LOGINRaia menelan ludah, dadanya terasa sesak. Bagaimana lagi caranya agar bosnya… setidaknya tidak pergi?
“B–baik, Pak.”
Leo tidak membalas lagi, tetapi helaan napas berat terdengar jelas.
Dengan begitu, Raia mencoba mengalihkan lagi.
“Oh ya, Pak. Mengingatkan kembali, perayaan dan peresmian anak perusahaan Vaneric Group esok dimulai pukul delapan malam, Anda diharapkan bisa datang, Pak.” ingat Raia, ketika mobil memasuki lobi kantor.
“Ya.”
Sebelum tangan Raia sempat meraih pegangan pintu, Leo sudah lebih dulu bergerak. Tubuh pria itu condong ke sisi kirinya, mendekati Raia yang masih duduk di kursi penumpang.
Raia terpaku. Napasnya serta-merta tertahan ketika menyadari jarak mereka yang kini begitu dekat.
Satu tangan Leo bertumpu pada sandaran kursi di belakang tubuh Raia, seolah menahan tubuhnya agar tidak terlalu menekan wanita itu. Sementara tangan lainnya terulur ke arah dada Raia, tepat pada pengait seatbelt. Dengan gerakan tenang, Leo menekan tombol pelepasnya hingga sabuk pengaman itu terlepas.
Namun, alih-alih langsung kembali ke posisinya, Leo tetap berada di sana beberapa saat. Tatapannya beralih pada wajah Raia yang terlihat kaku. Matanya menyipit tipis sebelum akhirnya ia bertanya, “Atau jangan-jangan Ibu saya yang menyuruhmu?”
Raia langsung terdiam. Jemarinya yang semula hendak meraih pegangan pintu berhenti di udara. Ia tidak mungkin mengiyakan, tetapi berbohong kepada Leo juga sama mustahilnya.
Akhirnya, Raia hanya menundukkan wajah, pura-pura sibuk merapikan tablet di pangkuannya.
Melihat reaksinya, sudut bibir Leo terangkat. Ia menarik tubuhnya sedikit menjauh, lalu terkekeh pelan.
“Jadi benar.”
“Bukan begitu, Pak.” Raia akhirnya mengangkat wajah. “Saya hanya merasa ... keputusan Anda bukan sesuatu yang mudah diterima keluarga.”
“Keputusan saya tidak membutuhkan persetujuan mereka,” tukas Leo cepat.
“Tapi Anda satu-satunya pewaris keluarga Vaneric.” Raia memberanikan diri menatapnya. “Wajar kalau mereka khawatir. Mereka bukan hanya kehilangan penerus, tetapi juga harus menerima kenyataan bahwa Anda memilih mengabdikan seluruh hidup kepada Tuhan dan menghentikan garis keturunan keluarga.”
Leo menatapnya beberapa saat. “Lalu menurutmu, saya harus mengubah keputusan hanya karena mereka tidak bisa menerimanya?”
Raia terdiam sesaat.
“Bukan begitu, Pak. Saya hanya berpikir ... mungkin mereka masih berharap Anda berubah pikiran.”
“Saya sudah memikirkannya selama bertahun-tahun, Raia.”
Nada suara Leo tetap tenang, tetapi cukup untuk membuat Raia tahu bahwa keputusan itu bukan sesuatu yang dibuatnya secara impulsif.
Raia menghembuskan napas pelan. “Saya tahu, Pak. Tapi sebagai keluarga, mereka juga pasti membutuhkan waktu untuk menerimanya.”
Leo tidak menjawab.
Tatapannya beralih ke luar jendela. Beberapa saat ia hanya diam, sebelum akhirnya terkekeh kecil, seolah baru memikirkan sesuatu yang cukup ironis.
“Sepertinya keluarga saya memang sebegitunya tidak bisa menerima keputusan saya sampai harus susah payah menyodorkan begitu banyak perempuan.” Leo menggeleng pelan, masih dengan senyum tipis di wajahnya.
“Padahal kalau memang mau menyodorkan perempuan, bukankah selama ini sudah ada satu yang bertahun-tahun berada di sisi saya, bahkan lebih dipercaya daripada siapa pun?”
