بيت / Fantasi / The Empress / 1. Awal Cerita

مشاركة

1. Awal Cerita

مؤلف: Lord Devil
last update تاريخ النشر: 2024-05-29 10:14:13

Suasana hutan di belakang pusat Kerajaan Yi, Hutan Larangan begitu hening dan damai. Qin Lang, pangeran kedua kerajaan Yi berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya.

Sudah berkali-kali dia menolak untuk menikah, akan tetapi ada begitu banyak tawaran dan hadiah berupa calon istri yang diberikan kepadanya.

Entah bagaimana lagi cara menolaknya. Haruskah dia mengatakan kalau dirinya tidak memiliki ketertarikan?

Ah, tidak mungkin!

Dia bukan tidak tertarik, hanya saja belum menemukan yang menarik perhatiannya.

"Hey, kau ... apa yang kau lakukan di sini?"

Qin Lang mendengar suara seseorang---perempuan dari tengah hutan.

"Siapa yang bermain-main di sini? Apakah dia seorang gadis? Bukankah tempat ini berbahaya?" gumam Qin Lang dalam hatinya.

"Kau sangat lucu," ucap gadis yang belum jelas wajahnya terlihat.

Di tangannya, perempuan itu memegangi seekor kelinci putih yang memiliki telinga lebar dan panjang. Sangat imut.

"Siapa dia?" pikir Qin Lang sambil terus mendekat dengan perlahan---tanpa membuat suara.

"Namamu adalah Telinga Putih," kata perempuan itu lagi berbicara pada kelinci imut itu.

"Jelas telinganya memang putih," komentar Qin Lang pada pemberian nama yang jelek atau tidak kreatif itu.

"Kau suka? Hm, sudah kuduga kau akan suka. Semua orang memang akan suka denganku."

Gadis itu tertawa-tawa senang sambil menggelitik kelincinya dengan sesukanya.

Tanpa sadar seseorang ikut tersenyum melihat tingkahnya yang lucu dan senyumannya yang semanis kata-kata indah dalam buku puisi peninggalan nenek moyang.

"Apa yang kau lakukan di sini? Mengintip?" teriak perempuan itu sambil memeluk kelincinya dengan erat.

"Ti-tidak," jawab Qin Lang canggung.

Haruskah dia mengatakan kalau seharusnya dialah yang bertanya apa yang dilakukan gadis kecil seperti itu di jam sekarang.

Lalu, ini masih daerah kekuasaan mereka. Haruskah dia jujur kalau dia adalah pangeran kedua?

Ah, tidak! Dia lebih tertarik untuk mengetahui siapa perempuan itu.

"Lalu? Apa yang kau lakukan? Kalau kau tidak mengatakan aku akan berteriak bahwa kau seorang mesum dan penguntit," kata perempuan berbaju hitam dan merah itu.

Rambutnya hanya diikat setengah dan matanya yang abu-abu keunguan membuat wajahnya yang oval dan cantik tampak semakin indah. Apalagi kulitnya sangat putih, pinggang ramping dan juga ...

Bibirnya begitu kecil, merah dan berisi. Sangat menggoda.

Baru kali ini Qin Lang memperhatikan seseorang sampai ke bagian paling rinci.

"Mungkinkah dia bukan manusia?" gumam Qin Lang pelan.

Bukannya menjawab pertanyaan gadis itu, dia malah sibuk mengagumi pemandangan indah yang belum pernah dia lihat.

"Memang aku bukan manusia. Aku adalah Dewi, kau tahu?"

Perempuan itu tersenyum dengan sangat manis.

"Katakan. Katakan siapa namamu," pinta Qin Lang kehabisan akan dan kata-kata.

Untuk pertama kalinya dia merasa tak berdaya seperti itu.

"Panggil saja aku Wang Yin, orang-orang mengenal aku sebagai anak ajaib. Lalu, aku adalah seorang yang kau cari selama ini," balas Wang Yin lalu menghilang di tengah hutan.

Dia sengaja bermain-main seperti itu untuk menggoda lelaki dingin yang aneh itu.

