로그인Seperti biasa, Rangga akan pergi setelah menidurinya. Pria itu kembali pada pekerjaan dan hanya datang bila ingin memuaskan hasratnya saja. Beberapa hari ini, ia sudah menurut pada Rangga. Harusnya ada reward atas kerja kerasnya itu. Tasya ingin bertanya mengenai Juna dan balas dendamnya. Sudah lama ia tidak bertemu dengan mantan suaminya itu. Sekarang waktunya tidak tepat. Tasya akan bicara pada Rangga besok. Saat menemani pria itu sarapan. Bahkan untuk menghubungi Tirta saja Tasya ragu. Ia takut melibatkan orang yang tidak bersalah. Besok paginya, Tasya menemani Rangga sarapan. Ia ragu untuk bicara, tetapi ini kesempatan meminta pada pria yang tergila-gila padanya. "Tuan Rangga, aku ingin keluar rumah. Aku merasa bosan di sini." Padahal Tasya ingin bicara mengenai Juna. Ia malah meminta keluar rumah. Rangga menoleh padanya. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memanggil nama saja?" "Maaf, Rangga. Aku merasa canggung." "Kau boleh keluar." Rangga menjentikkan jarinya. Kemudian se
Tasya pernah mendengar gosip dari media sosial, bahkan menonton film tentang pria yang sering selingkuh. Termasuk Juna yang juga mengkhianatinya. Rata-rata pria akan cepat bosan dengan wanita yang patuh dan tidak menarik. Sekarang inilah Tasya ingin menjadi wanita seperti itu. Ia akan menuruti semua keinginan Rangga agar pria itu lekas membuangnya. Selama beberapa hari ini, Tasya selalu menuruti keinginan pria itu yang menidurinya setiap malam. Termasuk gaya liar yang pria itu inginkan. Sering kali Tasya merasa aneh pada perlakuan Rangga. Sentuhannya lembut, tetapi juga menyakitkan. Sialnya Tasya merasa ia seperti ketagihan diperlakukan sedikit kasar. Malam ini, Rangga telah memberi pesan untuk memakai pakaian dalaman saja, dan menunggunya di depan rumah. Entah apa lagi yang ingin dilakukannya. Pria itu menginjak-injak harga diri ini, tetapi Tasya hanya bisa menerima tanpa melawan. Ia bahkan tidak merengek meminta keluar rumah."Nona Tasya, sebentar lagi Tuan Rangga akan pulang. No
Bella berteriak kesal karena kelakuan Rangga yang menganggapnya sebagai tunangan pajangan, sedangkan pria itu asik memanjakan simpanannya. Bella sendiri tidak habis pikir dengan keadaan ini. Tirta memberitahu jika Rangga menyembunyikan seorang wanita. Ternyata perempuan itu adalah kekasih Tirta sendiri. Ini harus diluruskan. Bella lekas mengirim pesan kepada dokter itu. Memintanya untuk segera bertemu. Balasan diterima dengan cepat. Tirta menyetujui undangan tersebut, dan Bella lekas menuju tempat yang dijadikan sebagai tujuan pertemuan. Dalam waktu kurang lebih 45 menit, Bella tiba di sebuah kafe dan langsung menuju ruangan privat. Di sana Tirta sudah menunggunya, dan tanpa basa-basi lagi Bella bertanya mengenai hubungan Tasya dan Rangga. Karena sudah begini, Tirta pun mau tidak mau mengakui segalanya. "Aku menemukan wanita itu di pinggir jalan dalam keadaan pingsan. Karena dia cantik dan wajahnya mirip dengan Ivana Aswinda, aku menjadikannya sebagai tunangan kontrak.""Ivana Aswi
Begitu mata ini terbuka, wajah yang dilihat Tasya adalah Rangga. Sangat malas rasanya bertatapan muka dengan pria buruk ini. Dia iblis berwujud pria tampan. Tasya juga masih merasakan perih, dan pipinya terasa bengkak. Ia mencoba merabanya, ini memang bengkak. Tasya ingat betul kakinya di rantai, lalu wanita itu datang memukulnya. Sungguh sial!"Sayang, bagaimana keadaanmu?" Rangga mendekat, tetapi Tasya beringsut mundur. Eh, ia merasa kakinya telah bebas. Tasya membuka selimut, dan ya kakinya tidak lagi di rantai. Rangga bisa melihat kekagetan itu. "Aku memang tidak lagi merantaimu, asal kau patuh dan tidak mencoba lari lagi.""Aku tidak ingin tinggal di sini lagi. Kau sudah punya tunangan, tetapi kenapa kau masih ingin menawanku?" "Kita sudah punya perjanjian, Tasya. Kau jadi wanita simpananku selama waktu yang telah kutentukan. Tugasmu hanya mengikuti kata-kataku dan melayaniku di atas ranjang ini.""Enam bulan kan? Kau sungguh akan membebaskanku setelah itu? Kau juga janji akan
