Se connecterSatu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana.
"Ke mana dia?" Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap? Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil. "Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka. Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kertas yang menyembul dari map itu. Jantungnya berdetak tak keruan menahan penasarannya. Renata celingukan memastikan benar tidak ada Julian di sekitarnya, lalu perlahan ia menarik kertas itu sedikit. "Apa isinya?" "Kau juga sudah bangun rupanya." Deg. Suara bariton berat yang menyapa itu tak ubahnya tegangan listrik ribuan volt yang menyentak Renata, melepas tangannya seketika dari kertas itu. Kehadiran Julian membuat Renata tertekan. Napasnya tersengal dengan tubuh membeku. 'Kapan pria itu datang? Kenapa selalu muncul tiba-tiba seperti setan?' Suasana kamar yang tadinya tenang berubah berat, seolah oksigen tersedot keluar saat pria itu melangkah tajam di atas lantai marmer. Tanpa sepatah kata dominasinya begitu terasa, dari bagaimana pria itu sedikit menundukkan kepala ketika berhenti tepat di depan Renata. Membiarkan tubuhnya jatuh menutupi wanita itu sepenuhnya dari bayangan meja. "Pa-pagi Tuan Cooper," sapa Renata basa-basi, menunduk. "Begini caramu menyapa suamimu, Renata Doe?" Dahi Renata mengernyit dengan istilah 'suami' yang Julian sebut. Tapi ia juga merasa mual jika seseorang memanggil namanya dengan belakang 'Doe' yang hanya mengingatkannya kalau dia tak sepenuhnya yatim. "Lalu aku harus bagaimana Tuan Cooper?" Renata memaksakan senyum ketika mengangkat wajahnya menemui Julian. Pria itu tetap saja dingin seperti semalam. Kedua tangannya tersembunyi di saku celana bahan yang licin—menambah kesan angkuh. Tapi bukan hal itu saja yang menjadi tolak ukur Renata pada Julian. Posturnya yang tegak dengan bahu lebar di balik kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya. Rahang tegas, wajah maskulin dan tampan di usianya yang ke 34 tahun. Diakuinya berhasil membuatnya selalu berdebar setiap berada di dekat Julian. "Seandainya dia normal," gumam Renata sambil menggigit bibir, tak berkedip menatap Julian sesaat. Julian mengangkat alisnya. "Kau bicara apa?" "Tidak..." Renata menepisnya dengan gugup dan kembali menundukkan wajah. Sebuah dasi hitam pola garis lalu disodorkan Julian pada Renata yang belum memahami maksudnya. "Kenakan dasinya untukku!" "Tapi aku tidak pernah mengikatkan dasi," jawab Renata polos sambil mendorong dasi itu yang masih di tangan Julian. Julian dengan sikap dinginnya lalu berkata, "Aku akan mengajarimu, karena tugas ini harus kau lakukan setiap aku berangkat ke kantor." Mata kecoklatan Renata membelalak, masih tak percaya dengan yang didengar ia mengangkat wajahnya perlahan. Menatap lurus pada Julian dan tak menemukan kebohongan di sana. "Bisa tidak membuang-buang waktuku?" "Oh, i-iya." Renata meraih dasi itu, namun dengan sigap kedua tangan Julian menyergap tangannya. "Tuan ..." Renata mengatupkan mulut saat Julian mengunci tatapannya. Julian memicing. "Aku paling tidak suka tinggal bersama seseorang yang tidak menjaga kebersihan tubuhnya." Renata langsung memahaminya. "Aku akan mandi sebelum kau ajari mengikat dasi," katanya buru-buru berbalik. Namun Julian tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. "Sekarang aku sudah terlambat! Mandinya nanti saja dan ikatkan dasiku!" "Baiklah." Tubuh Renata menegang begitu tangan besar Julian yang hangat itu menuntun tangannya yang lebih kecil melingkarkan dasi ke leher pria itu, membentuk simpul dasar hingga Renata perlu berjinjit mencapainya. Posisi yang dekat ini membuat Renata bisa mencium aroma parfum woody di tubuh Julian yang membuat jantungnya kembali berdetak liar dan semakin gugup. "Sudah bisa?" tanya Julian. Renata mengangguk, perlahan mundur sambil menangkat gaunnya menuju kamar mandi. "Semalam saat kau tidur, sopir kediaman Doe mengantar koper pakaianmu!" Ucapan Julian memperlambat langkah Renata. "Tapi ternyata isinya pakaian loakan semua. Apakah mereka tidak membelikanmu pakaian yang layak?" tanya Julian tajam. Renata tak tersinggung ataupu harus berbohong soal ini. "Iya. Tapi pakaianku masih bagus menurutku, hanya tidak sesuai dengan seleramu saja." Tidak terasa respon tubuh Julian dan otaknya bertentangan. Di sisi cueknya, kedua tangan pria itu mengepal erat—merasa Henry keterlaluan. "Istri seorang Cooper tidak boleh mengenakan pakaian murahan. Semuanya harus berkelas!" ucapnya seolah titah mutlak. Renata bisa merasakan aura patriarki Julian yang dominan, tapi dia memilih diam dan menunggu apa yang selanjutnya pria itu lakukan. "Asistenku, Jun, sudah kuperintahkan membelikan pakaian untukmu. Paper bag nya di samping bufet dan kenakan itu saat sopirku mengantarmu pulang!" "Terima kasih Tuan Cooper," ucap Renata tampak senang. Setidaknya ada yang memperhatikan penampilannya saat ini. Julian tak menjawab. Pria itu tergesa mengambil map kulit di meja lalu pergi dari penthouse