Accueil / Romansa / Tiga Penguasa yang Menggoda / 2. Singa itu Mulai Terusik

Share

2. Singa itu Mulai Terusik

Auteur: Sintiia01
last update Date de publication: 2026-02-01 11:13:56

Mereka berhenti di depan sebuah restoran Prancis dengan desain interior yang sangat privat dan mewah. Aruna merasa sangat asing di sana dengan kemeja kerjanya yang sederhana.

“Tuan Bastian, bukankah ini terlalu berlebihan hanya untuk membahas laporan?” tanya Aruna saat mereka duduk di meja sudut yang menghadap ke taman kecil.

Bastian meletakkan buku menu yang baru saja dia baca, lalu menatap Aruna dengan intensitas yang tidak biasa.

“Anggap saja ini kompensasi karena kau harus menghadapi Max setiap hari. Kau tahu, Aruna? Max itu seperti mesin. Dia hanya melihat fungsi, bukan pesona. Jika kau ingin dia mendengarkanmu, kau tidak boleh hanya menjadi mesin yang patuh.”

Aruna menatap Bastian bingung. “Maksud Anda?” tanyanya kemudian.

“Berikan sedikit warna,” ujar Bastian sambil sedikit memajukan tubuhnya.

“Gunakan parfum yang sedikit lebih berani, biarkan rambutmu terurai sesekali. Pria seperti Max tidak akan bereaksi pada air mata, tapi dia akan bereaksi jika 'aset' miliknya mulai diperhatikan oleh pria lain. Itu tips dariku.”

Aruna meremas serbet di pangkuannya. “Saya hanya ingin bekerja dengan baik, Tuan. Saya hanya butuh bantuan untuk untuk ayah saya. Setelah itu, saya akan bekerja seperti biasa lagi.”

“Aku tahu,” potong Bastian lembut lalu meraih tangan Aruna yang berada di atas meja dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Dan aku bisa membantumu lebih dari sekadar tips, jika kau mengizinkanku.”

Wajah Aruna memanas, dia pun segera menarik tangannya dengan sopan. “Maaf, Tuan. Saya tidak pantas.”

“Kau terlalu rendah hati, Aruna. Padahal, di mataku, kau adalah wanita paling menarik di lantai lima puluh. Kacamata besar dan sanggul ketatmu itu tidak bisa menyembunyikan kecantikanmu dariku.”

Makan siang itu berlalu dengan Aruna yang lebih banyak diam, sementara Bastian terus melancarkan pujian-pujian halus yang tersamar dalam obrolan bisnis.

Aruna merasa sangat kecil, namun di saat yang sama, ada bagian dari dirinya yang merasa dihargai.

**

Pukul dua siang, mereka kembali ke kantor. Saat keluar dari lift lantai 50, Aruna tampak sedikit lebih segar karena udara luar, meskipun hatinya masih diliputi kecemasan.

Di sudut bibirnya, terdapat sedikit sisa saus mousse cokelat dari hidangan penutup tadi yang tidak ia sadari.

“Tunggu, Aruna,” ucap Bastian tepat saat mereka berada di depan pintu kaca menuju area sekretariat.

Aruna berhenti dan berbalik. “Ya, Tuan?”

Bastian tidak menggunakan kata-kata. Dia pun melangkah maju dan memperpendek jarak hingga Aruna bisa merasakan panas tubuh pria itu.

Tanpa peringatan, Bastian mengangkat tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap sudut bibir Aruna dengan gerakan yang sangat pelan dan intim.

Aruna langsung mematung dan napasnya tertahan. Matanya membulat menatap dada Bastian yang bidang di hadapannya.

“Ada sedikit cokelat di sini,” bisik Bastian dengan suara rendah yang menggoda.

Tepat pada detik itu, pintu ruangan CEO terbuka dengan sentakan kasar. Max Kendrick berdiri di sana sembari memegang beberapa map di tangannya.

Langkahnya terhenti seketika. Matanya yang sedingin es menangkap pemandangan intim tersebut: tangan Bastian yang masih berada di wajah Aruna, dan posisi mereka yang terlalu dekat untuk ukuran rekan kerja.

