MasukTubuh Renata dihempas ke ranjang, Julian merangkak naik ke atas tubuhnya. Kedua tangan Renata lalu diangkatnya ke atas kepala hingga wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. "Aku tidak mengizinkanmu ke mana-mana selain dalam dekapanku, Rene." Mata Renata memicing menatap Julian sampai keningnya mengerut. Posesif sekali pria satu ini. Bisa-bisanya ia juga terlena saat dicium pria itu.Pasrah begitu saja, bahkan menikmati dan mengimbangi ciumannya yang seperti menyedot bibirnya sampai tak mau lepas. Apa pria itu sedang mengguna-gunanya agar Renata mau kembali? Tapi ketika ia membuka mulut, Julian yang tau gelagatnya seperti akan memprotes. Tiba-tiba pria itu menarik tengkuknya dan membekap mulutnya dengan lumatan yang sangat ganas. "Julian—hpphh!" Mata Renata membulat seperti kelereng, ciuman Julian sampai sulit ia imbangi. Namun Renata juga tak mampu menolaknya. Tubuhnya memanas akan gairah yang menjalar ke setiap nadi darahnya, tanpa sadar membiarkan tangan Julian menyingkap rok g
Julian seketika bangkit berdiri. Posturnya yang tinggi membuat orang-orang di sekitarnya merasa kecil. Wajahnya yang tadi lelah kini berubah menjadi topeng kemarahan yang dingin, wanita penggoda itu sampai ketakutan.“Aku tidak tertarik sedikitpun dengan hadiah yang kalian tawarkan!” geram pria itu mengepak jasnya sebagai ancaman, menyoroti tajam dengan matanya yang seperti mesin pemotong itu. “Tujuanku datang ke sini karena kau menyebutkan soal komite. Tapi jika ini yang kalian sebut sebagai strategi politik, menyuap dengan seks dan alkohol. Kalian salah besar. Aku keluar!!”Salah satu anggota dewan, seorang pria gemuk bernama Sterling tampak menyeringai sinis begitu Julian yang pergi lewat di depannya. “Jangan sok suci, Julian! Semua orang di ruagan ini bermain dengan aturan yang sama. Kami menawarkan kau kursi di Komite Infrastruktur yang posisinya strategis. Banyak uang mengalir di sana. Tapi sebagai gantinya, kami hanya meminta satu hal kecil padamu.”Sudut bibir Julian terangk
Wajah Renata langsung memanas. Rasa malu merambat cepat dari leher hingga ke ujung telinganya. Ia merasa seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia kehilangan kata-kata untuk membela diri di depan neneknya.Renata sulit menjelaskan sesuatu yang menariknya kali ini pada Julian. Bagaimana cara pria itu mengendalikan ribuan orang dengan hanya suara dan logika, tapi sudah membuatnya terlihat begitu ... berbahaya dan menonjol?"Rene," panggil Ruth karena Renata terus bergeming dan memilin jarinya dengan kuat."Tidak apa-apa. Minumlah jusnya," suruh Renata yang tampak salah tingkah."Oh, ya?" Ruth masih tak percaya."Aku... Aku hanya tak menyangka dia punya kemampuan berbicara yang luar biasa, Ruth, " bual Renata canggung, mengalihkan pandangan ke gelas jus stroberinya yang mulai mencair. "Itu saja."Jus yang diminumnya sedikit mendadak bikin serik di tenggorokannya. Renata tak nyaman dengan kondisi itu, ia sampai terburu-buru pergi dan menabra
Renata yang berjalan pulang menuju rumah menoleh ke belakang saat ia mendengar suara daun kering terinjak di belakang pohon besar dekat jalanan."Ada apa Rene?" tanya Nate menata keranjang stroberi sebelum pemanen lain datang. Ia melihat Renata celingukan ke arah belakangnya."Tadi sepertinya aku mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering di sana!" Renata menunjuk pohon besar itu, bersamaan sekelebat mobil yang lewat. Namun ia hanya sempat melihat bagian belakangnya saja sekilas.Nate berhenti memetik stroberi sesaat lalu mengikuti telunjuk Renata ke arah sana."Tidak ada siapa-siapa."Renata mengerutkan kening lalu bicara pelan. "Perasaan tadi ada? Kenapa sekarang sepi?""Mungkin itu tupai," timpal Nate. "Hewan itu suka muncul di pohon sana."Renata mengangguk lalu berpamitan pergi. Namun Nate mengejarnya, melesat cepat dengan tangan membawa sekotak stroberi yang montok-montok."Untukmu, bawalah pulang.""Wah! Banyak sekali, Nate?" Renata terkesima menatap buah stroberi m
"Tuan, kita harus kembali hari ini ke London. Besok perwakilan dari kementrian luar negeri akan menemui Anda terkait pemilu yang akan datang." Namun Julian hanya diam saja sambil menyesap rokoknya berdiri di balkon. Matanya tak beralih menatap ke bangunan rumah-rumah tua di sekitar hotel kecil - hotel melati tempatnya menginap. Salah satu rumah itu mirip dengan rumah Renata, yang membuat Julian terus teringat istrinya itu. Ia membayangkan, di salah satu kamar itu. Ia sedang berada di ranjang memeluk Renata setelah berolahraga ekstrem. Membahas perencanaan soal anak, lalu bertengkar manis berapa jumlahnya. Ia ingin anak sebelas, alhasil Renata ngambek dan hal itu memicu senyum tipis di bibir Julian. "Tuan," panggil Jun sekali lagi, kali ini lebih keras karena Julian tak merespon. "Apakah aku terlalu jelek sampai Renata menolakku?" Malah Julian menyahut begini. Jun menaikkan alisnya. Sudah ia duga kalau hati bosnya tertinggal di rumah Ruth. "Tuan sangat tampan. Apalagi
"Renata," mulai Nate. Suaranya ragu, namun tegas. "Aku tahu, aku mungkin bukan siapa-siapa bagimu. Ya, aku cuma tetangga yang membantu membereskan rumput." "Aha, itu benar." Renata menatap Nate balik dengan senyum manis yang membuat pria itu semakin berdebar duduk di sampingnya. "Tapi kau juga teman masa kecilku, Nate." Kalimat Renata yang terakhir memicu tawa ringan Nate. "Oke. Aku tidak akan mengganggumu, silakan teruskan bicaramu," kata Renata sengaja menggodanya. Ia suka iseng kadang-kadang. Nate berdeham dulu karena ia merasa canggung. Gara-gara perkataannya terputus, kini ia harus mengulanginya lagi. Sebelumnya ia menarik napas lebih dulu. "Begini... Jadi aku sudah lama memperhatikanmu, Rene. Bukan sebagai putri dari seorang walikota, atau dari istri seorang politikus terkemuka," lanjut Nate yang tak disangka ketika membahas soal Julian, ekspresi wajah wanita itu langsung berubah cemberut. Tapi Nate sengaja tak menjelaskan atau minta maaf, karena menyusun keberaniannya
Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.
Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama
Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang samb
Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur d