nya. — Resepsi pernikahan hari kedua digelar di kediaman megah keluarga Doe dengan tema out door. Karpet merah membentang luas, lampu-lampu taman membiaskan cahaya ke segala arah dan dentingan gelas sampanye terdengar seperti melodi kemunafikan. Di sana Renata berdampingan dengan Julian, memerankan dengan baik sebagai istri paling bahagia—sekaligus bangga menjadi satu-satunya wanita yang dinikahi seorang SEKJEN partai merah yang terkenal di kalangan politisi dan pemerintahan. Sepanjang acara Julian nyaris tidak bicara dengan Renata. Pria itu terlalu sibuk bersalaman dengan para tamu pentingnya, menunjukkan kekuasaan tanpa harus mengeluarkan suara keras. Tapi lama kelamaan Renata merasa lelah dengan sandiwara itu. Aroma parfum mahal bercampur kebisingan tanpa henti, lalu dia yang hanya sebagai pajangan semata? Ia butuh angin segar walau sejenak. "Aku perlu ke toilet," bisik Renata pada Julian. Julian hanya meliriknya sekilas, mata kelabunya datar tanpa emosi. "Jangan lama-lama. Sepuluh menit lagi kita harus menyapa Wakil Presiden." Renata mengangguk cepat dan menyelinap keluar dari kerumunan. Bukannya ke toilet, ia justru melangkah menuju belakang taman yang sepi dan jarang didatangi siapapun kecuali tukang kebun di pagi hari. Udara malam yang dingin menyentuh kulit Renata, memberikan kelegaan dari sesaknya atmosfer di pesta tadi. Akan tetapi ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik. "Kau merasa kesepian Renata? Atau mungkin ... sebenarnya kau bosan dan ingin lari dari suamimu yang impoten itu? Begini saja, aku memberi pilihan. Aku bersedia menjadi selimutmu kalau kau mau?"Kecupan yang jatuh di atas kulit lehernya membuat Renata mendongak pasrah. Gairah telah membakarnya, membuatnya lupa diri jika komitmen yang sudah ia rancang sekian lamanya untuk tidak sudi disentuh Julian. Bubar.Sangat sial. Renata sulit menolak gairah yang Julian ciptakan. Sentuhannya, kecupannya, ciumannya dan permainannya itu sulit diterima logika. Tadi Renata menolak mentah-mentah, sekarang ketika Julian menciumnya dia membalasnya dengan liar.Di atas lantai basah, tubuh Julian menghangatkannya. Gerakannya mantap, menumbuknya hingga tersentak-sentak dipelukannya."Rene, aku mencintaimu," bisik Julian dengan keposesifan.Daun telinganya dibasahi dengan liurnya, Renata mendesahkan napas panjang dan melenguhkan rendah nikmat itu."Hanya... Sekali ini saja," balas Renata dengan nada suara yang terputus-putus.Julian menatap wajah wanita itu di atasnya, kedua tangannya semakin menggerakkan pinggul Renata cepat. Buah da
Tok! Tok!"Julian, apa kau masih mandi?" tanya Renata sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Suaranya menyimpan nada kekhawatiran mendalam. Juga rasa bersalah yang mulai mencengkeram dadanya.Namun perasaan Renata semakin kacau saat dari dalam kamar mandi dia tak mendengar suara apapun kecuali suara jatuhnya air."Ke mana dia sebenarnya?" Renata berdiri tak tenang. kalau ada apa-apa dengannya, otomatis ia harus bertanggung jawab. Setiap detik menyiksa Renata. Ia berharap Julian tidak melakukan hal nekat. Misalnya, bunuh diri? "Jangan sampai kau sebodoh itu Julain!" Ia menatap pintu kamar mandi, menelan ludahnya kasar, kemudian mencoba mencari tahu dengan menempelkan telinganya ke daun pintu. Ia memeriksanya. "Kau akan mempermalukan dirimu sendiri dan menyusahkanku nanti."Keningnya mengerut, lagi-lagi ia hanya mendengar suara tetesan air. Tapi ... ia masih belum mendapati keberadaan Julian di sana."Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya!" cetusnya tak sabaran. Kali ini tanpa pikir
Selamat membaca.... "Kau masih istriku, Rene. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu," dalih Julian tenang.Namun tatapan Julian yang seperti menggeledah kancing piyamanya itu membuat Renata langsung panik. Matanya memuncak, kepalanya menggeleng sambil berjalan mundur ke ambang pintu."Sekarang, urus saja dirimu sendiri!" kata Renata sebelum buru-buru meninggalkan Julian sendiri di luar kamarnya.Julian mendesah napas, tangannya memaku dinding dengan tubuh setengah condong ke depan, diam memperhatikan siluet Renata dari belakang. Pantatnya yang penuh itu bergoyang ke kiri kanan membuat ia susah payah menelan ludah menahan gejolak panas yang membakar seluruh tubuhnya yang terasa panas."Kau hanya milikku, Rene." Setelah menggumamkan itu dengan suara parau yang berat, Julian menyusul Renata ke dalam kamar. Ia berhenti saat mencium aroma vanila bercampur oksigen yang menguar di kamar itu. Ia menghirupnya dalam-dalam, hingga kepalanya terdongak ke atas. Anehnya, gejolak di dalam tubuhn
"Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia
Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu
"Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara
“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangann
Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Rat
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua
Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.







