MasukSemua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaannya. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Gagal.
Leo hadir, memang. Tapi sebagai seorang CEO. Namun, tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi.
Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.
Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu.
Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.
Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia.
“Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya.
Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”
Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya. “Dari tiga kali business dinner, yang datang justru para putri pengusaha langsung secara pribadi,” ucap Leo menatap jalanan yang mulai sepi.
Jantung Raia seketika berdegup kencang. Ia memang sudah menjawab tidak mengakui bahwa itu adalah ulahnya, dan ibu Leo terutama.
Ia berusaha sebisa mungkin agar wajahnya tetap terlihat tenang. “Mungkin … mereka ingin memastikan hubungan baik antar dua perusahaan, Pak.”
Leo mendengus, tak mau ambil pusing, “Sepertinya begitu,” jawabnya setuju.
Raia mengambil napas lega, “Oh ya, Pak. Mengingatkan kembali, perayaan dan peresmian anak perusahaan Vaneric Group esok dimulai pukul delapan malam, Anda diharapkan bisa datang, Pak.” ingat Raia, ketika mobil memasuki lobi kantor.
Leo mengangguk, sekilas. “Ya, saya akan datang.”
……
Malam peresmian anak perusahaan milik Leo sudah diresmikan sebelum ia benar-benar ingin melepas posisi CEO. Lounge lantai dasar disulap layaknya ballroom mewah dengan berbagai ornamen yang menghiasinya. Lampu chandelier bekilauan dari berbagai sudut memantulkan semburat cahaya keemasan.
Alunan musik mengalun di antara riuh tawa para tamu undangan. Para direktur, kolega, dan tamu undangan lainnya begitu menikmati hidangan makanan Prancis dengan deretan gelas kristal berisi champagne.
“Selamat, Pak Leo, Anda memang pebisnis yang hebat!” puji seorang kolega, menjabat tangannya penuh bangga.
“Terimakasih atas kedatangan Anda. Selamat menikmati perayaan ini,” balas Leo.
Sebagai pewaris utama, Leo tampak sibuk bercengkrama dengan para kolega, ia berdiri begitu gagah menyambung interaksi dan ucapan selamat yang diberikan padanya.
Tanpa ada yang tahu bahwa itu adalah pertemuan akhir dengan Leo yang akan mengabdi pada Tuhannya.
Senyum tipis dan jabatan tangan ia berikan pada tiap kolega yang menghampirinya.
Namun, tepat pukul sepuluh malam, di saat seremonial sudah selesai dan hanya tersisa hiburan, Leon memutuskan meninggalkan lounge dan kembali ke ruangan.
Ia melepas jasnya, menanggalkan kesan formal dalam dirinya. Lalu, memanggil Raia, melalui sambungan interkom.
“Raia,” panggil Leo. “Bawakan berkas yang harus saya periksa, sekarang.”
Perintah dari earphone membuat Raia menghembuskan napas panjang. “Baik, saya segera ke ruangan Anda,” ucapnya, meninggalkan lounge.
Pikiran kalut atas penolakan keluarganya membuat dirinya tertekan hingga tak sadar, ia mengambil langkah yang tak biasa ia lakukan. Menenggak whiskey hingga tandas setengah botol.
Sementara Raia, wanita itu melangkah kasar dengan heels tingginya menuju lift. Lalu, berlari ke mejanya.
“Aduh, mana, ya?” gumamnya, mencari berkas yang dimaksud. Pasalnya, banyak sekali berkas yang menumpuk di meja kerjanya. “Jangan sampai Pak Leo menunggu terlalu lama.”
Ia membolak-balikan berbagai dokumen, mencari dengan seksama. “Ah, ini dia.” Ia memeriksa dokumen di hadapannya, sekali lagi, lalu ia memberanikan diri melangkah masuk dengan membawa map laporan terakhir yang perlu ditandatangani malam itu juga.
Tok tok...
Raia mendorong sedikit pintu ruangan Leo, menyebabkan aroma alkohol menyergap indra penciumannya.
Dahinya sedikit berkerut, apakah Leo meminumnya terlalu banyak?
Tatapannya kini beralih pada sebuah botol whisky mahal di tengah meja yang tersisa separuh. “Pak Leo?” panggil Raia ragu. “Ini berkas evaluasi pekan ini ….”
“Letakkan di meja, Raia.”
Raia mengangguk. Ia melangkah masuk dan meletakkan berkas itu, namun, pandangannya tak bisa berpaling dari botol tersebut.
Dengan jarak dekat, ia bisa mendengar helaan napas berat dari Leo. Pria itu, tak biasanya menyentuh alkohol hingga mabuk, biasanya …
Ia hanya menyesapnya sedikit—menghormati para tamu dan koleganya. Apalagi…
“Anda minum terlalu banyak, Pak. Saya ambilkan air hangat—”
“Jangan, Raia. Biarkan seperti ini,” potong Leo. “Apakah dunia ini memang terasa sesak bagi semua orang … atau hanya saya?”
