LOGIN"Kau ingin aku hidup?""Tidak."Sontak Zevariel terkejut dengan jawaban singkat Liora."Matilah Zevariel, dan jalani hidupmu sendiri dengan bahagia." setelah mengucapkan kalimat itu, Liora membalikkan badan dan pergi.Melihat punggung Liora yang menjauh, langkah kakinya yang semakin samar, membuat dada Zevariel perih."Kalau aku tidak menculikmu.. mendekatimu perlahan.. dan menunjukkan ketulusanku.. apa hasilnya akan berbeda?" gumam Zevariel.Keesokan harinya, berita menyiarkan jika Zevariel bunuh diri di dalam penjara. Berita itu langsung menyebar ke sepenjuru daerah, hingga ke kerajaan Velmoria. Namun kabar itu pun menghilang dalam sekejap, tertutup dengan berita pernikahan antara Liora dan Morgan.Morgan sudah diberi gelar kehormatan serta status bangsawan karena telah menyelamatkan Liora, itulah kenapa pernikahan mereka bisa terjadi. Banyak bangsawan yang menyayangkan hal itu karena mereka tidak diberi kesempatan sedikit pun untuk mendekati sang putri.Persiapan dilakukan dengan c
Zevariel tersenyum tipis"Aku sungguh kehilangan segalanya, bahkan kau.." gumam Zevariel.Matanya kembali terpaku pada Liora. Zevariel memandangnya lama, hingga para penjaga menariknya pergi.Zevariel keluar dari aula dengan langkahnya yang tegas, dia tidak goyah sedikit pun. Seolah bahkan tanpa mahkota dan kekuatan sihirnya, dia masih seseorang yang berbahaya.Liora menatap kepergian Zevariel, dia tidak tahu.. entah kenapa ada rasa hampa yang terasa."Liora.." panggil Morgan, berusaha mengalihkan perhatian Liora kembali padanya.Namun Liora yang terlalu sibuk dengan pikirannya, tidak mendengar. Morgan mendengus kesal, dengan berani dia menyentil dahi Liora pelan."Ukh! Sakit Morgan." sungut Liora."Kau mengabaikanku, aku sedih." protes Morgan."Aku? Kapan aku..""Kau tidak dengar kan, tadi aku memanggilmu.." potong Morgan."Ehem, benarkah? Di sini terlalu ramai, jadi aku tidak dengar." Liora berkelit.Morgan yang enggan membahas tentang Zevariel lebih lama, bertanya mengenai hal lain
"Kedekatan kami memang spesial." balas Leonel santai."Pengecut. Kalian seperti sekumpulan anak ayam." sarkas Zevariel."Memang kenapa? Yang penting cepat selesai." Leonel menguap. "Hoamm, aku mulai mengantuk. Ini waktu seharusnya aku tidur." jawab Leonel tak acuh.Di belakang mereka, Luzark belum bergerak. Matanya hanya tertuju pada adiknya, Liora."Dia tidak terluka kan?" gumam Luzark pelan.Liora menoleh, dia menatap balik ke arah Luzark. Sorot mata Luzark yang terlihat begitu mengkhawatirkannya sekaligus amarah bercampur. Liora mengisyaratkan pada kakaknya itu bahwa dia baik-baik saja.Dan tepat pada saat itu..Luzark bergumam, kekuatan sucinya menguar. Meski masih dalam wujud manusia, muncul tanduk naga di kepalanya.Seketika seluruh area langsung terkunci, tidak ada yang bisa masuk maupun keluar dari sana.Cahaya putih yang menyilaukan berbentuk lingkaran raksasa muncul di tanah dan menjulang tinggi ke atas, menjalar bagai rantai yang tak terlihat.Akibatnya, energi Zevariel men
Kereta kuda yang membawa Liora pergi tidak memiliki jendela, mungkin Zevariel menggunakan kereta barang untuk membawa Liora.Dari celah kecil yang ada di sudut, Liora tidak melihat adanya cahaya, menandakan waktu malam telah mengiringi kepergiannya.Saat itu, Liora bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya ditarik dari balkon kamarnya, seseorang berambut hitam membungkam mulut Liora. Angin seketika menghantam wajahnya saat Zevariel melesat menembus penjagaan secepat kilat.Suara seseorang membuyarkan lamunan Liora."Makanlah." suara Zevariel rendah, hampir seperti bisikan yang berusaha menenangkan badai yang bergejolak di hati Liora.Liora tidak bergerak, dia hanya menatap sekilas ke nampan berisi makanan yang diletakkan Zevariel di depannya."Aku tidak akan meracunimu." lanjut Zevariel."Zevariel, belum terlambat untuk menghentikan semua ini."Zevariel mengernyit, "Apa maksudmu?""Kau tahu yang kau lakukan ini gila kan? Kau tidak berpikir ini akan merugikan kerajaanmu?""Kau mengkhawat
