Compartilhar

Awal Sebuah Wabah

last update Data de publicação: 2026-10-31 22:34:04

“Ada seorang lady dari keluarga bangsawan yang ditemukan tewas secara misterius setelah beberapa kali berkencan dengannya. Sebelum meninggal, perempuan itu sempat meninggalkan surat yang menyebut Theon sebagai pembunuh berdarah dingin. Ia bahkan menuliskan bahwa tubuh pria itu berbau anyir darah.”

Emily menghentikan ceritanya sejenak. Ia menoleh ke belakang, memastikan lorong yang mereka lewati benar-benar kosong sebelum kembali berbisik.

“Anehnya, tak lama setelah kasus itu mencuat, keluarga s
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • The Prince's Dead Mistress   Membayar Hutang

    Dada Mara masih terasa sesak ketika ia menuruni tangga penginapan Madam Elise. Beberapa gelas minuman beralkohol yang diteguknya mulai menunjukkan efek.Melihat kondisinya, Madam Elise tidak tega membiarkannya pulang sendirian. Ia pun memesankan kereta kuda sewaan dan meminta kusirnya mengantar Mara sampai ke kediamannya dengan selamat.Kereta itu akhirnya berhenti di depan gerbang megah Kediaman Keluarga Veyne.Kedatangan kereta kuda itu segera mengundang perhatian penghuni mansion. Isolda dan Eron pun keuar menghampiri Mara yang saat ini dibopong oleh kusir.Mara perlahan membuka mata. Pandangannya yang masih kabur menangkap wajah pria yang tengah menggendongnya. Ia mengangkat tangan dengan susah payah, lalu menepuk-nepuk pipi pria itu secara tidak beraturan.“Turunkan aku, Noah...” racaunya. “Terima kasih... sampaikan salamku kepada Madam Elise.”Noah menghentikan langkah tepat di depan tangga teras. Ia menurunkan Mara perlahan dan memastikan kedua kakinya menapak dengan benar.Beg

  • The Prince's Dead Mistress   Kita Sama-Sama Sendirian

    Mara menyusuri lorong-lorong sepi hingga tiba di area luar paviliun.Menyadari pintu utama dijaga ketat, ia mencari jalan lain dan menemukan jendela kamar Alaric yang kaitnya tidak tertutup sempurna. Ia pun memanjat dan menyelinap masuk.Baru saja kakinya menapak lantai, suara ketukan terdengar dari pintu depan.Mara sontak menoleh. Tak sempat berpikir panjang, ia buru-buru merunduk dan bersembunyi di kolong meja kerja besar di sudut ruangan.“Aku ingin masuk menemui Alaric!” Suara seorang wanita terdengar dari balik pintu.“Maaf, Yang Mulia Putri Mahkota. Putra Mahkota sedang tidak berada di tempat,” jawab pengawal yang berjaga.“Aku sedang mengandung anaknya. Apakah aku masih memerlukan izin untuk menunggu suamiku?” Suara Adelaide meninggi, tajam dan disengaja.“Mohon maaf, Yang Mulia. Perintah Putra Mahkota sangat jelas. Tidak seorang pun diizinkan memasuki ruangan ini tanpa izin langsung darinya.”“Yang Mulia, sebaiknya kit

  • The Prince's Dead Mistress   Titik Balik

    Para pejabat mulai membalik lembar demi lembar perkamen yang telah dibagikan sebelum sidang dimulai.“Penyelidikan ini bermula sekitar satu bulan lalu. Saat itu, beredar laporan mengenai krisis air bersih di sekitar wilayah Panti Asuhan St. Seraphina. Pemerintah setempat hanya mengandalkan distribusi pasokan makanan dari luar, sementara kerusakan lingkungan sama sekali tidak ditelusuri,” papar Alaric langsung pada inti masalah.Mara mengangkat wajah sedikit.Penjelasan Alaric tentang pemerintah setempat yang hanya sibuk menyalurkan bantuan tanpa menyelidiki akar persoalan mendadak mengingatkannya pada cerita yang pernah dibagikan seniornya saat ekspedisi.Seniornya pernah berkata, meski data lengkapnya belum berhasil disusun, sebuah wabah besar menyerang Kekaisaran Valedron beberapa waktu setelah kudeta Alaric. Wabah itu bermula dari krisis kesehatan di wilayah terpencil yang diabaikan dan tidak diselidiki semestinya, hingga akhirnya mencapai ibu kota.Seorang pejabat kekaisaran kemud

