共有

8. Cooling Down

last update 公開日: 2026-06-14 13:24:07

Setelah pergumulan panas itu, Tiara merasa tak perlu canggung lagi; toh, ia akan dinikahi besok. Bang Bonar bukan orang sembarangan, dia juragan sawit yang menguasai hampir 60% wilayah ini. Lagipula, fisiknya tidak buruk—masih muda dibanding kakek-kakek yang ingin melahapnya semalam.

Pintu kamar mandi terbuka saat Tiara sedang duduk melamun di atas kloset. "Abang mengagetkan saja!" refleks ia menutupi dada dan bagian bawahnya dengan tangan.

"Buruan, ak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (3)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
seru banget bacanya...sampai sini dulu ya... besok lanjut lagi...
goodnovel comment avatar
Manissss
seru banget. tapi sampai sini dlu.. besok lanjut lagi
goodnovel comment avatar
marev
seru bgt ini
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   84. Ingin Cepat Pulang

    "Terima kasih, Leo. Belum ada lagi, kok, mungkin nanti," jawab Tiara, sedikit canggung karena jarak mereka yang sempat terlalu dekat.Sambil melangkah menyusuri lorong rak, Tiara mencoba mengalihkan suasana. "Leo, dulu waktu Teh Sari masih sehat, apa kamu sering mengantarnya bepergian?""Tidak pernah, Tante," sahut Leo seraya menyelaraskan langkah di sampingnya. "Waktu Tante Sari masih sehat, aku masih kuliah di luar kota. Lagipula setahuku, Tante Sari itu jago menyetir mobil sendiri. Cuma ya... karena sekarang sakit, jadi tidak bisa ke mana-mana lagi.""Oh, begitu... Mandiri sekali, ya," gumam Tiara pelan.Ia mengelus perutnya yang masih ratas. Terpikir di benaknya, andai saja ia sedang tidak hamil, mungkin ia sudah meminta izin pada Bonar untuk belajar menyetir mobil juga. Namun untuk sekarang, keinginan itu terpaksa ia simpan rapat-rapat dalam daftar rencananya nanti."Kenapa, Tante?" tanya Leo memperhatikan perubahan raut wajah T

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   83. Ditemani Leo

    "Senang berbisnis denganmu, Bonar," ucap Erwin seraya menjabat tangan Bonar dengan gerakan mantap. "Dan... Bu Tiara, semoga rumah kos yang saya jual bisa menjadi ladang rezeki baru untuk Anda.""Terima kasih, Win. Istriku pasti akan merawat rumah kos itu dengan baik," aku membalas dengan mantap, menyunggingkan senyum lega."Terima kasih banyak, Pak Erwin," sahut Tiara sembari menyambut jabat tangan Erwin dengan senyum tulus. Ada binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari matanya.Erwin mengangguk ramah lalu merapikan tas kerjanya. "Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semua berkas legalitasnya sudah beres dan resmi berpindah tangan ke Bu Tiara."Begitu Erwin melangkah keluar dari ruangan, Tiara mendekat lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Ia memelukku hangat."Abang, terima kasih banyak untuk aset ini. Aku janji akan mengelolanya dengan baik," bisiknya tulus dengan nada penuh rasa syukur."Sama-sama, Sayang. A

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   82. Rencana Gagal

    Dengan teliti dan hati-hati, aku mengelap seluruh bagian dalam flat shoes Tiara hingga benar-benar bersih dari sisa bulu halus yang menempel."Dasar tidak hati-hati yang menaruh sepatu di sini," gerutuku pelan, membayangkan betapa kasihan istriku jika tadi sempat menginjaknya. "Untung saja tadi tersenggol. Kalau tidak, bisa panik satu rumah gara-gara kakinya bentol-bentol."Setelah memastikan sepatu Tiara benar-benar bersih dan aman, aku menaruhnya kembali di tempat yang lebih tinggi dan aman, lalu memakai sepatuku sendiri dengan perasaan lega.****Siang harinya, sebelum makan siang, Tiara menemui Bonar ke kantornya. Dengan OOTD kasual namun elegan, ia berjalan anggun menuju ruangan Bonar."Eh, Bu Tiara. Sekarang sering ya ke kantor Bapak? Perkenalkan, saya Lydia, Manajer Keuangan Dirga Group." Perempuan berusia sekitar empat puluhan namun masih tampak awet muda dan cantik itu mencoba berakrab ria.Tiara tersenyum ramah dan menjabat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   81. Ulat Bulu

