เข้าสู่ระบบ"Do you still hate me?" Ace smirked, as he rubbed his thumb against Gwen's bottom . At that moment, her heart wasn't the only thing that throbbed. "Well that all depends on what happens next..." * Some say that hatred is unhealthy. Some say that wasting energy hating someone will do no good for you in the end and only make you miserable. Gwen disagrees. Her entire life has been spent hating the Queen of Paria-Drae. She has ruined the lives of her people and even the people of other countries. She is a power-hungry witch that has no right sitting on the throne. A throne that she stole. And Gwen will her for it. And in order to do that Gwen joins the army, not the army of Paria-Drae but of their enemy, Estril. There, she plans to be a part of the group that defeats the Queen and be the one who retakes the throne. So she hides her identity as someone from Paria-Drae and plans to keep a low profile and only focus on her mission. That is until she meets Ace Puckett, the son of a famous army veteran, who has grown up on a military base his entire life. She immediately hates him upon meeting him, he's arrogant, picky, a show-off, and so, goddamn, sexy. Trying not to get distracted by his panty-dropping smile, she gains his attention because of her determined nature and the fact that she isn't begging for his attention. With the pride of being a citizen of Paria-Drae on the line, Gwen is desperate to take back her country and save its reputation before it's too far gone. But it gets harder to do that when there's a certain someone always looking over her shoulder.
ดูเพิ่มเติม“Tu-Tuan Muda? Ke-kenapa Tuan Muda ada di kamar saya?” tanya Nina dengan takut-takut. Hawa malam itu sangat mencekam. Ruangan sempit yang awalnya adalah gudang, disulap sedemikian rupa menjadi sebuah kamar. Ya, kamar untuk Nina sebagai asisten rumah tangga yang baru saja bekerja di rumah itu semingguan lebih.
Pria yang bernama Bryan Lawrence itu sedang berdiri di depan pintu kamar Nina yang tadinya tertutup. Bryan adalah anak tunggal dari majikan Nina, pemilik rumah tersebut. Penampilan Bryan amat berantakan karena ia baru saja pulang dari klub malam, tetapi Bryan masih terlihat tampan. Walaupun bau alkohol tercium jelas di tubuhnya.
“Berikan aku makanan! Aku lapar!” titah Bryan.
Nina yang tadinya baru saja ingin beristirahat kemudian bangkit dari kasurnya. Nina sempat bergerutu dalam hati sebab ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari dan anak majikannya itu tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dan meminta makan. Namun, Nina juga bernapas lega karena prasangka buruk yang sempat ia pikirkan ternyata tidak benar.
“Baik, Tuan Muda. Saya siapkan dulu,” jawab Nina tanpa merasa curiga.
Bryan akhirnya keluar dari kamar diikuti oleh Nina menuju dapur. Nina dengan cekatan mengolah semua bumbu serta bahan yang tersedia menjadi sebuah masakan yang lezat. Satu jam berlalu, akhirnya kerjaan gadis itu telah selesai. Dan saatnya ia memanggil sang majikan yang sudah menunggunya dari tadi.
TOK TOK TOK
“Permisi, Tuan Muda. Makanannya sudah siap,” ucap Nina dengan suara lantangnya.
“Masuk!” teriak Bryan dari dalam kamar.
Nina kemudian membuka pintu lalu berjalan perlahan. Ia masuk ke dalam kamar besar nan megah dengan pencahayaan yang minim. Ia melangkah sembari menundukkan kepala. Terlihat Bryan sedang meneguk segelas alkohol. Dada bidangnya sudah terekspos jelas alias pria itu sedang tidak mengenakan bajunya.
“Tuan Muda, makanannya sudah siap,” ujar Nina lagi, dengan nada yang amat sopan. Ini hari pertamanya ia bertemu dengan Bryan, anak dari pemilik rumah mewah tempatnya bekerja. Sebab dari seminggu yang lalu ia bekerja, pekerja yang lain mengatakan bahwa Bryan sedang berada di Singapura, menuntut ilmu S-2 nya. Dan sekarang Bryan tengah libur kuliah selama 3 bulan, maka dari itu ia kembali ke Jakarta, ke rumah orangtuanya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Bryan sembari melemparkan tatapan dingin pada Nina.
