공유

Bab 2. Malam Pengantin

last update 게시일: 2026-03-02 10:25:49

“Sampai kapan kau mau berdiri di sana seperti manekin?!” Suara tajam Julian merobek kesunyian.

Renata yang berdiri di tengah ruangan dan masih mengenakan gaun pengantinnya yang berat saat tiba di kediaman pribadi Julian itu tersentak. “Aku … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.”

Pandangannya yang menunduk lalu terlempar pada ranjang king size dengan sprei hitam berkilau di bawah lampu gantung kristal yang cahayanya diredupkan itu. Kamar utama di penthouse lantai teratas gedung yang tersiar bernilai belasan triliunan itu, malah lebih mirip sebuah galeri seni yang steril daripada kamar pengantin.

Renata meringis kecut. Sementara Julian berdiri di dekat jendela kaca besar, yang menampilkan pemandangan lampu-lampu kota London yang gemerlap dari ketinggian. Namun terasa kontras

“Jawabanmu terlalu munafik, Renata.” Julian melepas jas hitamnya, menyampirkan benda mahal itu di kursi kulit. Sebelum kemudian ia membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.

Renata menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdegup kencang dan berdetak tidak beraturan, ketika pikirannya dipenuhi oleh peringatan Sandra tentang penyimpangan suaminya itu. Lalu bisikan obsesif dari Devan tentang suaminya yang impoten. Ia tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Julian menyentuhnya dengan kasar atau jika Julian memang benar tidak bisa menyentuhnya sama sekali?

Tiba-tiba saja Julian sudah berada tepat di hadapan Renata, dengan kemeja yang terbuka di bagian dada. Memperlihatkan kulit pucat yang ototnya terbentuk sempurna. Bukan seperti ciri-ciri tubuh pria lemah atau sakit-sakitan, seperti rumor yang beredar.

Matanya yang kelabu menatap Renata dengan intensitas yang membuat Renata merasa telanjang sebelum waktunya.

“Buka gaunmu!” suruh Julian datar. Tidak ada gairah dalam suaranya, malah terdengar seperti sebuah instruksi atasan pada bawahan.

“Apa kau bilang?” tanya Renata terkejut.

Julian dengan segala otoriternya berkata, “Aku paling anti mengulang perintah. Tapi karena kau baru pertama, aku memaklumi.”

Renata meremas gaun dengan kedua tangannya. Kalau saja nyawa sang nenek tidak terancam, ia pasti masa bodoh dengan karir ayahnya dan tidak akan terjebak di situasi ini bersama pria gila.

“Aku tidak menyangka menikahi istri tuli!” Julian bicara dengan nada yang naik satu oktaf.

Renata cepat mendongak, bertukar kecemasannya dengan sorot dingin Julian yang berisi kemarahan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

“Harusnya Alice yang menikah denganku, tapi malah ditukar denganmu. Ini sebuah penghinaan besar bagiku.”

“A… Aku buka gaunku!” jawab Renata terpaksa yang tak ingin mendapati kiriman protes dari Julian terhadap keluarga Doe. Gara-gara ia menolak menjalani malam pertama yang entah bagaimana itu.

Semua pengorbanan yang Renata lakukan hanya demi sang nenek. Meski harus merendahkan diri seperti sekarang.

Tangan Renata gemetar saat meraba resleting di punggungnya dengan susah payah, kain lace terasa kasar di ujung jari. Ia menurunkannya inci demi inci. Hingga gaun seharga miliaran itu meluncur turun, menumpuk di kakinya seperti kelopak bunga yang layu. Menyisakan Renata dalam balutan pakaian dalam renda tipis yang membuatnya merasa sangat rapuh, memalukan dan sangat kecil di bawah tatapan pria itu.

Sialnya, Julian malah tidak bergerak mendekat dan justru meninggalkan Renata begitu saja. Pria itu melangkah ke arah meja kayu mahoni di sudut ruangan, menuangkan wiski ke dalam gelas kristal lalu meneguknya sampai habis.

