LOGIN“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian.
Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.” Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin. Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras “Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu. Renata menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup kencang dan berdetak tidak beraturan, ketika pikirannya dipenuhi oleh peringatan Sandra tentang penyimpangan suaminya itu. Lalu bisikan obsesif dari Devan tentang suaminya yang impoten. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Julian menyentuhnya dengan kasar atau jika Julian memang benar tidak bisa menyentuhnya sama sekali? Tiba-tiba saja Julian sudah berada tepat di hadapan Renata, dengan kemeja yang terbuka di bagian dada. Memperlihatkan kulit pucat yang ototnya terbentuk sempurna. Bukan seperti ciri-ciri tubuh pria lemah atau sakit-sakitan, seperti rumor yang beredar. Matanya yang kelabu menatap Renata dengan intensitas yang membuat Renata merasa telanjang sebelum waktunya. “Buka gaunmu!” suruh Julian datar. Tidak ada gairah dalam suaranya, malah terdengar seperti sebuah instruksi atasan pada bawahan. “Apa kau bilang?” tanya Renata terkejut. Julian dengan segala otoriternya berkata, “Aku paling anti mengulang perintah. Tapi karena kau baru pertama, aku memaklumi.” Renata meremas gaun dengan kedua tangannya. Kalau saja nyawa sang nenek tidak terancam, ia pasti masa bodoh dengan karir ayahnya dan tidak akan terjebak di situasi ini bersama pria gila. “Aku tidak menyangka menikahi istri tuli!” Julian bicara dengan nada yang naik satu oktaf. Renata cepat mendongak, bertukar kecemasannya dengan sorot dingin Julian yang berisi kemarahan yang membuat bulu kuduknya berdiri. “Harusnya Alice yang menikah denganku, tapi malah ditukar denganmu. Ini sebuah penghinaan besar bagiku.” “A… Aku buka gaunku!” jawab Renata terpaksa yang tak ingin mendapati kiriman protes dari Julian terhadap keluarga Doe. Gara-gara ia menolak menjalani malam pertama yang entah bagaimana itu. Semua pengorbanan yang Renata lakukan hanya demi sang nenek. Meski harus merendahkan diri seperti sekarang. Tangan Renata gemetar saat meraba resleting di punggungnya dengan susah payah, kain lace terasa kasar di ujung jari. Ia menurunkannya inci demi inci. Hingga gaun seharga miliaran itu meluncur turun, menumpuk di kakinya seperti kelopak bunga yang layu. Menyisakan Renata dalam balutan pakaian dalam renda tipis yang membuatnya merasa sangat rapuh, memalukan dan sangat kecil di bawah tatapan pria itu. Sialnya, Julian malah tidak bergerak mendekat dan justru meninggalkan Renata begitu saja. Pria itu melangkah ke arah meja kayu mahoni di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal lalu meneguknya sampai habis. “Jangan berharap banyak Renata,” ucap Julian begitu santai tanpa melihat kekecewaan di mata istrinya yang basah. “Anggap aja rumor yang beredar di luaran itu benar. Aku tidak tertarik padamu atau pada wanita manapun di belahan dunia ini. Pernikahan hanyalah transaksi politik. Ayahmu butuh sekutu dan aku sendiri butuh pion di dewan pemerintahan.” Renata merasa ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Lega? Ya. Tapi ada rasa hina yang turut menyelinap, meski sebelumnya ia telah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun diabaikan seperti sampah yang tidak berharga, ternyata memiliki rasa sakitnya sendiri. “Lalu kenapa aku di sini?” tanyanya. Suaranya mulai stabil karena kemarahan yang mulai membakar rasa takutnya. “Jika kau hanya perlu pion, kau bisa membiarkanku tetap tinggal di rumah ayahku. Tidak usah membawaku ke penthouse mu.” Merasakan keberanian wanita itu, Julian meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. Renata berjengit, memundurkan langkah melihat Julian kembali mendekat dan berhenti persis di depannya. Pria itu begitu tinggi sehingga Renata harus mendongak. “Apa aku membuat kesalahan Tuan Copper?” tanya Renata berusaha tenang, memanggil nama belakang Julian. Namun Julian tidak menjawab. Pria itu sulit ditebak pergerakannya, tahu-tahu jaraknya sudah sedekat ini. Hingga Renata bisa mencium aroma wiski yang pekat, berbaur dengan aroma maskulin yang dingin dari tubuh atletis Julian. “Kau… Kau marah? Aku hanya bertanya—” Julian mencondongkan tubuhnya ke wajah Renata. Seperti merasakan ancaman berbahaya, wanita itu kontan memeluk erat gaun di depan tubuhnya yang setengah bugil. “Karena di rumah itu, kau hanya akan dimakan hidup-hidup oleh Devan,” bisik Julian yang terasa hangat di telinga Renata, disertai kilatan emosi yang sulit diartikan di mata pria itu. “Dan aku paling tidak suka barang milikku disentuh oleh orang lain sebelum aku memutuskan apa yang harus aku lakukan dengannya.” Tubuh Renata menegang, kalimat Julian yang terakhir terdengar seperti ancaman. Aneh sekali pria itu. Tadi mencampakkannya begitu saja dan sekarang berubah mengklaim dirinya buru-buru? Belum selesai di situ. Renata terjengit saat Julian meraih dagunya, mencengkeramnya dengan kekuatan yang cukup membuat Renata meringis. “Sa… Sakit, Tuan Cooper. Lepaskan aku?” mohon Renata. Namun Julian hanya menikmati kelemahan istrinya itu dengan datar. “Kemana keberanianmu