“Ma-maaf, Tuan Muda. Sa-saya tadi harus merebus ayam terlebih dahu—”
“Aku tidak meminta makanan yang itu,” potong Bryan cepat. Ia menatap gadis lugu di hadapannya itu. Ditatapnya penuh gairah sembari ia berjalan mendekati Nina.
“Tu-Tuan Bryan, Tu-Tuan mau ngapain?” tanya Nina tergugup.
“Ssstt! Santai saja! Jangan tegang! Yang berhak tegang di sini cuman burungku. Heheh.” Bryan masih sempat terkekeh saat Nina benar-benar ketakutan. Nina terus berjalan mundur ketika Bryan terus mendekatinya hingga tubuh Nina mentok di dinding kamar.
Nina menatap wajah tampan tuan mudanya yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya. “Tuan?”
“Kamu cantik sekali, Nina,” goda Bryan sebelum menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu. “Boleh aku menciummu, Nina?” Mata Bryan terus tertuju pada bibir merah Nina, gadis itu menjawab pertanyaannya dengan sebuah gelengan kecil, namun Bryan tidak peduli dengan tolakan tersebut. Bryan langsung menempelkan bibirnya pada bibir Nina.
Nina tersentak kaget dan langsung menjauhkan bibirnya dari Bryan. “Tuan Muda, apa Tuan sedang mabuk?” tanyanya dengan napas yang tersengal saking gugupnya.
Bryan mengangguk. “Yes, baby. Aku mabuk karenamu.” Bryan langsung menempelkan kembali bibirnya dan melumat lembut milik Nina. Bryan menahan tengkuk Nina agar gadis itu tidak melepaskan ciuman mereka lagi.
Satu tangan Bryan mulai mengusap dan meraba punggung Nina. Bryan mulai nakal menyelinap masuk ke dalam baju Nina kemudian membuka pengait bra gadis itu. Bryan lalu menenggelamkan wajahnya, menghirup aroma wangi di leher mulus Nina.
“T-Tuan Bryan, jangan lakukan ini. Saya mohon… H-hentikan ini, Tuan. Lepaskan saya!!” teriak gadis itu. Ia terus melawan, namun percuma saja, tenaganya tidak sebanding dengan pria itu. Kini Bryan telah berhasil melucuti pakaian gadis itu.
Bryan mendekap mulut Nina agar gadis itu mau diam. “Ssstt. Jangan teriak Nina, nanti yang lain terbangun. Kalau kamu teriak sekali lagi, aku bakal suruh Papa untuk mecat kamu!”
Nina hanya mengangguk lemah setelah Bryan mengancamnya.
Bryan tersenyum penuh kemenangan. “Aku beruntung sekali, baru pulang tadi pagi langsung disambut dengan seorang ART baru seperti kamu. Cantik dan tentunya masih muda,” bisiknya. Pria itu kemudian membawa Nina dan melemparkan tubuh Nina ke atas ranjang. Dengan sigap, Bryan merangkak naik ke atas tubuh Nina, menguasai sepenuhnya tubuh indah sang asisten rumahnya.
“Ngghh… aahhh… Tu-Tuan Bryan… Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina dengan wajah memelas. Sesekali ia mendesah. Entah apa yang dirasakannya saat ini.
“Why, Nina? Do you like it?” tanya pria itu dengan sikap genitnya. Gerakan tangan Bryan semakin liar. Tangan yang kokoh itu sedang sibuk meremas-remas kedua tumpukan daging kenyal yang menjadi aset sang gadis. Bibir Bryan tak kalah lincahnya kini menciumi leher Nina yang lembut.
“Hmmpss… ahh….” Nina tak lagi memberontak. Gadis itu terbuai dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh majikannya. Nina yang awalnya meronta meminta agar Bryan berhenti, kini ia pasrah dan justru tubuhnya merespon seolah-olah meminta lebih.