Suasana lorong seketika membeku. Aruna segera menjauh dari Bastian dengan wajah pucat pasi.

“Tu–Tuan Max …,” suara Aruna bergetar hebat.

Max tidak berkata apa-apa. Namun, rahangnya mengeras, dan otot lehernya tampak menegang.

Tatapannya menghunus tepat ke mata Bastian, lalu beralih ke Aruna dengan pandangan menghina yang sangat tajam.

Selama dua detik, kilatan kemarahan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya terpancar dari mata yang biasanya tanpa emosi itu.

Tanpa satu patah kata pun, Max berbalik masuk kembali ke ruangannya.

BRAKK!

Pintu mahoni itu dibanting dengan sangat keras hingga gema suaranya memantul di seluruh lorong, meninggalkan Aruna yang gemetar ketakutan dan Bastian yang hanya tersenyum miring, seolah rencananya baru saja dimulai.

“Sepertinya singa itu mulai terusik, Aruna,” bisik Bastian pelan sebelum dia melangkah pergi sambil mengedipkan sebelah mata.

Aruna tidak sempat membalas saat interkom di mejanya berbunyi dengan nada pendek dan menuntut. Dengan tangan dingin, Aruna menekan tombol jawab.

“Masuk ke ruanganku. Sekarang,” perintah Max dengan nada suara yang begitu lebih tajam dari biasanya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   97. Hari Bahagia

    Aula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   96. Kabar Mengejutkan

    Kesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   95. Melakukan hal yang Mengejutkan

    Malam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   94. Kebebasan Johan

    Gedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   93. Memberimu Kepuasan

    “Max... ahh, pelan sedikit,” rintih Aruna saat tangan kasar Max meremas payudaranya dengan tenaga yang tidak main-main.“Tidak ada kata pelan untuk malam ini. Tekanan di kepalaku harus keluar, dan hanya kau yang bisa menampungnya,” sahut Max.Ia menunduk, melahap puting Aruna yang sudah menegang keras, menyesapnya dengan isapan yang sangat kuat hingga suara cecapan basah memenuhi kamar yang sunyi itu.“Akhh! Ssshh... pelan, Max! Itu sakit!” Aruna memekik, kepalanya mendongak ke belakang, punggungnya melengkung indah saat rasa perih dan nikmat menyatu di dadanya.Max tidak memedulikan protes itu. Ia justru menggigit kecil puncak payudara Aruna, membuat wanita itu mengerang semakin keras. Tangan Max bergerak turun, membelah pangkal paha Aruna dengan paksa. Ia tidak butuh pemanasan yang lembut; baginya, Aruna adalah medan pertempuran yang harus ia taklukkan setiap malam.“Kau sudah sangat basah, Aruna. Jangan berpura-pura kau tidak menginginkan kebrutalanku,” bisik Max serak.Ia membebas

  • Tiga Penguasa yang Menggoda   92. Max yang Tidak Pernah Puas

    “Tonny, siapkan draf gugatan balik. Begitu hakim mengetok palu bahwa Johan tidak bersalah, aku ingin surat perintah penangkapan untuk Surya dan Robert langsung keluar di jam yang sama. Aku ingin mereka keluar dari ruang sidang dengan tangan terborgol.”Tonny mengangguk mantap. “Instruksi diterima, Tuan. Semua dokumen sudah siap diserahkan ke pengadilan besok pagi.”Rapat itu berlanjut selama dua jam berikutnya, membahas setiap detail teknis hukum yang membuat kepala Aruna pening. Namun, setiap kata yang keluar dari mulut Max menunjukkan bahwa pria ini telah memikirkan setiap kemungkinan. Ia bukan sekadar pengusaha kaya; ia adalah jenderal perang yang sedang menyusun strategi pemusnahan musuh-musuhnya.Setelah keluar dari kantor Tonny, Max membawa Aruna kembali ke mobil. Suasana di dalam mobil kembali sunyi, namun kali ini ada ketegangan yang berbeda—ketegangan penantian.“Max,” panggil Aruna saat mobil mulai bergerak.“Hmm?”“Kenapa kau melakukan semua ini? Maksudku, kau mempertaruhka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status