapikan blazernya da melangkah cepat menghampiri keduanya. Ekor matanya menangkap raut wajah Clarissa yang terlihat kesal.
“Iya, Pak?” tanya Raia, berdiri tepat di sebelah Leo.
“Kapan saya memiliki waktu luang di sela agenda minggu depan?”
Raia mengernyitkan dahinya. Jemarinya bergerak cepat membuka jadwal Leo di tablet.
Sebenarnya, hanya ada waktu kosong di akhir pekan. Namun, Raia tahu betul bahwa waktu tersebut nyaris mustahil digunakan. Leo memiliki rutinitas ke gereja yang tidak pernah bisa diganggu, bahkan untuk urusan pekerjaan sekalipun. Rasanya mustahil pria itu tiba-tiba bersedia mengorbankan waktu tersebut hanya demi pergi bersama seorang wanita.
Jadi, meskipun ingin membantu Bu Rica, Raia juga tidak ingin asal memberikan harapan. Ia hanya bisa menyebutkan waktu yang benar-benar mungkin digunakan Leo tanpa mengusik kebiasaannya.
“Sepertinya … tidak ada yang kosong, Pak,” jawab Raia terfokus pada tabletnya. Ia sengaja mengalihkan pandangan untuk menutupi kebohongan kecilnya, padahal jadwal akhir pekan pria itu sebenarnya kosong.
“Berarti kalau akhir pekan, kosong, kan? Bisa tolong jadwalkan Pak Leo untuk saya?” tanya Clarissa tersenyum mengerling.
Leo menghela nafas, “Apakah Anda memiliki agenda mendesak yang harus saya masukkan sebagai prioritas?”
“Tapi, Leo—” ujar Clarissa lagi.
“Kalau begitu, kami pamit,” potong Leo tak ingin memberikan Clarissa waktu untuk berpikir. Lalu melengang pergi yang diikuti Raia. “Mari.”
Raia terpaksa setengah berlari di belakangnya demi menyamai langkah lebar sang atasan. Namun, saat ia ingin melangkah, lengannya tertahan.
“Saya tahu Mbak Raia orang kepercayaan Bu Rica. Dan saya tahu persis apa misi Mbak Raia mendekatkan Pak Leo ke saya. Dan jujur saja, saya tidak keberatan sama sekali. Jadi, mumpung akhir pekan ini kosong, bisakah Mbak Raia tolong jadwalkan Pak Leo untuk saya? Katakan saja ada agenda penting," ujar Clarissa terus terang.
Raia menelan ludah susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia teringat kembali pada niat keras kepala bosnya itu, sekaligus bayangan amarah Bu Rica jika ia gagal.
"Kalau masalah akhir pekan... sepertinya tidak bisa, Mbak," cicit Raia hati-hati.
Alis Clarissa langsung terangkat. "Kenapa? Bukannya kata Bu Rica kalau akhir pekan Leo bebas?"
Raia meremas jemarinya di atas meja. "Kalau hari Sabtu dan Minggu... Pak Leo pergi ke gereja, Mbak. Beliau tidak pernah mau diganggu di akhir pekan.”
Clarissa terdiam, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tapi nanti saya hubungi dan usahakan lagi, ya, Mbak," sambung Raia cepat.
Baru saja Raia ingin pamit, suara berat memanggilnya.
“Raia.”
Wanita itu sontak menoleh.
“Kita masih ada dua jadwal lagi. Bisa segera?”
Raia mengangguk kaku, buru-buru merapatkan langkahnya untuk berjalan di samping sang atasan yang sudah melangkah lebih dulu.
Tanpa menoleh sedikit pun, suara rendah Leo memecah sunyi di antara derap langkah mereka. "Saya tidak mau menudingmu, tapi lain kali jangan kecolongan lagi."
. . . .
Semua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaan Raia. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Semua gagal.
Leo memang hadir, tapi sebagai seorang CEO. Dan tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi.
Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.
Tidak ada satupun wanita pilihan Bu Rica yang diselip sebagai bisnis membuat Leo tertarik.
Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu. Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.
Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia.
“Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya.
Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”
Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya.
“Dari tiga kali makan malam bisnis, yang datang justru para putri pengusaha langsung secara pribadi,” ucap Leo menatap jalanan yang mulai sepi.
Jantung Raia seketika berdegup kencang. Ia memang sudah menjawab tidak mengakui bahwa itu adalah ulahnya, dan ibu Leo terutama. Ia berusaha sebisa mungkin agar wajahnya tetap terlihat tenang.
“Mungkin … mereka ingin memastikan hubungan baik antar dua perusahaan, Pak.”
Namun, pria itu mendekatkan wajahnya lebih dekat.
“Raia,” panggil Leo rendah. “Kalau ini rencanamu... tolong ingat baik-baik kalau kamu tahu persis saya tidak punya rencana untuk mencari wanita mana pun.”
Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu
"Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan
"Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,
"Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe
Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d
"Ehh! Rai! Mau ke mana?!" seru Sinta terkjeut, mmenatap sahabatnya yang sudah menyambar cardigan dan melangkah cepat keluar pintu tanpa menjawab pertanyaannya.Wnita itu menutup pintu rapat, berlari menyusuri koridor menuju lift dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka, langkahnya bergerak cepat menembus udara parkiran yang dingin dan sunyi.Sosok jangkung Leo langsung tertangkap indera penglihatannya—berdiri bersandar di samping mobil mewahnya dengan kemeja yang sudah digulung hingga siku, dan sibuk dengan ponsel di tangannya."Kenapa sih, Pak, malam-malam begini?!" sembur Raia setengah berbisik begitu ia sampai di hadapan pria itu. Amarah dan rasa kesal yang ditahannya sejak tadi meledak begitu saja. "Bapak gila, ya?! Nekat banget mengancam mau naik ke unit saya?!"Leo menatap Raia dengan alis berkerut. Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka."Saya cuma mau memastikan..." suara Leo terdengar parau, "...kalau kamu tidak