Tidak dapat menahan lebih lama, Bryan membuka celananya sendiri. Nina menggelengkan kepalanya kala melihat tuan mudanya kini mengeluarkan senjata yang berurat maksimal. Nina berniat merapatkan kedua kakinya, namun Bryan menahannya.
“Ja-jangan lakukan ini, Tuan. Saya tidak mau. Hentikan ini, Tuan,” pinta Nina ketakutan.
Bryan berpura-pura tidak mendengarnya. Pria bajingan itu justru memasukkan anaconda besarnya ke milik Nina.
“Mmmmpph… ahh… Tuan… sa… sakit… Tuan Bryan, tolong…” Nina meremas seprai kasur Bryan hingga berantakan. Nina terus-terusan menjerit kesakitan kala Bryan memompa kejantanannya hingga masuk ke tempat yang paling dalam milik Nina. Sakitnya sungguh berasa hingga tak sadar membuat Nina meneteskan air mata.
Bryan melihat tangis kesakitan di mata Nina. Pembantunya itu kemudian berhenti meremas seprai dan beralih mencakar punggungnya hingga berdarah.
Bryan mengecup ujung mata sang gadis dan berbisik, “Apa terlalu sakit, Nina? Bawa enjoy aja. Nanti lama-lama enak kok.”
“Ahh… ahh… h-hentikan….” Tubuh Nina mengejang karena kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. “Hentikan, saya mo—”
Belum selesai sang asistennya berbicara, Bryan kembali melahap bibir Nina dengan brutal. Lidahnya menerobos masuk dengan ciuman yang berkembang semakin liar. Ciuman penuh gairah dan brutal diterima Nina, sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, gadis itu pun pasrah.
Nina tidak kuat lagi menerima rangsangan bertubi-tubi dari Bryan. Kemaluannya yang diserang dengan barang kokoh milik majikannya, ditambah lagi bibirnya yang tiada henti dicium oleh pria berusia 23 tahun itu.
Beberapa menit berlalu, permainan mereka hampir berada di ujung jalan. Nina tidak sanggup lagi menahan aliran deras hangat yang keluar dari miliknya. Sedangkan Bryan masih terus memompa batangnya hingga dirinya pun mengalami klimaks.
“Ohh, shit! Kamu sangat enak. Bikin nagih.” Begitulah perkataan pria bajingan yang selalu bermain wanita di luaran sana. Ini bukan pertama kalinya Bryan meniduri perempuan. Diberkahi wajah tampan dan harta berlimpah dari orangtuanya membuat siapa saja bertekuk lutut di hadapan Bryan. Gadis mana yang mampu menolak seorang Bryan? Bahkan tak jarang seorang gadis yang masih suci bersedia melepas mahkotanya kepada sosok bad guy itu.
Bryan pun mengerang kenikmatan saat dirinya menyembur cairan cinta ke rahim gadis malang itu. Seiring dengan datangnya rasa nikmat itu, pria berwajah tegas itu langsung lemas dan ambruk di atas tubuh Nina.
Nina kini menangis tanpa suara. Dari raut wajahnya saja bisa dinilai bahwa gadis itu sungguh syok berat atas kejadian ini. Nina menyingkirkan tuan mudanya yang kini terlelap di atas tubuhnya.
“Hiks. Hiks.” Nina menyeka air matanya. Ia melihat ke arah Bryan yang saat ini sudah tertidur pulas di sampingnya. ‘Apa yang harus aku lakukan sekarang?’ lirihnya dalam hati.
Dengan sisa tenaga yang masih ada, Nina beranjak pergi dari ranjang itu. Tempat di mana ia melepaskan kehormatannya secara paksa dengan dibanjiri air mata. Nina mengambil pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai lalu memakainya kembali. Ia menghela napas panjang diiringi deraian air mata yang tak kunjung reda, gadis itu pun keluar dari kamar dan meninggalkan sang majikan seorang diri.