Pembicaraan itu pun berakhir dengan kesepakatan awal. Luzark sudah sedikit lega dengan adanya bantuan dari Leonel, namun Morgan masih merasa berat hati."Liora, bisa kita bicara?" cegat Morgan sebelum Liora kembali ke kamarnya. "Kau tidak keberatan jika kita berjalan-jalan sebentar? Sambil berbincang..""Baiklah."Tapi kenyataannya, Morgan hanya melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun."Ada apa? Katanya kau mau bicara?""Liora," langkah Morgan terhenti. "Kumohon, masih ada waktu untuk mengubah keputusanmu. Luzark juga pasti langsung setuju jika kau menolak sekarang. Ya?" bujuk Morgan. "Kita tetap bisa menjalanlam rencana kita tanpa kau jadi umpan Liora.." ratap Morgan. "Bukankah itu tujuan sang kaisar sampai datang ke sini?" "Aku tahu, tapi dengan begini.. kita bisa mendapatkan dua hal sekaligus. Menangkap Zevariel, sekaligus memberimu gelar bangsawan.""Aku bisa pergi ke medan perang untuk itu.""Berapa lama? Tiga tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Dan tidak ada jaminan kau kemb
Morgan masih teringat percakapannya dengan Liora bahkan sampai waktu makan malam tiba. Dia tidak ingat bagaimana dia sampai di ruang makan, yang jelas saat ini dia sedang duduk di sana, menanti hidangan disajikan. Tentu saja bersama dengan Liora dan.. tiga orang yang mengganggu. Luzark, Leonel, dan Elbaf.Morgan sudah terbiasa jika bersama dengan Luzark, lagipula dia kakak Liora.Tapi kenapa sekarang Elbaf dan Leonel juga ikut serta. Morgan sedikit kesal karenanya. Tapi melihat Liora di sana, berbicara dengan santai dan tertawa riang, sudah cukup meredakan rasa kesal Morgan. Dia tidak peduli dengan hal lain, yang penting Lioranya bahagia.Makan malam berjalan seperti biasanya, suara denting sendok yang beradu dengan piring, obrolan ringan. Namun Morgan kembali teringat setelah mereka membahas hal lain setelah makan, hal yang sempat dia lupakan. "Lio, kau.. benar-benar tak masalah dengan hal ini? Bisa kita batalkan jika kau tidak mau." tanya Luzark serius."Benar adikku, kami tidak ing
Tangan Rinos gemetar, perasaannya campur aduk. Hatinya meleleh dengan ketampanan Leonel, dan beliau baru saja mengedipkan mata padanya."Astaga! Sadarlah." Rinos menampar pipi untuk menyadarkan dirinya sendiri.Rinos berjalan mondar-mandir. "Bagaimana jika Baginda Luzark tahu? Ukhh... tidak tahulah
"Hei, jangan dekat-de.." protes Liora."Sssstt.. jangan protes Lio, aku tahu siapa itu." Leonel menyeringai. "Lelaki yang melamarmu.""Hah? Zevariel?" tanya Liora pelan."Pfftt.. ayo kita kerjai dia. Liora aku akan berpura-pura membisikkan sesuatu padamu. Kau tertawalah.""Anda terlalu kekanakan..
Luzark menjelaskan rencananya pada Liora dan Morgan. Dan ada sebuah fakta yang membuat keduanya tercengang. Kael, adik Zevariel.. dia termasuk dalam rencana ini.Liora ingat Kael pernah mengirim surat padanya sesaat sebelum Zevariel sampai di Luminous. Dia menyebutkan rencana-rencana Zevariel dan b
Morgan melangkah maju tanpa ragu. Telapak tangannya dia letakkan di atas permukaan buku itu. Simbol naga putih yang terukir di sampulnya menyala terang, cahayanya merambat seperti urat cahaya hingga ke lengan Morgan.Morgan merasakan panas di lengannya, seperti terbakar. "Ukh.." Morgan menahannya,