"Wang Yin!" teriak Qin Lang.

Sayangnya perempuan itu menghilang begitu saja.

"Namaku, Qin Lang!" teriaknya lagi seolah berharap gadis itu masih mendengarnya.

Sejak kejadian itu, Qin Lang selalu berkunjung ke tempat yang sama setiap sore.

Dia berharap perempuan yang pernah dia temui itu bisa bertemu dengannya lagi.

Lima tahun berlalu, tidak ada hasil dan Qin Lang masih terus datang ke tempat itu. Kadang, dia juga mencari ke tempat lain di sekitar hutan.

Satu-satunya yang dia lakukan adalah merawat si Telinga Putih karena perempuan itu entah sengaja atau tidak meninggalkannya untuk dirinya.

���������

"Ah, ini tidak benar. Mengapa Ibu tega dan Ayah begitu bodoh?"

Qin Lian memprotes isi buku harian yang mereka baca dengan diam-diam.

Qin Lian dan Qin Yue sudah berusia lima tahun dan keduanya sudah bisa membaca.

Sejak lahir, ibu mereka tidak pernah bangun hingga saat ini.

Kepedihan hati Qin Lang membuat dirinya semakin pendiam walau kepada kedua anaknya masih tetap berkomunikasi sebisanya.

"Kau jangan marah-marah, itu bukan seperti yang kau pikirkan. Kurasa ayah sangat romantis dan setia," jelas Qin Yue pada adiknya.

Mereka adalah anak kembar yang berbeda usia tiga menit saja.

"Mengapa bisa romantis? Itu meninggalkan dan membuat seseorang menunggu. Bagaimana hal itu bisa menjadi hal romantis?"

Qin Lian kebingungan dengan penjelasan kakaknya. Barangkali perempuan memang lebih cepat dewasa dan lebih sensitif soal perasaan.

"Lihat saja. Ayah kita masih menunggunya sejak dulu. Sekarang juga masih menunggu. Bukankah itu hal yang manis?"

Qin Lian mendengarkan penjelasan itu dengan sangat serius walau otaknya yang belum berkembang sempurna tidak mampu mencerna informasi itu.

Anak ini benar-benar memiliki kepekaan mengatasi langit biru, seperti ibunya.

"Ah, aku tidak mengerti. Aku lapar," katanya.

"Apa hubungannya lapar dan tidak mengerti?"

Qin Yue tersenyum dan memberikannya beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan kerajaan.

"Pokoknya begitulah. Aku lapar," kata anak itu dengan santai.

Masih sibuk dengan urusan mereka, pelayan mengumumkan Yang Mulia datang.

Qin Yue dengan gerakan cepat mengubah posisi buku yang mereka curi kembali ke tempatnya semula.

Qin Lian juga pura-pura belajar dengan serius.

"Ayah datang," sapa keduanya dengan sopan.

"Mn, bagaimana pelajaran kalian?" tanya Qin Lang.

"Lancar," jawab Qin Yue dengan sopan.

Qin Lang berjalan dan mendekati kedua anaknya untuk memeriksa kondisi mereka.

"Ayah, apa kabar?" tanya Qin Yue dengan penuh perhatian.

Qin Lang menatapnya agak lama.

"Baik saja," jawabnya akhirnya.

Ujung mata Qin Lang menatap buku harian yang setiap hari dia tulis.

Dia menyadari ada yang berubah dari posisinya, tetapi dia diam saja.

"Apa yang kau pelajari hari ini?" tanya Qin Lang pada Qin Lian.

"Penantian," jawab anak itu lalu menutup mulutnya karena sadar sudah keceplosan.

Mana ada pelajaran semacam itu untuk anak usia lima tahun.

Qin Yue merasa ingin menghilang atau terbang menjadi burung saja saat ini. Adiknya itu sangat payah, sangat latah dan suka berbicara sesukanya.

"Mn?"

Alis Qin Lang naik sebelah dan berharap ada penjelasan lebih lanjut.

"Ah, itu puisi sastra," jelas Qin Lian pura-pura.

"Sastra?" tanya Qin Lang merasa tidak pernah mendengarnya.