Raia langsung terdiam.
Perempuan mana yang Leo maksud?
Pikirannya berputar, mencoba mengingat siapa saja perempuan yang selama ini cukup dekat dengan pria itu. Namun, tidak ada satu nama pun yang langsung muncul di benaknya. Setahunya, Leo tidak pernah memiliki hubungan dekat dengan perempuan mana pun selama mereka bekerja bersama.
“Maksudnya bagaimana, Pak?” tanya Raia akhirnya, masih mencoba memahami perkataan Leo.
Leo menatapnya beberapa detik. “Lupakan.”
. . . .
Malam peresmian anak perusahaan milik Leo akhirnya tiba, sekaligus menjadi salah satu agenda besar terakhirnya sebelum benar-benar melepas posisi sebagai CEO.
Namun, di ruang kerja lantai atas, Raia justru masih memikirkan ucapan Leo di dalam mobil tadi.
Siapa perempuan yang dimaksud Leo?
Kalau Raia tahu siapa orangnya, mungkin ia bisa membawa nama perempuan itu kepada Bu Rica. Setidaknya, keluarga Vaneric tidak perlu lagi repot-repot mencarikan Leo pasangan baru.
Raia mengernyitkan dahi. “Tapi siapa?”
Sementara itu, dari lantai bawah terdengar alunan musik dan riuh tawa para tamu undangan yang menikmati pesta peresmian tersebut.
“Selamat, Pak Leo, Anda memang pebisnis yang hebat!” puji seorang kolega, menjabat tangannya penuh bangga.
“Terimakasih atas kedatangan Anda. Selamat menikmati perayaan ini,” balas Leo.
Sebagai pewaris utama, Leo tampak sibuk bercengkrama dengan para kolega, ia berdiri begitu gagah menyambung interaksi dan ucapan selamat yang diberikan padanya.
Tanpa ada yang tahu bahwa itu adalah pertemuan akhir dengan Leo yang akan mengabdi pada Tuhannya.
Senyum tipis dan jabatan tangan ia berikan pada tiap kolega yang menghampirinya.
Namun, tepat pukul sepuluh malam, di saat seremonial sudah selesai dan hanya tersisa hiburan, Leon memutuskan meninggalkan lounge dan kembali ke ruangan. Ia melepas jasnya, menanggalkan kesan formal dalam dirinya. Lalu, memanggil Raia, melalui sambungan interkom.
“Raia,” panggil Leo. “Bawakan berkas yang harus saya periksa, sekarang.”
Perintah dari earphone membuat Raia menghembuskan napas panjang. “Baik, saya segera ke ruangan Anda.”
Beberapa menit kemudian, setelah menemukan berkas yang dimaksud di antara tumpukan dokumen di mejanya, Raia segera bergegas menuju ruangan Leo.
Tok tok...
Raia mendorong sedikit pintu ruangan Leo. Namun, baru selangkah masuk, aroma alkohol langsung menyergap indra penciumannya.
Dahinya berkerut.
Tatapannya segera tertuju pada sebuah botol whisky mahal di atas meja yang isinya tinggal separuh.
“Pak Leo?” panggil Raia ragu.
“Letakkan di meja, Raia.”
Raia mengangguk, tetapi matanya masih terpaku pada botol tersebut. Ia kemudian menatap Leo yang duduk bersandar di kursinya.
Pria itu mabuk.
Raia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Selama bertahun-tahun mengenal Leo, ia belum pernah melihat atasannya minum sebanyak ini. Biasanya, Leo hanya menyesap sedikit alkohol untuk menghormati tamu atau kolega, lalu berhenti begitu saja.
Namun malam ini berbeda.
“Anda minum terlalu banyak, Pak. Saya ambilkan air hangat—”
“Tidak perlu, Raia,” potong Leo. “Apakah dunia ini memang terasa sesak bagi semua orang ... atau hanya saya?”
Raia terdiam sejenak. Tatapannya melunak melihat Leo yang untuk pertama kalinya tampak begitu rapuh di hadapannya.
