LOGINPos perbatasan tua yang menghadap jalur dagang menuju negeri han, wilayah yang selama ini tidak ikut campur dalam urusan lima kerajaan seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun seekor elang hitam menjatuhkan surat yang ditulis dengan tinta biru, warna yang hanya dipakai keluarga penguasa Negeri Han. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat
Pasar tua kota huan yang dipenuhi kios kosong, kain robek, dan lonceng angin yang tetap berbunyi meski tidak ada angin seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Lian melihat seorang penjual manisan yang seharusnya tidak bisa berada di sana karena pasar itu sudah mati bertahun-tahun. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena setiap orang di pasar sunyi menawarkan barang yang berkaitan dengan kenangan rombongan, seolah kota itu membaca isi ha
Pos perbatasan tua yang menghadap jalur dagang menuju negeri han, wilayah yang selama ini tidak ikut campur dalam urusan lima kerajaan seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun seekor elang hitam menjatuhkan surat yang ditulis dengan tinta biru, warna yang hanya dipakai keluarga penguasa Negeri Han. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Negeri Han menawarkan bantuan, tetapi Qin Lang curiga bantuan yang datang terlalu cepat selalu membawa ha
Aula kecil kota huan yang dindingnya penuh lukisan burung api tanpa kepala, peninggalan kuil tua sebelum kota itu ditinggalkan seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Hua Ning tiba-tiba bersuara lagi, tetapi kata-katanya bukan miliknya sendiri. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Menara Kabut menginginkan Mahkota Kabut, benda yang mampu meminjam nama korban untuk membuka gerbang kedua. Dalam dunia mereka, musuh jarang datang dengan waja
Kemah darurat di pinggir lembah, di mana para tabib, prajurit, dan anak-anak korban dipisahkan oleh lingkaran garam penahan kabut seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun gelar putri Phoenix menyebar lebih cepat daripada perintah Qin Lang untuk merahasiakannya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena utusan dari lima kerajaan mulai melihat Wang Yin bukan hanya sebagai ratu yang bangkit, tetapi sebagai kunci politik yang bisa diperebutkan. Da
Ambang gerbang phoenix yang terbuka di lembah barat kota huan, ketika kabut merah muda menggantung rendah seperti tirai yang enggan disingkap seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun seseorang yang selama ini dicatat mati dalam arsip Kerajaan Yi berdiri di balik gerbang dan memanggil Wang Yin sebagai putri Phoenix. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena rombongan Qin tidak tahu apakah sosok itu penyelamat, saksi, atau awal jebakan baru yang
Lembah barat kota huan yang dipenuhi kabut tipis, batu hitam, dan akar pohon merah tua yang tumbuh seperti urat di tanah seharusnya memberi keluarga Qin kesempatan untuk bernapas. Akan tetapi, kerajaan yang baru saja selamat dari bulan merah tidak langsung berubah menjadi rumah yang tenang. Abu lentera masih menempel pada batu sungai, para penjaga masih menoleh dua kali setiap kali mendengar bunyi langkah asing, dan para pelayan masih berbicara lebih pelan ketika melewati kamar Wang Yin. Tidak ada yang mau mengucapkan kata bahaya, seolah kata itu sendiri bisa memanggil musuh baru. Namun justru dalam kesunyian seperti itulah tanda-tanda kecil biasanya datang. Gerbang Phoenix tidak berdiri megah seperti legenda, melainkan terbaring di lereng batu seperti luka besar yang belum pernah dijahit. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi orang-orang yang baru melewati makam, ritual nama, dan pengkhianatan, pertanyaan sederhana bisa lebih menyakitkan daripada pedang.Qin Lang tida
Suasana kamar pangeran mendadak riuh, Qin Lian sibuk mencari baju zirahnya dan mengenakannya.Tak hanya itu, dia juga mengambil pedangnya yang diasah dan diukir mirip seperti milik ibunya, Pedang Hong.*Pedang Hong : merah sesuai dengan warna sarungnya."Qin Lian mau ke mana?" tanya Qin Qiu terkejut
Seusai melaksanakan hukuman mandiri mereka, kedua anak Qin Lang dan Wang Yin berlari ke kamar Qin Qiu. Ketidakpuasan dalam hati Qin Lian mendorong dirinya untuk terus bertanya soal ibunya.Sebelum pergi meninggalkan kamar Wang Yin, anak itu sempat mencium pipi ibunya dan berbisik agar perempuan itu
Suasana hutan di belakang pusat Kerajaan Yi, Hutan Larangan begitu hening dan damai. Qin Lang, pangeran kedua kerajaan Yi berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya.Sudah berkali-kali dia menolak untuk menikah, akan tetapi ada begitu banyak tawaran dan hadiah berupa calon istri yang diberikan kepadan
Ratu Wang Yin mengalami koma berkepanjangan setelah melahirkan anak kembarnya, Qin Lian dan Qin Yue. Tidur panjang Sang Ratu masih menjadi misteri dan menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Entah sihir apa yang telah dirapalkan pada Sang Ratu sampai-sampai dia tertidur selama itu.Qin Lang, selaku R