Mungkinkah ada buku kerajaan yang belum pernah dia baca?

"Mn, tapi bukunya tidak ada. Aku hanya membayangkan kalau nanti akan ada. Maksudku, mungkin saja aku akan menjadi penulisnya."

Qin Lian bicara semakin tidak jelas sikapnya mirip seperti ibunya dan Qin Yue merasa sudah sakit kepala melihat kembarannya yang sangat tidak jelas itu.

"Bagaimana?" tanya Qin Lang meminta penjelasan lebih lanjut.

"Aku ingin membuat buku tentang ayah dan ibu. Penantian panjang yang akan berujung dengan kebahagiaan."

Qin Lian menceritakan idenya dengan sangat senang, sementara Qin Lang berbeda. Jika anak itu senang, maka dia sendiri merasa seperti berduka.

Hatinya berdecit sakit dan air matanya menetes pelan dan tipis dari kedua sudut matanya.

"Ayah," panggil Qin Yue yang menyadari hal itu.

Qin Lang tidak menjawab bahkan ketika anaknya menghapus air matanya.

Dia terus mengingat dan membayangkan Wang Yin bisa sadar dan kembali ceria seperti dahulu.

"Wang Yin, kapan kau akan kembali?" lirih Qin Lang dalam hatinya.

Walau tidak mengatakan apa pun, Qin Lang kembali tanpa suara dan kedua anak itu menghukum diri mereka dengan berlutut di hadapan tubuh ibunya yang belum sadar juga.

"Ibu, maafkan kami sudah membuat ayah menangis."

Qin Yue berlutut dengan penuh penyesalan.

"Ibu, maafkan itu salahku. Tidak seharusnya aku mengarang, tapi kurasa bakatku ini dari Ibu," tawa Qin Lian pecah bahkan dalam kondisi seperti itu.

Qin Yue menatapnya pelan, seperti tatapan tipis Qin Lang.

"Ah, aku sangat penasaran denganmu. Kurasa akan sangat menyenangkan memiliki ibu seperti aku dan kakak yang beku dan ayah yang kaku akan kita buat menderita. Ibu ayo bangun. Aku juga ingin dipeluk," kata Qin Lian lagi dengan tawa dan tangis di saat yang bersamaan.

Dia tertawa dan terus bercanda walau hatinya juga sakit dan air matanya menetes tak terkendali.

Anak itu benar-benar sesuatu.

Dari kejauhan, Qin Qiu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap ajaib Qin Lian yang benar-benar mirip seperti Wang Yin dulunya.

Mungkin itu jugalah yang membuat Qin Lang menangis dan berduka untuk cintanya, dia sangat merindukan Wang Yin.

Bersambung ... 

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • The Empress   90. Mahkota Phoenix Tidak Dipakai

    Pagi setelah gerbang kedua runtuh, ketika gunung cang untuk pertama kalinya memiliki bayangan utuh di bawah matahari seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun orang-orang lima kerajaan menunggu Wang Yin mengenakan Mahkota Phoenix sebagai tanda penyelamat, tetapi mahkota itu tinggal serpihan di telapak Qin Yue. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena kemenangan mereka tidak otomatis menyelesaikan politik lima kerajaan; justru para penguasa ing

  • The Empress   89. Api yang Tidak Membakar

    Lingkaran batu gerbang kedua yang retak, ketika api putih muncul dari bawah kaki qin yue tanpa melukai kulitnya seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Yue mengenakan Mahkota Kabut bukan karena ingin memakainya, melainkan karena ia ingin mendengar semua suara yang terperangkap di dalamnya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena setiap suara korban meminta dipulangkan, tetapi Mahkota Kabut mencampur permohonan asli dengan rayuan agar Qi

  • The Empress   88. Gerbang Kedua

    Puncak gunung cang saat fajar, ketika kabut membuka lingkaran batu kedua yang selama ini tersembunyi di bawah akar merah seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Gerbang Kedua muncul bukan sebagai pintu keluar, melainkan sebagai cermin raksasa yang memantulkan semua orang dengan mahkota di kepala. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Mahkota Kabut menawarkan mimpi paling diinginkan setiap tokoh: Wang Yin sehat, Qin Lang tanpa kehilangan,