“Mungkin karena ada terlalu banyak hal yang kita simpan sendiri, Pak,” jawabnya pelan. “Sampai akhirnya semuanya terasa berat.”
Mata pekat Leo yang biasanya menatap tajam, kini tampak sedikit memerah dan sayu. Langkah kakinya sedikit tak stabil saat ia berjalan mendekati sebuah lemari di samping meja kerjanya.
Pria itu mengambil sebuah botol minuman panas dari dalamnya. Lalu menuangkannya ke dalam gelas kristal kecil.
“Gelas ini untukmu, Rai,” ujar Leo, menyodorkan pada Raia.
Raia tertegun, tubuhnya refleks menjauh. “Pak Leo, saya tidak minum—”
“Baik, biar saya yang minum,” potong Leo, sedikit menuntut. “Kamu dampingi saya untuk terakhir kalinya.”
Dua jam berada di balik kubikelnya, Raia merasa gedung Vaneric Group mulai memeras seluruh udara dari paru-parunya. Layar monitor di hadapannya menayangkan deretan angka laporan keuangan yang mendadak kabur, tak ada satu pun yang sanggup dicerna oleh otaknya.Ia tidak bisa terus berada di sini. Dinding-dinding kaca kantor ini rasanya bagai sangkar yang kian menyempit dan menyiksa.Dengan jemari yang bergetar, Raia membuka sistem kalender digital untuk memeriksa agenda Leo. Kosong. Hanya ada peninjauan berkas internal rutin tanpa ada rapat direksi atau janji temu penting dengan klien setelah makan siang.Begitu jam istirahat berakhir, Raia mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang tersisa. Ia bangkit dengan langkah gontai, lalu mengetuk pintu ruangan Leo cukup pelan."Masuk." Suara bariton dari dalam memberi izin.Raia mendorong pintu dengan pelan. Pria itu menghentikan ketukan pulpennya begitu mendapati Raia berdiri kaku di dekat ambang pintu."Pak Leo...," bisik Raia amat pelan, menu
"Raia, dengarkan saya sebentar," panggil Leo, menghalangi langkah Raia yang hendak meninggalkannya.Raia menggeleng, matanya menatap lantai dengan berkaca-kaca. Namun, Leo tidak membiarkan perempuan itu pergi dalam keadaan kalut. Pria itu paham betul bagaimana Raia—kelembutan hati dan empati perempuan itu yang tak pernah tega melihat orang lain hancur, sebuah kebaikan yang kini kembali dieksploitasi oleh keadaan."Saya tahu kamu marah. Tapi saya juga tahu persis siapa kamu, Raia," ucap Leo rendah. "Kamu tidak akan pernah tega membiarkan Vaneric Group hancur. Kamu tahu sendiri betapa kerasnya Mama menjaga kehormatan keluarga ini. Kamu pasti nggak akan sampai hati melihat beliau sedih dan hancur kalau sampai tahu kebenarannya, apalagi kalau Vaneric sampai jatuh ke tangan Sandy."Napas Raia tertahan. Kata-kata Leo menghantam tepat di bagian tersulit dari nuraninya. Ia benci diintimidasi, tapi ia jauh lebih benci melihat seorang ibu dihancurkan oleh kekecewaan—dan Leo tahu betul kelemahan
"Kamu ... kenapa jawabnya sampai gemetaran dan pucat begitu, Raia? Kamu tidak sedang bohong sama saya, kan?"Leo merangsek maju dan berdiri pasang badan di depan Raia. Pria itu menggenggam tangan Raia yang terasa dingin.“Raia gemetaran karena dia takut sama Mama," potongnya. "Mama tahu sendiri gimana wibawa Mama di rumah ini. Dia cuma cemas Mama nggak akan pernah mau menerima dia sebagai calon menantu Mama," terangnya, mengusap punggung tangan Raia dengan lembut.Bu Rica menyilangkan tangannya di dada, menatap keduanya dengan senyum tipis di bibirnya. "Mama cuma nggak mau kamu mengambil keputusan yang salah karena emosi sesaat, Leo.” Wanita itu mengambil napas panjang. Berusaha menetralkan emosinya. “Kamu tahu posisi kamu di Vaneric Group!" tukasnya tegas."Leo nggak gegabah, Ma," sela Leo tegas. "Leo janji sama Mama... Leo bakal buktikan kalau keputusan Leo untuk memilih Raia bukan main-main. Leo bakal buktikan kalau Raia adalah satu-satunya wanita yang layak berdiri di samping Leo,
