Home / Romansa / Tiga Pria Yang Memanjakanku / Bab 3. Perhatian Terselubung

Share

Bab 3. Perhatian Terselubung

last update Last Updated: 2026-03-02 10:30:46

Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana.

"Ke mana dia?"

Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap?

Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil.

"Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka.

Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kertas yang menyembul dari map itu. Jantungnya berdetak tak keruan menahan penasarannya.

Renata celingukan memastikan benar tidak ada Julian di sekitarnya, lalu perlahan ia menarik kertas itu sedikit. "Apa isinya?"

"Kau juga sudah bangun rupanya."

Deg.

Suara bariton berat yang menyapa itu tak ubahnya tegangan listrik ribuan volt yang menyentak Renata, melepas tangannya seketika dari kertas itu.

Kehadiran Julian membuat Renata tertekan. Napasnya tersengal dengan tubuh membeku. 'Kapan pria itu datang? Kenapa selalu muncul tiba-tiba seperti setan?'

Suasana kamar yang tadinya tenang berubah berat, seolah oksigen tersedot keluar saat pria itu melangkah tajam di atas lantai marmer.

Tanpa sepatah kata dominasinya begitu terasa, dari bagaimana pria itu sedikit menundukkan kepala ketika berhenti tepat di depan Renata. Membiarkan tubuhnya jatuh menutupi wanita itu sepenuhnya dari bayangan meja.

"Pa-pagi Tuan Cooper," sapa Renata basa-basi, menunduk.

"Begini caramu menyapa suamimu, Renata Doe?"

Dahi Renata mengernyit dengan istilah 'suami' yang Julian sebut. Tapi ia juga merasa mual jika seseorang memanggil namanya dengan belakang 'Doe' yang hanya mengingatkannya kalau dia tak sepenuhnya yatim.

"Lalu aku harus bagaimana Tuan Cooper?" Renata memaksakan senyum ketika mengangkat wajahnya menemui Julian.

Pria itu tetap saja dingin seperti semalam. Kedua tangannya tersembunyi di saku celana bahan yang licin—menambah kesan angkuh.

Tapi bukan hal itu saja yang menjadi tolak ukur Renata pada Julian. Posturnya yang tegak dengan bahu lebar di balik kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya. Rahang tegas, wajah maskulin dan tampan di usianya yang ke 34 tahun. Diakuinya berhasil membuatnya selalu berdebar setiap berada di dekat Julian.

"Seandainya dia normal," gumam Renata sambil menggigit bibir, tak berkedip menatap Julian sesaat.

Julian mengangkat alisnya. "Kau bicara apa?"

"Tidak..." Renata menepisnya dengan gugup dan kembali menundukkan wajah.

Sebuah dasi hitam pola garis lalu disodorkan Julian pada Renata yang belum memahami maksudnya.

"Kenakan dasinya untukku!"

"Tapi aku tidak pernah mengikatkan dasi," jawab Renata polos sambil mendorong dasi itu yang masih di tangan Julian.

Julian dengan sikap dinginnya lalu berkata, "Aku akan mengajarimu, karena tugas ini harus kau lakukan setiap aku berangkat ke kantor."

Mata kecoklatan Renata membelalak, masih tak percaya dengan yang didengar ia mengangkat wajahnya perlahan. Menatap lurus pada Julian dan tak menemukan kebohongan di sana.

"Bisa tidak membuang-buang waktuku?"

"Oh, i-iya."

Renata meraih dasi itu, namun dengan sigap kedua tangan Julian menyergap tangannya.

"Tuan ..."

Renata mengatupkan mulut saat Julian mengunci tatapannya.

Julian memicing. "Aku paling tidak suka tinggal bersama seseorang yang tidak menjaga kebersihan tubuhnya."

Renata langsung memahaminya. "Aku akan mandi sebelum kau ajari mengikat dasi," katanya buru-buru berbalik. Namun Julian tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.

"Sekarang aku sudah terlambat! Mandinya nanti saja dan ikatkan dasiku!"

"Baiklah."

Tubuh Renata menegang begitu tangan besar Julian yang hangat itu menuntun tangannya yang lebih kecil melingkarkan dasi ke leher pria itu, membentuk simpul dasar hingga Renata perlu berjinjit mencapainya.

Posisi yang dekat ini membuat Renata bisa mencium aroma parfum woody di tubuh Julian yang membuat jantungnya kembali berdetak liar dan semakin gugup.

"Sudah bisa?" tanya Julian.

Renata mengangguk, perlahan mundur sambil menangkat gaunnya menuju kamar mandi.

"Semalam saat kau tidur, sopir kediaman Doe mengantar koper pakaianmu!"

Ucapan Julian memperlambat langkah Renata.

"Tapi ternyata isinya pakaian loakan semua. Apakah mereka tidak membelikanmu pakaian yang layak?" tanya Julian tajam.