  • The Empress   87. Pengadilan Para Leluhur

    87. Pengadilan Para LeluhurBalai leluhur phoenix yang tersembunyi di bawah akar pohon merah raksasa, tempat suara orang mati disimpan dalam batu-batu kecil seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Wang Yin dipanggil masuk seorang diri, tetapi Qin Lang menolak membiarkan pintu menutup sebelum ia menggenggam tangan istrinya. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena para suara leluhur menuntut Wang Yin memba

  • The Empress   86. Racun Kabut di Istana Yi

    Istana yi yang jauh dari gunung cang, tempat para pelayan mulai batuk perak dan lentera-lentera kerajaan menyala tanpa minyak seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun serangan terjadi bukan pada rombongan, melainkan pada rumah yang mereka tinggalkan. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena Qin Lang harus memilih antara meneruskan pencarian di Gunung Cang atau kembali menyelamatkan rakyat yang mempercayainya. Dalam dunia mereka, musuh jarang

  • The Empress   85. Malam Ketika Qin Lang Tersenyum

    Malam sunyi di desa tanpa bayangan, ketika rombongan akhirnya mendapat kesempatan makan bersama tanpa rapat perang seharusnya menjadi awal yang tenang setelah semua orang selamat dari Gerbang Phoenix. Namun Qin Lian menuduh Qin Lang lupa cara tersenyum dan meminta Wang Yin membuktikan bahwa ayah mereka masih manusia. Tidak ada teriakan besar pada saat pertama. Justru keheningan yang jatuh setelah kalimat itu membuat para prajurit mengangkat senjata lebih cepat daripada perintah siapa pun. Qin Lang berdiri paling depan, satu tangan menahan Wang Yin agar tidak maju terlalu cepat, sementara tangan lain sudah menyentuh gagang pedang. Qin Yue memucat, Qin Lian menahan napas, Qin Lan menatap seperti orang yang mengenali mimpi buruk lama, dan Qin Mo bergerak setengah langkah ke samping untuk menjaga jalan keluar.Masalahnya tidak sederhana, karena ketenangan kecil itu terasa mencurigakan setelah terlalu banyak malam berakhir dengan serangan, tetapi semua orang memilih tinggal sebent

  • The Empress   6. Kunjungan

    Beberapa bulan kemudian, Qin Lang memutuskan untuk mengajak kedua anaknya berkunjung ke Kerajaan Ling. Li Yan, sepupu Wang Yin menikah dengan pangeran mahkota, Xiao Zixuan dan dia hendak membawa si kembar bertemu dengan bibi mereka.Barangkali bisa memberikan sedikit informasi yang lebih soal Wang Y

  • The Empress   5. Bukit Ying

    Setelah lelah membaca cerita yang dituliskan oleh Qin Lang, Qin Lian merasa mengantuk dan tertidur dengan kepalanya di atas buku tebal itu."Qin Lian apa yang kau lakukan?" Qin Yue terkejut mendapati adiknya malah mengiler di atas buku kesayangan ayah mereka itu."Kenapa? Aku kenapa?" tanya anak itu

  • The Empress   2. Hukuman

    Seusai melaksanakan hukuman mandiri mereka, kedua anak Qin Lang dan Wang Yin berlari ke kamar Qin Qiu. Ketidakpuasan dalam hati Qin Lian mendorong dirinya untuk terus bertanya soal ibunya.Sebelum pergi meninggalkan kamar Wang Yin, anak itu sempat mencium pipi ibunya dan berbisik agar perempuan itu

  • The Empress   Prolog

    Ratu Wang Yin mengalami koma berkepanjangan setelah melahirkan anak kembarnya, Qin Lian dan Qin Yue. Tidur panjang Sang Ratu masih menjadi misteri dan menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Entah sihir apa yang telah dirapalkan pada Sang Ratu sampai-sampai dia tertidur selama itu.Qin Lang, selaku R

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status