“Jangan berharap banyak Renata,” ucap Julian begitu santai tanpa melihat kekecewaan di mata istrinya yang basah. “Anggap aja rumor yang beredar di luaran itu benar. Aku tidak tertarik padamu atau pada wanita manapun di belahan dunia ini. Pernikahan hanyalah transaksi politik. Ayahmu butuh sekutu dan aku sendiri butuh pion di dewan pemerintahan.”

Renata merasa ada sesuatu yang retak di dalam dirinya. Lega? Ya. Tapi ada rasa hina yang turut menyelinap, meski sebelumnya ia telah bersiap untuk kemungkinan terburuk. Namun diabaikan seperti sampah yang tidak berharga, ternyata memiliki rasa sakitnya sendiri.

“Lalu kenapa aku di sini?” tanyanya. Suaranya mulai stabil karena kemarahan yang mulai membakar rasa takutnya. “Jika kau hanya perlu pion, kau bisa membiarkanku tetap tinggal di rumah ayahku. Tidak usah membawaku ke penthouse mu.”

Merasakan keberanian wanita itu, Julian meletakkan gelasnya dengan dentingan keras. Renata berjengit, memundurkan langkah melihat Julian kembali mendekat dan berhenti persis di depannya. Pria itu begitu tinggi sehingga Renata harus mendongak.

“Apa aku membuat kesalahan Tuan Copper?” tanya Renata berusaha tenang, memanggil nama belakang Julian.

Namun Julian tidak menjawab. Pria itu sulit ditebak pergerakannya, tahu-tahu jaraknya sudah sedekat ini. Hingga Renata bisa mencium aroma wiski yang pekat, berbaur dengan aroma maskulin yang dingin dari tubuh atletis Julian.

“Kau… Kau marah? Aku hanya bertanya—”

Julian mencondongkan tubuhnya ke wajah Renata. Seperti merasakan ancaman berbahaya, wanita itu kontan memeluk erat gaun di depan tubuhnya yang setengah bugil.

“Karena di rumah itu, kau hanya akan dimakan hidup-hidup oleh Devan,” bisik Julian yang terasa hangat di telinga Renata, disertai kilatan emosi yang sulit diartikan di mata pria itu. “Dan aku paling tidak suka barang milikku disentuh oleh orang lain sebelum aku memutuskan apa yang harus aku lakukan dengannya.”

Tubuh Renata menegang, kalimat Julian yang terakhir terdengar seperti ancaman. Aneh sekali pria itu. Tadi mencampakkannya begitu saja dan sekarang berubah mengklaim dirinya buru-buru?

Belum selesai di situ. Renata terjengit saat Julian meraih dagunya, mencengkeramnya dengan kekuatan yang cukup membuat Renata meringis.

“Sa… Sakit, Tuan Cooper. Lepaskan aku?” mohon Renata. Namun Julian hanya menikmati kelemahan istrinya itu dengan datar. “Kemana keberanianmu yang tadi?” tanyanya setelah merasa Renata agak berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia jumpai sebelumnya—yang manja dan genit. Tidak tahunya, malah pasrah dan lemah.

“Aku tidak berani,” jawab Renata dengan suara patah-patah. Sementara dia akan patuh dulu sambil mencari cara untuk kabur dan menyelamatkan nyawa sang nenek dengan aman.

Julian semakin kontradiktif. “Selama tinggal di sini kau tidurlah di sofa! Jangan menyentuh ranjangku dan yang paling penting … jangan pernah mencoba masuk ke ruang kerjaku yang di ujung lorong. Jika kau sampai berani melanggarnya, Renata. Aku tidak akan segan-segan memulangkanmu ke tempat asalmu tanpa nyawa!”

Wajah Renata sontak memucat, namun ia hanya bisa mengangguk saat mulai kesulitan bernapas. Julian baru melepas cengkeramannya itu dan meninggalkannya yang berjuang meraih oksigen dengan berjalan acuh tak acuh menuju ranjang. Seolah menunjukkan kekuasaan kecilnya, tak memberi kesempatan bagi Renata tenang. Pria itu mematikan lampu utama, membiarkan Renata dalam kegelapan dan hanya memperoleh penerangan dari lampu kota.

