ログイン"Yang Mulia.""Iya, Liora?" jawab Zevariel lembut dengan senyum yang terpatri di wajahnya.Liora muak melihatnya."Jangan seperti ini Yang Mulia, tindakan anda ini sudah termasuk kejahatan. Jika kakak saya tahu, pasti akan terjadi keributan besar dan memicu perang antara Luminous dan Velmoria. Mungkin anda sangat percaya diri dengan kekuatan militer anda, tapi jangan lupa.. jika hal itu sampai terjadi, saya juga akan berperang bersama Luminous melawan Velmoria. Saya juga bagian dari Luminous.""Liora, aku hanya ingin kita seperti dulu..""Sekarang itu tidak mungkin Yang Mulia." potong Liora. "Saya kira, kita bisa sekedar berteman dan menjalin hubungan diplomasi yang baik. Anda ingin kembali seperti dulu? Tidak mau, tidak mungkin, tidak akan pernah. Lebih baik saya mati daripada berada di sisi anda. Bangunlah dari mimpi anda dan lihat masa depan Yang Mulia." jeda sejenak, Liora menghela napas."Saya tidak ingin berkata sekejam ini, namun anda sangat keras kepala. Kebaikan saya hanya be
Zevariel masih berusaha untuk menemui Liora, namun itu sangat sulit karena Liora selalu dikawal kemana pun dia pergi.Setelah dua hari Zevariel memperhatikan Liora dalam diam (menguntit), dia tahu kapan waktunya Liora sendirian. Liora biasanya tidak ditemani hanya saat dia ada di perpustakaan. Dia bisa berjam-jam berada di sana membaca buku.Liora suka menghabiskan waktu sendirian dengan membaca buku. Apalagi Luzark sudah mengisi perpustakaan dengan banyak novel kesukaan Liora, dia jadi tidak perlu repot-repot keluar untuk membaca buku.Zevariel menunggu kesempatan dan diam-diam menyelinap masuk ke dalam perpustakaan. Zevariel menunggu dengan sabar, dia berpura-pura jadi pengunjung perpustakaan dan memilih-milih buku di rak novel, favorit Liora.Zevariel tidak tahu apa buku yang dipegangnya, dia bahkan tidak membaca judulnya. dia hanya asal mengambil dari rak. Dia berpura-pura membaca, padahal matanya was-was memperhatikan sekitar, kalau-kalau Liora datang.Penantian Zevariel membuahk
Morgan jadi teringat memorinya saat kecil dulu, dia pernah terserang flu. Dia tidak mau diobati Liora karena takut energi Liora akan habis jika terus-terusan mengobatinya. Namun sakitnya tidak kunjung sembuh, jadilah Morgan kecil dengan ingus yang selalu hampir keluar dari hidungnya.Liora mengingat bagaimana pipi tembam dan mata bulat Morgan begitu tersiksa karena ingusnya yang selalu mengalir keluar.Morgan terbelalak, dia melupakan fakta itu. Dia sangat malu mengingat betapa joroknya dia saat kecil. Dia bahkan membiarkan tangan halus Liora mengelap ingusnya.Morgan memalingkan wajahnya dan berdeham ringan. "Entahlah, karena banyak hal yang terjadi.. aku sedikit melupakan beberapa kejadian dia masa laluku."'Kau berkelit ya, dasar. Kau tidak bisa membohongiku Morgan.' Liora menyeringai.Dia berniat mengerjai Morgan, namun sebuah suara menginterupsi."Liora.." panggil Zevariel lembut yang entah sejak kapan ada di sana. Dia berjalan perlahan dengan senyum yang terpatri di wajahnya."I
Seseorang muncul dengan kuda hitamnya keluar dari arah hutan. Lelaki yang menunggangi kuda itu telihat terkejut, begitu juga Liora."Yang Mulia?" Liora terduduk, Zevariel terlihat turun dari kudanya.Dia menghampiri Liora setelah mengikat kudanya.Beberapa saat yang lalu, Zevariel melihat Liora keluar dari area latihan dan menarik seekor kuda. Melihat Liora berkuda hanya berdua dengan Rinos ke arah hutan, Zevariel mengikuti mereka dari jarak yang agak jauh. Dia baru mendekat setelah bersembunyi selama beberapa saat.Sebelum menampakkan dirinya, Zevariel sengaja sedikit mengacak rambutnya. Memberi sedikit bubuk hitam di bawah matanya untuk memastikan wajah lelahnya terlihat oleh Liora.Zevariel melangkah perlahan ke arah Liora."Tuan Putri, sedang apa di sini?" ucap Zevariel santai, dan dia dengan seenaknya duduk di samping Liora."Hanya jalan-jalan. Yang Mulia, bagaimana anda bisa tahu tempat ini? Tempat ini kan jauh dari istana untuk para tamu kekaisaran." pertanyaan Liora mengandung
Morgan tiba-tiba berlari meninggalkan lapangan."Loh??" Rinos bingung."Kenapa dia?" Luzark pun bertanya-tanya."Morgan?" bahkan Liora juga tidak tahu dengan tindakan Morgan barusan. "Luz, kenapa Morgan tiba-tiba berlari?" tanya Liora pada Luzark."Mungkin dia.. mulas?" jawab Luzark random. "Bisa jadi dia salah makan." lanjutnya tak acuh."Hmm.. begitu ya."Morgan berhenti berlari setelah dia jauh dari area latihan, napasnya tersengal karena tiba-tiba berlari kencang."Apa.. yang kulakukan?" gumam Morgan terbata. "Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku lari begitu saja??!" keluhnya frustasi merutuki tindakannya yang tidak masuk akal.Morgan lalu melihat penampilannya. Baju berantakan dan basah keringat, kunciran longgar dengan rambut acak-acakan dan menjuntai tidak beraturan, wajah berminyak dengan noda tanah, bibir kering pecah-pecah, mata sayu kurang tidur, yang paling parah.. dia memakai alas kaki yang berbeda."Hah?! What the.." dia baru menyadari separah apa dirinya. "Sejak kapan aku se
Luzark yang tiba-tiba muncul di ruang kerjanya bersama Elbaf, terkejut karena melihat Morgan yang sedang berdiri dengan posisi siaga."Astaga! Saya kira siapa, kenapa anda tiba-tiba muncul di sini Baginda?" keluh Morgan yang sudah menunggu selama dua jam lamanya."Seharusnya aku yang mengatakan itu kan! Apa yang kau lakukan di sini. Ini ruang kerjaku, jika kau lupa.""Maafkan saya Baginda." Morgan menunduk menyadari kesalahannya. "Saya mencari Baginda, namun tidak menemukan anda dimana pun. Jadi saya berinisiatif untuk menunggu anda di sini. Karena anda pasti kembali ke sini.""Kenapa kau mencariku?" Luzark memijat kepalanya yang agak pusing karena efek sihir teleportasi, dia bahkan melakukannya dua kali.Morgan bukan orang yang tidak peka, Luzark pun dalam keadaan yang kurang baik. Dua kakak beradik itu sepertinya telah melewati hari yang berat. Morgan pun mengurungkan niatnya."Saya lupa Baginda, saya permisi kalau begitu. Silahkan anda beristirahat.""Dia menolaknya."Morgan tahu m