Raia menatap Leo, penuh kekhawatiran. “Dunia ini selalu sesak, Pak,” bisik Raia, berkaca-kaca, mengingat rasa sepi yang menggerogotinya selama tiga tahun terakhir.
Mata pekat Leo yang biasanya menatap tajam, kini tampak sedikit memerah dan sayu. Langkah kakinya sedikit tak stabil saat ia berjalan mendekati sebuah lemari di samping meja kerjanya. “Tujuh tahun …,” guman Leo pelan.
“Selama itu juga, kamu satu-satunya yang paling mengerti saya. Tapi, kamu juga orang yang paling jauh dari saya.”
Ia mengambil sebuah botol minuman panas dari dalamnya. Lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kecil.
“Gelas ini untukmu, Rai,” ujar Leo, menyodorkan pada Raia.
Raia tertegun, tubuhnya refleks menjauh. “Pak Leo, saya tidak minum—”
“Baik, biar saya,” potong Leo, sedikit menuntut. “Dampingi saya untuk terakhir kalinya.”
Raia menatap Leo lekat, melihat raut keputusasaan di wajah Leo yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan sedikit keraguan, tangannya terangkat, menerima gelas berisi cairan berwarna kuning itu dengan sedikit gemetar.
Seketika, bau alkohol semakin menyengat tercium olehnya. Ia menatap gelas itu sekilas, lalu mengalihkan tatapannya pada Leo, menatap pria itu yang kini menganggukkan kepalanya, seolah meyakinkan dirinya.
“Mau lagi?” lirih Leo, bak magnet yang membuat Raia menurutinya. Ia menarik napas panjang, memberanikan diri meneguk minuman asing itu beberapa kali.
Sensasi terbakar dan panas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat kepalanya terasa pening.
“Enak?” tanya Leo, meneguk whisky miliknya hingga tandas.
Lalu, melangkah mendekati Raia, mengulurkan tangannya dan mengurung posisi Raia. Jarak yang sangat dekat membuat Raia menahan napasnya beberapa saat. Tatapannya mengunci manik mata Raia, membuat gadis itu terpaksa menatapnya.
“Pak ...,” bisik Raia, mencoba menyadarkan Leo.
“Selama tujuh tahun, Raia. Untuk terakhir kalinya… ” ujar Leo begitu jujur. “Apa kamu pernah menaruh hati untuk saya?” jujur Leo bertanya.
Raia semakin terdiam, tubuhnya membeku, tangannya bergerak menyangga tubuhnya di atas meja.
Kehangatan yang membakar dadanya, membuat logika yang selama ini ia bangun begitu kuat, mendadak memudar.
Ia memang pernah menaksir bosnya. Tapi tidak sampai tidak berlogika melewati batas hubungan keduanya. Pun, hatinya masih teguh dengan mantan tunangannya yang sudah di surga.
Leo mengamati detail raut wajah wanita yang selama bertahun-tahun ini selalu setia berdiri satu langkah di belakangnya, dengan penuh ketenangan dan rasa bangga.
Sebelum akhirnya, ia semakin kehilangan fokusnya, memperjelas bahwa kesadarannya semakin terkikis habis. “Kamu selalu tahu saya, Rai. Tapi saya bahkan tidak pernah mengerti kamu.”
“Tapi malam ini ...,” ucap Leo kemudian. “Saya sangat bersyukur karena memiliki rekan kerja seperti kamu, Raia,” lanjutnya dengan seulas senyum yang bahkan belum pernah Raia lihat sebelumnya.
“Saya ingin berterimakasih padamu ... bertahan dengan saya ... tanpa kamu, saya mungkin tak akan bertahan sejauh ini,” jelas Leo terdengar parau.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, tubuh Leo perlahan semakin maju, mengikis jarak di antara keduanya, membuat napas beraroma alkohol miliknya menerpa wajah Raia.
Sebentar… Bosnya menciumnya?