    Pagi harinya, ketika aku dan Tiara hendak makan pagi, Sabryna sudah duduk lebih dulu di hadapan kami."Bang, Teh Sari kok belum keluar kamar ya?" tanya Tiara padaku.Aku menarik kursi untuk Tiara, memastikannya duduk dengan nyaman sebelum aku menyusul duduk di sampingnya. Pandanganku sempat sekilas menatap Sabryna yang bergeming, lalu kembali terfokus pada Tiara."Biarkan saja, Sayang," jawabku tenang seraya mengambilkan piring untuknya. "Dia butuh waktu sendiri. Kamu tidak usah memikirkannya, fokus saja pada sarapan dan kesehatanmu."Bi Asih datang membawa bolu jadul yang baru saja dipotongnya. "Pagi, Pak, Ibu. Ini bolu jadul pesanan Bu Tiara kemarin sore. Silakan dicoba, semoga berkenan.""Terima kasih, Bi. Nanti saya makan," balas Tiara.Aku tersenyum tipis lalu melirik bolu yang masih mengepulkan aroma harum butter. Dengan lembut, aku mengusap jemari Tiara di atas meja."Ooh, ternyata bumil lagi mengidam bolu jadul?" goda

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   80. Sari Mendengar

    Aku meletakkan ponsel ke atas meja, lalu bangkit dan mendekatinya. Tanpa ragu, aku menyelinapkan tangan ke pinggangnya lalu menarik tubuh mungil itu ke dalam pangkuanku saat aku mendarat di sofa. Aku membelai lembut pipinya yang masih merona merah menahan kesal, menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan pikirannya. "Sudah Abang bilang, dia di sini cuma menumpang karena rasa kasihan, Sayang," ucapku tegas sembari merapikan anak rambut di wajahnya. "Untuk Dirga Group, Abang tidak akan pernah mempekerjakannya secara permanen. Dia cuma dapat jatah magang sampai selesai, setelah itu dia harus cari jalan sendiri. Jadi, tidak perlu buang-buang energimu untuk memikirkan dia lagi, ya?" "Bisa tidak sebelum selesai magang Abang akhiri saja? Aku enek melihat dia di sini. Kesal tahu, Bang. Nanti anakku mirip dia kelakuannya." Aku tak bisa menahan tawa mendengar ocehan polos sekaligus ketakutannya yang terbilang konyol itu

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   79. Posisi Terancam

    Sabryna berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas memburu. Rasa malu dan dongkol bercampur aduk jadi satu, membakar dadanya usai diamuk habis-habisan oleh Bonar di ruang tengah tadi. "Ah, sialan! Ternyata Tante Sari pernah selingkuh? Pantas saja Om Bonar makin acuh dan tidak sudi menyentuhnya lagi," sinisnya seraya menghentakkan kaki jengkel ke lantai. Ia melempar tubuhnya kasar ke tepi ranjang, meremas sprei dengan jemari bergetar. Kecongkohan yang selama ini ia pamerkan di depan Tiara rasanya seperti menampar mukanya sendiri. "Kalau begini, posisiku jadi serba salah dan makin tidak punya pijakan di rumah ini gara-gara masa lalu Tante Sari. Kalau aku tidak dengar sendiri tadi, mana pernah aku tahu kalau wanita sombong seperti dia bukan cuma penyakitan, tapi juga cacat moralnya." "Baiklah, aku akan tetap menjalankan rencanaku, dengan atau tanpa bantuan Tante Sari," bisiknya mantap dengan mata berkilat

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   4. Menari Tanpa Musik

    Sejak Sari sakit, aku memilih tidur di kamar terpisah. Dia menjadi sangat sensitif dan emosional, mungkin karena rasa rendah diri yang menggerogotinya dari dalam. Aku bukan tipe pria yang telaten membujuk atau mengobral kata manis. Daripada kami terus ribut atau aku lepas kendali dan main ka

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   3. Butuh Pewaris

    Tiara melangkah keluar dari kedai tuak dengan napas tersengal. Rasa mual mengaduk perutnya, bukan karena bau alkohol yang menyengat tadi, tapi karena kenyataan bahwa harga dirinya ditawar seperti daging kiloan di pasar. Ternyata bapaknya bukan cuma pemabuk, tapi lubang hitam yang menghi

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   2. Calon Duren

    Sadikin menyulutkan korek ke ujung cerutuku. Asap tebal langsung mengepul, aromanya berat menyengat di ruangan yang remang itu. Aku duduk santai, menyilangkan satu kaki di atas paha. Aku selalu berbaju serba hitam, kontras dengan kulitku yang sawo matang khas orang lapangan yang sering terpa

  • Tiara Sang Penari Dan Juragan Sawit   1. Denting Kelambu

    Alert! Seluruh nama tokoh, alur cerita, serta latar tempat dalam kisah ini merupakan karya fiksi. Apabila terdapat kesamaan nama, karakter, peristiwa, maupun lokasi dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak disengaja. Cerita ini ditulis untuk tujuan hiburan da

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status