yang tadi?” tanyanya setelah merasa Renata agak berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia jumpai sebelumnya—yang manja dan genit. Tidak tahunya, malah pasrah dan lemah. “Aku tidak berani,” jawab Renata dengan suara patah-patah. Sementara dia akan patuh dulu sambil mencari cara untuk kabur dan menyelamatkan nyawa sang nenek dengan aman. Julian semakin kontradiktif. “Selama tinggal di sini kau tidurlah di sofa! Jangan menyentuh ranjangku dan yang paling penting … jangan pernah mencoba masuk ke ruang kerjaku yang di ujung lorong. Jika kau sampai berani melanggarnya, Renata. Aku tidak akan segan-segan memulangkanmu ke tempat asalmu tanpa nyawa!” Wajah Renata sontak memucat, namun ia hanya bisa mengangguk saat mulai kesulitan bernapas. Julian baru melepas cengkeramannya itu dan meninggalkannya yang berjuang meraih oksigen dengan berjalan acuh tak acuh menuju ranjang. Seolah menunjukkan kekuasaan kecilnya, tak memberi kesempatan bagi Renata tenang. Pria itu mematikan lampu utama, membiarkan Renata dalam kegelapan dan hanya memperoleh penerangan dari lampu kota. ‘Ya Tuhan! Aku tak menyangka, menikahi Julian ternyata membuatku jatuh semakin dalam ke jurang neraka. Tapi kenapa dia melarangku masuk ke ruang kerjanya? Sebenarnya dia menyembunyikan rahasia besar apa?’ Renata hanya berani mempertanyakan itu dalam hati ketika merasa Julian belum sepenuhnya tidur dan masih mengawasinya seperti buruan.Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama kecil ke tangan Renata yang terpaku melihat itu. "Hubungi aku saat kau menyadari menjadi istri Julian adalah malapetaka buatmu." Renata berbalik dan berlari menuju ke dalam, meninggalkan Arthur yang masih berdiri di taman. Menatap kegelapan dengan senyuman yang kini tampak mengerikan. Namun saat Renata sampai, ia melihat Julian berdiri di sana dikelilingi oleh pengawal pribadinya. Wajah Julian lebih pucat dari biasanya dan kemarahannya begitu nyata hingga orang-orang di sekitarnya menyingkir ketakutan. "Tu-Tuan Cooper ...," sebut Renata dengan kecemasan berlebih saat menyeret kakinya lebih dekat pada pria itu. Mata Julian terkunci pada Renata. Ia mencengkeram lengan gadis itu dengan k
Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang sambil menimang gelas kristal berisi wiski yang tersisa separuh. "Padahal aku belum menunjukkan diri, tapi kau sudah tahu kalau itu aku," katanya dengan bangga. "Ini menandakan kalau kita sehati." Renata tak mengindahkannya, malah bersiap untuk kabur kalau Devan macam-macam. "Jangan memancing keributan di sini!" "Siapa yang memancing keributan?" Devan tertawa pendek yang terdengar pahit, hingga berhenti dan berdiri di belakang tubuh Renata. "Mungkin seluruh kota ini yang ribut membahas pernikahanmu. Soal Henry menjualmu pada pria impoten itu hanya demi jabatan dan kau ... menerimanya seperti kambing congek." Renata diam, membenarkan hal itu dengan tersiksa. Tapi ia tak berdaya sama sekal
Satu malam panjang, berhasil Renata lewati dengan dingin dan mencekam. Ia menarik tubuhnya yang kaku di sofa tunggal itu, memijat lehernya dan menselonjorkan kakinya yang semalam terus menekuk. Kondisinya begitu kontras dengan si egois itu yang mungkin bangun kesiangan karena terlalu nyaman tidur di ranjang. Tapi Renata terkejut begitu ia tak mendapati Julian berada di sana. "Ke mana dia?" Tidak ada siapapun kecuali Renata sendiri, suasana kamar begitu lengang dan ranjang itu bahkan sudah rapi. Hingga timbul kecurigaan dalam benaknya, apakah semalam Julian pergi saat dirinya terlelap? Ini mungkin kesempatan baginya untuk kabur. Namun saat ia bangun dengan tergesa, ekor gaun pengantinnya tersangkut kaki meja kecil. "Auw!" desinya hampir saja roboh jika tak berhasil berpegangan pada meja tersebut untuk menyeimbangkan diri. Tangannya justru menyentuh sebuah map kulit yang setengah terbuka. Dengan penglihatan bangun tidur yang belum jelas, Renata menyipit saat mendapati secarik kert
“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian. Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin. Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras“Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.Renata menelan ludahny
Di depan cermin setinggi plafon yang berbingkai emas murni, Renata Lurian menatap bayangannya sendiri seolah sedang melihat orang asing. Gaun pengantin off shoulder berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya, memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang dan tulang selangka yang rapuh. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan pada kain lace Prancis itu berkilauan setiap kali dia bernapas. Namun bagi Renata, setiap kilauan itu seperti mata-mata yang mengawasinya. Tepat sebulan yang lalu, tangan Renata masih kasar karena pekerjaannya sebagai pemanen sayur di desa kecil—Brompton, asal mendiang ibunya. Sekarang jemarinya yang lentik dipoles kuteks bening mahal. Dia bukan lagi Renata si gadis yatim piatu yang miskin. Tapi Renata Doe, putri dari seorang politikus yang sedang naik daun, Henry Doe. Sebuah identitas yang dipaksakan, dia dibawa kembali setelah terpisah lama dari ayahnya. Tapi hanya dijadikan alat agar ayahnya bisa melunasi utang budi politik pada Julian Cooper.







