Home / Fantasi / The Empress / 26. Harga Sebuah Pintu

Share

26. Harga Sebuah Pintu

Author: Lord Devil
last update publish date: 2026-06-02 09:55:39

Suara dari dalam peti batu bukan suara laki-laki atau perempuan.

Ia terdengar seperti ribuan orang berbisik dari balik dinding yang sama. Ada marah di dalamnya. Ada lapar. Ada kesedihan yang sudah terlalu lama membusuk sampai berubah menjadi kutukan.

"Berikan pengganti."

Kata itu berputar di ruang makam, menyentuh dinding, menembus lantai, lalu mengguncang dada semua orang yang masih berdiri.

Qin Lang mengangkat pedangnya lebih tinggi. "Tidak ada yang akan diberika

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The Empress   28. Wajah Asli Mu Lan

    Mu Lan berdiri di atas lantai makam seperti bayangan yang diberi kulit.Wajahnya tidak utuh. Sebagian menyerupai perempuan muda yang cantik, sebagian lain retak seperti topeng tua. Di bawah retakan itu, ada wajah-wajah lain yang bergerak, saling tindih, saling menggigit, seolah terlalu banyak identitas berebut keluar dari satu tubuh.Qin Lang menarik Wang Yin ke belakangnya, tetapi Wang Yin segera menepuk lengannya."Aku bisa berdiri.""Kau baru ditusuk rantai makam.""Kau juga sering terluka dan tetap berdiri.""Aku berbeda.""Benar. Kau lebih keras kepala."Qin Lang menatapnya dengan mata dingin, tetapi tidak sempat membalas. Mu Lan tertawa pelan, suara tawanya berubah-ubah dari suara gadis kecil, wanita tua, hingga suara yang mirip Qin Yue."Kalian masih bisa saling menggoda di sini," katanya. "Mengagumkan. Atau menyedihkan. Aku belum memutuskan."Qin Mo melangkah turun dari peti batu. Darah di tubuhnya membuat

  • The Empress   27. Darah Qin Tidak Berlutut

    Rantai merah menembus pergelangan Wang Yin seperti ular yang menemukan sarang lama.Tubuhnya terhuyung, tetapi Qin Lang menangkapnya dari belakang sebelum ia jatuh. Darah putih kemerahan menetes dari kulitnya, menyentuh lantai makam, lalu mendesis seperti air yang jatuh ke bara api. Bau obat, tanah basah, dan darah tua memenuhi udara."Lepaskan dia," kata Qin Lang.Suaranya pelan.Terlalu pelan.Qin Mo yang pernah melihat Qin Lang marah langsung tahu bahwa pelan seperti itu jauh lebih berbahaya daripada teriakan.Peti batu tidak peduli. Tangan pucat dari dalam celah bergerak perlahan, seolah ingin menarik rantai itu lebih dalam. Wang Yin menggigit bibirnya menahan sakit. Matanya sempat memutih sesaat, lalu kembali fokus."Qin Lang," bisiknya."Aku di sini.""Jangan tebas rantainya.""Ia menyakitimu.""Aku tahu. Aku yang merasakannya.""Wang Yin.""Kalau kau menebas, A Yue yang menerima pantula

  • The Empress   26. Harga Sebuah Pintu

    Suara dari dalam peti batu bukan suara laki-laki atau perempuan.Ia terdengar seperti ribuan orang berbisik dari balik dinding yang sama. Ada marah di dalamnya. Ada lapar. Ada kesedihan yang sudah terlalu lama membusuk sampai berubah menjadi kutukan."Berikan pengganti."Kata itu berputar di ruang makam, menyentuh dinding, menembus lantai, lalu mengguncang dada semua orang yang masih berdiri.Qin Lang mengangkat pedangnya lebih tinggi. "Tidak ada yang akan diberikan."Bisikan itu tertawa.Rantai merah di peti batu bergerak tiba-tiba, mencambuk udara ke arah Qin Mo. Qin Mo melompat turun, tetapi tubuhnya sudah terlalu lemah. Kakinya tergelincir oleh darahnya sendiri. Sebelum rantai itu mengenai dadanya, Qin Lang menebas dari samping.Dentang keras menggema.Pedang Qin Lang tidak memutus rantai, tetapi cukup mengubah arahnya. Rantai itu menghantam lantai dan membuat batu hitam retak seperti tanah kering.Qin Mo menatap pun

  • The Empress   25. Nama Pertama Makam

    Peti batu hitam itu tidak seharusnya berbunyi.Benda mati tidak mengetuk dari dalam. Makam tidak seharusnya bernapas. Rantai merah yang melilitnya tidak seharusnya bergerak seperti pembuluh darah yang masih hidup.Namun malam itu, di ruang terdalam Paviliun Utara, semua hal yang seharusnya mustahil berdiri di hadapan keluarga Qin satu per satu.Qin Lang mengangkat pedangnya. Bilah itu memantulkan cahaya merah redup dari rantai. Wajahnya dingin, tetapi Wang Yin yang berdiri di sisinya tahu ada badai di balik ketenangan itu. Qin Lan masih terikat di dinding. Qin Mo berdiri di atas peti dengan darah terus mengalir. Qin Yue sedang ditarik di ruang nadi. Qin Lian menahan kakaknya dari ruang pengobatan dengan keberanian seorang anak yang belum tahu bagaimana cara menyerah.Semua benang menuju peti itu."Jangan langsung menebas rantainya," kata Qin Lan. Suaranya parau, tetapi masih cukup tegas untuk membuat Qin Lang berhenti. "Rantai ini tidak takut pada

  • The Empress   24. Kakak yang Terikat

    Qin Lang tidak pernah membayangkan pertemuan kembali dengan Qin Lan akan terjadi di tempat seperti itu.Bukan di aula kerajaan yang hangat. Bukan di bawah pohon prem belakang istana, tempat mereka dulu berdiri bersama di tengah hujan. Bukan pula di gerbang utama, tempat seorang kakak seharusnya pulang dan disambut sebagai keluarga yang telah lama hilang.Qin Lan duduk bersandar pada dinding makam yang dingin, tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan sebagian rambutnya telah memutih seperti salju yang terjebak di musim yang salah. Jubah putihnya kotor oleh debu dan noda darah lama. Namun senyum kecil di bibirnya masih sama.Lemah.Hangat.Terlalu menyakitkan untuk dilihat."Kakak," ulang Qin Lang.Suara itu keluar hampir tanpa bentuk. Selama bertahun-tahun, ia pernah membayangkan banyak hal. Ia membayangkan Qin Lan mati di tangan pemberontak. Ia membayangkan kakaknya ditawan di negeri jauh. Ia bahkan pernah memaksa dirinya menerima kemungki

  • The Empress   23. Jangan Turun

    Suara itu membuat seluruh udara di depan Paviliun Utara membeku.“Qin Lang... jangan turun.”Tidak keras.Tidak jelas sepenuhnya.Namun bagi Qin Lang, suara itu cukup untuk membuat seluruh tulang di tubuhnya terasa seperti ditarik kembali ke masa lalu.Itu suara Qin Lan.Kakaknya.Orang yang selama bertahun-tahun hilang tanpa jasad, tanpa makam, tanpa kepastian. Orang yang namanya selalu menjadi luka yang tidak pernah benar-benar dibuka karena semua orang takut menemukan bahwa di balik luka itu masih ada darah yang mengalir.Qin Qiu mundur setengah langkah. Wajah tuanya pucat.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status