  • The Prince's Dead Mistress   Sidang Darurat

    Suasana malam di kamar Mara terasa begitu hening setelah ia selesai membersihkan diri dan menghabiskan makan malamnya. Sesuai anjuran Gordon, ia juga telah meminum obat pencegah infeksi yang diberikan sebelum bersiap untuk tidur.Namun, baru saja ia hendak merebahkan diri, ketukan pelan terdengar dari balik pintu.Begitu pintu dibuka, sosok Eron sudah berdiri di ambangnya dengan wajah kaku. Pria itu menyodorkan sebuah keranjang rotan berisi berbagai camilan dan buah-buahan segar.Mara menatap keranjang tersebut, lalu mengangkat sebelah alis.“Biar kau tidak bosan selama masa pengurungan,” ujar Eron ketus. Tanpa menunggu tanggapan, ia langsung berbalik dan hendak pergi.“Tu-tunggu!”Mara buru-buru bangkit dari kursinya dan menyusul pria itu sebelum sempat menjauh.Eron meliriknya malas dari sudut mata. “Apa lagi?”Alih-alih langsung menjawab, Mara justru mengamati penampilan saudara angkatnya dari ujung kepala hingga kaki.“Selarut ini kau masih mengenakan seragam lengkap?” Ia menyipit

  • The Prince's Dead Mistress   Kembali ke Kaisergard

    Di bawah pengawasan ketat para prajurit, ketiga anak yang meninggal dimakamkan di area pemakaman kecil milik panti asuhan.Tangisan para pengurus dan anak-anak yang ditinggalkan mengiringi prosesi hingga selesai, termasuk Ilyas yang akhirnya merelakan kepergian adiknya.Tak lama setelah pemakaman, Alaric mengeluarkan perintah evakuasi. Rombongan Mara yang terdiri dari Sarah, Emily dan Florencia diperintahkan kembali ke ibu kota, Kaisergard.Para prajurit ditinggalkan untuk mengawasi panti asuhan dan desa.Atas arahan Mara, setiap orang yang ikut dalam rombongan telah mengenakan masker kain yang dibuat khusus sebagai langkah perlindungan tambahan selama perjalanan.Hari telah beranjak sore ketika kapal penyeberangan akhirnya merapat di dermaga utama daratan Valedron.Pelabuhan yang biasanya dipenuhi kesibukan kini diselimuti ketegangan. Beberapa gerbong kereta kuda mewah dengan lambang keluarga bangsawan telah berderet menunggu di area dermaga.Rupanya, kabar mengenai kondisi di St. Se

  • The Prince's Dead Mistress   Mengguncang Fajar

    “Kau begitu mempercayainya?” selidik Mara, menatap Alaric dengan kening berkerut.“Tidak, Mara. Aku tidak memercayainya begitu saja. Aku hanya sedang memasang taruhan,” jawab Alaric tenang. “Jika Lucas terbukti melanggar kesepakatan dan membahayakan kita, aku sudah menyiapkan langkah untuk menyingkirkannya.”Mara tidak bertanya lebih jauh. Mengenal sifat Alaric yang selalu memperhitungkan berbagai kemungkinan, ia tahu pria itu tidak akan mengambil risiko tanpa menyiapkan langkah antisipasi.Tanpa membuang waktu, Mara mengajaknya segera kembali ke kompleks Panti Asuhan St. Seraphina.Namun, begitu mereka mendekati pelataran panti, suasana yang sebelumnya dipenuhi kesibukan penanganan medis mendadak berubah menjadi kepanikan.Kerumunan orang memenuhi halaman depan. Para pengurus, anak-anak panti, hingga prajurit yang bertugas tampak berdesakan, sementara suara tangisan dan teriakan saling bersahutan di antara mereka.Mara memperlambat langkah. Ada sesuatu yang tidak beres.Alaric melirik

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status