Renata tak tersinggung ataupu harus berbohong soal ini. "Iya. Tapi pakaianku masih bagus menurutku, hanya tidak sesuai dengan seleramu saja."

Tidak terasa respon tubuh Julian dan otaknya bertentangan. Di sisi cueknya, kedua tangan pria itu mengepal erat—merasa Henry keterlaluan.

"Istri seorang Cooper tidak boleh mengenakan pakaian murahan. Semuanya harus berkelas!" ucapnya seolah titah mutlak.

Renata bisa merasakan aura patriarki Julian yang dominan, tapi dia memilih diam dan menunggu apa yang selanjutnya pria itu lakukan.

"Asistenku, Jun, sudah kuperintahkan membelikan pakaian untukmu. Paper bag nya di samping bufet dan kenakan itu saat sopirku mengantarmu pulang!"

"Terima kasih Tuan Cooper," ucap Renata tampak senang. Setidaknya ada yang memperhatikan penampilannya saat ini.

Julian tak menjawab. Pria itu tergesa mengambil map kulit di meja lalu pergi dari penthouse nya.

Resepsi pernikahan hari kedua digelar di kediaman megah keluarga Doe dengan tema out door. Karpet merah membentang luas, lampu-lampu taman membiaskan cahaya ke segala arah dan dentingan gelas sampanye terdengar seperti melodi kemunafikan. Di sana Renata berdampingan dengan Julian, memerankan dengan baik sebagai istri paling bahagia—sekaligus bangga menjadi satu-satunya wanita yang dinikahi seorang SEKJEN partai merah yang terkenal di kalangan politisi dan pemerintahan.

Sepanjang acara Julian nyaris tidak bicara dengan Renata. Pria itu terlalu sibuk bersalaman dengan para tamu pentingnya, menunjukkan kekuasaan tanpa harus mengeluarkan suara keras. Tapi lama kelamaan Renata merasa lelah dengan sandiwara itu. Aroma parfum mahal bercampur kebisingan tanpa henti, lalu dia yang hanya sebagai pajangan semata? Ia butuh angin segar walau sejenak.

"Aku perlu ke toilet," bisik Renata pada Julian.

Julian hanya meliriknya sekilas, mata kelabunya datar tanpa emosi. "Jangan lama-lama. Sepuluh menit lagi kita harus menyapa Wakil Presiden."

Renata mengangguk cepat dan menyelinap keluar dari kerumunan. Bukannya ke toilet, ia justru melangkah menuju belakang taman yang sepi dan jarang didatangi siapapun kecuali tukang kebun di pagi hari.

Udara malam yang dingin menyentuh kulit Renata, memberikan kelegaan dari sesaknya atmosfer di pesta tadi. Akan tetapi ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.

"Kau merasa kesepian Renata? Atau mungkin ... sebenarnya kau bosan dan ingin lari dari suamimu yang impoten itu? Begini saja, aku memberi pilihan. Aku bersedia menjadi selimutmu kalau kau mau?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Yeeay aku datang kk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 5. Perlindungan Arthur

    Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama kecil ke tangan Renata yang terpaku melihat itu. "Hubungi aku saat kau menyadari menjadi istri Julian adalah malapetaka buatmu." Renata berbalik dan berlari menuju ke dalam, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di taman. Menatap kegelapan dengan senyuman yang kini tampak mengerikan. Namun saat Renata sampai, ia melihat Julian berdiri di sana dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Wajah Julian lebih pucat dari biasanya dan kemarahannya begitu nyata hingga orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan. "Tu-Tuan Cooper ...," sebut Renata dengan kecemasan berlebih saat menyeret kakinya lebih dekat pada pria itu. Mata Julian terkunci pada Renata. Ia mencengkeram lengan gadis itu dengan k

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 4. Godaan Kakak Tiri

    Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang sambil menimang gelas kristal berisi wiski yang tersisa separuh. "Padahal aku belum menunjukkan diri, tapi kau sudah tahu kalau itu aku," katanya dengan bangga. "Ini menandakan kalau kita sehati." Renata tak mengindahkannya, malah bersiap untuk kabur kalau Devan macam-macam. "Jangan memancing keributan di sini!" "Siapa yang memancing keributan?" Devan tertawa pendek yang terdengar pahit, hingga berhenti dan berdiri di belakang tubuh Renata. "Mungkin seluruh kota ini yang ribut membahas pernikahanmu. Soal Henry menjualmu pada pria impoten itu hanya demi jabatan dan kau ... menerimanya seperti kambing congek." Renata diam, membenarkan hal itu dengan tersiksa. Tapi ia tak berdaya sama sekal

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 3. Perhatian Terselubung

    Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana. "Ke mana dia?" Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap? Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil. "Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka. Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kert

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 2. Malam Pengantin

    “Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin. Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras“Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.Renata menelan ludahny

  • Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 1. Mahkota Berduri

    Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya. Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status