‘Ya Tuhan! Aku tak menyangka, menikahi Julian ternyata membuatku jatuh semakin dalam ke jurang neraka. Tapi kenapa dia melarangku masuk ke ruang kerjanya? Sebenarnya dia menyembunyikan rahasia besar apa?’ Renata hanya berani mempertanyakan itu dalam hati ketika merasa Julian belum sepenuhnya tidur dan masih mengawasinya seperti buruan.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (3)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Pernikahan macam apa nih ....???
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
............ seru
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
yuhuuuuu...akak
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   72.

    "Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   71.

    Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   70.

    "Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   69.

    Saat Renata memposisikan dirinya, Julian tidak langsung mundur. Pria itu membungkuk tipis. Kehangatan napasnya menyapu daun telinga Renata ketika bibirnya berbisik dengan nada berat yang begitu intim."Kau selalu tahu cara membuat ruangan ini mendadak kehilangan udaranya, mi queruda," bisik Julian, suaranya halus namun sarat daya pikat yang pekat. "Gaun ini ... dan wajahmu yang semakin cantik siang ini, benar-benar menyiksaku pertahananku."Seketika bulu kuduk Renata berdiri. Panggilan mesra yang sudah lama tak didengarnya itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang merambat dari tengkuk hingga ke dadanya. Renata mengetatkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan."K... Kau sudah lama datang?" tanya Renata basa-basi, mengalihkan kikuk.Julian tersenyum sembari melangkah memutari meja lalu duduk di hadapannya. Manik matanya yang kelam menatap Renata tanpa berpaling sedikitpun. Seorang pelayan tak lama datang membawa

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   68.

    "Oh, tidak! Dia datang?" Renata yang panik langsung membalik tubuhnya membelakangi pintu. Ia tak jadi memutar gagang pintu, namun sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal: >> Jangan buka pintunya, Renata. Pria di depan pintumu itu bukan mencari ibunya untuk diselamatkan ... tapi untuk memastikan rahasia pembunuhan lima tahun lalu tidak pernah terbongkar

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   67.

    Julian memandanginya dengan pandangan yang hening, tajam dan tanpa emosi. Tak ada satu patah kata yang terucap. Pria itu bahkan tidak menawarkan tumpangan, atau juga menyapa. Hanya tatapan mata kelamnya yang mengunci manik mata Renata selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Sebelum Renata sempat merespon, Julian menaikkan kembali kaca jendelanya dan menekan pedal gas. Mobil maybach itu melesat cepat, meninggalkan genangan air yang terpercik ke arah trotoar. "Apa? Dia pergi begitu saja?" Renata menggeram pelan, kejengkelan membakar dadanya saat melihat lampu di belakang mobil itu menghilang di balik tikungan. Dua tangannya terangkat ke udara sambil menggeleng. 'Sudah kuduga. Es batu memang dingin!' batinnya sengit. Namun sedetik kemudian, rasa sesak yang familiar kembali menyenggol dadanya. Renata sadar, kejengkelan itu sebenarnya bersumber dari kekecewaannya sendiri. Renata memang berharap tadinya Julian menawarkan tumpangan di saat dia sulit mendapatkan taksi. Kalau s

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   50. Saingan

    "Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 37.

    Ponsel milik Julian berdering, suaranya membelah keheningan ruang tamu yang masih menyisakan aroma gairah mereka. Tanpa melepas pandangannya yang tajam dari Renata, tangan pria itu meraih perangkat dari saku celana dan menempelkannya ke telinga."Anda sudah di pengadilan?"Suara Julian datar, namun

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 36. Sarapan Berbahaya

    Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, real

  • Sentuhan Tiga Pria Yang Memanjakanku   Bab 35. Lebih Manis Bibirmu

    Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status