“Ahh! Nghhh ... h-hah ... pelan ... Pak... ahh!” Desahan Raia panas, bersatu dengan hembusan napas berat Leo yang kian membara di atas tubuhnya, menandai awal dari penyatuan yang semakin dalam dan intens.Tempo pergerakan di antara keduanya semakin tak terkendali. Hentakan Leo dengan cepat menghujam milik Raia begitu dalam, menciptakan hawa panas yang membakar seluruh tubuhnya. Satu tangan Leo bergerak turun, melingkari pinggang Raia lalu mencengkeram dan meremas pinggul serta bokongnya keras, menahan tubuh wanita itu agar semakin menempel rapat pada setiap dorongannya.“Nghhh! Ahh ... Leo! L-lebih cepat ... ahhh!” jerit Raia terputus-putus.Raia tak mampu lagi menahan puncaknya yang semakin dekat. Punggungnya melengkung ke atas, dadanya terangkat ketika puncak dahsyat menjalar dari pusat tubuhnya. Kakinya yang melingkari pinggang Leo terasa semakin erat, memburu klimaks yang sudah di pelupuk mata.“Nghh ... sekali lagi, Raia ...,” geram Leo dengan suara serak, mempercepat ritmeny
“Mmp—Pak?”Tanpa menunggu lebih lama lagi, tubuh Leo perlahan semakin maju, mengikis jarak di antara keduanya, membuat napas beraroma alkohol miliknya menerpa wajah Raia. Otot-ototnya melunak ketika ia mendekap tubuh Raia dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raia, memeluk wanita itu begitu erat. Pelukan rapuh dan keputusasaan atas rasa sepi yang begitu mendalam ia rasakan selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan tempat untuk berlindung.Raia tersentak. Tubuhnya membeku ketika merasakan rengkuhan hangat dan jantung Leo yang berdetak begitu cepat. Rasa pening akibat alkohol yang ia rasakan membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih. Ia ingin mendorong tubuh pria itu menjauhinya, namun, pelukan erat itu justru membuatnya terdiam.“P-Pak Leo?” lirihnya.“Saya ... saya sangat lelah, Rai,” guman Leo serak. Ia mengeratkan pelukannya, tak memberi kesempatan Raia untuk menjahuinya.Belum sempat Raia merespon apa yang Leo lakukan, pria itu menarik kepalanya dan memberi sedikit jarak.
Semua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaannya. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Gagal.Leo hadir, memang. Tapi sebagai seorang CEO. Namun, tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi. Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu. Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia. “Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya. Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya. “Dari tiga k
Raia menatap rencana yang ia susun di laptopnya. Bagaimana ia harus menjalankan perintah ibu bosnya?Tatapannya tertuju pada sebuah foto di atas meja kamar tidurnya——foto dirinya tengah tertawa bahagia bersama tunangannya, diambil hanya beberapa minggu sebelum kecelakaan tragis yang merenggut seluruh rencana pernikahan dan masa depan keduanya. Kenangannya kembali melayang jauh ketika melewati hari-hari penuh tawa bahagia dan merajut mimpi-mimpi indah, kini harus terkubur tanpa ia tahu harus bagaimana lagi caranya bertahan. Pernikahan impian, gaun pengantin, bahkan persiapan yang hampir jadi seketika musnah dalam satu malam.Dan kini berusaha menyembuhkan pria dengan cinta?Air mata yang ditahannya seharian, akhirnya menetes membasahi pipinya. Tangannya terulur, mengusap permukaan bingkai tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam, kini kembali menguap, memukulnya dengan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan. Namun, dibalik rasa sakit ya
Deg.Darah Raia berhenti mengalir. Kalimat Bu Rica menampar kesadarannya. Pastor? Pria dingin, rasional, dan seorang penguasa bisnis dunia yang selama tujuh tahun ini berdiri di sampingnya ... ingin mengikrarkan janji suci dan meninggalkan kehidupan duniawinya demi mengabdi pada Tuhannya?“Ibu tidak akan membiarkan ini terjadi, Raia. Tidak akan pernah,” tegas Bu Rica mengguncang tangan Raia. “Satu-satunya cara untuk menggagalkannya adalah jika ada wanita yang mampu mengikat hatinya di dunia ini. Ibu mohon padamu ... kamu adalah orang terdekat dan paling dipercaya Leo. Bantu ibu dekatkan dengan wanita-wanita pilihan Ibu sebelum semuanya terlambat,” Membayangkan bagaimana keberlanjutan keluarganya, jika anak semata wayang keluarga Vane, memutuskan menjadi Pastor dan mengorbankan semua aset yang dimilikinya.Raia terpaku. Di satu sisi, otaknya masih berusaha memproses kenyataan luar biasa tentang jalan hidup yang dipilih atasannya. Namun, disisi lain, bayangan masa lalunya sendiri m
“Minggu ini, mulailah perbarui portofoliomu dan silakan cari pekerjaan di tempat lain. Saya akan fasilitasi surat rekomendasi terbaik dari perusahaan.”Perintah itu muncul begitu saja dari pria di hadapan Raia yang sudah tujuh tahun ini menjadi atasannya.Seketika, tubuh Raia membeku. Jemarinya mencengkram dokumen lebih erat. “Ma-maksud Bapak?” tanya Raia sedikit bergetar. “Apakah saya dipecat? Atau ada laporan tentang kinerja saya yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan?” lanjutnya, menatap Leo bosnya dengan penuh tanya.Leo tak menjawab. Ia meletakkan pulpennya, lalu mengangkat pandangannya. “Bukan. Kerjaanmu selalu sempurna, Raia,” jawabnya, menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya. “Hanya saja ... dalam waktu dekat, saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini.”“M-mundur, Pak?” potong Raia terkejut.Leo mengangguk, sekali. “Saya berencana pindah ke tempat yang jauh, dan saya tidak bisa membawamu.”Raia semakin membelalak. “Pindah ke tempat yang ...jauh? maksud Bapa