Time passes and she has not seen many of her friends in a while. She had not even seen Ace and realized how much she missed him. And so, Gwen works overtime and takes a day off so that she can go to Estril. She goes in secret and goes to Fort Brimburg. Because Para-Drae was not a threat anymore, many of the soldiers came back and many joined the army. She was sure that they got an earful from the General for that. Gwen still had her training clothes and so she integrates herself into the base as if she were always there but of course she is a Queen and is made out pretty quickly.She is called out from the morning line up and the General questions why she is there. He also seemed to not care that she was a Queen and treated her the same. Since Ace was usually at the front of the group she could see that he was happy to see her.Gwen tells him that she is there to train and she and the General go back and forth but eventually he lets her stay. Everyone does not really know how to treat
At one point, Ace visits her and Gwen had not forgotten about their last encounter but she tries to ignore it and move on but Ace does not feel that way. She can tell that he acting differently around her and Gwen is not sure how to act. She gives him a tour of the castle but they get lost because Gwen is still not completely familiar with it. Ace takes the chance and tells her how he feels again. This time, he kisses her and she lets him. Gwen knows she feels something too but does not say anything back to him. He says that he is more than happy to wait for her response.The day of the coronation comes and Gwen is definitely not ready for it. This is the biggest thing that is going to happen in her life and she is not sure if she is ready. Her parents are there for her the entire time and help until the ceremony. Gwen invited the leaders of Estril, Naudis, Martaes, and Schneir. She invited all of the people she knew from Naudis, Estril, and Paria-Drae. Gwen had to say that it was the
It had been a couple of months since everything unfolded. Meredith had been in prison ever since and had no chance of getting out in her lifetime. Her mother had made a public appearance a while ago and gave a heartfelt speech about the past twenty years and how it was so drastic from everything she knew but grew to appreciate simpler things because of it. And because of that, Gwen realized that it was her mother's way of telling the people that she was not going to be the Queen. And if that was the case, then it all fell on Gwen.Even though she threatened the Queen and told her that she would take the throne and because people want her to, did not mean that Gwen actually wanted it. She expected her mother to be the Queen the people all loved and wanted. But her mother was getting older and just wanted to live a simple life with the man she loved. She did not want to suddenly be thrust into a life she gave up on for so many years and it would also be unfair to her stepfather.And so,
Gwen is going to make it look like she was the person who kidnapped the Queen and that no one else was involved. If there are other people involved then she would not confess. So she is taken to a run-down building in the middle of nowhere and officers and soldiers are hiding all over the place. Once she wakes up, she and her mother confront the Queen, Gwen acts like she is going to kill her just to make it believable. She gives her mother some time to talk to her and the Queen acts hateful and tells her that she should be dead and that even if they kill her, no one is going to believe them and that the people will not accept her.Elizabeth asks Meredith if she also killed her parents so that she could get the Queen. They should have lived another ten years before the throne could go to her. The Queen does not say anything about that but says that they died because it was their time and it helped her out. Gwen intervenes and says that she had enough time to talk and that she should tr
After ten minutes of jogging, Gwen gave up and decided to walk instead. She could still Ace in the distance but he was the only one, all the others had left you, and for good reason, you did deserve it. She would make sure that she was last by far. She hated to admit that she enjoyed th
Once again, Gwen was sitting on the couch surrounded. They were not saying anything and were just eyeing her down. As if they would get their questions answered that way. Jonah has this scowl on his face and he studied her, she wished that she could tell what was going on in their minds
The group garnered some attention and Gwen saw the look on Captain Marcus’ face when he saw her. Relief. He was relieved and Gwen was relieved to see him as well. Gwen had also not seen Ace and she was glad that he didn’t come and annoy her. She was sure that the first thing
Once Gwen crossed the road, she had realized that there were two shooting ranges on either side of the main road. She didn’t need to cross the road. Gwen felt like an idiot as she maneuvered through the forest and practically kicked herself at her stupidity. But it was already don
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น