"Tasya!" Rangga bergegas menghampiri wanita simpanannya itu. Menyingkirkan pisau pemotong daging sejauh-jauhnya, lalu melepas dasi yang ia kenakan. Rangga membalut luka itu agar pendarahannya terhenti. "Cepat panggil Dokter Anton!" "Baik, Tuan." Pengawal yang ada di kamar bergegas melaksanakan perintah Rangga. "Apa-apaan kau, Rangga? Kau selingkuh dariku, dan selingkuhan itu adalah kekasih sepupumu sendiri. Kau sudah gila!" pekik Bella. Tangan Rangga mengepal erat. Ia bangkit berdiri, lalu memandang Bella tajam. Mendapati tatapan Rangga yang tidak seperti biasanya, Bella mundur selangkah. Ia masih berpikir tidak salah karena di sini Rangga lah yang telah berkhianat."Kau menyiksanya?" Rangga memandang Tasya yang tidak sadarkan diri dengan kedua pipinya yang memerah akibat pukulan lima jari. "Kau marah? Harusnya aku yang marah di sini. Kau! Di sini kau yang telah selingkuh dariku!" Plak ... ! Rangga menampar Bella dan ini untuk yang pertama kali. Semua ini hanya karena seorang w
Ruangan yang dibuka Bella adalah gudang. Ucapan pelayan ini benar. Namun, informasi yang ia terima dari pria itu juga jelas. Rangga menyembunyikan seorang wanita di rumahnya. Sebelum menemui wanita itu, Bella tidak akan pergi dari sini. "Saya sudah bilang kalau ruangan itu gudang," ucap pelayan. "Aku belum memeriksa ruangan yang lain." Bella berjalan ke arah kamar lain, lalu memeriksanya. Satu per satu, tetapi tidak ada wanita yang ia harapkan hadir di sana. Bella memandang ke lantai atas. Mungkin di sana wanita simpanan itu berada. Ia pun bergegas naik ke lantai atas dengan diikuti oleh pelayan. "Nona Bella, tidak ada apa pun di sini." Pelayan terus saja menghalangi, tetapi Bella tetap bersikeras memeriksa kamar satu per satu. Ia membuka pintu dengan kasar. Ketika tidak mendapatkan yang diinginkan, amarah Bella meluap. Sekarang tinggal satu kamar tidur lagi. Bella berjalan ke arah sana dengan cepat. Pelayan berlari mendahului wanita ini, dan mencegahnya untuk membuka ruangan t
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Tasya. Rangga tertawa. "Kau belum mengenal keluarga Mahardika. Dengarkan aku, Sayang. Hanya aku yang mau menerimamu. Bersyukurlah karena aku memilihmu." Rangga mengecup bibir Tasya. Meski wanita ini menolak, tetapi ia tidak peduli. Rangga tetap ingin menyentuh wani
Ketika tiba di kediaman, Tasya ditarik secara paksa oleh Rangga menuju kamar tidur. Wanita itu terus meronta, meminta pertolongan pada pelayan serta pengawal, tetapi mereka hanya menundukkan kepala. Tidak peduli teriakan, tangis, bahkan permohonan. Mereka menganggapnya hanya angin lalu. Siapa yang
"Jangan memaksanya, Rangga. Dia tidak ingin bersamamu. Kau sudah melanggar aturan. Kau memanfaatkan Tasya demi keuntunganmu sendiri!" ujar Tirta dengan nada marah."Heh! Jika kau tidak tahu apa-apa sebaiknya diam saja." Rangga menatap Tasya. "Kau tidak mau ikut aku pulang?""Aku tidak mau jadi main
Keduanya telah tiba di kediaman. Kini saatnya bertanya mengenai kelanjutan dari status Tasya. Sudah saatnya ia pergi. Tidak ada hak baginya untuk terlalu lama berdiam di rumah orang lain. "Dokter Tirta, bisa kita bicara sebentar?" tanya Tasya, ia perlu bertanya karena takutnya mood Tirta tidak bai