"Lho? Raia?!" Bu Rica menatap kedatangan Raia dengan tatapan heran, matanya membelalak kaget. Ia melongok ke belakang tubuh Raia dengan raut bingung, sekilas, tengah mencari seseorang. "Kamu ... ngapain ke sini pagi-pagi begini? Sama siapa kamu datang?" tanyanya dengan alis berkerut.Raia menghentikan langkahnya beberapa meter di hadapan Bu Rica. Ia berdiri dengan tubuh kaku. "Saya sendiri, Bu," jawabnya lugas."Sendiri?!" Dahi Bu Rica berkerut, makin terheran. "Lho, kok sendiri? Mana Leo? Nggak biasanya kamu datang ke rumah saya sendirian begini tanpa dipanggil. Ada masalah apa di kantor sampai kamu datang sepagi ini?" runtutnya memberi pertanyaan.Raia melirik jam tangannya sekila. Jarum detik bergeser menunjuk angka 12—tepat pukul 09.00 WIB."Saya ke sini bukan karena urusan kantor, Bu Rica," jawab Raia tenang. "Saya ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Ibu. Hubungan saya dan Pak Leo sebenarnya—""Raia! Jangan!"Sebuah teriakan keras memotong kalimat Raia. Membuat wanita itu terpe
Sinta menghentikan kunyahannya. Ia menatap Raia lekat, menyipitkan mata penuh dengan kecurigaan."Tunggu deh, Rai..." Ia memiringkan kepalanya, mengamati wajah sahabatnya yang berubah kaku. "Kok dari tadi kamu penasaran banget sama topik ini sih? Pertanyaan kamu tuh spesifik banget tau nggak."Raia menahan napasnya sejenak, berpura-pura sibuk mengaduk sisa sup di mangkuknya agar tak perlu menatap mata Sinta."Jangan-jangan ..." Sinta menyilangkan tangannya di atas meja, menundukkan sedikit wajahnya untuk memancing tatapan Raia. "Kamu lagi dekat sama cowok yang mau jadi pastor?!" tebaknya.Deg!Jantung Raia serasa berhenti berdetak. Sendok di genggamannya terlepas dan berdenting nyaring menghantam tepian mangkuk."Hah?! N-nggak lah, Sin!" pekik Raia cukup keras, berusaha menyembunyikan kepaikan di wajahnya. Ia buru-buru mengibaskan tangannya cepat. "Mana ada! Kamu kalau tebak-tebakan suka nggak masuk akal!""Ya lagian!" jawab Sinta mmemutar bola matanya. Ia melipat tangannya di depan d
"Ehh! Rai! Mau ke mana?!" seru Sinta terkjeut, mmenatap sahabatnya yang sudah menyambar cardigan dan melangkah cepat keluar pintu tanpa menjawab pertanyaannya.Wnita itu menutup pintu rapat, berlari menyusuri koridor menuju lift dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang. Begitu pintu lift terbuka, langkahnya bergerak cepat menembus udara parkiran yang dingin dan sunyi.Sosok jangkung Leo langsung tertangkap indera penglihatannya—berdiri bersandar di samping mobil mewahnya dengan kemeja yang sudah digulung hingga siku, dan sibuk dengan ponsel di tangannya."Kenapa sih, Pak, malam-malam begini?!" sembur Raia setengah berbisik begitu ia sampai di hadapan pria itu. Amarah dan rasa kesal yang ditahannya sejak tadi meledak begitu saja. "Bapak gila, ya?! Nekat banget mengancam mau naik ke unit saya?!"Leo menatap Raia dengan alis berkerut. Pria itu memajukan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka."Saya cuma mau memastikan..." suara Leo terdengar parau, "...kalau kamu tidak







